menyebut ribuan). Ratusan orang yang telah sang mahasisw a yang d itahan kaget tak meninggal itu akibat perkelahian antara kedua ketulung an. M ung kin karena ketakutan, p em elu k ag am a. Iro nis m em ang , seb ab mahasisw a yang beragama Kristen itupun berdasarkan berbagai analisa dan kajian konflik m enjaw ab ap a ad any a d eng an kalim at, horisontal itu hanyalah dipicu oleh perkelahian “ A ssalamu ‘ A laikum” . Karena pengetahuan anak muda yang kebetulan berbeda agama. Dan agama mahasiswa beragama Islam itu tergolong yang lebih menyedihkan adalah munculnya pas-pasan, dia lalu melirik temannya sambil pro vo kasi d ari berbagai pihak, sementara berkata, “ sudah betul itu?” “ Ya, sudah betul!” , pemuka agama tak kuasa menahan umatnya. timpal kawannya bermaksud membenarkan. Jadilah simbol agama sebagai legitimasi untuk Sang mahasiswa yang ditahan pun selamat dari saling membunuh. Di satu sisi orang berteriak penganiayaan. Begitulah gambaran pemahaman “ Allahu Akbar” , sambil menaklukan enam desa kita terhadap agama. Begitulah kenyataan yang di kecamatan Poso Pesisir dalam waktu dua hari. terjadi diantara kita. Persoalannya, sejauhmana Jumlah kerugianpun cukup memilukan, ratusan kita bisa menyikapi semua itu secara konstruktif? rumah yang dibangun orang berpenghasilan pas- Memang jika kita kembali mengurai faktor pasan itu jadi gosong. Sementara di lain sisi penyebabnya, terdapat beberapa hal yang mesti teriakan “ Haleluy a” p un meng hentakkan dipahami. Sebutlah misalnya keberadaan media l a n g k a h s e k e l o m p o k o r a n g y a n g massa yang telah menggeser peran ulama dan membumihanguskan sebuah pesantren. Darah pendeta dalam memberikan khotbah.
manusia seakan-akan tak berharga. Mereka George Gerbner, pakar komunikasi dan saling menumpahkan darah atas nama agama. peneliti televisi di Amerika Serikat, menyebut Penulis teringat akan pengakuan seorang televisi sebagai agama masyarakat industri. Pendeta di Sinode GKST Tentena Poso saat Televisi, katanya telah menggeser agama-agama ko nflik memuncak Juli tahun 2000 silam. ko nv ensio nal. Kho tbahny a d id eng ar d an Katanya, secara umum Pendeta di Sinode telah disaksikan oleh jemaah yang lebih besar daripada berup aya melarang umat Kristiani untuk jamaah agama manapun. Tapi pernyataan melakukan penyerangan. Tapi, belum lagi Gebner ini, tampaknya bukanlah pembenaran himbauan itu selesai, tiba-tiba seorang anak untuk kita meyalahkan kemajuan zaman dan muda menimpali, “ Dalam Injil dikatakan, pipi perkembangan teknologi komunikasi. Kita masih apalagi yang akan diberikan?” begitu kata anak punya norma dan agama yang masing-masing muda sebagaimana yang ditirukan oleh sang kita yakini kebenarannya untuk mengantar kita pendeta. Tentu saja hal yang sama juga terjadi di kepada kemuliaan.
kalangan Islam. Jujur saja, saat ini pada umumnya Dalam po sisi seperti ini, d ibutuhkan umat Islam sekad ar bangga d engan KTP kesadaran kolektif untuk memilah dan memilih bertuliskan agama Islam. Ada kisah lucu yang agenda bangsa ke depan. Ali Bin Thalib r.a telah pernah penulis saksikan di Makassar beberapa memberi petuah kepada kita, “ Siapa yang merasa tahun yang lalu. Seorang mahasisw a Islam am an m eng had ap i z am an, z am an telah melakukan sweeping terhad ap mahasisw a m e n i p u n y a . Si a p a y a n g t i n g g i h a t i beragama Kristen. Mereka ingin menganiaya menghadapinya, ia akan merendahkannya. Siapa penganut agama Kristen karena kecewa dengan yang bersandar pada tanda-tanda zaman, zaman penyerangan tentara Israel terhadap Palestina. akan menyelamatkannya” . (Jalaluddin Rakhmat Tapi karena pemahaman agama yang tergolong 1991) . Kalim at b ijak lain y ang p ernah pas-pasan, sang mahasiswa beragama Kristen dikemukakan oleh Ali Ridha r.a. “ Manusia yang kebetulan lewat harus memberi jawaban mencela zaman. Padahal tak ada cela pada zaman spekulatif. Seperti hari-hari sebelumnya Hasan selain pada diri kita. Kita kecam zaman padahal (sebut saja begitu) dan kelompoknya mengetahui kecaman itu, ada pada kita. Sekiranya zaman id entitas seo rang d engan meminta untuk dapat berkata, ia akan menggugat kita.” []
melafalkan dua kalimat syahadat. Kontan saja
Edisi Khusus Candi Dasa
Dulu ketika masih SD sampai Kita tentunya tidak ingin orang- dengan SMA saya merasa semuanya baik- orang “ memenjarakan” Tuhan dalam baik saja. Saya yang dididik dalam ag amany a masing -masing . M ereka lingkungan masyarakat Katolik di Flores beragama dengan cara menonjolkan menjadi “ manja” dan malas; tidak suka aspek ritual dan superficial, hanya di b e r p i k i r te n ta n g k e m u n g k i n a n - permukaan saja seperti nampak dalam kemungkinan untuk berdialog dengan sim bo l-sim bo l p akaian, p erhiasan, teman lain. Merasa diri paling benar dan kosmetik serta hiasan indah di tempat suasana kondusifpun dituntut dari orang ibadah. Peribadatan hanya dilihat dari lain. Lalu pada saat kuliah dan harus berinteraksi aspek formalitasnya saja. Lebih banyak di antara dengan situasi yang sangat plural, sayapun harus kita yang terperangkap pada format bukan isi, merubah cara berpikir. Harus ada kerelaan untuk substansi. Dimensi spiritual sepertinya semakin memberi ruang di dalam diri bagi orang lain. kabur bahkan kadang tidak tampak.
Sejalan dengan waktu dan perkembangan Pada ruang pertemuan dan studio lukisan kami (Swabina Yasmine Flores) tertulis dengan yang terjadi, ketika kembali ke Flores sayapun
huruf besar, “ Being Religious more important than
mencoba merubah cara berpikir, paling kurang
having religion” . Ungkapan ini sangat jelas, bahwa untuk diri saya sendiri. Untuk menunjukkan
religiositas menjadi yang secara langsung rasanya
utama sebab kita hidup sangat sulit karena orang
tid ak hany a seked ar Flores merasa perbedaan
b e r m a k n a k o m u n a l agama bukanlah masalah.
a g a m a t a p i j u g a K e a d a a n i n i d a p a t
spiritualitas dan sosial. d imeng erti karena d i
K i t a h a r u s b i s a Flo res ag ama Kato lik
melampaui batas ruang may o ritas. N amun d i
a g a m a i tu s e n d i r i . b alik itu seb enarny a
Semoga kita semua tidak masih ada rasa curiga
hanya berhenti sampai (saling curiga) terhadap pihak lain.
p a d a b e r a g a m a s a j a , n a m u n j u g a Secara perlahan kami mencoba untuk
mengimplementasikan nilai-nilai, ajaran agama memulai dialog dalam bentuk kegiatan bersama.
yang selalu universal dan selalu ada dialog. Kita Kami menjadikan dialog antar-iman sebagai
tidak sibuk hanya untuk hidup komunal, atau b a g i a n d a r i p r o g r a m p e n g e m b a n g a n
memeluk agama sekedar menunjukkan bahwa masyarakat. Pertemuan saya dengan Institut
kita mempunyai agama, yang pada akhirnya akan Dian/ Interfidei semakin menguatkan keyakinan
memunculkan ego komunalistik dan fanatisme bahw a sangat mungkin d ibangun d ialo g
buta yang mudah disulut. antariman. Saya yakin bahwa banyak orang
Refleksi bersama di Candi Dasa, Bali telah sangat merindukan dialog antarumat berbagai
memberikan keyakinan yang semakin kuat agama. Saya pernah mengikuti pertemuan
bahwa agama yang tidak siap untuk berdialog Malino pada Januari 2002 dan dilanjutkan
dan dikritisi akan melahirkan fanatisme buta yang dengan pertemuan di Candi Dasa, Bali. Pada
pada akhirnya akan menjadi sumber konflik. p ertemuan ked ua ini terasa ad a banyak
KASIHAN AGAMA! Pada akhirnya apakah kita perubahan, situasi menjadi lebih cair dan hal ini
hanya berhenti pada memiliki/ menganut agama semakin mengobarkan semangat sesama.
saja ?[]