Fanfaidin*
p e n u n t u n a n s o c i al i n s e c u r i t y s e c a r a itu diperlukan suatu kajian yang lebih mendalam membabibuta, sampai pada pengabaian proses d an serius d isertai aksi ko nkret d alam pengadilan, dan sebagainya. mengembalikan kekuatan moral budaya bangsa Fenomena sosial di atas berlanjut sampai ini. Upaya ini adalah tanggungjawab seluruh pada melemahnya kekuatan budaya kita, yaitu komponen bangsa, terutama dari kelompok kekuatan moral (yang pernah mampu merelakan agama sebagai bagian dari masyarakat sipil darah dan berani berlapar-lapar tanpa keluhan independen. Dalam hal ini, kalangan agamawan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun harus merefleksikan kembali p arad ig ma demi memperjuangkan kemerdekaan,) dan p em bacaan, p enterjem ahan d an m eto d e sem ang at u ntu k m ereb u t kem erd ekaan transformasinya untuk disesuaikan dengan didukung dengan sinergitas komitmen anti- perubahan sosial yang realitasnya cenderung imprealisme dan cita-cita bersama. Namun cross-dimensional dalam pergaulan yang lebih belakangan ini, akibat dari malapetaka krisis mondial. Oleh karena itu mau tidak mau ekonomi dan sosial politik, orang cenderung kelompok agama mendapat mandat sosial untuk mencari jalan pintas yang secara sewenang- mereformulasikan kesadaran moral posisional w e n an g m e n g am b i l c ara d e m i u n tu k yang memerdekakan dan tidak diskriminatif kepentingannya sendiri. Atas nama kesenjangan sehingga kembali mempunyai kekuatan tawar ekonomi maka dengan enteng orang melakukan konkret yang dapat mempengaruhi kebijakan eksploitasi sumber daya lokal. Bahkan atas nama d an tind akan p o litis, bukan sebalikny a moralitas itu sendiri orang dengan gampang terko o p tasi d an m enjad i alat leg itim asi menghujat, menggugat, bahkan melakukan kepentingan politis.
pembangkangan nilai-nilai HAM, seperti kasus Namun kenyataannya, masih banyak p e m b a k a r a n te m p a t- te m p a t h i b u r a n , kalangan agamawan dalam konteks kehidupan penggundulan pelacur, pembunuhan etnis. bersama terjebak dalam sistem yang eksklusif, Kemudian atas nama agama dan keutuhan berorientasi pada kebenaran parsial dan enggan bangsa maka orang bisa mensahkan pengkafiran duduk bersama untuk menyelesaikan kasus- dan melakukan pembunuhan sebagai wujud kasus moral universal. Terlebih lagi dalam satu jihad integralistik (Kasus A mbo n-Maluku, kelompok agamapun telah terpecahkan dalam terakhir bom Bali). friksi-friksi yang tidak hanya berkenaan dengan Se s u n g g u h n y a s e m u a i n i ad al ah adanya perbedaan norma-norma operasional, pengingkaran diri, perilaku paradoksal, kemu- namun juga nilai-nilai ideologinya, yang tentu nafikan hati-nurani, pengkianatan moral, dan saja akan mengakibatkan timbulnya konflik juga pengkhianatan terhadap agamanya sendiri, kepentingan dan fundamentalisme kaku yang terlepas d ari kausalitas kasusnya. Dalam cenderung bergerak semakin eksklusif.
keadaan seperti ini kewibawaan hukum sudah Munculnya partai-partai po litik yang tidak dihormati lagi, seolah-olah di negara ini memuati visinya berdasarkan simbol-simbol sudah tidak mempunyai landasan moral ag ama semakin memp erkuat munculny a bersama yang mengatur kehidupan berbangsa eksklusivisme. Implikasinya jelas cenderung dan bernegara. Dimaklumi atau tidak memang menyeret suatu mistifikasi dogmatis kebenaran semua ini merupakan konsekuensi logis dari kelompok, bukan kebenaran universal dalam kegagalan atau mungkin kemandulan kekuatan humanstream. Seperti klaim kebenaran suatu agama dalam membangun ideologi moral yang kelo mp o k p o litik ag ama y ang mey akini substantif, akibat kolaborasi kekuasaan politik kelompoknya sebagai satu-satunya kelompok dan lembaga agama dalam memberlakukan absolut yang mendapat legitimasi illahiah untuk sistem represif yang terlampau lama membatasi m e n g a tu r k e h i d u p a n s o s i a l . W a c a n a kebebasan demos-cratos. kepemimpinan perempuan ditolak mentah-
Jika keadaan di atas terus dibiarkan, maka mentah dengan dasar keyakinan bahwa itu konflik sosial akan semakin kompleks dan krisis menyalahi doktrin spiritual. Wacana syariat moral budaya semakin berkepanjangan. Untuk Isl am d al am p e n y e l e n g g araan n e g ara
didesakkan secara sepihak atas dasar keyakinan dari perpecahan umat beragama di Bosnia- bahwa itu adalah bagian dari amanat jihad. Herzegovina ketika kehormatan dan nyawa
Kelompok agama yang eksklusif selalu manusia sudah tidak dihargai lagi. Peristiwa- ditandai dengan dogmatisme absolut, dengan peristiwa tersebut menunjukkan bahwa nilai- paradigma kebenaran mutlak pada dirinya nilai agama sudah tidak dimartabati dan sendiri. Kelompok ini jelas terjebak pada kehilang an kesakralan sehing g a d eng an hegemoni interpretasi sempit yang resisten sewenangnya orang melakukan pelanggaran terhadap ideologi moral parsial, ideologi yang terhadap hak asasi manusia. Hal ini jelas tidaklah m e n af i k an v i si c o - e x t e n c ial d an l e b i h searah dengan substansi moralitas religi itu di m e n g ag u n g kan id e o lo g i d iskrim in atif , m ana d em o krasi d an hum anism e m esti monolistik dan seksis. Kelompok ini kemudian ditegakkan.
j u s t r u r e n t a n Oleh karena t e r h a d a p itu d ib u tu h kan m a n i p u l a s i s u a t u g e r a k a n a m b i s i u s inklusivisme nyata kepentingan elit y a n g m a m p u po litis, sehingga m e n ja w a b d a n d e n g an m u d ah m e n g e m b al i kan d i j a d i k a n p o s i s i a g a m a i n s t r u m e n untuk penguatan pembenar gerakan m o r a l d a l a m
po litik para elit konteks pluralitas
d em i m end ap at b a n g s a i n i . k e k u a t a n Diperlukan suatu mayoritas. p e m b o n g k a r a n B i l a p a r a d i g m a d i c e r m a t i , t e o l o g i s y a n g s e k a r a n g i n i m e m e r d e k a k a n s e d an g te r jad i u m m a t a g a r
proses eksploitasi terbuka lebih luas
k a i d a h - k a i d a h r u a n g
a g a m a u n t u k s i l a t u r r a h m i ,
monopoli etika sosial. Dan ini dipakai sebagai perluasan nilai ukhuwah, eksplorasi interpretasi alat justifikasi kepentingan politik kelompok kritis yang lebih rasional dan berakar pada eksklusif. Kecenderungan eksklusivisme agama v alid itas emp iris-realistik. Disamp ing itu tertentu akan menyeret manusia pada otoriter d i p e rl u k an s u atu p e n d e k atan te o l o g i kelompok. Akibatnya terjadi alienasi manusia ke transformatif yang memperkuat kelembagaan d alam blo k-blo k psiko lo gis fatalistik d an moral agama terhadap kekuasaan negara, suatu nihilisme yang justru tidak lagi menghormati teologi yang tidak lagi menjadi instrumen politik. nilai-nilai hak-hak asasi manusia universal. Pada Selain itu juga diperlukan suatu wacana gilirannya, kecenderungan ini akan membawa rasional yang memungkinkan dipertemukannya pada sensitivitas sosial kelompok masyarakat tak berbagai kelompok agama dalam komunikasi berdaya untuk mudah tertipu oleh provokasi yang saling menghormati perbedaan. Dalam hal pada kerusuhan-kerusuhan sosial. ini agama tidak lagi diartikulasikan sebagai Kerusuhan sosial-rasialis yang pernah dan kristalisasi nilai etika yang menggantang asap sedang terjadi saat ini adalah pelajaran penting atau suatu lembaga menara gading yang tidak untuk direfleksikan atau diintrospeksi dengan bersentuhan langsung d engan kebutuhan melihat akses-aksesnya yang sangat nir-insani. ko nkret manusia. A g ama ad alah p ro ses Padahal kita juga telah mendapat pelajaran pahit moralitas budaya dalam pemaknaan aktif, suatu