• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nafkah Pertanian Sumber Kehidupan Petani Miskin

Keluarga petani miskin (contoh) di Kab. Blora memiliki struktur pendapatan dari sumber-sumber budidaya pertanian (on farm), panen dan pasca panen pertanian, serta perburuhan pertanian (off farm), dan luar pertanian (non farm). Pada keluarga petani miskin, buruh tani, penghasilan usahatani, buruh tani diduga tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup. Mereka akan mengalokasikan tenaga kerja keluarga (strategi alokasi SDM), pola nafkah ganda di kawasan hutan jati, dan strategi nafkah berbasis modal sosial. Pola nafkah ganda pada kajian ini banyak dilakukan oleh keluarga petani miskin di wilayah dominan lahan hutan. Mereka selain bekerja pada usahatani, sumber nafkahnya berasal dari hutan jati. Misalnya mencari daun jati di jual ke pasar; kepompong/ulat daun jati, belalang; ranting, tunggul, akar kayu jati untuk bahan bakar; tunggul, akar kayu jati untuk bahan kerajinan.

Keluarga contoh memiliki struktur nafkah tertinggi pada aspek pertanian. Artinya ketergantungan terhadap pendapatan bersumber utama dari sektor pertanian. Mereka dalam memilih strategi nafkah yang akan diterapkan, berkaitan dengan fungsi sosial ekonomi. Hal ini, merupakan suatu bentuk strategi yang diterapkan dalam merespon keadaan. Menurut Manig (1991) dalam Dharmawan (2001), ada enam fungsi keluarga berkaitan dengan strategi nafkah. Enam fungsi tersebut, yaitu (1) alokasi sumberdaya untuk pemenuhan kebutuhan, (2) menjamin tercapainya berbagai tujuan keluarga, (3) memproduksi barang dan jasa, (4) membuat keputusan dalam penggunaan pendapatan & konsumsi, (5) pengaturan dengan masyarakat luar, dan (6) fungsi reproduksi material dan sosial, serta kemampuan setiap anggota keluarga. Lebih lanjut dikatakan, rumahtangga peasant (produsen bertenaga kerja keluarga yang menggunakan alat-alat sederhana) mengembangkan dua macam strategi yang terkait dengan fase-fase kehidupannya. Kedua strategi tersebut, yaitu strategi yang dikembangkan saat kehidupan berada dalam keadaan normal (masa dimana rumahtangga dapat melakukan aktivitas nafkah secara optimal, pendapatannya dapat memenuhi kebutuhan pokok), dan berada dalam keadaan krisis (pendapatan tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya).

Keluarga contoh memilih strategi patronase sebagai strategi utama nafkah (Tabel 68), karena mereka memiliki lahan yang sempit. Mereka akan menjadi penggarap, menjalin kepercayaan dengan pemilik lahan luas. Selain itu, menggaduh

ke pemilik ternak dalam jumlah banyak, dengan sistem maro (pemilik : penggarap, atau penggaduh = 50% : 50%), atau mertelu (pemilik : penggarap, atau penggaduh = 75% : 25%). Sedangkan pesanggem menjalin kepercayaan dengan pihak Perhutani, untuk mengakses lahan hutan jati. Pesanggem adalah petani penggarap lahan hutan jati secara tumpang sari (jagung, ubi kayu di bawah pohon jati).

Strategi produksi, dilakukan di lahan milik sendiri, atau melalui strategi patronase. Air merupakan kendala utama dalam strategi produksi, atau pembangunan pertanian di Kabupaten Blora. Kehadiran P4MI yang memfasilitasi pembangunan infrastruktur irigasi telah berhasil melonggarkan kendala tersebut.

Tabel 68. Strategi nafkah keluarga petani miskin di Kab. Blora

Aktivitas Strategi HC NC FC PC SC Keterangan

On – off farm

Produksi v v v v v - usahatani lahan milik sendiri, Patronase v v v v v - ke pemilik lahan, ternak *)

- *) Penggarap ke pemilik lahan luas dengan sistem maro, buruh tani, - *) Penggaduh - pemilik ternak yang banyak, sistem maro, bagi hasil - *) Pesanggem – Perhutani lahan di hutan jati

Solidaritas

vertikal v - v - v

-tengkulak sediakan input produk- si, panen harus jual ke mereka Solidaritas

horizontal v v - v v

- kebiasaan saling tolong meno-long dalam usahatani

Berhutang v - v v v -Tengkulak, kedai/warung,

tetang-ga/kerabat, ke BRI unit desa, Non

farm

Serabutan v v - v v Nafkah di hutan jati, sungai, pasar# - # Pencarian akar, tunggul, ranting kayu jati, daun jati, empon-empon, sayuran

di hutan jati,

- # Pencarian ikan, atau pasir di Sungai Bengawan Solo, anak sungai

- # Kerja serabutan di pertambangan Cepu, kota Blora, kecamatan, pasar desa

Ket. : HC = human capital, NC = natural capital, FC = finansial capital, PC = phisikal capital, SC = sosial capital

Investasi infrastruktur irigasi mengakibatkan pekembangan luas tanaman pangan, indeks pertanaman meningkat. Hal ini terjadi pada desa-desa dominan lahan sawah di Kec. Kedungtuban, Cepu, dan desa kajian Kec. Todanan. Pergeseran luas tanaman jagung oleh tanaman padi tidak mengurangi luas total tanaman jagung. Hal ini, terjadi pada zona dominan lahan kering, kawasan hutan jati. Petani juga mencoba mengusahakan tanaman hortikultura musiman. Tanaman, terutama bawang merah, cabe, semangka, yang cukup meningkat tajam. Hal ini memberikan indikasi bahwa investasi irigasi meningkatkan kesempatan bekerja, dan memungkinkan berkurang-nya tekanan di musim paceklik dalam kurun waktu panjang bagi petani miskin.

Selain berusahatani, keluarga petani miskin bekerja pada bidang lain. Mereka melakukan strategi serabutan, sesuai kemampuan, potensi, peluang pada zona agroekosistemnya. Misalnya buruh tani, buruh bangunan, kuli angkut, penggalian pasir. Aktivitas tersebut dilakukan secara bergantian dengan aktifitas usahatani pada lahan milik sendiri. Pada zona dominan hutan, pencarian akar, tunggul, ranting kayu jati, daun jati, empon-empon, sayuran di hutan jati. Sedangkan pada dominan sawah yang bermukim tidak jauh dari Sungai Bengawan Solo, pencarian ikan, atau pasir di Sungai Bengawan Solo, anak sungai. Kerja serabutan dapat juga dilakukan di kawasan pertambangan Cepu, kota Blora, kecamatan, pasar desadengan pola pagi berangkat, sore hari pulang ke desa.

Strategi nafkah yang melekat lainnya adalah strategi berhutang. Strategi berhutang kepada patron (petani lahan luas, pemilik ternak banyak), tengkulak, tetangga, kerabat, sebagian kecil ke BRI unit desa. Apabila pada musim tanam I mengalami gagal panen, maka pembayaran hutang ditangguhkan untuk membayar pada musim tanam II. Andaikata gagal panen terjadi berturut-turut selama setahun, sehingga membuat hutang mereka bertumpuk, dan akses berhutang selanjutnya mulai terbatas. Strategi berhutang tidak hanya untuk usahatani, tetapi untuk memenuhi kebutuhan pangan. Pada tataran hubungan dengan sesama petani, mereka mengandalkan strategi solidaritas horizontal. Strategi dengan memanfaatkan sistem tolong menolong (royongan) sebagai bagian penting dalam produksi usahatani. Pada tataran hubungan dengan tengkulak, mereka mengandalkan strategi solidaritas vertikal. Strategi ini sebagai bagian penting produksi usahatani, atau pemenuhan kebutuhan pangan dan sandang. Tengkulak menyediakan input produksi, seperti pupuk, pestisida, insektisida. Pada saat panen petani harus menjual padi ke tengkulak, sebagian untuk membayar hutang.

Strategi produksi, solidaritas horizontal, solidaritas vertikal, dan strategi berhutang (Tabel 69) dilakukan keluarga contoh. Strategi-strategi tersebut tidak ada perbedaan, baik pada dominan sawah, lahan kering, dan hutan. Sedangkan pada strategi patronase dan serabutan ada perbedaan. Ikatan-ikatan solidaritas antara keluarga petani miskin di dalam masyarakat menjadi modal sosial yang penting bagi nafkah keluarga. Dharmawan (2001), memetakan strategi nafkah berdasarkan solidaritas petani, yaitu :

1. Strategi ikatan solidaritas berdasarkan kegiatan pertanian, yang dilakukan petani sebagai basis nafkah keluarga. Strategi ini meliputi kegiatan : (a) peminjaman lahan dari petani lapisan atas pada petani lapisan bawah, (b) bagi hasil dan

sistem sewa tanah, (c) pengelolaan tanah adat, dan (d) perjanjian saling menguntungkan antar petani,

2. Strategi ikatan solidaritas sosial berdasarkan kegiatan non pertanian dibangun diantara penduduk desa dalam hubungan ekonomi antara petani dan pemerintah.

3. Strategi ikatan solidaritas sosial berdasarkan kebutuhan ekonomi, dengan mengandalkan hubungan kepercayaan yang dibangun antara pihak-pihak yang bekerjasama. Seperti (a) peminjaman berdasarkan hubungan patron – klien; (b) peminjaman berdasarkan hubungan tetangga; (c) peminjaman berdasarkan hubungan keluarga; dan (d) peminjaman berdasarkan hubungan pertemanan. Ikatan ini berbeda dengan ikatan formal yang dilakukan oleh bank, atau pegadaian.

Strategi serabutan merupakan diversifikasi nafkah, untuk membentengi diri dari ketidakpastian. Diversifikasi nafkah keluarga petani miskin pada ke-3 agro-ekosistem, yaitu rekayasa sumber nafkah pertanian, melalui penambahan input eksternal berupa tenaga kerja, atau penerapan komponen teknologi. Ekstensifikasi, dengan memperluas lahan garapan pertanian tidak dapat dilakukan. Sedangkan pola nafkah ganda banyak dilakukan, terutama di wilayah dominan lahan hutan.

Tabel 69. Strategi nafkah keluarga miskin berdasarkan zona agroekosistem

Strategi Dominan sawah Dominan lahan kering Dominan hutan

Produksi - Usahatani lahan milik sendiri,

- Usahatani lahan milik sendiri,

- Usahatani lahan milik sendiri,

Patronase - ke pemilik lahan luas dengan sistem maro, buruh tani,

- ke pemilik ternak ba- nyak dengan sistem maro, bagi hasil

- ke pemilik lahan luas dengan sistem maro, buruh tani,

- ke pemilik ternak ba- nyak dengan sistem maro, bagi hasil

- ke pemilik lahan luas dengan sistem maro, buruh tani,

- ke pemilik ternak ba- nyak dengan sistem maro, bagi hasil - Pesanggem di hutan jati (Perhutani) Solidaritas

vertikal

- Tengkulak sediakan input produksi saat panen harus jual ke mereka

- Tengkulak sediakan input produksi saat panen harus jual ke mereka

- Tengkulak sediakan input produksi saat panen harus jual ke mereka

Solidaritas horizontal

- Kebiasaan saling to- long menolong dalam usahatani

- Kebiasaan saling to- long menolong dalam usahatani

- Kebiasaan saling to- long menolong dalam usahatani

Berhutang -Tengkulak, warung/ke- dai, BRI unit desa,

-Tengkulak, warung/ke dai, BRI unit desa,

-Tengkulak, warung/ke- dai, BRI unit desa,

Serabutan - Mencari ikan di aliran Bengawan Solo, - Kerja serabutan di ka- wasan Cepu

- kerja serabutan di ko ta kecamatan, atau di kota Blora

- Mencari akar, tunggul, ranting kayu jati, daun jati, empon-empon di hutan jati

Rekayasa sumber nafkah pertanian keluarga petani miskin di Kab. Blora ini berbeda dengan penggolongan nafkah menurut Scoones (1998) di luar Kab. Blora. Strategi nafkah petani menurut Scoones setidaknya dibagi menjadi 3 golongan. Ketiganya, yaitu : (1) rekayasa sumber nafkah pertanian, artinya usaha pemanfaatan sektor pertanian agar lebih efektif dan efisien, baik melalui penambahan input eksternal berupa tenaga kerja, atau teknologi (intensifikasi), maupun dengan memperluas lahan garapan pertanian (ekstensifikasi); (2) pola nafkah ganda, artinya usaha yang dilakukan dengan cara mencari pekerjaan lain selain sektor pertanian untuk menambah pendapatan (diversifikasi pekerjaan); dan (3) rekayasa spasial, artinya usaha yang dilakukan dengan cara mobilisasi/perpindahan penduduk baik secara permanen maupun sirkuler atau komutasi (migrasi). Point tiga ini jarang dilakukan keluarga petani miskin pada wilayah kajian.

Tipologi Nafkah dan Rekayasa Nafkah Pertanian

Besaran akses keluarga petani miskin dari setiap tipologi aktivitas nafkah terhadap setiap jenis modal tersaji pada Gambar 26, Tabel 70. Visualisasi grafik pentagon yang digunakan, agar mempermudah memahami hal tersebut. Pada konsep segilima pentagon, ada lima tipe modal yang dapat dimiliki/dikuasai keluarga untuk pencapaian sistem kehidupannya, yaitu modal manusia, modal fisik, modal finansial, modal alam dan modal sosial. Kelima modal yang menjadi aset utama bagi orang miskin dalam kehidupannya (Ellis 2000). Kelima modal tersebut perlu dikelola secara berkelanjutan, agar faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan, pemenuhan kebutuhan pokok terjadi interaksi antar faktor, serta keberlanjutan untuk menyambung hidup. Keluarga petani miskin, petani gurem, tak bertanah umumnya menerapkan strategi bertahan hidup (survival strategy). Pengelolaan modal fisik dapat digunakan sebagai modal finansial, asset produksi maupun penghimpun daya beli. Modal Sosial : + 3 (+5, -2) Modal Alamiah : - 5 (-6, +1) Modal Manusia : - 2 (-3, +1) Modal Finansial : - 2 (-4, +2) Modal Fisik : -4 (-6, +2)

Gambar 26, upaya untuk mempermudah memahami seberapa besar akses keluarga dari setiap tipologi aktivitas nafkah terhadap setiap jenis modal. Kami berusaha memvisualisasi grafik pentagon dalam dua dimensi, yaitu : (1) tanda negatif (arah panah mengarah ke dalam) di dalam komponen setiap modal yang menjadi sumber, menandakan masalah yang perlu penanganan (modal manusia, fisik, finansial, alam), (2) tanda positif (arah panah arah ke luar) menunjukkan modal yang dapat dikembangkan lebih lanjut (modal sosial). Resultante, jumlah, perbandingan antara tanda plus dan minus akan menentukan arah panah yang berada dalam pentagon, bila tanda minus lebih banyak dari pada tanda plus, maka panah dalam pentagon akan mengarah ke dalam, dan sebaliknya. Misalnya, modal sosial dengan arah panah arah ke luar, karena nilai perbandingan, atau resultante bernilai positif (+ 3), karena akses yang positif (+ 5) lebih banyak dibandingkan akses yang negatif (- 2). Sebaliknya, terjadi nilai negatif pada modal manusia, fisik, finansial, dan modal alam.

Tabel 70. Akses keluarga pada setiap tipologi, sumber nafkah

Modal Akses

Manusia (+1, - 3) (- 50,00%)

(+) Pengetahuan dan keterampilan dalam usahatani, buruh tani yang didapatkan secara turun temurun,

(-) Tidak memiliki keterampilan lain selain di usahatani, buruh tani, (-) Tingkat pendidikan rendah (SD) berpeluang kecil dalam nafkah dengan syarat pendidikan,

Alamiah (+ 1, - 7) (- 75,00%)

(-) Tipologi lahan kering dan marginal belum ada solusi pemecahan, kendalan dalam usahatani dan buruh tani

(-) Hari dan curah hujan rendah dengan musim kering lebih panjang di- banding musim penghujan, kendalan usahatani danburuh tani, (-) Penguasaan lahan usahatani yang sempit, atau tidak memiliki hal mendasar karena menjadi basis kehidupan,

(-) Akses untuk menjadi penggarap kurang terbuka karena petani pemilik lahan luas jumlahnya sedikit,

(-) Akses untuk menjadi pesanggem kurang terbuka luas karena keter batasan luasan lahan Perhutani untuk pesanggem, pihak Perhutani belum mampu mengotimalkan keberpihakan pada petani miskin, (+) Potensi akar, tunggul, ranting kayu jati, daun jati, empon-empon di hutan jati masih optimal,

(-) Air dari aliran Sungai Bengawan Solo belum mampu dioptimalkan untuk sumber usahatani,

(-) Air dari aliran Sungai Bengawan Solo setiap tahun meluap, kenda- la dalam usahatani, belum ada solusi pemecahannya,

Finansial (+ 2, - 4) (- 33,33%)

(+) Akses terhadap kredit informal (tengkulak, orang kaya di desa) (-) Tengkulak menjadi penentu harga gabah, lain karena kreditan (+) Akses ke BRI unit desa,

(-) Akses ke BRI membutuhkan persyaratan dan jaminan, (-) Keluarga petani miskin tidak mampu menabung,

(-) Bantuan langsung masyarakat (BLM) untuk usahatani khusus peta mi miskin belum ada

Fisik (+ 2, - 6) (- 50,00%)

(+) Investasi infrasruktur pengairan (glontoran, embung, cekdam, ben dungan dan salurannya, sumur dan pompanisasi) yang tersedia penunjang pokok dalam usahatani dan buruh tani,

(-) Jumlah, jangkauan infrastruktur pengairan yang tersedia belum optimal untuk per luasan lahan usahatani

(-) Akses untuk penggaduh ternak (maro, bagi hasil ternak) kurang ter- buka karena petani pemilik/pengusaha ternak jumlahnya kecil, (-) Akses untuk menjadi pesanggem kurang terbuka luas karena keter batasan modal untuk usahatani, pihak Perhutani belum mampu memberi modal,

(-) Alat transportani umum belum menjangkau secara optimal dari desa ke kota kecamatan, kabupaten, kendala pencarian nafkah (-) Ternak sapi, kambing di kandangkan di dalam rumah akan berdam pak pada kesehatan,

(-) Lumbung pangan desa belum berdiri pada setiap desa, (+) Simpanan pangan (gabah, jagung tongkolan)

Sosial (+ 5, - 2) (42,86%)

(+) Rotong royong dalam kegiatan usahatani masih ada dan berjalan, (+) Kepercayaan, relasi pemilik lahan ke penggarap berdasarkan pola hubungan sosial ketetanggaan, kekerabatan,

(+) Hubungan, kerjasama antaran sesama penggarap, buruh tani relatif

(+) Kepercayaan, hubungan, kerjasama antaran tengkulak dengan peta

ni relatif kuat mendukung keberlanjutan usaha tani, walaupun terjadi usahatani yang tidak efisien,

(+) Kepercayaan, hubungan, empati antara petani miskin dengan yang tidak miskin, petani kaya desa cukup kuat, misalnya : pinjam uang, beras barter dengan menjadi tenaga kerja di lahan,

(-) Integritas kelompok tani, gabungan kelompok tani (Gapoktan), lem baga masyarakat desa hutan (LMDH) terhadap petani miskin lemah kurang, bahkan kurang ada keberpihakan,

(-) Integritas atau jaminan negara (aparat pemerintahan desa) dalam interaksi terhadap petani miskin lemah, kurang, bahkan kurang ada keberpihakan,

Besaran akses keluarga petani miskin dari setiap tipologi aktivitas nafkah terhadap setiap jenis modal pada dominan sawah, lahan kering, dan hutan tersaji pada Gambar 27, 28, 29, dan Tabel 71. Ada perbedaan yang tidak nyata antar ketiga agroekosistem, sesuai karakteristik, potensi sumber nafkah dari setiap agro-ekosistem. Tanda negatif (arah panah mengarah ke dalam) berlaku pada modal manusia, modal fisik, modal finansial, modal alam. Sedangkan tanda positif (arah panah mengarah ke luar) hanya pada modal sosial. Apabila tanda minus lebih banyak dari pada tanda plus, maka panah dalam pentagon akan mengarah ke dalam, dan sebaliknya. Dengan mengacu kerangka sustainability livelihood, gambaran pengelolaan sumber-sumber nafkah (modal manusia, fisik, finansial, alam dan modal sosial) pada ketiga agroekosistem (dominan sawah, lahan kering, hutan jati) dengan bentuk pentagon yang tidak seimbang, modal yang dapat dikembangkan lebih lanjut adalah modal sosial.

Pada Gambar 27, tanda negatif (arah panah mengarah ke dalam) pada modal manusia, modal fisik, modal finansial, modal alam, dan tanda positif (arah panah

Modal Sosial : + 3 (+5, -2) Modal Alamiah : - 6 Modal Manusia : - 2 (-3, +1) Modal Finansial : - 2 (-4, +2) Modal Fisik : -3 (-5, +2)

mengarah ke luar) hanya pada modal sosial. Tanda minus lebih banyak dari pada tanda plus, maka panah dalam pentagon banyak mengarah ke dalam, bentuk pentagon yang tidak seimbang. Modal yang dapat dikembangkan lebih lanjut adalah modal sosial.

Pada Gambar 28, tanda negatif (arah panah mengarah ke dalam) pada modal manusia, modal fisik, modal finansial, modal alam, dan tanda positif (arah panah mengarah ke luar) hanya pada modal sosial. Tanda minus lebih banyak dari pada tanda plus, maka panah dalam pentagon ke-4 mengarah ke dalam, bentuk pentagon yang tidak seimbang. Modal yang dapat dikembangkan lebih lanjut adalah modal sosial.

Pada Gambar 29, tanda negatif (arah panah mengarah ke dalam) pada modal manusia, modal fisik, modal finansial, modal alam, dan tanda positif (arah panah mengarah ke luar) hanya pada modal sosial. Tanda minus lebih banyak dari pada tanda plus, maka panah dalam pentagon ke-4 mengarah ke dalam, bentuk pentagon

Modal Sosial : + 3 (+5, -2) Modal Alamiah : - 4 Modal Manusia : - 2 (-3, +1) Modal Finansial : - 2 (-4, +2) Modal Fisik : -3 (-5, +2)

Gambar 28. Akses petani terhadap lima modal pada dominan lahan kering

Modal Sosial : + 3 (+5, -2) Modal Alamiah : - 4 Modal Manusia : - 2 (-3, +1) Modal Finansial : - 2 (-4, +2) Modal Fisik : -4 (-6, +2)

yang tidak seimbang. Modal yang dapat dikembangkan lebih lanjut adalah modal sosial.

Besarnya akses keluarga petani miskin pada tipologi modal manusia (A, B, C, D) pada dominan sawah, lahan kering, dan hutan ditegaskan pada Tabel 71. Besaran akses pada ketiga agroekosistem tidak ada perbedaan. Hal ini terjadi, karena ketiga agroekosistem dalam satu wilayah, yaitu Kabupaten Blora sehingga pembangunan sumber daya petani cenderung tidak berbeda nyata. Selain itu, besaran akses modal alamiah pada dominan sawah (E, F, G, H, K, L) berbeda dengan pada dominan lahan kering (E, F, G, K), atau dominan hutan (E, F, G, H, I, J). Hal ini terjadi, karena ada perbedaan karakteristik, potensi, sumberdaya ekonomi pada setiap agroekosistem.

Besaran akses modal finansial pada ketiga agroekosistem tidak ada perbedaan, masing-masing yaitu M, N, O, P, Q, R. Hal ini terjadi, karena dalam satu wilayah kabupaten Blora sehingga pembangunan sumberdaya finansial cenderung tidak berbeda. Besaran akses modal fisik pada dominan sawah (S, T, U, W, X, Y, Z) tidak berbeda dengan pada dominan lahan kering, tetapi ada perbedaan dengan dominan hutan (S, T, U, V, W, X, Y, Z). Hal ini terjadi, karena ada perbedaan karakteristik, potensi, sumberdaya yang ada pada setiap agroekosistem. Besaran akses modal sosial (a, b, c, d, e, f, g) pada dominan sawah, lahan kering, dan hutan tidak ada perbedaan.

Tabel 71. Akses keluarga pada setiap tipologi, sumber nafkah pada 3 agroekosistem

M Akses berdasarkan zona dominan : S K H

Ma nu sia

(+) Pengetahuan dan keterampilan dalam usahatani, buruh tani yang didapatkan secara turun temurun, (A)

(-) Tidak memiliki keterampilan lain selain usahatani, buruh tani, (B) (-) Tingkat pendidikan rendah (SD) berpeluang kecil dalam nafkah dengan syarat pendidikan, (C)

(-) Gangguan kesehatan berpengaruh terhadap penghasilan (D)

A B C D A B C D A B C D A l a m i a h

(-) Tipologi lahan kering dan marginal belum ada solusi pemecahan, kendalan dalam usahatani dan buruh tani (E)

(-) Hari dan curah hujan rendah dengan musim kering lebih panjang dibandingkan musim penghujan, kendalan dalam usahatani dan buruh tani, (F)

(-) Penguasaan lahan usahatani yang sempit, atau tidak memiliki hal mendasar karena menjadi basis kehidupan, (G)

(-) Akses untuk menjadi penggarap kurang terbuka karena petani pemilik lahan luas jumlahnya sedikit, (H)

(-) Akses untuk menjadi pesanggem kurang terbuka luas karena ke- terbatasan luasan lahan Perhutani untuk pesanggem, pihak Perhu tani belum mampu optimalkan keberpihakan ke petani miskin, (I) (+) Potensi akar, tunggul, ranting kayu jati, daun jati, empon-empon di hutan jati masih optimal, (J)

(-) Air dari aliran Sungai Bengawan Solo belum mampu dioptimalkan untuk sumber usahatani, (K)

(-) Air dari aliran Sungai Bengawan Solo setiap tahun meluap, kenda- la dalam usahatani, belum ada solusi pemecahannya, (L)

E F G H K L E F G K E F G H I J Fi na n si al

(+) Akses terhadap kredit informal (tengkulak, orang kaya desa) (M) (-) Tengkulak menjadi penentu harga gabah, lain karena kreditan (N) (+) Akses ke BRI unit desa, (O)

(-) Akses ke BRI membutuhkan persyaratan dan jaminan, (P) (-) Keluarga petani miskin tidak mampu menabung, (Q)

(-) Bantuan langsung masyarakat (BLM) untuk usahatani khusus petani miskin belum ada (R)

M N O P Q R M N O P Q R M N O P Q R Fi sik

(+) Investasi infrasruktur pengairan (glontoran, embung, cekdam, ben dungan dan salurannya, sumur dan pompanisasi) yang tersedia penunjang pokok dalam usahatani dan buruh tani, (S)

(-) Jumlah, jangkauan infrastruktur pengairan yang tersedia belum optimal untuk per luasan lahan usahatani (T)

(-) Akses untuk penggaduh ternak (maro, bagi hasil ternak) kurang terbuka, petani pemilik/pengusaha ternak jumlahnya kecil, (U) (-) Akses untuk menjadi pesanggem kurang terbuka luas karena ke- terbatasan modal untuk usahatani, pihak Perhutani belum mampu memberi modal, (V)

(-) Alat transportani umum belum menjangkau secara optimal dari de sa ke kota kecamatan, kabupaten, kendala pencarian nafkah (W) (-) Ternak sapi, kambing di kandangkan di dalam rumah akan ber- dampak pada kesehatan, (X)

(-) Lumbung pangan desa belum berdiri pada setiap desa, (Y) (+) Simpanan pangan (gabah, jagung tongkolan) (Z),

S T U W X Y Z S T U W X Y Z S T U V W X Y Z

S o s i a l

(+) Kepercayaan, relasi pemilik lahan ke penggarap berdasarkan po- la hubungan sosial ketetanggaan, kekerabatan, (b)

(+) Hubungan, kerjasama antaran sesama penggarap, buruh tani re- latif kuat mendukung pemenuhan kebutuhan pokok, (c)

(+) Kepercayaan, hubungan, kerjasama antaran tengkulak dengan petani relatif kuat mendukung keberlanjutan usaha tani, walaupun terjadi usahatani yang tidak efisien, (d)

(+) Kepercayaan, hubungan, empati antara petani miskin dengan Yang tidak miskin, petani kaya desa cukup kuat, misalnya : pinjam uang, beras barter dengan menjadi tenaga kerja di lahan, (e) (-) Integritas kelompok tani, gabungan kelompok tani (Gapoktan), lem baga masyarakat desa hutan (LMDH) terhadap petani miskin le- mah kurang, bahkan kurang ada keberpihakan, (f)

(-) Integritas atau jaminan negara (aparat pemerintahan desa) dalam interaksi terhadap petani miskin lemah, kurang, bahkan kurang ada keberpihakan, (g) a b c d e f g a b c d e f g a b c d e f g

Keterangan : dominan S : sawah, L : lahan kering, H : hutan

Hal ini terjadi, karena keluarga petani miskin pada ketiga agroekosistem berada di wilayah sama, yaitu Kabupaten Blora dengan strata sosial ekonomi, budaya, dan etnis sama.

Hasil kajian ini berbeda dengan konsep Scoones (1998), rekayasa sumber nafkah pertanian tidak dapat melakukan penambahan paket teknologi lengkap dan memperluas lahan garapan sesuai norma sosial. Rekayasa sumber nafkah pertanian hanya dapat dilakukan dengan penambahan input tenaga kerja keluarga,