Takyudin
Widyaiswara LPMP Nusa Tenggara Barat Email : [email protected]
ABSTRAK
Kajian ini untuk mendapatkan gambaran sejauh mana efektifitas Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) pada SMP Model dan Imbas di Kabupaten Dompu dalam pencapaian Standar Nasional Pendidikan (SNP). Pengkajian dilakukan pada SMP Model dan imbas pelaksanaan SPMI memasuki tahun ke tiga, yang memiliki rapor mutu lengkap dalam tiga tahun terakhir. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kuantitatif dengan analisis deskripsi. Data bersumber dari hasil rapor mutu sekolah model dan imbas dalam tiga tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa dua sekolah model (100%) yang memiliki rapor mutu lengkap dalam 3 tahun terakhir mengalami peningkatan capaian SNP selama rentang 2016-2018. Adapun pada sekolah imbas, 36,36% sekolah mengalami peningkatan pencapaian standar mutu secara berkelanjutan dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2018. Selebihnya mengalami pencapaian yang fluktuatif untuk tahun 2017 dan 2018. Pada sekolah model, terjadi peningkatan efektifitas dalam pencapaian pada empat standar yaitu standar isi (dari 0,31 menjadi 0,77), standar proses (dari 0,35 menjadi 0,61), standar penilaian (dari 0,39 menjadi 0,60) dan standar pengelolaan (0,05 menjadi 0,60). Sedangkan efektifitas dalam pencapaian standar pembiayaan menunjukkan fluktuasi. Sementara itu pada sekolah imbas, ada empat standar yang mengalami peningkatan indeks efektifitas dalam pencapaiannya yaitu Standar Kompetensi Lulusan (dari 0,29 menjadi 0,35), Standar Isi (dari 0,16 menjadi 0,26), Standar penilaian (0,29 menjadi 0,41) dan standar pengelolaan.(dari 0,26 menjadi 0,30).
Kata Kunci:Sistem Penjaminan Mutu Internal, Standar Nasional Pendidikan A. Latar Belakang.
Untuk mewujudkan pencapaian standar mutu pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menge-luarkan regulasi terkait standar nasional mutu pendidikan, termasuk aturan operasional yang mengatur pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan (PMP) pada satuan pendidikan. Kebijakan PMP mengharapkan agar mutu pendidikan selalu terjamin dan meningkat dari waktu ke waktu. Peningkatan dimaksud terjadi pada delapan Standar Nasional
Pen-didikan (SNP). Oleh karena itu, setiap satuan pendidikan diwajibkan untuk melakukan penjaminan mutu pendidikan, dalam bentuk penjaminan mutu internal, sebagaimana diamanatkan dalam per-aturan Menteri Pendidikan dan Kebu-dayaan nomor 28 tahun 2016.
Output dari pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan adalah meng-hasilkan lulusan yang bermutu, yang salah satu indikasinya tergambar pada hasil Ujian nasional (UN). Nilai capaian UN Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB),
79 dari jenjang SD sampai SMA, masih
perlu terus ditingkatkan. Untuk hasil UN pada Tingkat SMP dalam tiga tahun terakhir (2017 s.d 2019) pada angka rata-rata 46,61. Hasil UN provinsi NTB tergambar bahwa nilai rata-rata UN terendah pada kabupaten Dompu yakni 39,08 (Puspendik, 2020). Hasil UN ini berkontribusi terhadap nilai rapor mutu satuan pendidikan khususnya pada standar kompetensi lulusan.
Rapor mutu pendidikan memberikan gambaran pencapaian SNP oleh satuan pendidikan. Untuk meningkatkan penca-paian SNP, satuan pendidikan dituntut melakukan serangkaian proses penja-minan mutu secara berkelanjutan dan sistematis sesuai dengan tahapan-tahapan siklus sistem penjaminan mutu internal (SPMI). Selama tiga tahun terakhir, LPMP NTB memberikan serang-kaian pendampingan teknis pelaksanaan SPMI bagi sekolah sekolah model dan imbas. Pendampingan dilakukan mulai dari pemetaan mutu sekolah, merenca-nakan pemenuhan mutu, hingga ba-gaimana melakukan evaluasi/audit ter-hadap hasil pemenuhan mutu yang dilakukan (LPMP NTB, 2019). Kegiatan pendampingan tersebut didukung peran serta pengawas sekolah sebagai fasilitator daerah maupun sebagai pem-bina sekolah dalam implementasi SPMI (Prayoga, 2019). Serangkaian pendam-pingan yang dilakukan diharapkan memberikan kontribusi terhadap keber-hasilan program SPMI di sekolah dalam
meningkatkan mutu sekolah, yang salah satu indikatornya terlihat dari pening-katan capaian SNP pada rapor mutu sekolah.
Terkait hal di atas, sekolah model dan imbas di Kabupaten Dompu juga telah mendapatkan pendampingan SPMI seperti halnya sekolah di kabupaten/ kota lain di NTB, maka dilakukan pengkajian untuk melihat sejauh mana gambaran mutu capaian SNP selama menerapan SPMI pada sekolah model dan imbas jenjang SMP di Kabupaten Dompu. Ka-jian ini untuk melihat perubahan capaian SNP, dan efektifitas implementasi SPMI di sekolah model dan imbas jenjang SMP di kabupaten Dompu dalam pencapaian SNP.
B. Kajian Teori
1. Sistem Penjaminan Mutu Internal Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) sebagai suatu kesatuan unsur yang terdiri atas organisasi, kebijakan, dan proses terpadu yang mengatur segala kegiatan untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah yang saling berinteraksi secara sis-tematis, terencana dan berkelanjutan (Kemdikbud, 2016). Hal bermakna bahwa penjaminan mutu pendidikan harus dilakukan secara terintegrasi, direncanakan dan berkesinambungan dengan melibatkan banyak unsur.
Dalam Permendikbud 28 tahun 2016 dinyatakan bahwa tujuan SPMP adalah untuk menjamin pemenuhan standar pada satuan pendidikan secara sistemik,
80 holistik, dan berkelanjutan, sehingga
se-kolah dapat berkembang secara mandiri dan memiliki budaya mutu. Hal ini berarti bahwa SPMP memastikan pemenuhan standar pendidikan secara berkelanjutan untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas.
SPMP pada Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) meliputi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME). SPMI merupakan sistem penjaminan mutu yang dilaksanakan dalam satuan pendidikan dan dijalankan oleh seluruh komponen satuan pen-didikan/ internal satuan pendidikan. Sedangkan SPME merupakan sistem penjaminan mutu yang dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, lembaga akreditasi dan lembaga standarisasi pendidikan (Kemdikbud, 2016).
Sebagai bagian dari SPMP, SPMI juga memiliki tahapan pelaksanaan yang bersiklus dan berkesinambungan. Tahap-an SPMI tersebut meliputi : 1) pemetaTahap-an mutu; 2) penyusunan rencana pening-katan mutu; 3) pelaksanaan rencana peningkatan mutu; 4) monitoring dan evaluasi/audit mutu ; dan 5) penyusunan strategi peningkatan mutu berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi (Per-mendikbud, No. 28 tahun 2016). Dengan penerapan lima siklus tersebut secara berkelanjutan diharapkan akan mencipta-kan budaya mutu di sekolah tersebut yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan secara konsisten.
Senada dengan ini Mugratroyd, S.1994 menyatakan bahwa dalam pen-jaminan mutu terdapat proses penentuan standar dan metode yang tepat dan adanya persyaratan mutu, yang diikuti oleh proses pemantauan atau evaluasi untuk melihat sejauh mana standar tersebut bisa tercapai. Ini bermakna bahwa dalam penjaminan mutu terdapat standar yang menjadi acuan, kemudian diimplementasikan dengan cara yang tepat yang diikuti dengan monitoring dan evaluasi untuk memastikan pencapaian standar mutu tersebut.
Keberhasilan penjaminan mutu oleh satuan pendidikan ditandai dengan meningkatnya kemampuan satuan pendidikan dalam menjalankan siklus penjaminan mutu pendidikan. Indikator lainnya seperti adanya peningkatan kompetensi pendidik dalam menjalankan proses pembelajaran, pengembangan kegiatan kemitraan, pengelolaan sarana prasarana dan kesiswaan, yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu lulusan (Kemdikbud. 2016). Ini bermakna bahwa peningkatan pencapaian SNP merupakan indikasi keberhasilan penjaminan mutu. Hal ini selaras dengan hasil penelitan Gustini, Neng (2019) bahwa hasil dari penerapan penjaminan mutu internal berdampak pada pemenuhan delapan standar nasional pendidikan. Rahmania, Ika. (2020) memperkuat bukti bahwa implementasi SPMI dapat menigkatkan mutu lulusan. Hal ini berarti dapat meningkatkan salah
81 satu SNP yaitu standar kompetensi
lulusan.
Dalam implementasi program SPMI, diberikan pendampingan bagi sekolah-sekolah dalam merencanakan dan menerapkannya. Sekolah-sekolah tersebut bersedia berkomitmen dan memenuhi persyaratan lainnya untuk melaksanakan SPMI sehingga dijadikan Sekolah Model implementasi program SPMI. Adapun sekolah imbas merupakan sekolah yang mendapatkan imbasan dari program SPMI yang dilakukan oleh sekolah model. Namun demikian, sekolah imbaspun mendapatkan pendampingan dari LPMP dan pengawas sekolah/ fasilitator daerah namun tidak diberikan dana bantuan dalam penerapan SPMI seperti sekolah model.
2. Standar Nasional Pendidikan
Dalam Peraturan pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan (SNP) yang disem-purnakan dengan PP nomor 32 tahun 2013 dinyatakan bahwa SNP bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional da-lam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. SNP mencakup delapan standar, antara lain : standar kompetensi lulusan (SKL), standar isi, standar proses, standar pe-nilaian, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan pra-sarana, standar pengelolaan dan stan-dar pembiayaan.
Untuk memperoleh data kondisi pencapaian SNP dilakukan proses pe-metaan mutu melalui isian evaluasi diri sekolah (EDS) yang dilakukan pihak sekolah. Instrumen EDS terus meng-alami perkebangan sehingga mulai tahun 2016 dilakukan pemetaan me-lalui instrumen PMP (pemetaan Mutu Pendidikan). Pengisian Instrumen
Kuesioner Pengumpulan Data Mutu Pendidikan ini bertujuan untuk mengumpulkan data mutu pendidikan sesuai SNP di seluruh satuan pen-didikan yang belum tercakup dalam aplikasi dapodik Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebuda-yaan (Kemdikbud). Pengumpulan data dilakukan untuk mengetahui kondisi
satuan pendidikan terkait dengan pe-menuhan SNP sehingga diharapkan hasilnya dapat menjadi masukan untuk peningkatan mutu sekolah (Kemdik-bud, 2016).
Hasil pengolahan isian aplikasi Pemetaan mutu pendidikandan data pokok pendidikan menghasilkan Rapor Mutu/Rapor PMP yang menggambar-kan pencapaian delapan SNP satuan pendidikan. Pada rapor mutu (Kem-dikbud, 2019) terdapat kategori Capai-an SNP. RentCapai-ang skor capaiCapai-an SNP antara 0,00–7,00. Rentang tersebut memberikan informasi kategori pen-capaian SNP yaitu:
I Menuju SNP 1 nilai rataan
0,00 – 2,04 Bintang 1 II Menuju SNP 2 nilai rataan Bintang 2
82 2,05 – 3,70
III Menuju SNP 3 nilai rataan
3,71 – 5,06 Bintang 3 IV Menuju SNP 4 nilai rataan 5,07 – 6,66 Bintang 4 V Memenuhi SNP nilai rataan 6,67 – 7,00 Bintang 5 Dalam rapor mutu termuat nilai capaian rata-rata SNP sekolah , nilai capaian masing masing standar beserta nilai indikator dan nilai sub indikator dari tiap-tiap standar.
C. Metodologi
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, untuk melihat efektifitas dari kegiatan SPMI dalam peningkatan capaian SNP yang tergambar dari rapor mutu sekolah.
1. Populasi dan Sampel penelitian. Ada empat sekolah model dan dua puluh sekolah imbas program SPMI jenjang SMP di Dompu. Dari semua sekolah tersebut yang telah memiliki rapor mutu yang lengkap tiga tahun terakhir dari tahun 2016 sampai 2018 dikarenakan rapor mutu 2019 belum keluar, diperoleh dua sekolah model dan sebelas sekolah imbas jenjang SMP di kabupaten Dompu yang memiliki rapor mutu lengkap sebagi sampel.
2. Teknik pengumpulan data.
Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, dimana dilakukan pengkajian dokumen rapor mutu se-kolah pada tiga tahun terakhir. Sumber data yang digunakan dalam kajian ini adalah data hasil olahan yang dimuat dalam rapor mutu Dikdasmen
(Kem-dikbud.2019) yang menggambarkan capaian SNP dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2018.
3. Teknis Analisis Data
Kajian ini menggunakan analisis des-kriptif yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mengklarifikasi, meng-analisis, dan menginterpretasi data yang diperoleh.
Untuk mengetahui efektifitas pada capaian SNP setelah perlakuan melalui kegiatan SPMI digunakan analisis Normalized Gain (N-Gain) dengan meng-hitung selisih hasil pencapaian SNP yang tergambar pada rapor mutu sekolah.Formula N-Gain yang digunakan adalah:
(Meltzer, 2002) Keterangan:
N-Gain = Gain yang ternormalisir Skor awal = Nilai rapor mutu tahun
sebelumnya
Skor akhir = Nilai rapor mutu tahun sekarang
Skor ideal = 7 (memenuhi SNP) Kategori Indeks N-Gain:
Skor Kategori (g) > 0,70 Tinggi 0,30 ≤(g) <0,70 Sedang (g) < 0,30 Rendah
Untuk menentukan tingkat kebermak-naan dari perbedaan pencapaian SNP yang tergambar pada rapor mutu se-kolah, maka dilakukan perhitungan effect size dengan rumus.
83 Keterangan:
Skor awal = Nilai rapor mutu tahun sebelumnya
Skor akhir = Nilai rapor mutu tahun sekarang
Interpretasi nilai d (effect size) Cohen (2007) sebagai berikut :
- 0,00 - 0,20 effect lemah - 0,21 - 0,50 effect cukup - 0,51 – 1,00 effect sedang - > 1,00 effect kuat
D. Hasil dan Pembahasan
1. Capaian SNPSekolah Model dan imbas
Data capaian SNP pada sekolah model dan imbas digambarkan sebagai berikut.
Tabel 01. Capaian Standar Mutu Sekolah Model No Nama Sekolah Capaian Standar Mutu 2016 2017 2018 1 SMPN 1 Woja 4.79 5.18 5.78 2 SMPN 4 Dompu 5.19 5.55 5.85 (LPMP NTB, 2019)
Dari data di atas terlihat sebaran rata-rata pencapaian SNP pada sekolah model yakni pada tahun 2016 terdapat 50 % sekolah menuju SNP3 dan dan 50% menuju SNP4. Persen-tase sebaran capaian ini mulai me-ningkat dari tahun 2017 hingga 2018 menjadi 100% SNP4. Ini berarti bahwa semua sekolah model yang memiliki rapor mutu lengkap dari tahun 2016-2018 mengalami peningkatan penca-paian SNP (100%) secara
berkelan-jutan. Peningkatan ini juga sejalan dengan capaian pada sekolah model lainnya yang menerapkan SPMI (Gustini, Neng.2019) bahwa pelak-sanaan SPMI meningkatkan mutu sekolah dalam pencapaian SNP.
Sementara itu sebaran capaian SNP pada sekolah imbas ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 02. Capaian SNP Sekolah imbas No Nama Sekolah Capaian SNP
2016 2017 2018 1 SMPN 04 Woja 4.78 4.9 5.42 2 SMPN 06 Woja 4.74 5.35 5.03 3 SMPN 07 Woja 4.82 5.53 4.86 4 SMPN 06 Manggelewa 3.69 2.37 4.95 No Nama Sekolah Capaian SNP
2016 2017 2018 5 SMPN Manggelewa 07 5.05 5.86 5.28 6 SMPN 02 Pajo 4.53 5.19 5.71 7 SMPN 1 Hu'u 4.4 4.85 5.53 8 SMPN 1 Dompu 4.92 4.29 5.43 9 SMPN 2 Dompu 4.73 5.57 5.5 10 SMPN 7 Dompu 4.59 4.82 5.97 11 SMP Kosgoro 4.31 3.77 5.11 Data di atas menunjukkan bahwa rata-rata capaian SNP sekolah imbas pada tahun 2016 yakni terdapat sepuluh sekolah bertatus menuju SNP3 (91%), dan satu sekolah (9%) menuju SNP2. Pada tahun berikutnya, 2017, terjadi perubahan sebaran yakni lima sekolah menuju SNP4 (45,45%), lima sekolah menuju SNP3 (45,45%), dan satu sekolah menuju SNP2. Adapun pada tahun 2018 terjadi peningkatan rata-rata capaian SNP yakni 8 sekolah menuju SNP4
84 (72,73%), dan 3 sekolah menuju SNP3
(27,27%). Dari data ini menunjukkan adanya peningkatan capaian sekolah dalam pencapaian SNP pada sekolah imbas.
Data di atas juga menggambarkan bahwa empat sekolah imbas dari sebelas sekolah imbas yang dikaji atau 36,36% mengalami peningkatan pen-capaian standar mutu secara ber-kelanjutan dari tahun 2016 sampai de-ngan tahun 2018. Namun pada tahun 2017, ada delapan sekolah imbas atau 72,73% dari sekolah imbas yang dikaji mengalami kenaikan capaian mutu dari tahun sebelumnya. Namun demikian, dari sekolah-sekolah ter-sebut hanya ada empat sekolah
36,36% yang hanya mengalami ke-naikan berkelanjutan sampai 2018, sisanya empat sekolah mengalami pe-nurunan capaian SNP pada tahun berikutnya. Sementara tiga sekolah imbas lainnya atau 27,27% Hal meng-alami peningkatan hanya pada tahun 2018, sedangkan pada tahun sebe-lumnya mengalami penurunan. 2. Efektifitas implementasi SPMI
Secara umum, efektifitas implementasi SPMI ditandai dari hasil pencapaian SNP yang tergambar pada rapor mutu sekolah Model dan Imbas jenjang SMP di Kabupaten Dompu tahun 2016, 2017, dan 2018 dapat dilihat dalam tabel 03 dan 04 berikut ini.
Tabel 03. Efektifitas implementasi SPMI pada SMP Model NO Standar
Nilai rapor mutu Sekolah
Model N-gain Effect size 2016 2017 2018 2017 2018 2017 2018 1 SKL 5.82 5.80 6.65 -0.02 0.71 -0.59 7.11 2 Isi 5.08 5.68 6.69 0.31 0.77 1.36 7.55 3 Proses 5.92 6.30 6.73 0.35 0.61 2.37 3.34 4 Penilaian 5.07 5.82 6.53 0.39 0.60 6.63 3.56 5 PTK 3.94 3.30 3.86 -0.21 0.15 -0.82 1.39 6 Sarpras 4.52 4.43 4.04 -0.04 -0.15 -0.31 -2.40 7 Pengelolaan 5.33 5.42 6.36 0.05 0.60 0.10 4.95 8 Pembiayaan 4.22 6.21 6.59 0.72 0.48 2.76 0.52
Tabel 04. Efektifitas implementasi SPMI pada SMP Imbas NO SNP
Nilai rapor mutu Sekolah
Imbas N-gain Effect size 2016 2017 2018 2017 2018 2017 2018 1 SKL 5.20 5.64 6.14 0.29 0.35 1.21 0.41 2 Isi 4.69 4.92 5.50 0.16 0.26 0.54 0.44 3 Proses 5.12 5.88 6.36 0.43 0.39 1.92 0.30 4 Penilaian 4.10 4.89 5.80 0.29 0.41 1.21 0.57 5 PTK 3.80 3.16 3.50 -0.22 0.11 -1.18 1.01
85
6 Sarpras 4.49 4.11 3.74 -0.14 -0.13 -0.40 -0.43
7 Pengelolaan 4.55 5.05 5.74 0.26 0.30 0.72 0.37 8 Pembiayaan 4.33 5.15 5.75 0.34 0.29 1.39 0.43
Berdasarkan data tabel 03 dan 04 di atas dapat diuraikan efektifitas dalam pencapaian SNP sebagai sebagai berikut.
a. Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan
Efektifitas dalam pencapaian stan-dar kompetensi lulusan pada seko-lah model tahun 2017 sebesar -0,02 atau belum efektif, sedang-kan pada tahun 2018 sebesar 0,71atau berkategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa efektifitas im-plementasi SPMI mengalami pe-ningkatan walaupun awalnya belum efektif. Sedangkan pada sekolah imbas menunjukkan nilai efektifitas sebesar 0,29 atau berkategori ren-dah pada tahun 2017 dan meng-alami peningkatan efektifitas pada tahun 2018 sebesar 0,35 atau efektifitas sedang. Sementara itu, analisis effect size untuk menge-tahui ukuran kekuatan pemenuhan standar kompetensi lulusan pada tahun 2017 diperoleh nilai -0,59, lemah, namun padapada tahun 2018 menguat menjadi 7,11, capai-an efek kuat pada sekolah model. Mengacu pada uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa pemenuhan standar mutupada sekolah model mengalami peningkatan kekuatan
pencapaian dari lemah menjadi kuat. Adapun nilai effect size pada sekolah imbas yaitu 1,21 efek kuat, sedangkan pada tahun 2018 meng-alami penurunan menjadi sedang, Peningkatan pencapaian SKL ini sejalan hasil pada sekolah lainnya dalam penerapan SPMI (Rahmania, Ika. 2020) bahwa kualitas lulusan pada sekolah yang mengimplen-tasikan SPMI meningkat. Jika ter-jadi penurunan kualitas lulusan ma-ka hal tersebut dima-karenama-kan oleh salah satunya yaitu adalah kurang-nya mengimplementasikan sistem penjaminan mutu pada sekolah tersebut (Rahwati, D.2019).
b. Pencapaian Standar Isi
Indeks efektifitas implementasi SPMI dalam pencapaian standar isi pada sekolah model tahun 2017 sebesar 0,31 atau berkategori se-dang. Namun, pada tahun 2018 mengalami peningkatan efektifitas menjadi 0,61 tetapi masih dalam kategori sedang. Hal ini menun-jukkan bahwa efektifitas implement-tasi mengalami peningkatan namun masih pada kategori yang sama dengan tahun sebelumnya. Se-dangkan pada sekolah imbas me-nunjukkan nilai efektifitas sebesar 0,16 atau berkategori rendah pada
86 tahun 2017, namun terjadi
pening-katan pada tahun berikutnya men-jadi 0,39 tetapi masih dalam kate-gori efektifitas rendah. Selanjutnya analisis effect size untuk menge-tahui ukuran kekuatan pencapaian Standar isi pada SMP model diper-oleh1,37 efek kuat pada tahun 2017, dan pada tahun berikutnya lebih menguat menjadi 7,55. Dari rincian tersebut, dapat dikatakan bahwa pencapaian SNP pada se-kolah model mengalami pening-katan kekuatan pencapaian. Ada-pun nilai effect size pada sekolah imbas yaitu 0,54 berkategori se-dang, dan mengalami pelemahan kekuatan menjadi 0,44 tahun 2018 namun masih dalam kategori yang sama.
c. Pencapaian Standar Proses
indeks efektifitas implementasi SPMI dalam pencapaian standar proses tahun 2017 pada sekolah model sebesar 0,31 atau ber-kategori sedang, dan tahun 2018 sebesar 0,61 atau juga berkategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa efektifitas dalam pencapaian stan-dar mutu mengalami peningkatan. Sedangkan pada SMP imbas me-nunjukkan nilai efektifitas sebesar 0,43 atau berkategori sedang tahun 2017, namun tahun berikutnya mengalami penurunan efektifitas menjadi 0,39 dengan kategori yang
sama. Selanjutnya analisis effect size untuk mengetahui ukuran kekuatan pencapaian Standar pro-ses pada SMP model diperolehnilai 2,37 efek kuat pada tahun 2017, danmenguat menjadir 3,34, pada tahun 2018. Dari rincian tersebut, dapat dikatakan bahwa pada SMP model mengalami peningkatan ke-kuatan pencapaian standar proses. Adapun nilai effect size pada se-kolah imbas yaitu 1,92 juga ber-kategori kuat, namun mengalami pelemahan menjadi 0,29 tahun 2018, sehingga dapat dikatakan bahwa pada standar ini mengalami penurunan kekuatan pencapaian yang cukup signifikan dari kuat menjadi cukup.
Peningkatan capaian dalam standar ini berimplikasi terhadap pencapai-an SKL, dimpencapai-ana proses pembela-jaran yang berlangsung baik mulai dari perencanaan, persiapan, pelak-sanaan dan cara mengevaluasinya meningkatkan mutu lulusan sekolah (Darmaji,2019).
d. Pencapaian Standar Penilaian
Indeks efektifitas implementasi SPMI dalam pemenuhan standar penilaian tahun 2017 pada sekolah model yaitu 0,39 atau berkategori sedang, dan tahun 2018 sebesar 0,61 berkategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa efektifitas implementasi mengalami
perkem-87 bangan walaupun masih dalam
kategori yang sama. Sedangkan pada SMP imbas menunjukkan nilai efektifitas sebesar 0,29 atau ber-kategori rendah, namun mengalami peningkatan menjadi sedang pada tahun berikutnya yakni 0,41. Se-lanjutnya effect size untuk menge-tahui ukuran kekuatan dalam pen-capaian standar penilaian pada SMP model diperoleh 6,63, efek kuat pada tahun 2017, namun kemudian mengalami penurunan kekuatan pada tahun 2018 menjadi 3,34 tetapi masih pada kategori kuat. Dari rincian tersebut, dapat dikatakan bahwa dalam pencapaian standar penilaian tidak mengalami peningkatan kekuatan pencapaian. Adapun nilai effect size pada se-kolah imbas pada tahun 2017 yaitu 1,21, kategori kuat, namun meng-alami penurunan kekuatan pada tahun berikutnya menjadi 0,57, se-hingga dapat dikatakan bahwa da-lam pencapaian standar ini menga-lami penurunan kekuatan penca-paian dari kuat menjadi sedang. e. Pencapaian Standar Pendidik dan
Tenaga Kependidikan (PTK)
Efektifitas implementasi SPMI dalam pencapaian standar PTK tahun 2017 pada sekolah model sebesar -0,21 atau tidak efektif, namun pada tahun 2018 meng-alami peningkatan menjadi sebesar
0,15 tetapi masih dalam kategori rendah. Bahkan, jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2016 maka capaian tahun 2018 ini masih kurang. Hal menunjukkan bahwa implementasi SPMI dalam penca-paian standar PTK ini belum efektif. Hal yang sama terjadi pada sekolah imbas dimana nilai efektifitas sebe-sar -0,22 dan meningkat tahun 2018 dengan efektifitas 0,11 namun ber-kategori rendah. Hal menunjukkan bahwa implementasi SPMI dalam pencapaian standar PTK ini di se-kolah imbaspun juga belum efektif. f. Pencapaian Standar Sarana dan
Prasarana Pendidikan (sarpras)
Efektifitas implementasi SPMI da-lam pencapaian standar sarpras ta-hun 2017 pada sekolah model sebesar -0,04 atau tidak efektif, be-gitu juga pada tahun pada tahun 2018 mengalami penurunan efek-tifitas menjadi -0,15 yang makna-nya makin tidak efektif. Hal menun-jukkan bahwa implementasi SPMI alam pencapaian standar sarpras ini belum efektif. Hal yang sama terjadi pada sekolah imbas yang nilai efektifitasnya sebesar -0,14 dan pada 2018 dengan efektifitas -0,13 atau belum efektif. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi SPMI dalam pencapaian standar
88 di sekolah imbaspun juga belum
efektif..
g. Pencapaian Standar Pengelola Pendidikan
Indeks efektifitas dalam pencapaian
Standar Pengelolaan Pendidikan ta-hun 2017 pada sekolah model se-besar 0,05 atau berkategori rendah, dan mengalami peningkatan efek-tifitas tahun 2018 menjadi 0,60 de-ngan kategori sedang. Hal ini me-nunjukkan bahwa efektifitas imple-mentasi SPMI dalam pencapaian standar ini mengalami peningkatan. Sedangkan pada SMP imbas me-nunjukkan nilai efektifitas sebesar 0,26 atau berkategori rendah pada tahun 2017 dan meningkat menjadi 0,3 masih dalam kategori rendah juga. Selanjutnya effect size untuk mengetahui ukuran kekuatan pen-capaian Standar Pengelolaan Pen-didikan pada SMP model diperoleh nilai efek rendah yakni 0,09 pada tahun 2017, namun mengalami peningkatan kekuatan yang sangat signifikan pada tahun 2018 dengan nilai effect size 4,95. Dari rincian tersebut, dapat dikatakan bahwa
Pencapaian Standar Pengelolaan pendidikan pada SMP model meng-alami peningkatan kekuatan pen-capaian. Adapun nilai effect size pada sekolah imbas yaitu 0,72