STKIP Yapis Dompu
Pandemi Covid-19 yang terjadi secara massif hampir di seluruh negara saat ini berdampak besar diberbagai sektor, seperti; pendidikan, bisnis, ekonomi, politik, pariwisata, dll. Wabah yang terjadi seolah menjadi ‘jeda’ untuk manusia agar bersama-sama berkontemplasi terkait hikmah dan pembelajaran dari peristiwa yang terjadi. Semenjak diterapkan peraturan social dan physical distancing oleh para pemangku kebijakan, berbagai sektor kehidupan juga mengalami perubahan yang sangat siginifikan. Contohnya adalah perubahan di dunia pendidikan. Sektor ini mengalami metamorfosa yang sangat berbeda dan tak biasa. Metamorfosa tersebut mau tidak mau menantang para pendidik maupun peserta didik untuk terus membenahi diri di tengah transformasi yang terjadi.
Perubahan tersebut merujuk pada perpindahan pengajaran tatap muka di kelas menjadi sistem pengajaran dalam jaringan atau yang dikenal pembelajaran daring. Meskipun saat studi di salah satu negara maju, saya pribadi sudah terbiasa dengan sistem pembelajaran online. Namun, pada realitanya mengaplikasikan pengajaran daring dalam proses pembelajaran pada kondisi saat ini, justru jauh lebih menantang dan tak semudah yang dibayangkan. Apalagi di tengah keterbatasan, baik finansial maupun sarana dan prasarana yang dimiliki peserta didik, jelas bukan hal yang mudah. Sebab tidak semua peserta didik punya akses kearah itu, khususnya mereka yang berasal dari kalangan
keluarga menengah kebawah. Keterbatasan penunjang pembelajaran daring seperti paket internet dan gawai pintar masih menjadi kendala utama dari sistem pembelajaran ini.
Di tengah keprihatinan bangsa dalam menghadapi Pandemi Covid-19 ini, saya sebagai pengajar di salah satu kampus swasta di Kabupaten Dompu, STKIP Yapis Dompu,TB, merasa tertantang dalam mengemban tugas dalam memanfaatkan teknologi. Saya sangat sadar bahwa dunia teknologi digital tak hanya menjadi ruang untuk bertukar informasi antara pengajar dan peserta didik. Tetapi lebih dari itu, pemanfaatan teknologi dalam bidang pendidikan menjadi ruang untuk para pengajar mengimplementasikan model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan kemampuan peserta didik. Baik kemampuan dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, aktif, kreatif, dan inovatif. Manfaat teknologi dalam pembelajaran seperti yang saya paparkan tersebut akan terwujud apabila peserta didik dan pendidik memiliki akses yang sama dan mudah untuk melaksanakan sistem pembelajaran daring. Namun, realita lapangan, proses pembelajaran daring yang saya lakukan cukup memiliki banyak tantangan tersendiri. Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi cerita terkait tantangan dan pengalaman mengajar online ditengah pandemi yang terjadi.
1. Tantangan
Jarum jam menunjukan pukul 23. 50 WITA, nyaris menuju pergantian waktu ke hari berikutnya. Laptop yang menjadi kawan setia sedari tadi dalam menyusun bahan ajar daring, telah memberikan tanda ingin segera beristrahat. Bahan ajar telah rampung. Laptop dimatikan. Agenda selanjutnya adalah menyusun jadwal harian untuk hari esok. Baru saja selesai menyusun jadwal harian, tiba-tiba notifikasi pesan singkat dari gawai putih saya berbunyi berturut-turut. Rupanya dua mahasiswa mengirimkan pesan singkat seperti berikut :
“ Bu, maaf. Saya tidak bisa mengikuti kuliah online hari ini dikarenakan saya tidak punya uang untuk membeli paket data, bu” (FK, 2020)
di kelas yang miss ajar, saya harus ikut melaut berburu ikan karena alasan ekonomi. Tapi saya akan tetap belajar menggunakan materi yang ibu posting di group” (SBN, 2020)
Begitulah bunyi dua pesan singkat yang dikirimkan oleh mahasiswa pada mata kuliah yang saya ampu. Saya pribadi adalah seorang pengajar di Prodi Bahasa Inggris di STKIP Yapis Dompu dimana hampir seluruh mata kuliah yang saya ajar mengharuskan peserta didik agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Kondisi-kondisi yang saya ceritakan di atas jelas menjadi sebuah ‘kesulitan’ yang mau tidak mau menjadi hambatan dalam model pembelajaran yang tengah saya terapkan. Output akhirnya, akan berdampak pada penguasaan materi peserta didik yang tidak maksimal. Jelas hal ini juga berdampak pada penilaian yang akan saya lakukan. Ribuan tenaga pendidik di Indonesia hari ini barangkali merasakan pengalaman yang sama seperti saya. Terjebak pada satu situasi dimana kerja keras untuk menghasilkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas harus berbenturan dengan tantangan-tantangan.
Berbicara tentang keadaan mahasiswa di Kampus Biru (julukan untuk kampus STKIP Yapis Dompu) sebagian mahasiswa yang melanjutkan studi di kampus ini berasal dari keluarga tidak mampu atau berasal dari keluarga yang memiliki ekonomi menengah kebawah. Mata pencaharian keluarga para peserta didik cukup bervariatif; tukang ojek, petani, nelayan, supir bis dan truk, pedagang kaki lima, hingga penggembala sapi. Namun kenyataannya, meski berasal dari keluarga tidak mampu, semangat mereka menempuh pendidikan dalam keterbatasan yang dimiliki patut dibanggakan. Terutama selama mengikuti kuliah online. Banyak diantara mereka memiliki prestasi yang luar biasa dan patut dibanggakan. Berprestasi dalam keterbatasan. Begitu istilah yang tepat untuk menggambarkan keadaan mahasiswa di Kampus Biru.
Terkait permasalahan mengajar online, ada beberapa tantangan utama yang saya alami selama mengajar di tengah wabah covid 19. Tantangan pertama yang saya hadapi selama pengajaran jarak jauh
(PJJ) adalah keterbatasan fasilitas pendukung yang dimiliki oleh para mahasiswa. Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, dikarenakan kondisi ekonomi, beberapa mahasiswa tidak memiliki fasilitas premier yang mendukung proses kuliah daring, seperti laptop, gawai pintar, dan paket data. Dikarenakan tidak semua mahasiswa memiliki fasilitas pendukung utama tersebut, hal ini sangat berpengaruh pada proses pembelajaran dengan sistem perkuliahan yang tengah dilaksanakan.
Sadar akan keterbatasan ekonomi yang tengah dihadapi oleh para peserta didiknya, para pimpinan kampus STKIP Yapis Dompu mengeluarkan kebijakan yang cukup solutif untuk membantu para mahasiswa agar tetap aktif mengikuti perkuliahan. Selain adanya subsidi paket data yang diberikan baik kepada pengajar dan mahasiswa, para pengajar diminta untuk mengumpulkan materi perkuliahan selama satu semester serta menganjurkan untuk memanfaatkan
Short Message Service (SMS) maupun telepon secara manual, agar
membantu proses belajar para mahasiswa. Namun, meskipun kampus telah berupaya semaksimal mungkin mengambil kebijakan tersebut, permasalahan keterbatasan finansial dan minimnya fasilitas tetap menjadi problematika dalam pembelajaran dengan sistem kuliah jarak jauh.
Tantangan berikutnya adalah terkait adanya gap komunikasi yang terjadi. Meski ada banyak pilihan aplikasi yang dapat mendukung proses kuliah daring seperti Zoom, Google Meet, Google Hangout, Edmodo,
Scology, dsbnya, butuh waktu bagi saya untuk memilih aplikasi yang
aplikatif dan akseptabel digunakan oleh para mahasiswa yang saya ajarkan. Beberapa pertimbangan yang wajib dipikirkan saat memilih aplikasi mengajar adalah kemudahan dalam mengakses, ekonomis (tidak boros kuota), dan efektifitas. Penggunakan aplikasi Zoom, misalnya. Aplikasi ini memang sangat kaya akan fitur pendukung belajar online, namun aplikasi ini tidak dapat diimplementasikan kepada para mahasiswa yang mengampu mata kuliah yang saya ajarkan, dikarenakan cukup menguras kuota. Meski telah memilih beberapa aplikasi yang sesuai dengan pertimbangan kriteria di atas, dalam proses penerapannya, belajar daring tetap menimbulkan gap
komunikasi yang cukup esensial untuk diperhatikan. Di awal minggu pertama dan kedua kuliah daring, misalnya, dibutuhkan tenaga ekstra untuk menerapkan sistem pembelajaran yang aktif dan kondusif via ruang maya, terlebih mata kuliah yang saya ajarkan melibatkan kriteria keaktifan sebagai persyaratan utama dalam proses penilaian.
Gap komunikasi ini umumnya dipicu oleh dua hal, keterampilan digital dan jaringan internet yang tidak stabil. Keterampilan digital peserta didik dalam mengakses informasi masih sangat kurang sehingga mempengaruhi proses penyampaian materi yang sedang berlangsung. Hal lain yang memicu gap komuninkasi ini adalah terkait jaringan internet yang tidak stabil. Beberapa mahasiswa yang menempuh pendidikan di Kampus Biru berasal dan tinggal di wilayah terpencil dimana koneksi internet masih sangat menjadi permasalahan pokok. Hal ini tentu memicu terganggunya keaktifan proses belajar mengajar dalam menyampaikan dan mempelajari materi serta keaktifan peserta didik dalam merespon materi yang disampaikan. Khususnya bagi mahasiswa yang tinggal diarea pedesaan yang kurang kondusif jaringan Internetnya. Kesenjangan komunikasi yang terjadi karna faktor seperti yang telah disebutkan jelas memunculkan keambiguan pesan dalam ruang maya. Sehingga berpengaruh pada proses pemahaman dan daya tangkap mahasiswa terhadap materi yang tengah dipelajari. Untuk mereduksi gap komunikasi ini, para mahasiswa diberikan kesempatan untuk bertanya tanpa dibatasi waktunya dengan memposting pertanyaan di Google Classroom atau sekedar mengirim pesan lewat
Short Message Service (SMS). Sesekali, ada juga yang memberanikan
diri dengan bertanya via telepon.
Permasalahan lain yang muncul saat mengajar online adalah terkait tidak maksimalnya pelaksaan pembelajaran. Meski jadwal kuliah online telah ditetapkan dan disepakati bersama, pada kenyataanya, banyak diantara peserta didik merasa kesulitan mengatur waktu dan berkonsentrasi saat mengikuti sistem kuliah ini. Sebut saja saat mengajar salah satu mata kuliah, Writing misalnya. Meski sudah diingatkan sehari atau beberapa jam sebelum kuliah terkait jadwal mata kuliah tersebut dan mewanti-wanti kepada mereka untuk
tepat waktu terlibat mengikuti mata kuliah online, namun masih ada beberapa diantara mereka yang cenderung molor untuk mengikuti kuliah virtual. Beberapa diantara peserta didik muncul di beberapa menit diwaktu kuliah berakhir. Alhasil, proses materi pembelajaran tidak dapat diserap dengan baik dan berpengaruh pada proses berlangsungnya perkuliahan daring yang tengah disampaikan.
Distraksi yang terjadi dilingkungan tempat tinggal peserta didik mempengaruhi tingkat efektivitas pembelajaran virtual yang diikuti. Banyak diantara mahasiswa yang berbagi cerita kepada saya bahwa terkadang mereka masih memilki kesulitan belajar dari rumah dikarenakan banyak kendala yang terjadi. Contohnya, saat tengah mengikuti kuliah online, orang tua atau wali mereka masih meminta untuk membantu melakukan pekerjaan rumah. Bahkan, beberapa diantara mereka yang harus meninggalkan kuliah dikarenakan harus membantu orang tua mereka Bertani dan berladang. Hal seperti ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi pengajar maupun peserta didik sebab kedua pihak harus sama-sama berkerja keras menemukan pola mengajar dan belajar yang tepat.
2. Strategi
Saya sadar bahwa terus fokus pada permasalahan yang telah diuraikan bukanlah hal yang terbaik. Pengajarpun butuh waktu dan ‘ruang’ untuk bertumbuh memaksimalkan potensinya dalam mengajar. Oleh karena itu, guna memaksimalkan proses pembelajaran online di tengah Covid 19 seperti ini, secara pribadi saya berusaha membekali diri dengan meningkatkan lini keilmuan terkait pembelajaran daring. Selain membaca literatur, kolom opini, hingga mengunjungi situs website, saya juga aktif mengikuti webinar pendidikan yang mengangkat terkait topik serupa. Mengikuti webinar sangat membantu membuka cakrawala saya dalam dunia mengajar. Hal ini penting dilakukan agar peserta didik yang diajarkan tidak merasa bosan dengan sistem kuliah yang mereka ikuti. Selepas membaca berbagai referensi dari beberapa sumber, selain memperbaiki media penyampaian materi, saya juga mengaplikasikan teknik mengajar daring dengan cara yang lebih