• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usaha Perikanan Tangkap

PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP

9 KESIMPULAN DAN SARAN 177 1 Kesimpulan

2.3 Usaha Perikanan Tangkap

2.3.1 Klasifikasi usaha perikanan tangkap

Manetsch dan Park (1977) mendefinisikan sistem sebagai suatu gugus dari elemen yang saling berhubungan dan terorganisasi untuk mencapai suatu tujuan atau suatu gugus dari tujuan-tujuan. Usaha perikanan tangkap adalah sebuah sistem yang tediri dari berbagai elemen yang saling terkait dan saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan berupa hasil tangkapan dan pendapatan nelayan yang lebih baik.

Menurut Monintja (1994), berdasarkan skalanya, usaha perikanan tangkap dapat dikelompokkan menjadi perikanan rakyat maupun perikanan industri. Perikanan rakyat umumnya mempunyai skala usaha yang kecil, sarana dan prasarana penangkapan terbatas. Hal ini terutama disebabkan karena modal usaha yang dimiliki terbatas. Kegiatan penangkapan ikan dalam perikanan rakyat umumnya dilakukan secara tradisional. Dengan kondisi di atas, maka produksi yang diperoleh relatif rendah, daya penangkapan dan pemasaran sangat terbatas.

Menurut Purbayanto (2008) selama ini sumberdaya perikanan di Indonesia

merupakan rezim “milik bersama” atau “common property regimes” yaitu siapa

pun dapat memanfaatkannya. Pemanfaatan sumberdaya perikanan dan kelautan tersebut dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan pesat. namun penegakan hukum dan peraturan pengelolaan masih sangat lemah, sehingga dalam dalam

21 prakteknya kegiatan pemanfaatannya cenderung tidak terkendali. keadaan ini bila tidak segera diantisipasi dapat menyebabkan terjadinya perebutan sumberdaya

atau dikenal dengan tragedy of common.

Perikanan tangkap skala kecil dan perikanan tangkap skala besar ditentukan oleh cara operasi alat tangkap, teknologi alat tangkap yang digunakan, besarnya modal investasi, tenaga kerja dan kepemilikan usaha. Disebut perikanan tangkap skala besar atau skala industri jika kegiatan usaha penangkapan ikan menggunakan modal usaha yang besar, teknologi alat tangkap yang digunakan lebih bagus dan lebih modern, administrasi dan organisasinya lebih teratur sebagaimana layaknya suatu manajemen perusahaan yang dikelola secara professional. Sedangkan perikanan tangkap skala kecil jika kegiatan usaha penangkapan ikan modalnya kecil biasanya modal perorangan, teknologi alat tangkap yang digunakan lebih sederhana terkadang alat tangkap sangat tradisional, tidak memiliki organisasi dan pengelolaan administrasi yang baik (Hermawan, 2006).

Murdiyanto (2004) menjelaskan bahwa usaha perikanan tangkap skala kecil masih mendominasi usaha perikanan tangkap di Indonesia. Hampir 90% skala usaha perikanan tangkap yang oleh nelayan di Indonesia tergolong usaha perikanan tangkap skala kecil. Diperkirakan lebih dari 10 juta nelayan Indonesia masih tergolong memiliki usaha perikanan tangkap skala kecil yang mendaratkan ikan 20 juta ton ikan per tahun. Usaha perikanan tangkap skala kecil di Indonesia hampir tidak berubah dari tahun ke tahun baik cara operasi, teknologi yang digunakan, modal yang dimiliki maupun manajemen yang diterapkan.

Perubahan pada cara operasi dan teknologi hanya sedikit berubah dari perahu tanpa motor menjadi perahu dengan motor, itu pun masih dengan motor tempel. Demikian pula cara operasi dan teknologi alat tangkap yang dimiliki masih bersifat mencari ikan bukan menangkap ikan disebabkan para nelayan

Indonesia sangat lemah dalam penguasan fishing ground dan kemampuan

memanfaatkan teknologi alat tangkap. Teknologi penginderaan jauh multisensor dan multikanal untuk pemantaun kondisi laut menjadi salah satu metode alternatif

untuk penyediaan data oseanografi secara time series dan real time (Simbolon,

22

Perikanan industri pada umumnya memiliki modal usaha yang lebih besar, sarana dan prasarana lebih lengkap. Akibatnya produksi per upaya penangkapan lebih besar dibandingkan dengan perikanan rakyat. Dengan kondisi sarana yang lebih lengkap, mutu hasil tangkapanan akan lebih baik dan dapat memenuhi persyaratan yang diminta oleh pasar, termasuk pasar ekspor. Dengan demikian, perikanan industri diharapkan dapat mengemban misi negara yang secara aktif ikut membangun perekonomian nasional, meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat (PT. Usaha Mina, 2000).

2.3.2 Permasalahan perikanan tangkap Indonesia

Menurut Baskoro (2008) terdapat masalah yang kompleks dan klasik pada usaha perikanan tangkap di Indonesia diantaranya selektifitas alat tangkap,

perusakan habitat misalnya pemboman, alat yang berbahaya bagi nelayan, by

catch tinggi, dampak biodiversity alat tangkap tinggi, alat tangkap tidak diterima

masyarakat misalnya trawl. Pendapat lain juga ada yang menyatakan bahwa

masalah perikanan tangkap Indonesia bukan hanya masalah sumberdaya manusia yang lemah, namun berbagai faktor lain seperti masalah ekologi dan biologi ikan yang rusak, jumlah populasi nelayan meningkat yang tidak diiringi dengan pengelolaan perikanan yang baik, semua ini menyebabkan tekanan pada nelayan membuat mereka melakukan praktek penangkapan ikan yang merusak lingkungan yang pada akhirnya membuat lesu dunia perikanan, khususnya tangkap.

Komisi Nasional Pengkajian Potensi Sumberdaya Ikan Laut (2008) dan Nurhakim (2007) menyatakan bahwa penurunan hasil tangkapan merupakan permasalahan yang serius pada perikanan tangkap Indonesia. Penurunan hasil tangkapan yang didaratkan di tempat-tempat pendaratan ikan disinyalir banyak pihak bahwa semakin kecil stok ikan di berbagai belahan bumi. Faktor penyebabnya karena ekosistem ikan rusak, penggunaan alat tangkap yang tidak

ramah lingkungan (destructive fishing methods). Eksploitasi yang berlebihan

disebabkan oleh berbagai faktor baik sendiri-sendiri maupun secara kombinasi, termasuk pertumbuhan populasi penduduk, penggunaan alat tangkap modern yang efektif, tapi metodenya merusak.

Dukungan Pemerintah yang rendah juga dianggap sebagai masalah penting dalam pengembangan perikanan tangkap Indonesia. Dukungan Pemerintah pada

23 perikanan biasanya lebih ditujukan kepada pengembangan perikanan komersial karena mereka memiliki administrasi perusahaan yang lengkap dan memiliki aset yang dapat ditarik jika tidak mampu melunasi bunga uang yang dipinjam. Dukungan Pemerintah kepada perikanan pantai skala kecil hampir tidak ada karena mereka tidak mempunyai administrasi yang jelas, kadang-kadang tempat

tinggalnya pun berpindah-pindah. Hal lainnya law enforcement yang masih

rendah ditambah dengan partisipasi masyarakat yang rendah dalam menjaga dan melestrasikan sumberdaya perikanan juga merupakan kegagalan semua pihak termasuk Pemerintah dalam menata usaha perikanan tangkap. Komitmen Pemerintah dalam mendukung pembangunan perikanan laut, merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pembangunan di Sektor perikanan laut. Melihat rumitnya struktur kelembagaan yang ikut ambil bagian dalam menangani persoalan-persoalan perikanan laut membuat semakin banyaknya masalah- masalah yang timbul, untuk itu perlu penataan kembali lembaga-lembaga yang terkait dalam bidang perikanan laut sehingga wewenang dan fungsinya jelas dan optimal (Dahuri, 2001).

Penyuluhan perikanan juga terbatas di Indonesia, sehingga kurang terjadi

transformasi knowledge dan teknologi kepada nelayan. Kegiatan menyuluh bukan

hal yang gampang karena berkaitan dengan merubah sikap dan perilaku apalagi kalau merubah perilaku manusia yang memiliki pendidikan yang rendah. Jikapun ada SDM penyuluh, terkadang kinerja juga kurang baik. Hal ini karena biaya

penyuluh dikontrak Pemerintah dan dipekerjakan per tahun by project, sehingga

tanggung jawab dan kontinyuitas pengabdian mereka terbatas. Disamping penyuluhaan, pengawasan juga diperlukan terhadap pemanfaatan sumberdaya ikan di ZEE oleh kapal-kapal ikan asing yang mendapat ijin untuk beroperasi di perairan ZEE Indonesia, sehingga pencurian ikan oleh kapal asing dapat ditekan sedemikian rupa sehingga sumberdaya ikan tetap terjaga (Budiono, 2005).

Menurut Fauzi dan Anna (2005), overfishing terjadi karena sulit

mengendalikan faktor input dalam quasi open acces yang pada akhirnya sulit

mengukur seberapa besar kapasitas perikanan yang dialokasikan di suatu wilayah perairan. Dalam kondisi ini sulit untuk mengetahui apakah perikanan dalam

24

yang umum terjadi pada perairan yang kegiatan penangkapannya padat di perairan

Jawa dan Sumatera. Overfishing adalah suatu keadaan dimana hasil tangkapan

melebihi kapasitas ketersedaiaan sumberdaya. Penyebab overfishing karena (i)

Lingkungan misalnya pencemaran, degradasi sumberdaya dan karena (ii) Manusia misalnya menangkap ikan menggunakan bom, cianida, alat tangkap tidak ramah lingkungan.

2.4 Pengelolaan Perikanan Tangkap Yang Berkelanjutan