• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRANSFORM ASI AGAM A DAN BUDAYA DI TENGAH-TENGAH M ASYARAKAT PLURAL

Dalam dokumen Daftar Isi - Edisi Khusus 2003.pdf (Halaman 74-76)

Abidin W akano*

sikap itu muncul dengan rasa kebencian dan adat istiadat, mereka melakukan tindakan- permusuhan, “ karena kamu bukan saya dan dia tindakan yang diskriminatif, kekerasan dan atau mereka bukan kami” . Sikap ingin saling asusila terhadap orang lain. Padahal mestinya mendominasi itu juga ditandai dengan rasa orang yang berbudaya dan tahu adat istiadat superior, bahwa saya atau kami lebih baik dari adalah orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai kamu, dia dan mereka. Pada ranah teologi kemanusiaan.

muncul sikap truth claim dan salvation claim atas Realitas kekerasan, KKN, kemunafikan, dan d iri d an kelo mp o k masing -masing , serta degradasi moral bangsa kita dewasa ini, telah memandang orang lain berada pada posisi memisahkan agama dari umat, serta budaya dari berhadap-hadapan dan berlaw anan, bahw a masyarakat. Agama-agama kehilangan umat, orang di luar diri dan komunitasnya adalah salah sedangkan budaya kehilangan masyarakat. Umat dan kafir. Maka secara teologis mereka mendapat telah diculik dan dipaksa hanya untuk menjadi p e n g ab sah an u n tu k m e m u su h i b ah kan pengikut partai, banser, pasukan, dan laskar - membunuh orang di luar diri dan komunitasnya-- yang siap dimobilisir untuk kepentingan rejim yang dianggap salah, tidak sekeyakinan dan tidak tertentu. Sedangkan masyarakat hanya akan memiliki satu cita-cita politik. menjadi boneka dari neo-liberalisme yang siap Problem seperti ini menandakan terjadinya untuk menggilas dan menghancurkan identitas disfungsionalisasi budaya dan agama, karena lokal serta local wisdom atas nama pembangunan yang terjadi dari sikap superior ini adalah dan budaya global yang menjanjikan sejuta terdistorsinya nilai-nilai universalis, pluralis, fasilitas modern dan kesejahteraan.

egalitarianis, dan equality. Nilai-nilai dasar agama Pertanyaan yang muncul adalah apa arti d an b u d ay a seb ag ai sarana em ansip asi agama dan budaya bagi suatu bangsa, jika bangsa kemanusiaan univ ersal d itemp atkan p ad a tersebut sudah tercerabut darinya? Apa arti kepentingan kelompok yang sifatnya sesaat. agama dan budaya tanpa masyarakat? Atau Agama dan budaya sebagai kekuatan pembebas dapatkah masyarakat bisa hidup tanpa agama dari kekerasan, kebodohan, kemiskinan dan d an bud aya? Tentu tid ak, karena agama

asabiyah yang sempit, justru menjadi instrumen diturunkan untuk kemanusiaan, dan budaya yang sangat efektif bagi penghancuran peradaban lahir dari proses akal budi manusia yang tinggi.

manusia. Akan tetapi di dalam realitas kehidupan agama

Konflik-konflik SA RA yang terjadi di dan budaya yang terjadi adalah manusia untuk tengah-tengah bangsa kita dewasa ini merupakan agama, dan itu lebih mencerminkan manusia akibat dari disfungsionalisasi agama dan budaya. sebagai pengikut partai, banser, pasukan, dan Karena konteks pemahaman agama dan budaya laskar yang mengabdi dan berjuang untuk selama ini lebih pada penciptaan solidaritas yang lembaga agama. Adapun budaya bukan lahir dari sempit, yaitu solidaritas kampung dan solidaritas akal budi manusia, tetapi lahir dari truth claim, agama yang memihak d an mementingkan kepentingan, dominasi, kebencian, dan kekerasan kelo m p o kny a send iri. Bukan atas d asar yang diabsahkan, tentu bukan budaya lagi - solidaritas kemanusiaan universal (rahmatan lil namun dengan adanya legitimasi dari keyakinan

' alamin) yang memihak kepad a nilai-nilai komunitas masing-masing, membuat hal tersebut kemanusiaan, sebagaimana yang menjadi misi dianggap absah sebagai budaya.

agama-agama dan cita-cita masyarakat yang Atas dasar itu, untuk mencari solusi beradab atau berbudaya. terhadap problematika tersebut, agama dan Pada konteks ini agama dan budaya berada bud ay a p erlu d itransfo rm asikan sebag ai di persimpangan jalan. Para penganut agama kekuatan etik-spiritual dan kekuatan profetik, terlihat semakin saleh secara formalistik-simbolik agar mampu mentransformasikan umat menjadi serta selalu mengatasnamakan agama. Mereka masyarakat yang beradab. Di sinilah peranan secara simbolik-formalistik selalu mengatas- kelompok antariman sangat signifikan untuk namakan agama dan kelihatan saleh. Sebagian melakukan transformasi sosial budaya.[]

orang yang selalu mengatasnamakan budaya dan

K e k e ras an , p e p e ran g an , d an lahiriah, seperti dilakukan dunia sains p embunuhan d i A mbo n, Po so , d an d an tekno lo gi d engan menguraikan peled akan bo m d i berbagai ko ta d i proses penciptaan dan kelahiran manusia I n d o n e s i a d i l a k u k a n d e n g a n secara biologis, geneologis, dan medis, menggunakan justifikasi “ agama” atas yang kemud ian berkembang untuk nama Tuhan. Dalam skala dunia, hal yang mengkloning. Tetapi sebaliknya, yang sama dilakukan AS yang merasa berhak berkaitan dengan dimensi ro haniah, bertindak atas nama kebenaran. mempertanyakan hakikat dan hidup Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) sesudah kematian, maka sains dan teknologi George W. Bush yang menuduh Irak, Korea tidak mampu untuk melanjutkannya, karena Utara, Iran dan Lybia, sebagai poros kejahatan, keterbatasan metodologi sendiri yang tidak berarti AS merasa menggenggam kebenaran m em u ng kinkanny a m enjang kau d im ensi untuk menyerang mereka. Saddam Hussein tidak rohaniah.

mau kalah, mengecam arogansi dan nafsu agresi Selanjutnya pertanyaan-pertanyaan itu p resid en A S sebag ai sy aitan besar. Irak dikembangkan dalam dunia filsafat untuk menyatakan, Tuhan akan membelanya melawan menjelajah d ataran nilai d an pemaknaan.

AS. Bermula dari Yunani yang menjelaskan adanya

Teologi perang dibangun untuk mengklaim sebab pertama, prima causa, yang tidak bersebab, Tuhan dan kebenaran di pihak mereka, untuk penggerak pertama yang tidak bergerak, the first

melegitimasi tindakan melakukan kekerasan atas mover unmoved, lahir d ari sebuah p ro ses

nama Tuhan. penciptaan yang menunjukkan adanya Pencipta

Fakta tak terbantahkan sejak dulu hingga yang berbeda dengan ciptaan. Tetapi filsafat tidak kini, tidak pernah ada seorang pun yang p ernah memberi kep astian tentang Sang melahirkan dirinya sendiri. Kelahirannya di Pencipta, abstrak, tak terjangkau manusia secara dunia selalu terjadi melalui proses panjang yang empirik.

sepenuhnya berada di luar rencana dan kemauan Tuhan secara kefilsafatan jadi amat jauh dari d irinya. Fakta itu mend o ro ng munculnya realitas hidup manusia di dunia, dan hanya pertanyaan aktual sepanjang masa, apakah dan dimengerti melalui konsep. Padahal, konsep siapakah manusia, dari mana asalnya, dan akan tentang Tuhan akhirnya mengalami kegagalan, ke mana akhirnya? karena tidak pernah ada konsep Tuhan, yang Puncak pertanyaan itu sebenarnya ingin mampu menggambarkan ketidak-terbatasan dan menyingkap misteri yang ada dibalik proses ketak-terhinggaan-Nya. Konsep selalu berangkat penciptaan manusia, dan umumnya menunjuk dan berakhir pada batasan.

pada adanya Sang Pencipta, yaitu Tuhan, serta Kemudian agama mengambil alih dan penciptaan adalah bentuk dari eksistensi-Nya. mengajarkan kepada umat manusia tentang Tuhan, dengan memberitakan keberadaan-Nya

Konsep tentang Tuhan, M ungkin? melalui Firman yang dipercayai datang dari Tuhan, yang tersurat dalam kitab-kitab suci yang Pertanyaan-pertanyaan tentang manusia

diturunkan-Nya, seperti Taurat, Zabur, Injil, itu, ternyata tidak hanya berhenti pada dimensi

Veda, Al-Quran, dan lainnya.

TEOLOGI PERANG, JUSTIFIKASI KEKERASAN

Dalam dokumen Daftar Isi - Edisi Khusus 2003.pdf (Halaman 74-76)