• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sri Wulan Megawati

Dalam dokumen Kuat Melawan Corona (Halaman 29-37)

Email : [email protected]

COVID-19 merupakan wabah penyakit yang berasal dari Tiongkok yang menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. COVID-19 menyebar di Indonesia pada awal Maret 2020. Penyebaran virus ini menyebabkan kerugian untuk banyak negara terutama dalam bidang ekonomi. Dalam bidang pendidikan, COVID-19 juga mengubah model pembelajaran secara drastis; seluruh kegiatan pembelajaran dilakukan secara e-learning mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi . Pemerintah pusat melalui kementrian pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan kebijakan terkait dunia pendidikan yaitu meniadakan sementara pembelajaran tatap muka secara langsung dan diganti dengan pembelajaran jarak jauh. Pemerintah membuat kebijakan sistem lockdown di setiap sekolah dan universitas untuk mencegah penularan.

Wabah Covid-19 merubah proses aktivitas belajar mengajar tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh atau e-learning. Dengan adanya akses ini tak membuat pendidik dan peserta didik untuk tidak ada aktivitas belajar mengajar. Aktivitas belajar mengajar tetap dilaksanakan dalam dunia pendidikan walaupun akses lockdown di sekolah dan universitas diberlakukan untuk mencegah penyebaran luas virus corona. Kebijakan pada pendidikan bahwa aktivitas belajar mengajar disekolah dapat dilaksanakan menggunakan E-learning berbasis e-learning dirumah dalam kurun waktu 14 hari yang telah dikeuarkan keputusan dari pemerintah pusat ataupun daerah untuk mengantisipasi penyebaran dilingkungan sekolah dan universitas dan bahkan sekarang sudah memasuki bulan ke-3.

Di Indonesia, paradigma baru terkait konsep pembelajaran

e-learning di perguruan tinggi sebetulnya sudah lama digaungkan

tetapi masih dianggap sebagai hantu yang menakutkan baik oleh pengelola perguruan tinggi, dosen maupun mahasiswa. Konsep belajar mengajar masih memiliki makna sebagai sebuah interaksi antara dosen dengan mahasiswa melalui sebuah pertemuan yang terjadi secara kasat mata di dalam kelas. E-learning merupakan sebuah proses pembelajaran berbasis elektronik yang dalam penggunaannya dapat diakses secara online. Tujuan e-learning adalah memudahkan proses pembelajaran, meningkatkan penguasaan terhadap materi pembelajaran, meningkatkan interaksi antara peserta didik kepada pendidik sehingga efektif digunakan pada masa pandemi ini.

E-learning pada dasarnya, memayungi semua istilah pembelajaran

seperti online learning, web-based instruction, networked learning,

computer-assisted, virtual classroom, blended learning, mobile learning.

Esensi dari e-learning sendiri tidak hanya berfokus pada teknologinya tapi justru pada pengalaman belajarnya, yaitu adanya interaksi antara yang belajar dengan yang membelajarkan.

Pada saat pandemic ini muncul trend belajar e-learning menggunakan beberapa aplikasi atau jaringan tertentu. Aplikasi Ruang Guru, Zenius.Net, Quipper, Google Classroom, Edmudo, google meet, zoom dan sebagainya. Adanya website seperti murid pintar, dan video youtube edukasi juga dapat dimanfaatkan sebagai proses pendalaman materi. Model pembelajaran seperti Problem Solving, CIRC, dan atau evaluasi discrepancy menjadi tambahan daya tarik peserta didik untuk termotivasi dalam belajar. Pembelajaran melalui

e-learning memiliki potensi-potensi, antara lain: kebermaknaan

belajar yang lebih baik, kemudahan dalam melakukan akses kapanpun dimanapun dan peningkatan hasil belajar. Dalam konteks belajar

e-learning mahasiswa dapat langsung mengakses teks, gambar, suara,

data, dan video dua arah, dengan bimbingan dosen. Tutorial tatap muka diganti dengan perantara teknologi dimana diharapkan hasil belajar mahasiswa menjadi bagus di tengah maraknya virus covid-19. Bantuan teknologi diharapkan akan menghasilkan prestasi mahasiswa

meningkat, karena tidak hanya penguasaan materi melainkan juga menguasai teknologinya

Wabah Covid-19 memaksa perguruan tinggi untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh. Mahasiswa dan dosen harus beradaptasi dengan metode pembelajaran baru yang berubah secara tiba tiba. Pembelajaran jarak jauh ini tetap menuntut mahasiswa mampu memenuhi pemenuhan tugas-tugas perkuliahan, menghadapi kompleksitas materi perkuliahan dan pemenuhan meraih pencapaian akademik. Perubahan ini merupakan stressor tersendiri bagi mahasiswa, jika mahasiswa yang tidak mampu beradaptasi dengan stresor baru maka bisa mengakibatkan stress yang berdampak baik pada fisik maupun psikologis. Fenomena stres akademik yang dialami mahasiswa tidak hanya disebabkan oleh tuntutan akademik, tetapi juga adanya kompetisi yang tinggi dalam proses penilaian, jadwal yang sibuk, banyak siswa yang melaporkan bahwa mereka tertekan karena beban kerja yang diterima oleh mahasiswa dirasakan begitu besar. Beban akademik yang begitu besar itu menyebabkan kecemasan dan stres yang yang pada akhirnya menyebabkan burnout pada mahasiswa. Burnout ini ditandai dengan banyaknya mahasiswa yang terlambat mengumpulkan tugas, keaktifan di kelas kurang, pengerjaan tugas yang asal asalan dan adanya keluhan dari beberapa mahasiswa jika dalam pengerjaan tugas kelompok hanya dikerjakan oleh beberapa orang.

Mahasiswa sebagai generasi Z, nampaknya secara kognitif, keterampilan dan sikap tidaklah memiliki kendala yang berarti dalam menempuh pembelajaran e-learning. Penggunaan teknologi untuk membantu mereka belajar dapat dilaksanakan dengan baik, hanya jika mereka didukung oleh faktor-faktor eksternal yang dapat mengatasi hambatan belajar, yaitu ketersediaan jaringan internet yang memadai untuk akses belajar, platform E-learning dan media pembelajaran yang sesuai dengan konten pembelajaran, suasana lingkungan kondusif yang mendukung motivasi dan semangat belajar. Tingkat partisipasi yang tinggi dan semangat untuk berupaya menguasai konten

Pembelajaran melalui pembelajaran e-learning oleh Generasi Z tersebut terlihat dari respon mereka yang sebagian besar tetap ingin melaksanakan kembali sistem pembelajaran e-learning jika masa Pandemi covid-19 berakhir. Mode pembelajaran e-learning belum optimal menjangkau kebutuhan gaya belajar mahasiswa yang berbeda-beda. Hal ini perlu menjadi perhatian dosen, agar dapat memberikan lebih banyak alternatif atau bervariasi men’delivery konten pembelajaran. Secara teknis, pemberian tugas dan ujian masih dianggap sebagai beban yang cukup besar bagi mahasiswa, karena dukungan teknis (jaringan dan quota) yang kurang memadai

Kendala dalam melaksanakan e-learning sepertinya tidak hanya dialami oleh mahasiswa, dosen pun demikian. Ada beberapa kendala yang muncul selama proses pembelajaran yang dialami dosen misalkan kesulitan melaksanakan demostrasi laboratorium karena alat dan bahan yang tidak ada, keterbatasan dalam Pengembangan media pembelajaran, kelelahan yang dialami oleh dosen karena jam kerja yang tidak tentu. Selain itu, masalah yang di alami oleh dosen dan mahasiswa yang hampir sama dikeluhkan adalah terkait stabilitas jaringan dan kuota internet. Permasalah yang dialami berikutnya terkait pembelajaran e-learning adalah terkait dengan apa metode pembelajaran yang tepat sebagai pengganti demonstrasi laboratorium dan praktik profesi di rumah sakit. Demonstrasi labortorium membutuhkan alat yang habisa pakai maupun tidak habis pakai, ada skill yang harus dinilai. Praktik profesi kompetensinya bisa dicapai jika melibatkan pasien baik di tatanan klinik maupun komunitas. Pada kondisi wabah saat ini semua fasilitas kesehatan tidak menerima mahasiswa sehingga pasti akan ada target kompetensi yang tidak bisa dicapai. Sampai saat ini belum ada solusi yang tepat untuk pelaksaan profesi ini, mahasiswa untuk sementara di tarik dan di off kan dari fasilitas kesehatan.

Perubahan (konsep) pembelajaran ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk diimplementasikan. Dosen mengalami kendala dalam menerapkan e-learning begitupun juga dengan mahasiswa, khususnya dalam menggunakan komputer. Ini, tentu saja, berakibat pada

rendahnya kemajuan belajar yang dicapai mereka karena pembelajaran dengan konsep e-learning ini tidaklah ‘semudah’ bila dibanding dengan sistem pembelajaran face-to-face. Resistensi atas perubahan konsep pembelajaran konvensional menjadi e-learning ini memang dapat dipahami karena pada kenyataannya memang tidaklah mudah untuk mengubah kebiasaan dan keyakinan dalam mengajar yang telah terpateri lama dan kebiasaan yang telah dilakukan dalam waktu yang panjang, dan lalu, harus mengubah dan menggantinya dengan suatu konsep baru yaitu dengan e-learning.

Idealnya pembelajaran e-learning seharusnya tidak jauh berbeda dengan kelas nyata. Interaksi yang terjadi harusnya tetap meningkatkan interaktivitas pembelajaran melalui optimalisasi alur belajar (learning

path). Alur belajar adalah penyajian pembelajaran yang dirancang

sedemikian rupa per penggalan materi yang didalamnya meliputi arahan belajar (learning guide), deskripsi (penjelasan), serangkaian materi digital dan serangkaian aktivitas belajar yang dirangkai sedemikian rupa secara deduktif maupun induktif menjadi suatu obyek belajar yang interaktif, menarik dan dapat menghasilkan pengalaman belajar seoptimal mungkin. Dalam pelaksanaannya ada beberapa proses dari alur belajar yang tidak dilalui, sehingga pencapain kompetensi mahasiswa dalam prosesnya sulit dinilai.

E-learning harus mampu menciptakan proses pembelajaran yang

bisa menumbuhkan harapan bagi peserta didik dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi mereka. Rasa kebersamaan antara pendidik dengan peserta didik untuk saling berbagi informasi dan bertukar gagasan juga harus tercipta sehingga mengurangi stress yang dialami peserta didik. Pendidik harus memberikan ruang bereksperimen, menguji pengetahuan, menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, dan apabila memungkinkan menerapkan teori yang telah peserta didik diskusikan atau telah mereka baca. Proses evaluasi harus bisa dikembangkan oleh pendidik untuk mengukur kemampuan (performance) mahasiswa. Pengajaran yang “empati” dalam e-learning merupakan alternative pilihan yang harus dilakukan oleh dosen untuk membentuk rasa kebersamaan, tetapi tidak dalam artian tidak tegas

dan melonggarkan disiplin dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran e-learning akan efektif jika menerapkan komponen esensial yang mencangkup aspek diskursfi, adapftif, interaktif dan reflektif, untuk mencapai itu tidak bisa hanya dilakukan dengan satu model pembelajaran saja tetapi butuh kombinasi pembelajaran sehingga penting sekali adanya inovasi berupa integrasi dengan lingkungan yang mengacu pada komponen digital learning ecosystem yang dapat mengakomodasi gaya belajar, fleksibilitas dan pengalaman belajar mahasiswa sehingga dapat memunculkan perasaan yang positif. Pencapaian pembelajaran dibutuhkan tenaga ahli pengajar dan juga sarana dan prasarana untuk membantuh proses belajar mengajar. Akses penting di era 4.0 merupakan teknologi berbasis digital dan juga jaringan yang dapat mengakses internet dengan cepat untuk mendapatkan informasi dan mencari informasi penting. Praktek-praktek pengembangan SDM baik melalui pelatihan profesionalitas guru maupun jenjang pendidikan lebih tinggi belum sepenuhnya optimal. Banyaknya dosen yang belum paham dalam mengoperasikan serta memanfaatkan laptop menjadi salah satu indikator masalah dalam mentransfer ilmu via gadged serta penggunaan aplikasi dengan sistem edukasi.

Pembentukan digital learning ecosystem bukanlah hal yang mudah

dilakukan, upaya dan kerjasama dari semua pihak diperlukan untuk mewujudkannya. Kesiapan dari segi organisasi, infrastruktur, dana,

sumber daya dan perubahan dalam konsep pembelajaran. Dengan terbentuknya digital learning ecosystem diharapkan tujuan dari

penggunaan e-learning dapat terwujud, yaitu membantu mahasiswa

dalam memecahkan berbagai masalah belajar melalui tambahan penjelasan, tambahan informasi, diskusi, dan kegiatan lainnya, meningkatkan motivasi mahasiswa untuk belajar dan menyelesaikan studinya, menumbuhkembangkan kemampuan belajar mandiri mahasiswa dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas dan evaluasi.

Pemahaman akan adanya berbagai kendala yang muncul terkait dengan perubahan dari sistem pembelajaran tatap muka menuju

sistem pembelajaran e-learning kiranya dapat membantu pihak yang berkompeten dalam menyusun perencanaan sehingga proses implementasi pembelajaran terkait dengan perubahan ini dapat dilakukan secara lebih baik, lebih matang, dan lebih terencana. Ada berbagai upaya dalam mendukung keterlibatan staf akademik (dosen) di dalam pelaksanaan tutorial online, diantaranya melalui pelatihan yang bersifat penyegaran, atau juga melalui monitoring dengan berbagai cara, serta sosialisasi yang dilakukan secara sinambung, yang sampai sejauh ini merupakan upaya yang telah dilakukan secara sinambung. Oleh karenanya, perubahan dari konsep pembelajaran tatap muka menuju konsep e-learning juga menuntut mahasiswa untuk mengatasi berbagai kendala yang muncul karena konsep e-

learning, yang merupakan konsep baru dengan nilai-nilai baru di

dalamnya, harus mereka adopsi.

Sama halnya dengan berbagai kesulitan yang dihadapi oleh para dosen, untuk jangka panjang, para mahasiswa terbiasa dengan lingkungan belajar di mana dosen adalah seseorang yang dianggap mengetahui segala hal dan akan memberitahu bilamana dan apa yang harus dilakukan mahasiswa. Di dalam e-learning, mahasiswa dapat mengidentifikasi, mengenali, dan membuat keputusan sendiri mengenai kemajuan belajar yang telah direncanakannya. Mahasiswa juga harus belajar bagaimana cara berkomunikasi melalui Internet. Pengalaman menunjukkan bahwa banyak dosen atau tutor yang menerapkan konsep e-learning justru bersikap apriori dengan menyatakan bahwa mahasiswa sulit menerima (konsep) e-learning karena mereka tidak terbiasa berkomunikasi menggunakan computer sebagai media komunikasinya.

Hambatan, solusi dan proyeksi pembelajaran e-learning merupakan aspek penting yang harus dikaji secara mendalam. Adanya hambatan pada proses pembelajaran dapat menurunkan minat belajar mahasiswa. Faktor-faktor yang menjadi kunci kesuksesan pembelajaran e-learning adalah ketersediaan sarana dan prasarana. Dukungan perguruan tinggi dan dosen menjadi aspek penting yang mendukung keberhasilan pembelajaran e-learning. Pembelajaran

e-learning ini merupakan proses transformasi pendidikan konvensional

ke dalam bentuk digital sehingga memiliki tantangan dan peluang tersendiri. Oleh karena itu, adanya hambatan yang terdapat dalam proses pembelajaran e-learning harus dapat ditemukan solusinya, sehingga proyeksi pembelajaran dengan sistem e-learning ke depan dapat dipetakan.

Wabah yang sedang melanda Indonesia saat ini membuat pendidikan di Indonesia sedikit terguncang. Efektifitas belajar mengajar tetap dilaksanakan dengan adanya bantuan internet dan aplikasi untuk memudahkan berinteraksi dengan baik. Dibutuhkan aplikasi serta gadget untuk terhubung diinternet, tak semua dosen dan mahasiswa dapat menggunakan aplikasi langsung dan berbaur dengan hal gadged. Kendala lain peserta didik belum tentu semua mempunyai

gadged disamping itu adanya indikasi seperti ketergantungan terhadap

aplikasi berdampak pada sisi ekonomi peserta didik yang tidak semua mempunyai gadged yang setara untuk mengakses link atau membuka aplikasi tertentu. Pembelajaran e-learning di masa pandemik ini mau tidak mau, siap tidak siap harus kita jalankan. Dosen sebagai pendidik yang berhubungan paling dekat dengan mahasiswa harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi mahasiswa sehingga mahasiswa tetap merasa nyaman dalam melaksanakan proses pembelajaran. Lingkungan belajar yang baik akan membuat mahasiswa tetap terjaga motivasinya sehingga learning outcome bisa dicapai meskipun dalam kondisi pandemik.

IMPLEMENTASI PEMANFAATAN

Dalam dokumen Kuat Melawan Corona (Halaman 29-37)