Email : [email protected]
Pendahuluan
Pandemi yang disebabkan oleh virus covid-19 mengenai semua lapisan masyarakat di seluruh dunia. Indonesia sendiri kemudian memberlakukan physical distancing serta pembatasan wilayah berskala besar. Kantor diliburkan, kampus diliburkan, sekolah diliburkan bahkan tempat-tempat ibadah ditutup. Praktis semua kegiatan dilakukan dari rumah belajar dari rumah, bekerja dari rumah dan beribadah di rumah. Hal ini dilakukan demi memutus mata rantai penyebaran virus.
Bekerja dan belajar di rumah selama lebih dari 2 bulan memberikan respon yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang menyambutnya dengan bahagia karena sudah sangat lelah baik fisik maupun psikis dengan rutinitas kantor, dengan jadwal kuliah yang padat, atau merasa sebagai orang tua yang jarang sekali bisa family time ingin berkumpul dengan anak dan pasangannya meski sebenarnya tinggal serumah. Bagi kakek nenek yang tinggal jauh dengan anak,menantu, dan cucu tentunya akan menyambut himbauan ini dengan menghela nafas panjang yang membuat harus memperpanjang masa penantian dalam kesepian. Tanpa physical distancing saja sudah sangat jarang bertemu apalagi ditambah himbauan physical distancing dan PSBB. Teknologi memang sudah berkembang pesat sehingga tetap bisa melihat dan mendengar suara keluarga dari jarak jauh misalnya dengan video
called namun yang namanya manusia berbeda dengan robot. Manusia
mungkin terlupa bahwa pertemuan tidak hanya saling melihat dan bertanya kabar namun juga bersentuhan, bersalaman, berpelukan, bermain bersama, kontak mata, kehangatan dan sebagainya yang tidak bisa ditransfer melalui video called. Betapa teknologi yang canggih
sekalipun tetap memiliki keterbatasan.
Fenomena SFH dan WFH
Ketika perkuliahan maupun sekolah diliburkan banyak siswa maupun mahasiswa yang menyambut gembira di awal. Namun kemudian para siswa maupun mahasiswa ini mulai merindukan pembelajaran tatap muka. Bukan karena belajar di rumah tidak menyenangkan atau mungkin ‘guru di rumah’ lebih garang tetapi sungguh belajar jarak jauh itu butuh effort yang lebih dibanding pembelajaran tatap muka. Pembelajaran tatap muka ketika ada yang kurang paham dapat langsung bertanya dan dijelaskan dengan gamblang, sedangkan pembelajaran daring ketika para siswa atau mahasiswa bertanya maka tak jarang harus mencerna maksud penjelasan sambil membayangkan untuk bisa paham. Belum lagi masalah teknis sinyal, koneksi, jaringan, provider, listrik dan sebagainya. Itu baru yang pembelajaran teoritis, belum lagi yang parktikum sains, kesenian atau yang menggunakan formulasi rumus dan berhitung. Video atau
coference call seperti Cisco atau Webex mungkin sedikit membantu
namun harus dengan effort lebih lagi berupa kuota dari provider yang handal. Hal ini butuh biaya yang tidak sedikit serta lokasi yang mendukung untuk mendapat sinyal stabil.
Dunia pendidikan seyogyanya memang bukan sekedar transfer ilmu dari pendidik ke peserta didik, tetapi tidak kalah pentingnya untuk mentransfer juga nilai yang baik atau karakter yang positif dari pendidik ke peserta didik. Memasuki revolusi industri 5.0 jika pendidik hanya sekedar transfer ilmu maka peran akan segera diambil alih oleh teknologi dan internet. Anak TK saja sudah pandai menggunakan
gadget dan berselancar di dunia maya. Apabila peserta didik hanya
menyampaikan ilmu yang sifatnya transfer ilmu pengetahuan maka sebenarnya hal ini bisa dilakukan sendiri dengan mudah oleh perserta didik dengan googling. Bahkan mungkin peserta didik lebih canggih dalam hal ini dibanding pendidik. Terlebih sekarang, anjuran belajar dari rumah akhirnya memberikan tantangan tersendiri bagi para pendidik bagaimana bisa tetap menjadikan peserta didiknya cerdas
dan berkarakter tanpa bertemu dengan para peserta didiknya hanya dengan teknologi dan segala keterbatasannya. WFH dan SFH sendiri akhirnya tidak hanya memberikan dampak dari segi ekonomi dan psikologis namun juga menimbulkan masalah kesehatan seperti gangguan penglihatan karena terlalu lama menatap layar komputer/ laptop/handphone, sakit punggung karena bekerja/belajar dengan terlalu lama duduk, bahkan mungkin timbul berbagai penyakit lainnya akibat kurang gerak/kurang aktivitas selain bekerja/belajar online.
Strategi Bertahan Melawan Dampak Pandemi
Pandemi yang diakibatkan penyebaran virus Covid-19 ini menimbulkan sejumlah dampak di seluruh lapisan masyarakat. Dampak tersebut antara lain stress, cemas, takut, panik dengan ancaman tertular virus serta persebaran informasi terkait virus yang mayoritas adalah berita negatif. Selain itu pandemi ini juga menyebabkan keluarnya sejumlah peraturan yang menyebabkan banyak karyawan dirumahkan serta banyak usaha yang tutup sehingga semakin banyak pengangguran. Banyak kepala keluarga kehilangan pekerjaan namun tetap harus bertahan tinggal di rumah yang tentunya untuk bertahan hidup seluruh keluarga butuh makan dan keperluan sehari-hari. Akibat himpitan ekonomi ini akhirnya banyak timbul kekerasan dalam rumah tangga dan kriminalitas seperti begal, maling, perampokan dan pembunuhan.
Pada situasi seperti ini yang paling dibutuhkan untuk dapat kuat bertahan melawan virus Covid-19 adalah kesehatan fisik dan mental. Kesehatan fisik diperoleh dari kecukupan makanan yang bergizi, berolahraga ringan, mematuhi anjuran untuk mencuci tangan dengan sabun, memakai masker serta menjaga jarak (physical distancing). Kesehatan mental diperoleh dengan tetap tenang, saling menolong, dan meningkatkan keimanan. Berikut ini beberapa strategi bertahan yang dapat dilakukan:
a. Strategi darurat
dalam menghadapi pandemi ini sesuai kemampuan masing-masing. Misalnya banyak yang tergerak untuk menjadi relawan, kegiatan jaga malam (ronda) mulai diaktifkan kembali, pembukaan dapur umum untuk dapat membagikan makanan bagi keluarga yang terdampak, penggalangan dana dan donasi untuk pengadaan APD bagi tenaga medis maupun untuk dibelikan sembako bagi keluarga terdampak. Meskipun demikian namun kebutuhan hidup tidak bisa hanya dibantu sesekali karena hidup terus berjalan. Sehingga diperlukan strategi bertahan yang sifatnya jangka panjang sekaligus dapat memberikan pekerjaan bagi yang sekarang menjadi pengangguran.
b. Strategi Pengangguran Terdidik/Terlatih
Bagi yang memiliki keahlian terdapat beberapa pilihan misalnya bagi yang memiliki keahlian menjahit dapat menjahit masker kain, hijab masker atau mungkin APD. Hal ini dapat dilakukan bersama-sama dengan menggerakkan ibu-ibu kader PKK untuk mengkoordinasikan sampai pendistribuasiannya dengan dijual secara langsung maupun online.
Selain itu sejumlah pemuda karang taruna yang biasanya berada dalam usia mahasiswa pun juga dapat lebih produktif dengan membuat handsanitizer. Tentunya handsanitizer yang dibuat berdasarkan ilmu sesuai standar handsanitizer yang telah diatur BPOM. Produk ini kemudian dapat dijual melalui media sosial sehingga anak-anak mendapatkan tambahan uang untuk membeli kuota internet agar pembelajaran online dapat terus berjalan.
Bidang makanan dan minuman pun tak kalah banyak yang bisa dilakukan. Saat ini banyak informasi yang mengatakan bahwa
empon-empon seperti jahe, kunyit, serai dan temulawak atau produk
unggulannya biasanya disebut wedang uwuh banyak diminati karena dapat membantu menjaga daya tahan tubuh. Bagi yang punya lahan maka dapat mulai membudidayakan tanaman apotek hidup ini untuk dijual dalam bentuk rempah-rempah, racikan maupun jamu herbal siap minum. Di Indonesia tanaman apotek hidup dapat dengan
mudah dijumpai terutama di desa-desa.
Akibat pandemi ini banyak hotel, mall, restoran dan katering yang tutup karena biaya operasional tidak mencukupi. Hal ini menyebabkan peternak ayam dan penjual telur ayam merugi sehingga harga ayam dan telur anjlok. Ini dapat menjadi peluang usaha dengan memberikan pelatihan pada ibu-ibu untuk membuat olahan frozen
food berbahan dasar ayam dan telur yang awet (tahan lama). Produknya
bisa berupa nuget, bakso ayam, abon ayam, ayam ungkep, galantin, usus goreng, kulit goreng dan sebagainya. Produk seperti ini dapat bertahan lama sehingga dapat dijual secara online maupun langsung. Bahkan dapat dikonsumsi sendiri.
c. Strategi Pengangguran Tidak Terdidik/Terlatih
Penjelasan tadi bagi pengangguran yang memiliki keahlian atau setidaknya masih bisa bertahan dengan sisa modal yang dimiliki. Lalu bagi yang tidak memiliki keahlian dan tidak memiliki kemampuan bertahan kecuali menunggu bantuan dapat dilakukan dengan pemberian bibit ikan dan benih tanaman. Atau yang saat ini sedang viral di media sosial biasanya disebut dengan budikdamber (budidaya ikan dalam ember). Budikdamber dapat diberikan berupa benih sejumlah ikan lele kemudian diatasnya ditanam sayuran yang relatif cepat tumbuh seperti kangkung, bayam, sawi. Bagi yang masih memiliki lahan dapat pula diberikan tunas pisang dan bibit pohon singkong untuk sumber karbohidratnya. Sehingga bila bantuan sembako dan makanan dari dapur umum sudah habis diharapkan masyarakat masih bisa bertahan hidup dengan konsumsi pisang, singkong, sayuran dan ikan lele.
d. Strategi bagi milenial
Bagi pemuda-pemudi yang ingin produktif di tengah pandemi dapat membuat jejaring misalnya dengan menjalin kerjasama sebagai pemasok sayuran, ayam, telur, ikan dengan dapur umum, atau menjadi reseller masker kain via online, atau dapat menjadi pelapak pasar online yang sekaligus delivery, jasa pengantar barang (kurir), penjual pulsa (baik pulsa listrik, kuota atau pulsa telepon), jasa pembuat bilik
disinfektan, serta jasa pembuatan portal keamanan.
Banyak hal yang bisa dilakukan ditengah pandemi agar tetap kuat dan menguatkan ketimbang mengeluh dan bermalas-malasan. Namun demikian semua kegiatan tadi hanya bisa dilakukan oleh individu yang sehat baik fisik maupun psikis. Lantas bagaimana dapat sehat secara psikis dan terhindar dari stress kalau harus stay at home
with toxic family?
Stay at home with toxic family
Bekerja dari rumah dan belajar dari rumah terasa menyenangkan bila pendidik maupun peserta didik dalam kondisi tidak hanya sehat fisik tetapi juga sehat mental. WFH dan SFH ini sendiri telah meningkatkan jumlah pengangguran, PHK, kriminalitas dan kekerasan. Bagaimana seorang pendidik bisa sehat mental bila misalnya suaminya di PHK, sementara anak-anaknya membutuhkan kuota/ wifi lebih dari bulan-bulan sebelum pandemi karena harus sekolah online. Peserta didik juga tidak dapat belajar dengan baik bila keluarganya tidak support misalnya uang untuk beli kuota tidak diberi atau justru dibebani dengan banyak pekerjaan rumah karena dianggap “libur” sehingga harus membantu pekerjaan orang tua atau dianggap “anak durhaka”.
Keluhan stress meningkat salah satu stressornya justru dari keluarga itu sendiri. Keluarga sehrusnya menjadi tempat ternyaman untuk beristirahat, berkumpul, saling menjaga, mengingatkan dan menguatkan satu sama lain. Namun keluarga yang toxic kini menjelma menjadi stressor terbesar. Membayangkan berkumpul bersama keluarga dalam waktu yang lama kemudian bisa bekerja dan sekolah dari rumah bisa sambil rebahan atau sambil mengerjakan pekerjaan rumah, tidak perlu bangun terburu-buru, berjibaku dengan lalu lintas agar tidak terlambat terasa sungguh ranum dan nikmat. Namun semua yang ada di dunia ini hanya fatamorgana semata. Kenyataan tak seindah harapan. Apalagi bila tinggal dalam jangka waktu yang lama dengan keluarga yang toksik. Seolah terjebak dalam perangkap. Apabila nekat keluar berpotensi terkena virus yang berbahaya. Virus ini semenjak
dinyatakan postif sampai bila tidak bertahan maka akan meninggal membuat penderitanya terputus dengan seluruh orang-orang yang dicintainya sejak saat itu juga. Akan tetapi bila tetap bertahan maka harus berjibaku menghadapi keluarga yang toksik.
Keluarga yang toksik yaitu keluarga yang para anggotanya memiliki sikap yang dapat merusak mental anggota keluarga yang lain. Ini banyak berada di sekitar kehidupan namun seringkali dibiarkan begitu saja padahal hal-hal seperti ini dapat merusak mental. Pelakunya bisa mertua, orang tua, ipar, keponakan, sepupu atau yang lainnya. Mertua yang toksik biasanya menganggap menantunya libur bukan WFH sehingga daripada melihat menantu tampak ‘hanya bermalas-malasan’ dengan laptop atau gawainya lebih baik dipekerjakan. Akhirnya malah overload pekerjaan, selain WFH juga harus mengerjakan pekerjaan rumah yang mendadak ada-ada saja lebih dari biasanya. Orang tua pun demikian menganggap SFH itu hanya bermalas-malasan. Anak adalah sosok inferior di rumah sehingga dalam kondisi sulit, himpitan ekonomi dan orang tua melihat anak hanya memandangi smartphone atau laptopnya membuat orang tua rentan melampiaskan amarahnya pada anak. Belum lagi kalau anak terus-menerus merengek minta uang untuk membeli kuota yang cepat sekali habis, membayar uang sekolah padahal anak-anak belajarnya di rumah, atau mungkin minta dibantu mengerjakan PR ini itu sebagai tugas sekolah daring. Tugasnya pun harus direkam video dan dikirim ke gurunya.Itu tadi kriteria toksik ringan.
Toksik sedang terjadi misalnya ketika suami istri harus bersama di rumah karena WFH sedangkan di rumah tersebut ada orang lain maka yang terjadi justru drama. Bila dalam drama korea The World of
The Married bumbu dramanya adalah orang ketiga maka dalam WFH
bumbu dramanya bisa orang keempat, kelima, keenam dst yang ikut tinggal dengan suami istri tersebut. Entah mertua sulit memahami apa itu WFH sehingga taunya kalau di rumah ya berarti libur, ipar atau ponakan yang susah di atur dan justru malah sering kelayapan karena merasa masih muda, masih sehat tidak mungkin tertular virus sehingga abai terhadap protokol kepulangan dan anjuran cuci tangan
atau mungkin justru pasangan yang kurang bijak dalam bersikap sehingga abai untuk saling membantu membereskan pekerjaan rumah atau justru malah menambah pekerjaan. Drama tersebut biasanya bisa diminimalkan dengan banyak aktivitas di luar rumah. Namun ketika ada anjuran harus stay at home maka suka atau tidak suka harus berkawan dengan kerumitan di rumah yang rentan konflik berujung stress dan menurunkan imunitas. Padahal dalam situasi seperti ini seharusnya imunitas dijaga.
Toksik berat terjadi pada pasangan yang sering KDRT atau mungkin mengidap kelainan seperti heteroseksual. Selain itu juga akan sangat mengerikan apabila tinggal serumah dengan anggota keluarga yang memiliki kelainan misal pedofil sedangkan ada anak-anak yang masih kecil di rumah. Atau ada anggota keluarga yang mengidap psikosomatis. Atau jenis-jenis kelainan psikis lainnya yang membuat stay at home menjadi lebih sulit dari yang dibayangkan.
Lantas harus bagaimana menjalani stay at home dalam lingkungan yang tidak sehat sedangkan ke luar rumah justru akan rentan tertular virus. Saat seperti sekarang hanya bisa melakukan pendekatan spiritual. Saatnya kembali meminta pertolongan pada sebaik-baiknya penolong. Perbanyak mendekatkan diri pada Yang Maha Esa. Bergantunglah hanya pada-Nya bukan pada sesama makhluk. Seperti yang sering kita dengar bahwa jika tidak ada bahu untuk bersandar maka akan selalu ada lantai untuk bersujud untuk memohon perlindungan dan kesabaran menghadapi ujian. Semoga segera dapat melewati masa-masa sulit bagi yang berada dalam posisi terhimpit atau setidaknya bersyukurlah bagi yang berada dalam kehangatan keluarga dan kecukupan. Jadikan ini moment untuk mengasah karakter menjadi individu yang lebih beriman, lebih kuat dan pantang menyerah apalagi berkeluh kesah di media sosial yang bukannya meringankan beban tapi tak jarang malah menambah depresi karena komentar nyinyir dari netizen.
Penutup
Pandemi ini membuat masyarakat memiliki kebiasaan-kebiasaan baru yang sekarang dianggap sebagai kenormalan. Mau tidak mau,
suka tidak suka, banyak hal dalam hidup yang berubah karena pendemi virus Covid-19. Manusia dipaksa untuk mau belajar sejumlah teknologi baru, berperilaku hidup bersih dan sehat, serta lebih waspada terhadap kesehatan diri dan keluarga. Segala kenormalan baru ini membuat manusia harus bisa mengatasi stress untuk dapat menjaga stabilitas imunitas tubuhnya. Lingkungan tinggal dan orang-orang terdekat sangat berperan dalam hal ini. Hanya ada dua cara menghadapi stress yaitu fight atau flight. Mau tetap berjuang menghadapi segala ketidakpastian terkait pandemi sambil berjuang tetap waras ditengah keluarga yang toksik atau mau menghindar dengan menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan berbasis online untuk meminimalisir dampak tinggal dengan toksik family. Sejatinya hidup itu pilihan maka pilihlah dengan bijak.
Referensi
Indrawati, E.S; Hyoscyamina, D.E; Qonitatin, N; Abidin, Z. (2014). Profil Keluarga Disfungsional Pada Penyandang Masalah Sosial Di Kota Semarang. Jurnal Psikologi Undip Vol.13 No.2 Oktober 2014, 120-132
Maryati, Sri. (2015). Dinamika Pengangguran Terdidik: Tantangan Menuju Bonus Demografi Di Indonesia. ECONOMICA
Journal of Economic and Economic Education Vol.3 No.2 (124 - 136)
Mukaromah, V.F. dan Ratriani, V.R. (2020). WHO Gunakan Istilah Physical Distancing, Ini Bedanya dengan Social Distancing”,
https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/01/061500965/who-gunakan-istilah-physical-distancing-ini-bedanya-dengan-social.
Nurasandi, Juli. (2018). Budidaya Ikan Dalam Ember “Budikdamber” dengan Aquaponik di
Lahan Sempit. Prosiding Seminar Nasional PengembanganTeknologi
Pertanian
Politeknik Negeri Lampung 08 Oktober 2018, ISBN 978-602-5730-68-9 halaman 129-136
Novel Corona Virus NCov
https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/COVID-19/ TENTANG%20NOVEL%20CORONAVIRUS.pdf
Pedoman Penanganan Corona Virus
https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/ COVID-19%20dokumen%20resmi/REV-04_Pedoman_P2_ COVID-19_%2027%20Maret2020_Tanpa%20TTD.pdf.
Penyakit Virus Corona (Covid-19). Factsheet Bahasa Indonesia.