1
“AGAM A YANG M EM BEBASKAN”
2
Sudarto
1
Refleksi pemikiran agam yang membebaskan dalam pertemuan nasional Interfaith di Gedong Gandhi Ashram Candi Dasa, Karangasem Bali tentang Agama dan Kekerasan pada tanggal 18-23 Februari 2003.
2
Peminat masalah agama, sosial, politik dan futurologi dan Direktur Pusaka.
3
peristirahatan di kawasan Bogor, Jawa Barat atau M enc erm ati kesem raw u tan ko nd isi daerah lainnya). Namun pada saat yang sama tersebut di bumi beribu-ribu etnis ini, saya saudara-saudara sesama anak bangsa di Papua mengajak kita semua untuk menjawab secara sedang merana karena gandum dan talas satu- jujur beberapa pertanyaan kontemplatif reflektif satunya sumber makanan pokok tidak bisa berikut ini. Bagi saudara-saudara yang bukan dipanen akibat limbah PT Freeport, dan jumlah beragama Islam mari kita temukan terminologi kemiskinan di sana saat ini terus membengkak serupa dalam agama masing-masing yakni:
4 •
A pakah Islam hanya tercermin dari hingga telah mencapai angka 22 juta jiwa lebih.
kopiah atau busana muslimah serta fisik Pada tempat yang berbeda, bagi mereka
masjid yang terus diperindah, namun yang merasa paling “ shaleh” di dunia harus
amat sedikit memberi makna dan manfaat melakukan pengulangan naik haji ke Mekkah
kep ad a kehid up an so sial eko no mi untuk kesekian kali (hobi naik haji). Karena
afdhol masyarakat sekitarnya? mereka merasa belum pada tahun yang lalu
atau k are n a k e l e b i h an h arta, d e n g an • Mampukah umat Islam memberikan menggunakan jasa tour travel yang belakangan ini keselamatan, keadilan, kedamaian, dan cenderung menjamur, dengan biaya puluhan juta kesejahteraan kepada makhluk di sebelah hanya untuk mengunjungi kubus (Ka'bah) atau kanan dan kiri sebagaimana ucapan salam tempat keramat/ tanah suci lainnya bagi penutup shalat yang dilakukan lima kali penganut agama yang berbeda. Pada saat yang sehari?
sama di Aceh, masyarakat harus merana karena • Bukankah kita semua hafal hadits Nabi kehilangan haknya sebagai daerah yang ingin yang mengatakan “ tebarkanlah salam” memiliki kedaulatan tanpa intervensi militer. (yang berarti keselamatan, keadilan, Sementara itu kemiskinan dan ketertindasan perdamaian, dan kesejahteraan) itu tidak masih begitu meruyak di mana-mana di penjuru saja bermakna ucapan salam lisan?
negeri ini. • A pakah benar kita dapat merasakan
Fenomena itu kian diperburuk dengan kelaparan dan kepedihan mereka yang w ajah p ertelev isian sw asta, y ang selalu t i d a k b e r p u n y a t a t k a l a s e l e s a i menyajikan tontonan para selebritis dengan pola- menunaikan ibadah puasa di bulan pola hidup konsumeristis, hedonistis dan serba Ramadhan, sementara anggaran belanja mewah di tengah-tengah krisis ekonomi yang selama puasa dan hari-hari besar justru makin melemahkan daya beli masyarakat. Belum lebih membengkak dibandingkan dengan lagi rakyat miskin terbebas dari persoalan dalam bulan-bulan biasa, sampai-sampai harus negeri berupa krisis multiwajah, di depan mata diadakan sidang kabinet khusus untuk telah meng had ang ancaman d an bahay a membahas persediaan pangan untuk kapitalisme, sebagai w ujud neo-liberalisme hari-hari yang oleh umat beragama dengan wajah “ Globalisasi” dan “ Pasar Bebas” dianggap mulia, sementara pada hari yang menguasai aset eko no mi yang akan yang sama selalu dijumpai orang tidak menghancurkan sistem produksi dalam negeri. punya sesuatu untuk dimasak?
Serbuan produk impor berdampak langsung • Apakah zakat hanya ibadah individual terhadap turunnya harga gabah, tebu, gula dan dengan menyerahkan 3,5 liter beras dan p aha ayam lo kal, sebagai co nto h betap a sedikit harta yang telah mencapai nishab bahayanya kepentingan neo-liberalisme dibalik sebagai sikap dermawan. Bukankah zakat kepentingan IMF, WTO dan World Bank dan ditujukan terhadap masyarakat yang lembaga keuangan internasional lainnya dengan tidak berpunya, tetapi bagaimana cara
5
berbagai dalih. pengelolaannya?
4
Lihat akar konflik di Papua antara suku Amungmai dan Komoro dengan provokator PT. Freeport.
5
Lihat, Mansour Fakih, Runtuhnya Konsep Pembangunan dan Globalisasi (Jogjakarta: Insist Press dan Pustaka Pelajar, 2000).
v isi, m enjad i su m b er sp iritu alitas d an
• Betulkah kita telah mempunyai sikap dan
kemanusiaan sejati. Pada sisi lain ada kenyataan p e rb u atan re la b e rko rb an u n tu k
b ahw a ag am a ju g a tid ak sed ikit y ang menyelesaikan persoalan sosial sebagai
mengandung unsur kebencian. Di samping itu refleksi dari ritual hari raya Qurban setiap
setiap warna keagamaan dalam suatu konflik tahun dengan hanya menyembelih seekor
tentu melibatkan agama formal. Bahkan dalam kambing, atau jawi untuk tujuh orang?
beberapa kondisi, agama menjadi penghalang
• Tentunya kita percaya bahwa makna
kemajuan ilmiah dan cenderung berpihak kepada hakiki dari haji mabrur itu bukan hanya
yang kaya melawan kelompok miskin dan terw ujud dalam bentuk sorban dan
tertindas. kopiah putih melainkan kehadirannya
Kedua, realitas d i atas menunjukkan sepulang dari haji dapat bermanfaat bagi
ketidakberdayaan realitas agama merespon lingkungannya?
intervensi gerakan politik bawah tanah yang semakin lama semakin membawa kenestapaan
W ajah Islam Saat Ini
kolektif, realitas agama begitu mudah ditaklukan Banyak persoalan yang saat ini sedang
oleh kelicikan dan tipu daya politik. Dengan kata dihadapi oleh agama tidak terkecuali Islam, baik
lain, realitas agama begitu mudah tergelincir dan Islam sebagai sistem religi maupun Islam yang
bertekuk lutut dihadapan jebakan politik. Dalam secara praksis berhadapan dengan realitas sosial
pengertian inilah maka muncul apa yang kita keagamaan. Sebagai seorang Muslim, penulis
sebut dengan “ perselingkuhan teologis” yang haru s d e ng an ju ju r d an b e rani u ntu k
d irekay asa p ihak p elaku p o litik melalui mengatakan, bahwa Islam yang nampak hari ini
p eng usung an sim bo l-sim bo l keag am aan, adalah Islam formalis yang diwarnai dengan
sementara komunitas beragama lalai dan tidak ketidakjelasan metafisik teologis atau kalau kita
sadar terhadap gejala intervensi politik. meminjam bahasa Asghar Ali Engineer disebut
Sementara itu dalam wilayah teologis,
6
dengan “metaphysico theological obcuscations” .
menurut hemat penulis pertama, bahwa Islam Kalau f eno m ena itu teru s b erlang su ng
sebagai sistem religi yang berkembang di tengah dikhawatirkan Islam akhirnya menjadi sistem
masyarakat telah kehilangan relevansi dengan agama yang tidak relevan dengan tuntutan
ko nteks so sial y ang meng emuka karena zaman. Atau yang lebih tragis lagi Islam tidak
konsepnya cenderung trancendental oriented dan akan mend apat tempat d i hati kelo mpo k
kurang peka terhadap persoalan mendesak tertindas dan kaum lemah (mustad'afin) dimana
keumatan. Kedua, teologi Islam yang ada saat ini sebagian besar umat berada di dalamnya,
adalah teologi yang mengalami penyimpangan
sekalipun ada hanya sebatas ritualisme yang 8
dari konteks agama itu sendiri (demistified) atau kering, dan semakin menguatkan asumsi bahwa
dari apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh agama adalah candu (Religion is opium of the
semangatnya yang menjelma dalam bentuk
7
people) seperti yang pernah disinyalir oleh Karl
konflik bernuansa agama. Ketiga, Islam yang Marx, yang pada akhirnya akan terjadilah
muncul hari ini adalah teologi rigitd dan fikh “ pembusukan agama” dalam tong sampah
oriented atau hanya dengan pendekatan black and sejarah.
white. Persoalan ini merupakan bias langsung Pada wilayah praksis, umat beragama
dari sistem feodalistik ulama yang sebagian besar dihadapkan dengan kenyataan pertama, peran
dari mereka adalah pendukung paling kuat status
yang ambigu dari agama antara konsep jalan
quo, sehingga tak lagi kritis, sekalipun mereka keselamatan, kedamaian dan kebenaran atau
menulis, namun hanya berkisar pada persoalan antara konsep agama memberikan nilai-nilai dan
6
Lihat Asghar Ali Engineer, Islam Liberal terj. (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 1999).
7
Karl Mark dan Frederick Engels, On Religion, Moscow Prugness Pubiser, 1976, lihat juga Marx & Engels, Selected Corespondence hal 97.
8
ibad ah-ibad ah ritual yang yang membebaskan paling
menghabiskan energi dengan tid ak m em iliki beberap a
m e n g u p a s m a ti - m a ti a n keunikan, antara lain anti m a s a l a h f u r u ' i y ah d a n t e r h a d a p k e m a p a n a n persoalan spekulatif. Keempat, (establishment), apakah itu
Islam yang hadir hari ini kemapanan religius atau pun
adalah Islam yang kehilangan kemapanan politik. Agama
k o m i t m e n t e r h a d a p y ang membebaskan akan
terciptanya keadilan sosial, memainkan p eran d alam
ekonomi dan keberpihakan membela kelo mp o k y ang
terhadap kaum yang lemah tertindas dan tercerabut dari
baik dari pihak perempuan, hak-haknya sebagai manusia.
anak-anak dan dalam bentuk Selain itu agama juga akan
9
mustad'afin lainnya. memainkan p eran d alam Fe n o m e n a d i a ta s , m e m p e r j u a n g k a n s e s u n g g u h n y a s a n g a t k e p e n ti n g a n k e l o m p o k
bertentangan dengan Islam dimaksud dan membekalinya
itu sendiri, sekaligus akan ikut dengan senjata ideologi yang meruntuhkan elan vital Islam untuk menegakkan berlandaskan pada keagamaan untuk melawan keadilan dan kepedulian Islam secara aktif kelompok atau golongan penindas atau yang terhadap kelo mpo k lemah atau kelo mpo k dalam terminologi al-Qur'an disebut dengan t e r t i n d a s s e b a g a i m a n a y a n g p e r n a h mustaqbirun. Dan yang tidak bisa dilupakan dipraktekkan oleh Muhammad Sang Pembebas, adalah bahwa agama yang membebaskan tidak dimana kehadirannya sangat revo lusio ner, hanya mengakui konsep metafisika takdir dalam sehingga menjadi tantangan yang merisaukan rentang sejarah umat manusia, melainkan juga para kapitalisme yang rakus, kaya dan amat mengakui konsep bahwa manusia itu bebas sombong, atau yang dalam terminologi al-Qur'an menentukan nasib kemanusiaannya sendiri. disebut dengan (mustakbirin) atau orang-orang Ko nsep ag am a y ang m em bebaskan,
10
memberikan kebebasan kepada manusia dari yang sombong dan sangat kuat.
status quo, apakah keagamaan maupun politik
Agama yang M embebaskan dan Relevansinya memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjad i energi rev o lusio ner d an militan Di teng ah himp itan y ang d emikian
sebagaimana konsep keagamaan pada aw al menyesakan itu, pertanyaan kita adalah adakah
lahirnya? Oleh karena itu, jika agama-agama sistem religi yang mampu menyumbangkan
masih ingin mendapat tempat di hati kelompok energi bagi sebuah gerakan masyarakat untuk
tertind as d an kelo mp o k lemah (aradz hil
membebaskan dirinya dari ketertindasan dan
mustad' afin), m aka p erlu d ikem bang kan ketidakadilan yang sudah terlalu lama menimpa
pemahaman keagamaan yang membebaskan. bang sa ini? Untuk m enjaw ab p erso alan
Dengan melakukan proses pembebasan menantang itu, di sinilah relevansi untuk
terhadap agama, realitas agama-agama itu akan mendiskusikan dan memikirkan kembali agama
memiliki daya tahan terhadap virus “ irrelevansi yang membebaskan (liberation religion) dengan
sosial” , atau dengan kata lain agar agama-agama konteks sosial ke-Indonesia-an di atas? Agama