• Tidak ada hasil yang ditemukan

Investasi Fisik P4MI

Program P4MI bertujuan meningkatkan pendapatan petani lahan marginal Kab. Blora. P4MI dilaksanaan sejak tahun 2003 dan berakhir Desember 2009. Seluruh desa (295) di Kabupaten Blora terjangkau program P4MI. Kekurangan air sebagai masalah pokok usahatani dan pembangunan pertanian di Kab. Blora. Investasi fisik desa-desa di Kab. Blora seluruhnya berupa irigasi sederhana, tidak memperluas lahan pertanian tetapi menyebabkan perluasan lahan yang dapat diairi, karena hampir seluruh lahan pertanian telah dimanfaatkan oleh petani.

Tabel 82. Prasarana pendukung IP padi 100, 200, 300 pembangunan P4MI

Kec. Desa Tahun Prasarana pengairan Keterangan

Kedungtuban (Dominan lahan sawah)

Gondel 2007  sumur gali 80 buah

Panolan 2007  pompanisasi/glontoran dari sungai 1 unit

Klagen 2007  glontoran/pompanisasi, saluran irigasi 1 unit/1unit, 3500 m

Kemantren 2007  pembangunan cekdam 1 unit, 360 m2

Cepu (Dominan lahan sawah)

Getas 2004  bangun saluran irigasi 1225 m

Jipang 2006  bangun saluran irigasi, pompa air 450 m, 1 unit

Ngloram 2007  embung dan pompanisasi 4200 m2

Bogorejo (Dominan lahan kering)

Nglengkir 2004  pembangunan check dam 1 unit

Tempurejo 2007  renovasi bendungan desa 520 m2

Tunjungan (Dominan lahan kering)

Tambahrejo 2004  embung, sal. embung, gorong-gorong 2 unit, 800 m2 Kalangan 2005  bangun cekdam-saluran, pompanisasi 1 unit, 301M2,181 m

Kedungrejo 2007  cekdam - pompanisasi, sumur gali 2 unit, 34 buah Todanan (Dominan lahan kering)

Kajengan 2003  keruk bendungan, bangun sal. irigasi 30800 M3, 413 m Kd.wungu 2005  rehabilitasi - bangun saluran irigasi 639,65 m

Sambeng 2006  embung, saluran irigasi, pompanisasi

 renovasi check dam

2 unit/1800m3 675 m3 120 m, 3000 m3 Japah (Dominan kawasan hutan)

Ngiyono 2007  pembangunan cekdam 900 M3/ 3 Buah

Sumberejo 2007  pembangunan cekdam, sumur gali 320 M2/1 bh, 25 buah

Randublatung (Dominan kawasan hutan)

Ngliron 2004  bendungan sungai Ngliron 1 unit

Kediren 2007  sumur gali 75 buah

Jiken (Dominan kawasan hutan)

Bleboh 2003  bendung sungai desa, sal. irigasi 1 Unit/2Mx18 m 412 m

Nglebur 2005  pembangunan cekdam 1 unit, 291,3 M2

Sumber : P4MI Kab. Blora dan P4MI Badan Litbang Pertanian (2008)

P4MI memfasilitasi pembangunan pengairan dan berhasil melonggarkan kendala pembangunan pertanian. Investasi pengairan dapat dikelompokan menjadi irigasi : (1) checkdam, (2) sumur, (3) embung, (4) glontoran, (5) checkdam dan sumur, (6) embung dan sumur (7) checkdam dan embung (Tabel 18). Embung merupakan jenis

investasi irigasi yang dibangun untuk menampung air sumber maupun air hujan, dengan membangun semacam waduk kecil. Air yang tertampung di embung dialirkan ke sawah yang lebih rendah, atau dipompa dengan mesin. Bahkan, air dapat mengairi sawah yang jaraknya 1 - 6 km dari embung dengan memompa dan membangun saluran air. Checkdam dapat disamakan dengan bendung. Petani memanfatkan air sungai di desanya dengan membangun bendungan. Sungai tersebut merupakan saluran pembuangan. Air dari bendungan dialirkan ke sawah yang lebih rendah atau menggunakan pompa untuk lahan pertanian yang letaknya lebih tinggi dari checkdam.

Glontoran merupakan pemanfaatan air sungai yang dipompa dan dialirkan langsung ke lahan pertanian. Investasi irigasi glontoran terutama terdapat di desa yang dilalui sungai Bengawan Solo. Air yang bersumber dari Bengawan Solo dapat tersedia sepanjang tahun. Dana investasi dipergunakan untuk membangun saluran air dari beton, mesin pompa air beserta peralatannya serta rumah mesin. Desa yang tidak banyak mempunyai sumber air atau tidak dilalui oleh aliran sungai mengajukan pembangunan jenis irigasi sumur, terutama sumur gali disamping sumur pantek. Penggunan sumur diutamakan pada MT III dan MT II khususnya untuk tanaman jagung dan hortikultura.

Produksi Pangan

Dampak awal dari pemanfaatan investasi irigasi dapat dilihat dari perubahan pola tanam yang meningkatkan luas tanam, perubahan intensitas tanam, peningkatan produksi dan pendapatan usahatani, serta keanekaragaman tanaman. Tanaman utama sebelum investasi irigasi (< 2003) adalah padi dan jagung. Dengan adanya ketersediaan air melalui investasi irigasi, tanaman padi menjadi sasaran utama pengembangan usahatani. Pekembangan luas tanaman padi terutama pada musim tanam (MT) II (± 65 %), bahkan penanaman padi pada MT III cukup optimal (± 800%) (Ananto et al 2009), terutama pada zona agroekosistem dominan lahan sawah di Kec. Kedungtuban dan Cepu, serta Kec. Todanan. Luas tanaman padi secara keseluruhan dalam setahun meningkat sebesar ± 40 %, dan masih sangat dimungkinkan akan terjadi perluasan tanaman padi di masa-masa mendatang karena hasil investasi tahun terakhir (2008) belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya. Tanaman pangan kedua adalah jagung, terjadi pergeseran luas tanaman jagung MT I dan MT II karena tergeser oleh tanaman padi (Gambar 16).

Pergeseran luas tanaman jagung oleh tanaman padi tidak mengurangi luas total tanaman jagung, bahkan secara keseluruhan masih meningkat ± 40 %, terutama pada zona agroekosistem dominan lahan kering di Kec. Bogorejo, Tunjungan. Peningkatan terutama terjadi pada MT III sebesar ± 40 %, jagung masih merupakan tanaman penting kedua setelah padi bahkan masih mengalami peningkatan yang tinggi, karena sumber karbohidrat (kalori) masyarakat Blora, terutama pada usia tua sebagai bahan makanan.

Kehadiran pengairan (irigasi sederhana) tidak hanya meningkatkan luas tanaman padi dan jagung, tetapi petani yang mencoba mengusahakan tanaman hortikultura, terutama bawang merah, cabe dan semangka cukup meningkat tajam (± 500%), pada MT1 ± 100%; MT2 ± 750%, dan MT3 ± 500% (Ananto et al 2009), terutama pada agroekosistem dominan lahan kering di Kec. Bogorejo, Tunjungan. Tanaman kacang-kacangan yang diusahakan adalah kacang putih, kacang merah yang tahan kekeringan, kedele, kacang tanah dan kacang hijau. Peningkatan luas areal pada MT III berdampak pada penyebaran luas tanaman antar musim relatif sama, memberikan indikasi bahwa investasi irigasi meningkatkan kesempatan bekerja di MKIII, dan memungkinkan berkurangnya tekanan musim paceklik.

Gambar 11. Perubahan (%) luas tanam setelah investasi fisik (2008)

-200 -100 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 MT 1 MT 2 MT 3 T ahun MT % Padi Jagung Sayuran Kacangan

Gambar 52. Perkembangan indeks pertanaman 0 10 20 30 40 50 60 70 100 150 - 200 250 - 300 350 - 400 > 400 IP P e rs e n pra investasi post investasi

Ada perubahan Intensitas Pertanaman (IP) di daerah sasaran investasi, dimana sebelum investasi proporsi desa dengan IP antara 250 sampai 300 cukup dominan sebesar 36 %, dan keadaan pada 2008 menurun menjadi 25%, tetapi terjadi peningkat menjadi 60% pada IP antara 350 sampai 400 (Gambar 17), terutama pada pola padi – padi – sayuran/semangka, atau padi – jagung - sayuran (400 < IP < 300), sehingga akan berpengaruh terhadap produktivitas pangan, hortikultura. Peningkatan IP ini masih mungkin terjadi karena sebagian desa, baru menyelesaikan investasi desa pada tahun 2008.

Investasi irigasi meningkatkan luas pertanaman, intensitas tanam dan perubahan pola tanam dalam setahun. Pekembangan luas tanaman padi pada musim tanam (MT) II (± 65 %), bahkan pada MT III cukup optimal (± 800%) (Gambar 17), tetapi terjadi pergeseran luas tanaman jagung MT I dan MT II karena tergeser oleh tanaman padi, sehingga berdampak terhadap peningkatan produksi padi, dan penurunan produksi jagung (Gambar 18) pada seluruh wilayah kajian.

Gambar 17. Produksi padi dan jagung 2005 - 2006 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000

Padi (Sawah) Jagung (Sawah) Padi (L.kering) Jagung (L.kering) Padi (hutan) Jagung (hutan)

Dominan T o n 2005 2006

Gambar 16. Produksi padi pada 3 agroekosistem 2003 - 2006

0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000

Kd.tuban Bogorejo T odanan Jiken Rdblatung Kec. T o n 2003 2004 2005 2006

Dengan adanya penambahan pembangunan infrastruktur irigasi, seperti cekdam, bendungan, embung, sumur galian, saluran irigasi, pompanisasi sejak tahun 2003, dan berfungsi secara optimal terasa sangat bermanfaat pada keluarga petani, terutama pada musim kemarau, sehingga kontinuitas usahatani dan indeks pertanaman (IP) dapat meningkat (IP » 300). Peningkatan areal luas tanam dan produksi perwilayah, atau produksi (ton) pada komoditi padi sawah berdasarkan 3 zona agroekosistem (Gambar 19), yaitu dominan lahan sawah (Kedungtuban), dominan lahan kering (Bogorejo), seimbang lahan sawah dan lahan kering (Todanan), serta dominan kawasan hutan (Japah, Randublatung). Sedangkan produksi sayuran (bawang, mentimun, cabai, tomat, kacang-kacangan, terong, bayam, kangkung) (Gambar 20) yang di tanam terlihat sejak 2004 (adanya investasi desa), walaupun tidak terjadi peningkatan hari hujan dan curah hujan (mm) selama 2003 – 2007 di Kabupaten Blora (BPS dan Bappeda Blora, 2007).

Pengembangan Usaha Alsintan

Investasi irigasi yang dibangun P4MI akan meningkatkan luas pertanaman, intensitas tanam dan perubahan pola tanam dalam setahun, sehingga berdampak terhadap pengembangan berusaha di desa-desa kajian. Jenis usaha yang diamati adalah jenis usaha yang tumbuh sendiri (spontan) yang diperkirakan sebagai respon

(demand driven) terhadap perkembangan usahatani setelah pelaksanaan investasi

desa. Untuk jenis usaha tertentu mudah dilihat, misalnya jenis usaha jasa pengolahan tanah dengan traktor dan usaha penggilingan beras (Rice Mill). Tetapi untuk jenis usaha pompa air ukuran kecil (kurang dari 5 PK) relatif sulit untuk membedakan antara pengusahaan pompa air untuk kegiatan usahatani sendiri dan sebagai usaha jasa pompa air. Sangat dimungkinkan seorang pengusaha pompa, traktor dan sebagainya mempunyai lebih dari satu alsintan. Oleh karena itu dalam

Gambar 12. Produktivitas sayuran Kab. Blora 2003 - 2007

0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 2003 2004 2005 2006 2007 T ahun P ro d u k si bawang cabai timun tomat kacang2 an terung bayam kangkun g

melihat perkembangan berusaha tidak dapat diamati langsung dari perkembangan jumlah usaha tetapi didekati dengan menggunakan indikator perkembangan jumlah alsintan. Dampak yang terlihat jelas bahwa investasi irigasi menimbulkan perkembangan penggunaan alsintan secara berantai mulai di sektor hulu (pompa air, traktor tangan) sampai ke sektor hilir (thresher, rice mill dan jasa angkutan).

Jumlah pompa air dari berbagai jenis telah mengalami peningkatan cukup besar, atau meningkat hampir tiga kali lipat ( ± 259 %). Jenis pompa yang dipergunakan untuk mengairi sawah sendiri terutana jenis pompa air dengan tenaga kurang dari 5 PK, dipergunakan untuk sawah yang dekat dengan sumber air, seperti sawah dekat checkdam atau embung. Ada kecenderungan terjadi peningkatan jumlah pompa air yang kapasitas tenaganya semakin besar, pompa dengan kekuatan 5,5 PK meningkat ± 229 %, pompa dengan kekuatan 8,5 PK meningkat ± 325 % dan pompa air berkekuatan diatas 10 PK meningkat ± 660%. Perkembangan usaha pompa dengan jenis pompa air diatas 10 PK antara lain ditujukan untuk melayani sawah yang semakin jauh dari sumber air. Bahkan untuk sawah yang jauh dari sumber air dan terletak lebih tinggi dari sumber air dilakukan pemompaan secara berjenjang. Dari sumber induk, air dipompa dan dialirkan melalui saluran atau selang ke bak/kolam penampung yang jaraknya 2 – 7 km, dan dari bak/kolam penampungan air di pompa lagi dan dialirkan ke sawah petani.

Sistem upah jasa pompa air berlaku upah per jam, atau bagi hasil. Pelayanan pompa kecil sampai sedang menggunakan upah per jam, antara 10.000 - 20.000 rupiah per jam. Perbedaan upah terutama ditentukan oleh besar kekuatan mesin, semakin besar kekuatan mesin semakin tinggi upah per jam, namun pemompaan air dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat. Analisa yang dilakukan petani diuntungkan dengan adanya pompa, analisa kelayakan usaha pompa memberikan gambaran bahwa usaha pompa memberi keuntungan bagi pelaku usahanya. Pengupahan jasa pompa air dengan sistem bagi hasil telah diterapkan oleh swasta sebelum pelaksanaan investasi desa P4MI. Besar upah bagi hasil untuk penanaman padi musim hujan sebesar 1/6 hasil padi dan 1/5 untuk penanaman padi MT II. Pengupahan sistem bagi hasil masih dipergunakan pada kegiatan pengairan milik kelompok terutama jenis glontoran dengan bagi hasil 1/7 untuk penanaman padi musim hujan (MT I) dan 1/6 untuk penanaman padi MT II.

Investasi irigasi di seluruh desa memperoleh dana dari P4MI dan tidak ada kegiatan pembangunan irigasi oleh kegiatan program lain. Perkembangan pompa air merupakan dampak investasi dari kegiatan P4MI. Artinya penggunaan pompa

meningkatkan pemanfaatan air ke areal lahan yang lebih luas dan lebih jauh dari sumber air, didukung dengan semakin meningkatnya penggunaan pompa air dengan tenaga diatas 10 PK, analisa kelayakan memperlihakan bahwa jenis pompa 5,5 PK, 8,5 PK maupun diatas 10 PK layak secara finansial.

Perkembangan usaha jasa traktor yang relatif pesat antara lain : (a). adanya per-mintaan jasa pengolahan tanah yang besar setelah pelaksanaan investasi irigasi ; (b). upah mengolah dengan traktor lebih murah dibandingkan membajak dengan sapi; (c). pengolahan tanah sampai siap tanam dapat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Ada 3 jenis traktor yang digunakan yaitu traktor dengan tenaga 6,5 PK, 8,5 PK dan tenaga diatas 10 PK. Proporsi traktor tangan dengan tenaga 6,5 PK pada tahun 2008 meningkat sebesar ± 5 %. Traktor tangan dengan kekuatan 8,5 PK meningkat ± 50%, dan traktor yang berkekuatan diatas 10 PK meningkat ± 40%). Perkembangan traktor kecil relatif lambat dibandingkan perkembangan traktor dengan kekuatan yang lebih besar. Traktor bertenaga kecil (6,5 PK) umumnya hanya dipergunakan untuk membajak dengan upah Rp. 450.000,- per hektar. Traktor tangan dengan tenaga yang lebih besar dipergunakan untuk membajak sampai siap tanam dengan upah Rp. 700.000,- sampai dengan Rp. 800.000 per hektar.

Penggunaan jasa pengolahan tanah dengan traktor tangan lebih murah dan lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan tenaga ternak (sapi). Disamping itu, sebagian besar pengusahaan ternak sapi adalah usaha penggemukan dengan pola bagi hasil, sehingga penggunaan tenaga ternak akan menghambat pertumbuhan sapi dan belum tentu diijinkan pemiliknya. Perkembangan usaha jasa traktor antara lain diakibatkan oleh ketersediaan air dan berkembangnya usaha jasa pompa air. Dalam perkembangan selanjutnya bahwa air yang dibangun tidak hanya untuk lahan sasaran tetapi digunakan diluar sasaran bahkan oleh petani luar desa. Ketersediaan air telah membuka peluang berkembangnya usaha jasa traktor, hasil analisa finansial menunjukan usaha jasa traktor memberi keuntungan yang cukup baik. Hasil analisa kelayakan finansial menunjukkan bahwa usaha jasa traktor dengan tenaga 8,5 PK atau lebih layak dilakukan. Selain itu usaha jasa pengolahan traktor tangguh terhadap kenaikan harga BBM dan pelumas sebesar 20 %.

Secara garis besar, alat perontok padi yang digunakan dapat dibedakan antara alat perontok manual dan thresher mesin. Perontok padi manual juga disebut pedal thresher, pada tahun 2008 meningkat ±145%, unit atau meningkat dua kali lebih. Pedal thresher, karena perontok padi ini digerakkan oleh tenaga manusia dengan jalan mengayuh pedal. Pedal thresher dibuat dari kayu jati, dan untuk