• Tidak ada hasil yang ditemukan

upaya pembelaan terhadap agama,

Dalam dokumen Daftar Isi - Edisi Khusus 2003.pdf (Halaman 81-88)

adalah kehendak

dari agama tersebut,

atau sebenarnya ...

kemampuan budi manusia. Dengan perspektif manusia bersangkutan ingin melenyapkan para yang lain, sudut pandang sebaliknya, maka pendakwanya dengan segala macam cara. Semua segala kelemahan ad alah kekuatan. Yang tind akan itu d iatasnamakan p ad a up aya negatifpun bisa diutak-atik menjadi positif, memuliakan agama, sehingga merangsang umat sebaliknya yang positif tidak selamanya positif. beragama untuk berperang secara ideologis, Jangan-jangan apa yang kita sebut sebagai tanp a m em p ed ulikan lag i akib at-akib at kekerasan, bahkan di dalam seminar ini, telah konkritnya dalam kehidupan nyata sehari-hari. m e n jad i ke ke rasan ju stru kare n a kita Banyak di antaranya hanya terdorong oleh menyebutkannya sebagai kekerasan. Sementara gejolak ombak yang sedang bergelora, tak paham banyak kekerasan lain, karena budaya tidak lagi apa awal terjadinya “ kekejaman” tersebut. Di menyikapinya sebagai kekerasan, ia masuk ke dalam lingkaran setan seperti itulah kita sedang apa yang kini umum diterima sebagai kiat-kiat terjebak sekarang. TOR seminar ini menawarkan kehidupan, sebagai pencapaian budaya manusia resep transformasi budaya. Saya sepenuhnya dalam menjawab tantangan zaman. menyetujui tranformasi budaya, apabila itu Watak budaya untuk merekayasa dari diartikan sebagai upaya memperbaiki sikap dan sudut sebaliknya itu, menyebabkan banyak hal perilaku manusia dalam beragama. Kita harus menjadi terbalik, berubah perlahan-lahan, dan m eng hentikan am b iv alensi ag am a d an akhirnya menipu peradaban manusia. Di sana memposisikan agama sebagai kambing hitam. kebenaran menjadi nisbi, tergantung dari apa Kita sebaiknya menerima agama hanya yang disebut orang Bali desa-kala-patra. Dengan sebagai Instruksi Agung agar manusia mencintai sebuah catatan, pemahaman desa-kala-patra pun sesama manusia, mencintai semua ciptaanNya. menjadi penuh dengan interpretasi. Banyak Bukan peran ambivalen agama tetapi ambivalen orang menafsirkan desa-kala-patra hanya untuk manusia serta ambivalen kekerasan yang harus kemanfaatan/ membenarkan dirinya, dalam kita bicarakan. Bukan agama yang harus rangka mempersalahkan orang lain. Dengan cara dijadikan terdakwa dan kambing hitam, tetapi mengusut seperti itu, jelas bukan agama yang manusia dan kekerasan itu sendiri.

harus dijadikan terdakwa, tetapi manusia yang

Kata Kekerasan, Berasal Dari Kata Sifat Keras.

mengatasnamakan agama tersebut. Agama tidak

bertanggungjawab atas tindakan-tindakan brutal Artinya tidak lunak, tidak lentur, tidak terhadap kemanusiaan, mengingat agama justru mudah dibentuk. Kekerasan adalah kata benda bang kit untuk membend ung kebiad aban dari segala yang bersifat keras. Misalnya batu,

tersebut. granit, besi bahkan juga kayu. Tetapi jangan lupa,

Agama -- lepas dari tuduhan para atheis hati, cinta, sayang dan tekadpun bisa keras. Di dan pemeluk komunisme yang menganggap situ keras dan kekerasan melayang lebih tinggi ag ama sebag ai racun - muncul sebag ai lagi dan bergelayutan dalam rasa bahasa serta penyelamat umat manusia. Agama tidak bisa imajinasi untuk benda-benda abstrak.

dipersalahkan oleh tindakan-tindakan sebagian Kekerasan juga bersifat mendua. Tidak kecil pemeluknya yang memiliki penafsiran hanya keras wujud dan sifat fisiknya keras, tetapi sendiri atas agama. Para pemeluk itu sendirilah bisa keras dalam seluruh kelenturannya. Keras y an g h aru s m e m p e rtan g g u n g jaw ab kan hati, keras kemauan, keras kepala, adalah

perbuatannya. kekerasan dari perangkat lunak manusia. Orang

Kita sudah melakukan kesalahan sangat yang lembut, sopan, penuh pengertian, bisa saja besar karena membiarkan agama menjadi adalah sekaligus orang yang keras kemauan. kambing-hitam. Pengkambing-hitaman itu, telah Sedangkan orang yang cantik, nampak kelemar- menyalakan kemarahan yang pada ujungnya kelemer, lamban serta lunglai, bisa saja seorang menjadi tindakan yang tidak semata-mata ingin yang keras hati. Sebaliknya o rang yang membersihkan agama dari tuduhan keji tersebut, beringasan, yang cenderung mengekspresikan tetapi melakukan penyerangan balik. Dalam dirinya secara fisik dan cenderung mencederai kondisi tabiat serigala seperti kesaksian Hobbes, obyeknya, belum tentu diimbangi oleh kemauan

yang keras. Maka pengertian keras menjadi membantah dan setuju.

ambigius, relatif dan menjebak dalam praktek. Di masa Petrus (penembak misterius) Di dalam hiruk-pikuk sebuah disko, tidak dalam pemerintahan Orde Baru, tindakan ada suara yang tidak keras. Kalau ingin terdengar kekerasan terhadap para bromocorah dari “ aparat maka suara harus sangat keras. Dan disko yang keamanan” mendapat kritikan yang sangat baik adalah disko yang menghentak-hentakkan keras. Para pejuang hak-hak azasi manusia, bunyi keras ke dalam telinga pengunjung. menganggap itu satu kriminalitas dari “ negara” . D i s k o te k ad al ah k e k e r as an te r h ad ap Tetapi rakyat kebanyakan menikmati hasilnya, keheningan. Sebaliknya kalau di dalam disko karena bromocorah menjadi tidak begitu berani suara musiknya sayup-sayup d an lemah- lagi sewenang-wenang menjarah rakyat yang tak gemulai, maka sudah terjadi perkosaan terhadap punya perlindungan (karena pengamanan dan hakekat disko yang cenderung menjadikan hukum lemah). Hal yang sama terjadi dalam era kekerasan bunyi sebagai tujuan. pembenahan kota Jakarta oleh Gubernur Ali Kekerasan biasa ditandai dengan darah, Sadikin. Adanya penembak jitu yang bagaikan pukulan, hantaman, tikaman dan sebagainya. jango (ko bo i spageti) yang d iperbo lehkan Tetapi hanya sebuah sayatan kecil di sebuah menghabisi pejahat di tempat, membuat ibukota wallpaper, juga adalah sebuah kekerasan. Seekor yang semrawut lebih tertib, walaupun kembali keledai bisa dipukul berkali-kali, tapi itu masih para pejuang hak azasi manusia dan lawan saja terasa tidak cukup keras untuk membuat politik pemerintah menganggap kebijaksanaan binatang yang sedang bandel itu bergerak. Tetapi itu sebuah kriminalitas.

seorang kekasih bisa merasa dilanda kekerasan, Kekerasan yang akhir-akhir ini menjadi apabila surat cintanya tanpa dibaca dipakai topik sangat penting di dalam masyarakat kita, untuk ngelap sepatu. Kekerasan tidak sekaligus ternyata bukan sesuatu yang sederhana. Secara adalah kekerasan. Dia memerlukan sebuah awam nampaknya seluruh orang sepakat dan pemetaan/ riw ayat yang bisa menampilkan setuju tentang pemaknaan dari kata tersebut. seluruh konteksnya yang keras, barulah dia Dalam percakapan, diskusi, bahkan perdebatan, semp urna sebag ai kekerasan. Kekerasan tampak seakan-akan semua o rang sedang memerlukan sebuah riw ayat sebelum bisa berbicara tentang hal yang sama dalam gradisi disebut sebagai kekerasan. Sebuah situasi yang dan konteks yang sama, apabila menyangkut khusus terhadap satu benda khusus, dapat kekerasan. Tetapi bila diusut per individu, per menjad i kekerasan, tetap i tid ak d eng an kasus ternyata sudah ada perbedaan mendasar. sendirinya merupakan kekerasan pada situasi Misalnya huru-hara yang mendomplengi lain dengan benda yang lain. Kekerasan juga bisa era reformasi di tahun 1998, ketika demonstrasi berarti kata keterangan yang menunjukkan dan usaha menjungkir pemerintah Orde Baru

terlalu keras. didomplengi dengan pembakaran, penjarahan

Orang yang memukul melebihi d ari bahkan pembunuhan dan konon perkosaan, para kebutuhan, atau orang yang berteriak melebihi reformis menuduh kekerasan tersebut adalah kewajaran, dapat disebut kekerasan. Maksudnya sebuah rekayasa politik untuk mendiskreditkan melebihi dari yang secukupnya dalam ukuran gerakan moral yang sedang diupayakan oleh umum. Tetapi ini pun sangat relatif. Untuk orang b ang sa m elaw an rez im y ang b erkuasa. y ang seteng ah p ekak/ tu li m em erlu kan Se m e n tara k e k u as aan s t at u s qu o p as ti informasi lewat bunyi yang jauh melebihi batas menjadikannya contoh yang baik sebagai ekses ambang keras orang normal. Pada dia konsep dari tindakan peradilan langsung di jalanan keras, berbeda dengan orang biasa. Orang Jepang tanpa lewat badan perwakilan.

akan menyuarakan kata hai (ya) dengan satu Orang memiliki v ersi yang berbed a hembusan yang sangat mantap tanda setuju, terhadap pembantaian dukun santet di Jawa sebaliknya orang Jaw a menyuarakan nggih Timur. Orang menilai dari sudut bertentangan dengan halus, kadangkala bahkan tanpa suara, pembunuhan dan kekejian terhadap Marsinah. cukup d engan d iam tand a mengerti tak Perontokan menara kembar WTC di New York

jadi bahan perdebatan. Tragedi Bom Bali tak kebal dan rata. Dan itu menjadi senjata kalau ia hanya dikutuk tapi juga dipuja. Dan yang terakhir berkelahi.

ini, kasus kanibalis d i d esa Sreng seng , Di Afrika, di salah satu kawasan di Asia Purbalingga, kekerasan terhadap jenazah Mbok Tenggara bahkan di Indonesia, berkembang Rinah (81 tahun) oleh Sumanto (31 tahun) asal konsep kecantikan yang bagi masyarakat dusun Plumutan, ada yang kontan mengutuk dan umumnya adalah sebuah bentuk penyiksaan. ingin memberi vonis mati, ada pula yang Bibir dan daun telinga digantungi benda berat cenderung memahami sebagai contoh kasus sehing g a menjad i dower berjuntai. Leher anggota masyarakat yang sakit jiwa karena dipasangi gelang sejak kecil sehingga menjadi kegagalan hidup yang beruntun. panjang. Bagi orang lain semua itu mengerikan. Kata kekerasan tiba-tiba menyelinap dan Seorang pencinta binatang, memelihara binatang bermimikri bagaikan bunglon menjadi sesuatu dengan berbagai cara agar piaraannya tampak yang lain. Dalam ketidakwaspadaan kita, kata bagus. Tapi ia juga kemudian mengkebiri kekerasan kemudian meloncat ke pengertian- piaraannya itu supaya jangan suka ngelayap pengertian lain yang menjadi padan katanya. keluar rumah.

Pengertian kekerasan bergelantungan seperti Seo rang pencinta tanaman, menahan Tarzan di akar-akar kayu dan merambah ke p ro ses alami d ari tanaman-tanaman d an p o ho n-p o ho n lain sehing g a artiny a tak membuatnya menjadi bonsai. Bonsai kemudian terkendalikan lagi. Pada akhirnya ia bertengger di menjadi seni hias yang sangat prestisius sehingga suatu tempat yang sama sekali tidak pernah kita sebuah pohon yang sudah dikejami itu bisa bicarakan. Sehingga ketika kita mengangkat palu berharga puluhan sampai ratusan juta.

untuk mengukuhkan kesimpulan bahwa “ itu” Manusia tidak hanya menjadi kejam karena harus diberantas, ternyata kita sudah tersesat menyembelih mahluk hidup lain untuk dimakan, dalam rimba kekerasan yang melentur itu. Ada tetapi cara memakannya juga menimbulkan kemungkinan kita tidak lagi membicarakan kekejaman baru yang kemudian menjadi bagian kekerasan, sehingga vonis kita salah arah. dari kenikmatan. Di Jepang ada ikan yang masih Kalau disimak secara teliti, sudah banyak menggelepar-gelepar langsung ditelan. A da terjadi salah kaprah di dalam masyarakat. Dan monyet yang diiris kepalanya, lalu otaknya itupun merupakan bentuk lain dari kekerasan. disedot. Ada juga anak tikus yang langsung Kekerasan bukan saja apa yang kelihatan keras, disantap dengan kecap, konon untuk kekuatan. brutal, tetapi kalau apa yang semula dianggap Atas nama kesehatan dan pengobatan segala keras mulai terasa tidak keras, bahkan cenderung bentuk kekejian tersebut d ip erbo lehkan. dianggap bermanfaat. Pembalikan itu sendiri Begitulah kadal misalnya yang dulu dengan pada hakekatnya adalah tindakan kekerasan. Di lucunya bisa melompat di batu-batuan, sejak dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali dianggap dapat mengobati gatal-gatal akibat

contohnya. eksem, maka hidupnya diburu-buru.

Orang makan dengan bumbu ekstra pedas Ular cobra yang ditakuti karena dapat sehing g a seluruh tubuhny a berkering at. mematikan sekali patuk, sekarang diburu, karena Nafasnya ngos-ngosan. Dan sesudah itu badannya darahnya yang segar dianggap meningkatkan gerah membara. Kita yang melihatnya risih, tapi daya kejantanan. Di beberapa kota sekarang ia mengatakan bahwa semuanya itu nikmat. sudah bisa dilihat restoran yang menghidangkan Orang berlatih dengan sekuat tenaga membentuk darah segar cobra. Di layar televisi sekarang ada tubuhnya. Ia menyiksa diri dengan mengangkat acara adu keberanian. Orang berlomba siapa berbagai beban berat, agar tubuhnya terolah dan yang lebih berani masuk ke dalam sebuah tong berbentuk. Siksaan tersebut membuat badannya yang berisi lintah. Keluar dari drum tersebut berkembang luar biasa berbeda dari orang lain. tampak orang yang berani itu dadanya berdarah Dan ia dikukuhkan sebagai master body building. bekas gigitan lintah. Orang tersebut tersenyum Mereka yang berlatih silat memukul- bangga dan mengatakan yang terasa hanya rasa mukulkan jari tangannya sehingga menjadi keras, geli.

Televisi juga menyiarkan pertarungan yang mengerti, saling memahami dan membantu kita berdarah dan penonton bersorak kegirangan. di dalam bertikai sehingga hanya sebatas kata- Apa yang terjadi di arena gladiator zaman kata d an pengertian, memberikan banyak Romaw i, kembali terhidang lew at televisi, peluang untuk kesesatan. Karenanya, medium sebagai bagian dari hasil-hasil buah budi yang sangat erat hubungannya dengan “ rasa” manusia. Setelah kita mengalami kebablasan tersebut benar-benar harus dijaga agar selalu pengertian kemerdekaan dan kebebasan, banyak menjadi alat dan tidak memperalat kita yang sekali tayangan yang sangat kejam muncul di su d ah m e nc ip takan d an akan m e m an- televisi dan media massa. Media yang dulu faatkannya.

dianggap membawa suara kebenaran itu ternyata

Bahasa M enjadi Terdakwa Baru D alam

menjadi agen penting kekerasan.

Pembahasan Kekerasan

Banyak lagi contoh-contoh yang bisa dilihat

dari kehidupan sehari-hari, di mana bentuk- Bahasa Indonesia memiliki dua hal yang bentuk kekejaman yang sudah diterima, tidak kontradiktif. Di satu sudut, dinilai terlalu lagi merupakan kekejaman, tetapi buah budi dari sederhana, sehingga sulit dipakai untuk bahasa peradaban. Bila kita tak mengikuti mata rantai ilmiah. Seakan-akan bahasa Indonesia tidak tersebut, maka banyak hal di dalam kehidupan berkemampuan untuk menjadi alat komunikasi modern merupakan penghalalan kekejaman untuk sesuatu yang kompleks, njelimet, karena yang amat mengejutkan. Namun tidak juga cenderung mengaburkan. Ia tidak menunjuk berarti bahwa dengan mengerti dan mengikuti dengan kepastian terhadap apa yang hendak mata rantai perkembangan tersebut, segala diterangkannya, sehingga selalu masih ada bentuk kekejaman tersebut -- walaupun sudah pertimbangan rasa dalam memberi arti apa yang diterima oleh sebagian orang atau kebanyakan terkandung di dalam bahasa tersebut.

orang atau oleh masyarakat manusia -- tidak bisa Kata besok, ya, atau tidak, misalnya, adalah ditentang/ ditolak. kata-kata yang sangat banyak arti, tergantung Hanya saja, di dalam menentang kekerasan, dari siapa yang mengucapkan, bagaimana kita dibatasi oleh kesepakatan bersama zaman mengucapkan, di mana diucapkan dan dalam terhadap bentuk dan arti kekerasan itu sendiri. Di konteks apa hal tersebut diucapkan. Besok bisa sini muncul kesulitan besar. Hati nurani manusia berarti satu hari kemudian, bisa berarti berhari- mungkin sama, tetapi idiologi, kepentingan serta hari kemudian, atau bisa juga berarti tidak permainan politik membuat apa yang disebut pernah, alias sebuah cara menolak yang sangat kekerasan menjad i berbed a. Mereka yang halus. Tapi kita sudah hidup ratusan tahun berjuang menegakkan hukum, kebenaran, dengan bahasa Indonesia yang dulu bernama keadilan dan hak azasi, bila sudah mulai Melayu pasar. Setidak-tidaknya sejak ikrar kecipratan idiologi, kepentingan dan permainan Sumpah Pemuda yang menyuarakan Satu politik, justru menjadi pengacau utama. Bangsa, Satu Bahasa dan Satu tanah Air itu, Bagaimana kita bisa memberantas kekerasan bahasa Ind o nesia sud ah kita jad ikan alat bila pandangan tentang kekerasan itu sendiri penghubung. Kalau sud ah sempat terjad i berbeda keras? Kesepakatan tentang apa yang kekeliruan, maka kekeliruan itu sudah berusia kejam dan apa yang tidak lagi kejam, terus sangat panjang. Tidak hanya sesudah zaman bergerak, tumbuh dan berubah. Apa yang bisa kemer-dekaan, tetapi sejak tahun 1928 dan diberi label sebagai kekerasan dan apa yang memuncak di masa Orde baru, di mana bahasa sebenarnya bukan kekerasan lagi, karena sudah merupakan salah satu dari alat kekuasaan untuk diterima sebagai tuntutan kehidupan, terus untuk membatasi kemerdekaan rakyat dalam berkembang dalam variasi yang berbeda-beda di berpikir.

masing-masing tempat, situasi dan masyarakat Itulah bahayanya mempergunakan bahasa tertentu. Salah satu yang amat berperan dalam yang begitu plastis, supel, fleksibel yang mampu ling karan setan ini ad alah bahasa. A lat berjumpalitan dan main sulap di luar penguasaan komunikasi yang sudah menolong kita saling kita sendiri. Meskipun pada sudut yang lain,

bahayanya itu juga adalah sekaligus karunia. terhitung yang cedera dan begitu banyak orang- K e m a m p u a n n y a u n tu k m e n g a m b a n g , orang yang tersangkut dengan korban akan kemamp uanny a untuk menembus seg ala menderita sepanjang hidupnya.

batasan, m eny ebabkan kata-kata bahasa Namun dengan segera pula bisa kita rasakan, Ind o nesia mampu berakro batik, meno lo ng di sebaliknya, ada pendapat yang tidak keterbatasan pikir kita. Begitu logika tak mampu mempersoalkan korban-korban yang berjatuhan. lagi menditeksi apa masalahnya, rasa bahasa itu Bahkan tidak mempedulikan peristiwa tersebut menembus terus bagaikan sinar laser, mengorek dari sudutnya yang nyata. Mereka melihatnya makna-makna jauh di depan, sehingga kita sebagai bagian dari hutang-piutang dari masa berhasil mengantisipasi hal-hal yang menurut lalu. Bahwa satu atau banyak kekerasan yang

akal mustahil. dianggap telah diberlakukan terhadap satu

Karenanya, berbicara tentang kekerasan, baik masyarakat tertentu, belum dibayar lunas dan dia sebagai kata benda maupun sebagai kata karenany a su d ah w aktu ny a m elaku kan keadaan atau keterangan, kita harus sering- pelunasan. Maka Bom Bali pun bagai dibenarkan. sering berhenti dan melakukan reinterpretasi. Bom Bali sempat diinterpretrasikan sebagai Apakah kita masih tetap membicarakan hal yang ti n d ak an u n tu k m e n g h e n ti k an s e g al a sam a b e rsam a- sam a. A tau ki ta su d ah kemaksiatan yang sudah terjadi di Café Sari yang menyeberang membicarakan hal yang lain-lain khusus untuk orang-orang asing itu. Bom send iri-send iri. Mungkin juga kita sud ah dianggap sebagai tindakan penyucian agar membicarakan hal yang sama tetapi dengan cara kebejatan moral tersebut tidak terus dilestarikan yang berbeda-beda. Di situlah kita sering di pulau Bali. Maka tindakan kekerasan tersebut bertengkar, bukan pada substansi kekerasan itu menjadi sebuah perbuatan suci.

sendiri. Imam Samudra dan Amrozi punya alasan

Karena itu yang pertama sekali harus kita tersendiri untuk membenarkan pembunuhan sepakati di tingkat mana kita akan bahas te rse b u t. Be ri ta- b e ri ta d i su rat k ab ar kekerasan itu. Dengan kata lain di kasus yang menceritakan bagaimana dengan tanpa paksaan mana. Karena sekali kita bicara secara umum, mereka mengakui perbuatannya. Kalau kita kemungkinan untuk sesat langsung sudah ada mencoba masuk ke dalam relung hati dan segala sejak langkah pertama. Meskipun sayup-sayup pemetaannya pada peristiwa berdarah tersebut, juga kita hamp ir bisa merasakan bahw a kita akan sampai ke satu dunia yang sangat kesempatan untuk tidak sesat mungkin tidak berbeda dengan apa yang kita injak sekarang. akan pernah ada, karena kesesatan itu sendiri Dan mencoba mendebat dari dunia kita injak adalah sebuah Karunia yang membuat manusia sekarang, kita tidak lagi akan bicara tentang terus berpikir, mencari dan menguji-uji berkali- substansi Bom Bali, tetapi tentang konsep-konsep kali apa yang sudah pernah disimpulkannya dasar kebenaran yang dihubungkan dengan sebagai kebenaran. Kesesatan itu send iri iman yang ber-sangkutan, sehingga pembicaraan memo tiv asi manusia untuk berkembang , menjad i perd ebatan keyakinan yang bisa tumbuh dan lebih beradab sesudah sempat tak dihubungkan dengan kekuatan dahsyat yang tak beradab dalam kesesatannya. bisa dilawan oleh apa pun, yakni: agama.

Sebuah diskusi yang dilakukan di Teater Utan

Kekerasan: Contoh Peristiwa Bom Bali Kayu, Jakarta, muncul dalam surat-surat di internet. Diskusi tersebut sangat transparan, Sejak Tragedi Bali terjadi, reaksi masyarakat,

sehingga memberikan kita masukan yang media massa dan opini-opini yang berserakan

penting. Dari pengakuan para pengasuh media dilontarkan di ruang internet, secara kasar terbagi

massa, jelas ada perbedaan mendasar dalam dua. Pertama yang langsung mengutuk dan

melaporkan dan menanggapi sebuah peristiwa. menyebut tindakan pemboman tersebut adalah

Ternyata peristiwa apa pun seringkali tak penting tindakan biadab, atas nama apa pun ia dilakukan.

bagi sejumlah orang, yang lebih penting adalah Karena sekitar 200 o rang meninggal, tak

untuk kepentingannya. Pemanfaatan tersebut dosanya. Maka ia tetap memilih kekerasan, kemudian dimanfaatkan lagi oleh yang lain. Di karena itulah satu-satunya jalan untuk mencapai d alam d iskusi itu Go enaw an Mo hammad t u j u a n . M e s k i p u n h a l t e r s e b u t b i s a mencerite-rakan tentang teori konspirasi yang diperdebatkan.

terpraktekkan dalam menyikapi tragedi Bom Jadi kekerasan nampaknya masih akan terus

Bali. dilakukan oleh manusia, kendati manusia tahu

Sikap yang sudah membentuk opini sebelum itu tidak baik, selama dia merasa keuntungannya

Dalam dokumen Daftar Isi - Edisi Khusus 2003.pdf (Halaman 81-88)