• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor pembatas ( limit factors ) pengelolaan perikanan tangkap

PERIKANAN TANGKAP

6. Interpretasi hasil analisis

6.4.2 Faktor pembatas ( limit factors ) pengelolaan perikanan tangkap

Selain aspek pengelolaan yang cenderung berupa harapan ke depan, kegiatan pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu juga dihadapkan pada berbagai keterbatasan yang ada. Model co-management yang baik merupakan model co-management yang dapat mengakomadir secara maksimal aspek pengelolaan dengan memperhatikan berbagai faktor pembatas (limit factors) yang ada di lokasi. Hal ini penting untuk menjamin kelestarian potensi perikanan dan keberlanjutan pemanfaatannya yang berbasis pada kekuatan lokal. Hasil analisis terkait untuk setiap faktor pembatas (limit factors) yang ada dalam pemenuhan aspek pengelolaan terkait penerapan model co-management perikanan tangkap di Palabuhanratu disajikan pada Gambar 18 dibawah ini.

120

Gambar 18 Hasil analisis kepentingan faktor pembatas pengelolaan terkait aspek biologi dalam penerapan model co-management perikanan tangkap.

Dalam upaya mencari model co-management yang tepat untuk pengelolaan perikanan tangkap potensial di Palabuhanratu, maka faktor pembatas yang terdiri dari ketersediaan sumberdaya (SD), sumber dan jumlah modal (modal), kondisi sarana dan prasarana (SAR-PRA), lingkup kewenangan (WEWENANG), dan tata ruang kewilayahan (T-RUANG) perlu dipertimbangkan, karena faktor pembatas tersebut akan menentukan tingkat upaya yang bisa dilakukan. Dalam kaitan dengan aspek biologi, maka ketersediaan sumberdaya menjadi faktor pembatas paling penting (RK = 0,336 pada inconsistency terpercaya 0,08) yang perlu diperhatikan bila model co-management diterapkan pada kegiatan perikanan tangkap di Palabuhanratu. Dari lima model co-management yang ditawarkan, tentu ada yang lebih sesuai dan dapat mengakomodir lebih baik aspek biologi ini dan faktor pembatasnya yang dominan (ketersediaan sumberdaya) tersebut.

Tata ruang kewilayahan merupakan faktor pembatas yang penting kedua terkait aspek biologi dalam pengelolaan perikanan termasuk dengan menerapkan model co-management. Pada Gambar 18, faktor pembatas ini mempunyai rasio kepentingan (RK) 0,234 pada inconsistency terpercaya 0,08 terkait aspek biologi. Lingkup kewenangan merupakan faktor pembatas paling rendah kepentingannya

121 terkait aspek biologi, yaitu dengan rasio kepentingan (RK) 0,128 pada inconsistency terpercaya 0,08

Dalam pemenuhan aspek teknologi, ketersediaan sumberdaya juga menjadi faktor pembatas paling penting dan perlu menjadi perhatian bila suatu model co- management akan diterapkan di bidang perikanan tangkap. Hasil analisis pada Gambar 19 menunjukkan hal ini, dimana ketersediaan sumberdaya mempunyai rasio kepentingan 0,284 pada inconsistency terpercaya 0,03.

Gambar 19 Hasil analisis kepentingan faktor pembatas pengelolaan terkait aspek teknologi dalam penerapan model co-management perikanan tangkap.

Kondisi sarana dan prasarana (SAR-PRA) menjadi faktor pembatas yang berkepentingan kedua terkait aspek teknologi bila suatu model co-management diterapkan dalam pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu, yaitu dengan rasio kepentingan 0,262 pada inconsistency terpercaya 0,03. Kondisi sarana dan prasarana sangat menentukan jenis teknologi perikanan yang dapat dikembangkan di lokasi, seperti teknologi penangkapan dan usaha pendukung. Bila sarana dukung tidak memadai, maka kapal dan alat tangkap yang canggih lebih sulit dalam pemeliharaannya dan hal ini harus menjadi perhatian dalam pengembangan co-management. Model co-management yang baik tentu dapat memecahkan berbagai keterbatasan tersebut. Kegiatan pendukung di pabrik es, pusat kesehatan

122

juga tidak dapat berkembang baik bila instalasi air PDAM dan jaringan listrik tidak memadai.

Sumber dan jumlah modal serta tata ruang kewilayahan menjadi faktor pembatas ketiga dan keempat yang berkepentingan terkait aspek teknologi dalam pengelolaan perikanan tangkap termasuk dengan model co-management di Palabuhanratu. Sumber dan jumlah modal mempunyai rasio kepentingan 0,215 pada inconsistency terpercaya 0,03, sedangkan tata ruang kewilayahan mempunyai rasio kepentingan 0,141 pada inconsistency terpercaya 0,03. Lingkup kewenangan merupakan faktor pembatas yang paling rendah kepentingannya terkait aspek teknologi dalam penerapan model co-management perikanan tangkap (RK = 0,099 pada inconsistency terpercaya 0,03). Gambar 20 menyajikan hasil analisis kepentingan faktor pembatas pengelolaan terkait aspek ekonomi dalam penerapan model co-management perikanan tangkap di Palabuhanratu.

Gambar 20 Hasil analisis kepentingan faktor pembatas pengelolaan terkait aspek ekonomi dalam penerapan model co-management perikanan tangkap.

Dalam pemenuhan aspek ekonomi, sumber dan jumlah modal menjadi faktor pembatas paling penting dan perlu menjadi perhatian bila suatu model co-management akan diterapkan di bidang perikanan tangkap (Gambar 20).

Sumber dan jumlah modal ini mempunyai rasio kepentingan 0,273 pada inconsistency terpercaya 0,06. Faktor pembatas ketersediaan sumberdaya (SD)

123 dan kondisi sarana dan prasarana (SAR-PRA) menjadi faktor pembatas urutan kedua paling penting dan perlu diperhatikan dari aspek ekonomi dalam penerapan suatu model co-management di Palabuhanratu. Faktor pembatas ketersediaan sumberdaya (SD) dan kondisi sarana dan prasarana (SAR-PRA) mempunyai rasio kepentingan masing-masing 0,217 pada inconsistency terpercaya 0,06. Faktor pembatas lingkup kewenangan menjadi faktor pembatas paling rendah kepentingannya terkait aspek ekonomi ini, yaitu dengan rasio kepentingan 0,143 pada inconsistency terpercaya 0,06.

Dalam pemenuhan aspek sosial dan budaya, sumber dan jumlah modal menjadi faktor pembatas paling penting dan perlu menjadi perhatian bila suatu model co-management akan diterapkan di bidang perikanan tangkap. Gambar 21 menyajikan hasil analisis kepentingan faktor pembatas pengelolaan terkait aspek sosial dan budaya ini dalam penerapan model co-management perikanan tangkap di Palabuhanratu.

Gambar 21 Hasil analisis kepentingan faktor pembatas pengelolaan terkait aspek sosial dan budaya ini dalam penerapan model co-management perikanan tangkap di Palabuhanratu.

Ketersediaan sumberdaya (SD) menjadi faktor pembatas yang berkepentingan pertama terkait aspek sosial dan budaya bila suatu model co- management diterapkan dalam pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu,

124

yaitu dengan rasio kepentingan 0,259 pada inconsistency terpercaya 0,09 (Gambar 21). Ketersediaan sumberdaya terutama dari jenis ikan ekonomis penting sangat menentukan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di lokasi, serta pola interaksi atau tata nilai yang dipilih nelayan dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan. Model co-management yang baik tentu dapat mengakomodir pola interaksi secara sosial dan budaya dari nelayan dan masyarakat pesisir yang ada di Palabuhanratu. Tingkat kepentingan faktor pembatas tersebut menjadi pertimbangan penting dalam pemilihan model co-management yang tepat di lokasi.

Tata ruang kewilayahan (T-Ruang) menjadi menjadi faktor pembatas urutan kedua yang berkepentingan terkait aspek sosial dan budaya dalam pengelolaan perikanan tangkap termasuk dengan model co-management di Palabuhanratu. Tata ruang kewilayahan mempunyai rasio kepentingan 0,221 pada inconsistency terpercaya 0,09. Sumber dan jumlah modal menjadi faktor pembatas berkepentingan ketiga terkait aspek sosial dan budaya dalam penerapan model co- management perikanan tangkap di lokasi (RK = 0,196 pada inconsistency terpercaya 0,07). Hal ini karena modal akan mempengaruhi pola jenis alat dan metode yang dipilih oleh nelayan dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan. Semakin mampu dalam pemodalan, maka nelayan nelayan dapat memilih jenis alat tangkap dan metode penangkapan yang lebih modern, teknik tradisional bisa tidak digunakan lagi. Lingkup kewenangan merupakan merupakan faktor pembatas yang paling rendah kepentingannya terkait aspek sosial dan budaya bila suatu model co-management diterapkan dalam pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu. Faktor pembatas ini mempunyai rasio kepentingan 0,147 pada inconsistency terpercaya 0,09.

6.4.3 Model co-management perikanan tangkap