manifest, bahkan memberi kekuatan moril lagi. Akhirnya, pada awal Oktober 2002, ustaz kepada gerakan-gerakan lain yang sedang Ja'far Umar Thalib membubarkan LJ dan baru
.9
diumumkan pertengahan Oktober marak. Merekapun terlibat dan berperan dalam
Yogyakartapun di satu sisi bebas dari sejumlah aksi yang mengundang reaksi sebagian
sebuah lembaga milisi yang sempat menebar masyarakat. Pada awal-awal tahun 2001, mereka
teror dan ketakutan, tapi di lain sisi berhasil bersama Gerakan Pemud a A nti Ko munis
dinanamkan semangat dan militansi keislaman (GEPAKO) buatan Golkar serta Aliansi Anti
yang mengagumkan, yang dirasakan o leh Komunis (AAK) buatan mantan aktivis 66 yang
sebagian umat Islam. berafiliasi ke partai-partai dan gerakan Islam di
Yogyakarta ikut dalam aksi kekerasan yang
menimpa buku-buku dan para aktivis kiri. Gerakan Pemuda Ka'bah
Mereka juga mendukung Gerakan Pemuda
Dampak “ angin ribut” Ambon tidak serta Ka'bah (GPK), yang berafiliasi dengan Partai
merta memfokuskan mata umat ke satu masalah. Persatuan Pembangunan (PPP). A kibatnya
Hampir bersamaan dengan kampanye jihad di s e j u m l a h d a r a h t u m p a h t a n p a
Ambon, di awal-awal tahun 2000, kampanye anti pertanggungjaw aban hukum di Universitas
maksiat mulai bergema, muncullah generasi Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), sekretariat
muda Islam yang diberi nama Gerakan Pemuda Partai Rakyat Demokratik (PRD), A kademi
Ka'bah (GPK). Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO), dan di
A w alnya GPK, hanyalah sekelo mpo k beberapa jalan utama Yogyakarta saat aktivis-
pengajian anak muda muslim, yang resah dengan aktivis kiri melakukan aksi turun jalan. LJ juga
kondisi sosial lokal di Yogyakarta. Keresahan ini berp eran d alam aksi-aksi p emberantasan
bermula pada bulan Januari 2000, persis dalam maksiat yang melibatkan beberapa elemen
suasana Romadhan, saat umat Islam sedang gerakan Islam di Yo gyakarta. LJ menjadi
berpuasa d an amat mengho rmati malam- kekuatan fisik d an pressure yang cukup
m alam ny a, seb ag ai m alam - m alam y ang dihandalkan dalam gerakan anti kiri, yang selalu
“ keramat” . Dengan mata yang “ sakit” mereka diasosiasikan dengan gerakan anti komunis, dan
menyaksikan berlangsungnya aktivitas diskotik, gerakan pemberantasan maksiat. Akibatnya,
judi, prostitusi dan minuman keras selama bulan suci Ramadhan, selalu menjadi saat-saat
malam-malam yang “ keramat” itu. Iman yang yang menegangkan: antara para penghancur
dalam terhadap bulan suci Ramadhan, terasa maksiat dengan pecinta bisnis hiburan malam.
dinodai oleh aktivitas-aktivitas malam itu. Tidak M e m a s u k i 2 0 0 2 , s e i r i n g d e n g a n
cuma itu, di siang hari anak-anak muda ini meredamnya konflik Ambon dan Poso, gaung
melihat beberapa tabloid yang memperlihatkan jihad LJ mulai surut. Tekanan pemerintah,
gambar vulgar, berisi tubuh wanita yang molek masyarakat dan dunia internasional “ memaksa”
dan menguras birahi, dan sangat menyinggung LJ untuk keluar dari wilayah konflik. Bahkan
perasaan umat. Tak pelak lagi, mereka segera ustaz Ja'far Umar Thalib ditangkap dan ditahan
menghimpun kekuatan dan bergerak, dengan di mabes POLRI pada bulan Juni 2002. Sejak Juni
istilah yang religius: amar ma'ruf nahi munkar, dan 2002, para laskar yang biasa meminta sumbangan
g erakan p emberantasan maksiat. Mereka di jalan-jalan Yogyakarta, hilang satu persatu.
melakukan sweeping terhadap beberapa diskotik, Kotak dana jihad yang dipasang di warung-
tempat prostitusi ilegal, warung-warung yang warung dan kiospun juga mulai tidak terlihat
9
Peristiwa ini mengagetkan banyak orang, saat seluruh perhatian masyarakat tersita pada aksi terorisme di Kuta - Denpasar, Bali dan Manado. Dalam pengumuman pembubarannya, Ustaz Ja'far menegaskan bahwa LJ akan menjadi organisasi dakwah biasa. Sehingga LJ tetap memelihara jejak religiusnya dan tidak menghilangkan aktivitas dakwahnya di kedua daerah ini, termasuk beberapa daerah sekitar konflik seperti Papua dan Sulawesi Selatan. Mereka telah berkembang luas selama konflik Maluku dan Poso, dan telah menjadi bagian yang relatif kecil di kalangan umat Islam.
menjajakan minuman keras dan media porno. yang dilakukan PRY (Pokja Rakyat Yogyakarta)
11
tanggal 8 Februari 2001. Dalam bulan ini pula, Dalam setiap aksinya, mereka menyita, memukul,
terjadi sejumlah tindak kekerasan terhadap dan mengambil barang-barang yang dianggap
10
perlu. Khusus untuk tempat diskotik, mereka aktiv is mahasisw a d i UMY d an A BA YO memberi peringatan terlebih dahulu sampai 3 (Akademi Bahasa Asing Yogyakarta).
kali. Ketika tidak digubris, aksi main hakim Setengah tahun lebih Yogyakarta dibalut sendiripun dilancarkan. musim kekerasan GPK yang melanda aktivis-
Untuk sementara, GPK telah menjalankan aktivis mahasiswa, yang gigih menyuarakan misi agamanya dengan baik. Mereka juga, sempat reformasi total dan demokratisasi. Para aktivis terjun dalam kegiatan sosial, misalnya membantu p ro - d e m o krasi d iland a ke c e m asan d an korban bencana longsor di Kulonprogo, Februari ketakutan. Tapi mereka tidak gentar menghadapi 2000. Pada awal-awal terbentuknya GPK, terjadi ujian yang berat ini. Suara lantang para perbedaan pendapat di antara pendirinya, yang mahasiswa selalu dianggap sebagai suara kiri umumnya merupakan mahasiswa dan pemuda y a n g h e n d a k m e n g h i d u p k a n k e m b a l i terdidik. Ada yang ingin agar GPK murni sebagai komunisme. Cap komunis ini tak pernah bisa gerakan yang mengurusi masalah-masalah dibuktikan, kecuali semata-mata dihubung- agama dan sosial kemasyarakatan, dengan hubugkan dengan gagasan radikal dan ekstrim, aktivitas yang tidak melibatkan konvoi massa. yang berpautan dengan wacana pencabutan Tap Ada pula yang menghendaki, agar GPK sekaligus MPRS XXVI, tentang larangan komunisme yang melakukan aktivitas amar ma'ruf nahi munkar dan dilontarkan pertama kali oleh Gus Dur, saat pemberantasan maksiat, termasuk dengan cara masih menjabat presiden pada bulan Agustus
konvoi massa. 2000.
Enam (6) bulan kemudian, dengan alasan G PK tid ak lag i m e n jalan kan m isi bahwa kebanyakan aktivis dan pendiri GPK pemberantasan maksiat. Tetapi ia mulai terlibat adalah kader-kader PPP, maka GPKpun segera aktif dan sangat sigap dalam gerakan anti dimasukkan sebagai salah satu underbow partai komunisme, hampir bersamaan dengan lahirnya Islam itu. Sejak Juli 2000, aktivis GPK mulai gerakan anti komunisme baru yang dibidani meluas dan “ mengguncang” publik Yogyakarta. partai Golkar, GEPAKO (Gerakan Pasukan Anti Sebulan kemudian, Agustus 2000, mereka ikut Komunisme), Januari 2001. Sebulan kemudian, m eng am ankan jalanny a Ko ng res M ajelis GPK bergabung dengan beberapa elemen umat Mujahidin Indonesia. Lalu, 25 September 2000 Islam lain, membentuk FA KI (Fro nt A nti GPK menyerang para aktivis mahasiswa yang Komunisme Indonesia) yang dideklarasikan di tergabung dalam KMDR (Komite Mahasiswa gedung PDHI (Persaudaraan Haji Indonesia) di untuk Demokrasi Rakyat) dan FPPI yang dicap alun-alun Utara. FAKI dan GEPAKO bersatu kiri. Serangan dan penyerbuan serupa terjadi membentuk AAK (Aliansi Anti Komunisme). tanggal 5 Oktober 2000 terhadap KMAK (Komite Sepanjang Januari hingga April 2001, berlangsung Mahasiswa Anti Kekerasan). Gerakan anarkis sweeping terhadap segala hal yang berbau kiri-
12
komunisme: mulai dari buku-buku kiri, hingga GPK masih berlanjut hingga tahun 2001. Pada
aktivis-aktivis yang dicurigai kiri. Sejumlah Selasa, 20 Februari 2001, mereka kembali
pemukulan dan insiden kekerasan terjadi di jalan- m elaku kan p eny erang an. Salah seo rang
jalan, kampus-kampus (UMY dan ABAYO), korbannya adalah Gunawan, mahasiswa UMY
sekretariat PRD, Forum LSM DIY, HMI, Taring (Univ ersitas Muhammad iyah Yo gyakarta),
Padi, dan tekanan kepada beberapa kantor LSM. aktivis FPPI yang juga menjadi ko mando
GPK sangat berperan aktif dalam gerakan yang lapangan (kolap) dalam aksi pembubaran Golkar,
10
Kebanyakan yang merasakan “ amuk” GPK adalah orang-orang kecil, di warung-warung kecil yang menjual minuman keras. Botol minuman pun diambil.
11
Penyerangan terhadap Gunawan, yang membuatnya luka berat dan opname di rumah sakit ini dinilai juga berkaitan dengan perannya sebagai komandan aksi PRY, 12 hari sebelumnya.
terlihat heroik dan “ nasionalistik” ini. Aktivis- menjadi lain dan aneh: mengamankan maksiat. aktivis GPK memiliki keberanian dan kemauan Di akhir seruan nahi munkar, yang nyata adalah untuk melakukan apa saja demi mencapai tujuan tampilnya GPK sebagai kekuatan baru dalam “ suci” mereka. bisnis keamanan dan lahan parkir. Di samping D i m u s i m - m u s i m i n i p u l a , G P K itu, mereka lalai, bahwa aksi-aksi heroik dan berkembang dengan sangat pesat. Di setiap gagah itu menebarkan luka dan kebencian di kelurahan terbentuk laskar-laskar dan organ kalangan masyarakat bawah, utamanya korban independen yang menggabungkan diri dalam keganasan dari anggota laskar GPK. Benih nama GPK. Setiap pekan mereka melakukan konflik dan permusuhan dengan sebagian ko nv o i massa laiknya sebuah kamp anye masyarakat bawah mulai tertanam. Masyarakat menjelang Pemilu. Mereka berpakaian seragam, baw ah yang umumnya w arga PDIP mulai memakai tutup kep ala ala ninja, sambil terusik. Sentimen partai pelan-pelan mulai membuka knalpot motor. Setiap akhir pekanpun, terbangun, sehingga di awal 2002 benturan GPK- jalan-jalan di Yogyakarta, berisi kegagahan yang PPP dan PDIP akhirnya pecah.
mencolok dari anak-anak muda muslim yang Aparat keamanan khususnya polisi, di m enam akan d iriny a GPK itu. Seb ag ian wilayah administrasi Kapoltabes Yogyakarta, personalnya selalu membaw a pedang, dan mulai merasa gerah. Di satu sisi, GPK telah “ menari-nari” dengan “ nyanyian” knalpot yang menebarkan ketakutan d an kekacauan d i menusuk telinga. Secara berkala, mereka juga masyarakat, di sisi lain, mereka merampas mengadakan pengajian akbar, menyambut ” ladang” polisi. Pada wilayah bisnis keamanan momentum-momentum keagamaan tertentu, inilah, GPK berbenturan dengan aparat polisi. terutama ketika sebuah laskar dan o rgan Pihak kepolisian, merasa sumber kocek mereka terbentuk. Setiap minggu, mereka merekrut para dirampas oleh GPK. Sejumlah benturan dengan pemuda dari berbagai kalangan, mulai dari para aparat menandai aktivitas GPK. Konflik GPK dan remaja masjid yang saleh, hingga kaum preman aparat menjadi konflik ekonomi. Puncaknya di yang suka mabuk dan tukang palak. Tidak cuma pertengahan Februari 2001, pecahlah bentrok itu, mereka bahkan banyak menerima anak-anak antara GPK yang sedang melakukan konvoi. muda PDIP, PBB, dan PAN. Rekrutmen massa Hasilnya, beberap a aktiv is GPK d itahan, yang tidak selektif dan gerakan GPK yang kian beberapa ruas trotoar di Jl. Wahid Hasyim rusak menonjol, membuat GPK sangat kaya dengan dan beberapa fasilitas jalan dan kota ikut hancur. dua ciri dan latar belakang yang menonjol: Tapi masing-masing masih berlindung dibawah pemuda masjid yang cukup terdidik, dan dalih yang tidak mencerminkan misi resmi p e m u d a b i asa y an g h o b i ko n v o i d an mereka. GPK berd alih, po lisi melind ungi memamerkan kegagahan. Dengan jumlah laskar aktivitas maksiat, sedangkan polisi berdalih, yang kian bertambah, mereka semakin percaya GPK menciptakan gangguan dan keresahan di diri bahwa gerakan anti maksiat dan gerakan anti m asy arakat. Tu ju an m ereka sam a- sam a k o m u n i sm e m e n d ap at d u k u n g an d ari terselubung meminta jatah dan uang keamanan. masyarakat Yogyakarta. Sepak terjang GPK jadi tumpang tindih.
Di sinilah awal “ krisis” GPK. Para pemuda Mereka melakukan gerakan pemberantasan yang berlatar belakang preman memanfaatkan maksiat dan sweeping terhadap aktivis-aktivis “ keberanian” dan “ keperkasaan” GPK, untuk kiri, tapi juga melakukan aksi-aksi penguasaan merebut dan menguasai lahan-lahan parkir dan bisnis g elap keamanan, y ang ko rbanny a bisnis security di sejumlah kawasan, utamanya kebanyakan masyarakat kecil biasa. Kelompok kaw asan yang dianggap sebagai kaw asan terdidik dan soleh GPK pun menanggung malu. maksiat. Niat memberantas maksiat, berubah Pihak DPC dan DPD PPP segera mengambil
12
Sweeping ini tidak saja berlangsung di Yogyakarta, melainkan juga di Jakarta dan Solo. Pihak Gramedia Yogyakarta, terpaksa menarik peredaran buku Franz Magnis Suseno, tentang Karl Marx. Ia kemudian juga dituding kiri, dan menyebarkan paham komunisme.
langkah sigap, membekukkan GPK pada bulan gerakan penggrebekan atau penyerbuan yang Agustus 2001. Bagi sebagian besar elit partai, berani. Konstruksi politik dan negara utamanya aktivitas GPK telah kontra-produktif. Selama masih berada dalam genggaman kuasa orde baru, beberapa bulan masyarakat dilanda keresahan yang siap memanfaatkan apa saja untuk dan ketakutan. Dan GPK meninggalkan jejak mempertahankan statusquo dan menghambat laju yang buram: sejumlah lahan parkir dan bisnis reformasi. GPK dan PPP, telah terperangkap keamanan untuk temp at-temp at tertentu dalam kuasa ini, saat mereka menyerang para dikuasai oleh preman-preman yang masih aktivis kiri.
membawa nama GPK.
Gerakan Pasukan Anti Komunisme
Jejak-jejak buram GPK masih terasa sampai
sekarang. Bekas-bekas “ milisi” sipil GPK, masih Pada Agustus 2000, presiden Abdurrahman dapat dipakai untuk keperluan konvoi massa
Wahid melontarkan gagasan yang cukup liberal: PPP. Pada Januari 2002, PPP GPK ini melakukan pencabutan TA P MPRS/ XXI/ 1966, tentang konvoi massa. Tujuannya adalah menunjukkan
larangan paham Marxisme-Leninisme atau pada publik bahwa PPP di Yogyakarta masih Ko munisme d i Ind o nesia. Sebagai sebuah solid dan tidak terpecah ke dalam PPP pimpinan
wacana, apa yang dilakukan Gus Dur, sangat Hamzah Haz atau PPP Reformasi pimpinan tepat, tapi ia akhirnya berhadapan dengan ribuan Zainuddin MZ. Konvoi diorganisir oleh ketua
caci maki, penolakan dan sejumlah demonstrasi. PPP Kodya Yogyakarta, Fauzi AR. Nahasnya Lebih dari itu, isu ini telah melahirkan gerakan k o n v o i t e r s e b u t b e r a k h i r d e n g a n
anti komunisme yang kencang di Yogyakarta. ko nf lik/ b e ntu ran d e ng an m assa PD IP. Tanggal 25 Januari 2001, lahir Kelompok Ketegangan berlangsung sampai Maret 2002.
Anti Komunis buatan Golkar, Gerakan Pasukan Hampir 10 orang warga biasa kena akibat dari Anti Komunis (GEPAKO). Dari namanya saja, ketegangan ini. Korban dibacok atau dilempari
g erakan ini sud ah meng g unakan istilah mercon, hingga luka-luka dan dirawat di rumah “ pasukan” yang berbau militeristik, tepatnya sakit. Selain itu, sebuah rumah milik warga PDIP
pasukan Sandhi Yudha GEPAKO. Komandannya di kawasan Mujamuju, dibakar massa GPK. adalah Gandung Pardiman, sekretaris Partai Pimpinan-pimpina PPP dan PDIP agak terlambat
Golkar DIY. Gandung sendiri awalnya adalah menyikapi perkembangan konflik ini. Mereka seorang nasionalis yang lahir dan besar dalam menuduh adanya pihak-pihak luar yang mau
keluarga PNI (Partai Nasional Indonesia). Ia menghancurkan dan menciptakan distabilitas di mantan ketua GSNI (Gerakan Siswa Nasional Yogyakarta. Akhirnya konflik mereda. Sampai
Indonesia) dan GMNI (Gerakan Mahasisw a sekarang, kerap kali nama GPK disebut-sebut Nasional Inonesia) Yogyakarta dan pengurus PDI sebagai kelompok preman dan security yang bisa
Bantul. Sejak hijrah ke Gunung Kidul, iapun
13
dipakai untuk urusan-urusan keamanan. direkrut menjadi aktivis dan pengurus Golkar. Gerakan anti maksiat dan amar ma'ruf nahi
Sejak 1978, ia memulai karirnya pada partai yang
munkar yang d ikumand angkan o leh GPK, menjadi mesin politik Suharto. Tapi ia juga ternyata salah arah. Di lapangan, cita-cita pengusaha, pengurus inti sejumlah yayasan keagamaan yang mulia itu, berwajah lain. Ia pendidikan yang dekat dengan “ bahasa” militer: berhadapan dengan realitas dan fakta-fakta yang seperti SMU Kartika, Veteran dan Persatuan. sangat ko mp leks. Realitas ini, umumnya Dalam pemilu 1999, ia naik ke tingkat DPD merupakan konstruksi politik dan situasi negara, Golkar propinsi DIY. Sejak terbentuk, GEPAKO yang tidak bisa diatasi dengan slogan suci, menjadi mesin kekerasan dan “ militerisme”
13
Pada bulan September 2002, mereka dipakai oleh KAHMI Nasional dalam rangka Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) di Hotel Ambarukmo Yogyakarta. Saat itu mereka menghadang dan nyaris saja bentrok dengan para aktivis HMI Cabang Yogyakarta yang memprotes Munaslub ini. Munaslub ini akhirnya menetapkan Fuad Bawazir sebagai ketua KAHMI Nasional. HMI menilai bahwa KAHMI sedang diperalat oleh PAN, dalam rangka pemilu 2004.
Go lkar d i Yo gyakarta. Misalnya, mereka memperjuangkan demokrasi, pluralisme dan melakukan pemukulan terhadap aktivis-aktivis civil society. Mereka melihat dan 'mencium bau' PRD, LMND dan RPPI, bekerjasama dengan ko munisme d i balik isu-isu keraky atan, GPK, LJ, FAKI. Pembersihan terhadap buku- p embubaran Go lkar d an p eno lakan atas buku kiri, sweeping terhad ap o ang-o rang pemerintahan yang konservatif dan masih
14
dikuasai oleh rezim lama Orde Baru. gondrong, dan yang memakai baju Che Guevara
Sementara itu, iklim politik nasional terasa serta Karl Marx, tetap diingat sebagai prestasi
makin panas: konflik Ambon, Poso, konflik elit, kriminal organ Golkar ini.
krisis eko no mi d an masih bany ak lag i. Sejak Agustus 2000 sampai pertengahan
Perlawanan terhadap kelompok statusquo yang 2001 berlangsung debat dan konfrontasi yang
diwakili secara manifest oleh Golkar dan militer, sangat tajam antar gagasan demokratik-pluralis
statusquo terus dilakukan, sambil menyuarakan ide-ide dan di kalangan sipil. Semua itu
rekonsiliasi dan perdamaian nasional. Pada menandai karir kepresidenan mantan Gus Dur
November 2000, berlangsung rembug nasional di yang didukung kuat oleh PRD dan kalangan
Bali, yang juga dihadiri oleh mantan presiden Prodem. Namun, di Yogyakarta, kekerasan
Gus Dur. Yogyakarta, mengirim delegasi Forum GEPAKO menemui legitimasinya dan mendapat
Rembug Rakyat Yogyakarta (FRRY), sebuah dukungan dari sejumlah politisi muslim dan
aliansi taktis dari berbagai elemen civil society
kepentingan politik Islam. GEPA KO-Golkar
statusquo untuk menghadang laju gerakan dan politik yang identik dengan Orde Baru,
statusquo kekerasan d i Yo gyakarta. Tanggal 19-20 dianggap tidak lagi. “ Nasionalisme”
Desember 2000, FRRY melakukan “ sidangnya” Islam dan “ nasionalisme” Orde Baru, menjadi
di Gedung Amal Insani. Sidang ini diikuti oleh 60 pelopor reformasi dalam isu yang buram: anti
peserta, yang mewakili organ-organ mahasiswa, kiri. Sebab kiri, tak pernah bisa didefinisikan dan
organisasi buruh, pengamen, budayawan, LSM, dijelaskan dengan “ paradigma” reformasi. Aksi-
biro krat, p arp o l, akad emisi, p ers, ap arat aksi mereka, selalu didasarkan pada konsep-
kepolisian dan sejumlah individu. Sidang ini konsep politik orde baru. Di sini, roh politik Orde
berisi refleksi atas perjalanan reformasi, ditinjau Baru, sebagai kekuatan politik lama, menjadi
dari segi politik, ekonomi, hukum dan budaya. nyawa yang tetap tegak dalam masa transisi
Kesimpulannya, reformasi telah mandeg. Arah reformasi Indonesia, yang hadir dalam sosok
reformasi telah dibelokkan oleh sisa-sisa Orde yang menyedihkan dan mencemaskan.
Baru, yakni partai Golkar dan militer. Dalam Dapat d ikatakan, bersamaan d engan
catatan FRRY, selama tahun 2000 terjadi 20 kekerasan yang dilakukan oleh GPK di atas,
tindak kekerasan, tapi semuanya tidak dapat GEPAKO adalah sumber daya politik-kekerasan
diselesaikan oleh aparat dengan alasan tidak Orde Baru yang sangat handal dalam merusak
cukup bukti. pro ses refo rmasi d an d emo krasi. Mereka
menebar tero r di kalangan aktivis-aktivis
m a h a s i s w a d a n L S M y a n g g i g i h Patahnya Gerakan Pro-Demokrasi
14
Gandung sendiri mengatakan bahwa GEPAKO tidak hanya bercita-cita untuk menghadapi bangkitnya komunisme. Melainkan juga mau menghadapi kelompok yang mau merongrong Pancasila dan NKRI. Dalam sebuah wawancara pada 26 Mei 2002 di kantor DPD Golkar DIY, Gandung menegaskan, “ Jadi GEPAKO ini sebetulnya suatu gerakan yang tidak hanya menanggulangi bahaya komunis saja, tetapi juga kami hadir dalam rangka menaggulangi bahaya kanan maupun kiri. Maka lambangnya itu kan dua keris, itu dalam rangka jangan sampai pengaruh kanan maupun kiri itu merusak Pancasila, NKRI. Itu tujuan awal kami. Hanya karena pada saat-saat seperti ini biasanya kaum kiri, komunis itu memanfaatkan setiap peluang dalam rangka come back yang selama kepemimpinan Golkar itu merasa ditindas, dimarginalkan sedemikian rupa, sehingga mereka ingin merebut kembali baik secara terang-terangan maupun secara di bawah tanah. Bagi kami, pembubaran Golkar sendiri tidak masalah, apabila itu dikehendaki oleh rakyat dan UU memungkinkan. Tapi apabila dia sudah mengancam Pancasila, itu yang menjadi masalah. Saat itulah kami tampil untuk menghadapi mereka. Jadi tidak sekedar mengimbangi tetapi menghadapi mereka” .
kekerasan GEPA KO , Go lkar meng ajukan Elemen-elemen FRRY tidak mau diam.
gugatan terhadap PRY, karena menyegel dan Kamis, 8 Februari 2001, mereka melakukan aksi
menuntut Golkar bubar. PRY meladeni dengan pembubaran Golkar. FRRY memakai nama PRY
berani dan tenang. Tapi akhirnya tidak sampai di
15
(Pokja Rakyat Yogyakarta), dengan Luthfi
meja hijau. Masalahnya, peristiwa penyegelan ini Rahman (d ari LKiS d an mantan aktiv is
(konflik Golkar-PRY) juga melibatkan aparat mahasiswa) sebagai koordinator, dan Gunawan
p o lisi, y ang saat itu d ibaw ah ko mand o (ketua FPPI) sebagai komando lapangan. Target
Kapoltabes Yogya, Komisaris Besar Polisi, Drs. aksi ini adalah penyegelan kantor DPD I Partai
Ibnu Sud jak M ahfud z , SH . Jad i Go lkar Golkar di Jalan Jendral Soedirman. Dan mereka
menempuh dua jalur. Di permukaan mereka berhasil, setelah bernegosiasi dengan aparat dan
menempuh jalur hukum, di bawahnya, mereka tak d apat d ibend ung o leh salah seo rang
menempuh cara-cara kekerasan. pengurus Golkar. Empat orang wakil PRY, (Kari,
Go lkar d an GEPA KO telah berhasil Eko, Ihsan dan Farida) memasang spanduk hitam