• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP

9 KESIMPULAN DAN SARAN 177 1 Kesimpulan

1.1 Latar Belakang

Palabuhanratu adalah sebuah kawasan pelabuhan perikanan yang terletak di Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai kawasan minapolitan pada bulan April 2010 oleh Fadel Muhammad, Menteri Kelautan dan Perikanan RI sekaligus pencetus gagasan minapolitan. Bupati Sukabumi, Sukmawijaya menginstruksikan memberikan dukungan kepada program minapolitan tersebut dengan mengintegrasikan beberapa pihak terkait untuk melaksanakan minapolitan tersebut sesegera mungkin. Kawasan Palabuhanratu merupakan kawasan dengan mayoritas penduduknya sebagai nelayan sehingga Palabuhanratu ditetapkan sebagai kawasan minapolitan berbasis perikanan tangkap.

Pencanangan Palabuhanratu sebagai kawasan minapolitan pertama dalam lingkup nasional atas dasar potensi yang dimiliki kawasan ini, baik potensi sumberdaya ikan, sumberdaya manusia dan sarana prasarana memadai. Palabuhanratu merupakan kawasan pelabuhan perikanan nusantara yang dapat melayani pendaratan kapal hingga 90GT dan merupakan salah satu tempat pusat pelelangan ikan di selatan Jawa Barat. Berbagai komoditas ikan terdapat di

kawasan Palabuhanratu dan yang paling dominan adalah ikan jenis tuna (Thunus sp) dan layur (Trichiurus sp). Kedua jenis ikan ini yang merupakan

andalan komoditas ekspor Kawasan Palabuhanratu.

Terdapat beberapa potensi yang mendukung perikanan tangkap di Palabuhanratu seperti panjang garis pantai 117 km dengan sembilan kecamatan terletak di kawasan pesisir. Wilayah fishing ground mencapai 702 km2. Potensi lestari sumberdaya ikan Kawasan Palabuhanratu 14.592 ton per tahun. Jumlah tangkapan Ikan Diperbolehkan (JTB) sebesar 11.673 ton per tahun. Potensi lainnya berupa sumberdaya manusia, modal, teknologi sarana dan prasarana pendukung yang cukup baik.

Pada tahun 2008 nelayan di kawasan Palabuhanratu mencapai 12.368 orang, sarana dan prasarana berupa Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) sebanyak 1 unit, Pusat Pendaratan Ikan (PPI) 1 unit, Tempat Pelelalangan Ikan (TPI)

2

sebanyak 5 unit. Palabuhanratu dibangun sejak tahun 1990 dengan luas kolam pelabuhan 3 hektar, pada tahun 1998 ditambah 2 hektar kolam pelabuhan. Pelabuhan di kawasan Palabuhanratu sendiri telah dioperasionalkan sejak tahun 1993. Pelabuhan di Palabuhanratu memiliki dua macam kolam yaitu kolam yang berfungsi untuk penambatan kapal yang ukurannya <30GT seperti pancing, rawai, gillnet dan payang serta kolam untuk penambatan kapal ukuran >30GT seperti longline. Pelabuhan yang terdapat di Kawasan Palabuharatu ini terus dikembangkan baik luas kolam, luas dermaga, kawasan industri, laboratorium untuk pengujian mutu formalin dan histamin. Pada tahun 2009 dibangun pasar ikan, renovasi gedung TPI dan K-3. Pada tahun 2010 dibangun depo pasar dan los pasar.

Di Palabuhanratu industri pengolahan juga mulai berkembang. Terdapat 6 Perseroan Terbatas (PT) yang melakukan pengolahan hasil tangkapan ikan segar. RTP pengolah ikan di Kawasan Palabuhanratu sebanyak 1.457 orang. Di Palabuhanratu berdiri organisasi dan kelembagaan seperti Koperasi Usaha Bersama Pengolahan (KUB pengolahan) sebanyak 38 KUB, Koperasi Usaha Bersama Perikanan tangkap (KUB perikanan tangkap) sebanyak 116 KUB dan Koperasi Usaha Bersama Budidaya (KUB Budidaya) sebanyak 31 KUB.

Melihat potensi sumberdaya ikan, sumberdaya manusia, kelembagaan, sarana dan prasarana yang tersedia maka Pemerintah memilih kawasan Palabuhanratu menjadi pionir kawasan minapolitan perikanan tangkap. Minapolitan perikanan tangkap merupakan sebuah program keterpaduan berbagai stakeholders untuk mengembangkan dan mengelola kawasan berbasis perikanan tangkap. Minapolitan perikanan tangkap merupakan program yang bertujuan untuk melakukan revitalisasi sektor perikanan khususnya perikanan tangkap guna meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat.

Masyarakat di Kawasan Palabuhanratu maupun Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi masih meragukan implementasi program minapolitan bisa berhasil signifikan mengingat program minapolitan ini membutuhkan dukungan berbagai pihak. Minapolitan merupakan program yang dilakukan dengan menekankan koordinasi dan pengelolaan yang lebih tertata. Program minapolitan dipandang sebagai pembentukan atau penyempurnaan sistem yang telah ada agar berbagai

3 stakeholders bisa lebih terkoordinasi dan terintegrasi. Diharapkan pengembangan perikanan tangkap di Palabuhanratu didukung oleh instansi terkait seperti Dinas Pekerjaan umum, Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan, Dinas Pendidikan dan pihak-pihak terkait lainnya guna mewujudkan pengembangan sektor perikanan berbasis perikanan tangkap

Konsep minapolitan tidak lain adalah pengelolaan bersama (co- management) berbagai pihak. Menurut Nikijuluw (2002) Program co- management mengoptimalkan peran berbagai pihak melalui koordinasi agar pihak-pihak tersebut berkolaborasi dan berintegrasi lebih baik. Konsep co- management perikanan tangkap merupakan salah satu pendekatan pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap dimana Pemerintah memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan perikanan tangkap untuk dapat menangkap ikan menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan, mengkonservasi lingkungan dan ekosistem pantai yang rusak. Pelaksanaan co-management ini juga sejalan dengan semangat melaksanakan undang-undang otonomi daerah dengan mengoptimalkan peran Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya perikanan.

Menurut Bengen (2004), partisipasi dan keikutsertaan masyarakat dalam menentukan berbagai kebijakan pengelolaan sumbedaya perikanan sangat penting karena mereka yang lebih mengetahui keadaan sumberdaya dan aktivitas mereka yang terkadang menyebabkan rusaknya sumberdaya. Penurunan hasil tangkapan nelayan, tekanan terhadap ekosistem pantai seperti mangrove, terumbu karang dan padang lamun akibat pencemaran limbah-limbah pabrik maupun limbah rumah tangga lebih banyak diketahui dan dirasakan langsung oleh masyarakat nelayan daripada penyuluh perikanan, petugas pelabuhan perikanan dan lainnya. Lebih lanjut Makino et al. (2009) menambahkan bahwa konsep co-management sangat mendukung upaya pengelolaan perikanan berkelanjutan, termasuk membantu penyelesaian masalah utama yang selalu ada pada masyakakat nelayan, seperti kemiskinan dan penipisan cadangan sumberdaya perikanan.

Berbagai program Pemerintah sebelumnya yang mirip dengan minapolitan telah dikembangkan di Palabuhanratu diantaranya program Pemberdayaan

4

Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP), revitalisasi perikanan dan implementasi teknologi tepat guna serta Cofish.

PEMP juga telah mengadopsi konsep co-management. Melalui program PEMP maka masyarakat pesisir difasilitasi dan didorong bersama-sama untuk mandiri mengembangkan ekonomi pesisir terutama aktivitas ekonomi yang existing dan potensial dikembangkan. Berbagai jenis kegiatan PEMP meliputi penangkapan ikan, pengolahan hasil tangkapan, bengkel pesisir, kedai pesisir dan usaha lainya yang mendukung ekonomi di wilayah pesisir. PEMP diimplementasikan dengan melibatkan perguruan tinggi, LSM, swasta, mengelola sumberdaya pesisir secara bersama-sama (co-management)

Program Cofish adalah program pembangunan masyarakat pantai dan pengelolaan sumberdaya perikanan yang dilaksanakan pada tahun 2000-2004. Program Cofish telah menganut konsep co-management. Implementasi program dilakukan melalui pendekatan partisipatif dan multi-sektor untuk mengajak keterlibatan bersama semua lapisan masyarakat pesisir dalam pengelolaan sumberdaya perikanan dan memelihara aset bersama kawasan pesisir. Upaya tersebut telah menunjukkan hasil positif berupa kesamaan pandangan dan tindakan dengan berbagai stakeholders, khususnya tentang pengelolaan sumberdaya perikanan partisipatif dan strategi pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan peran serta mereka dalam mengatasi masalah kemiskinan dan kesejahteraannya. Program Cofish mempunyai tujuan : (1) memajukan pengelolaan sumberdaya perikanan khususnya usaha perikanan tangkap secara bertanggungjawab dan berbasis partisipatif, dan (2) meningkatkan kesejahteraan melalui perbaikan prasarana sosial budaya dan untuk menciptakan kesempatan kerja/berusaha bagi masyarakat pesisir. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka kegiatan proyek dilakukan melalui implementasi empat komponen, yaitu (1) pengelolaan sumberdaya perikanan pantai, (2) pembangunan masyarakat dan pengentasan kemiskinan, (3) perbaikan lingkungan di pusat pendaratan ikan, dan (4) penguatan kelembagaan.

Palabuhanratu merupakan kawasan pesisir yang banyak melibatkan partisipasi Pemerintah, perguruan tinggi, LSM, dan swasta dalam pengembangan masyarakat perikanan. Program tersebut menekankan keterlibatan semua

5 stakeholders terutama komponen masyarakat nelayan untuk menjamin keberlanjutan kegiatan penangkapan, perbaikan ekonomi pesisir, dan menjaga kelestarian sumberdaya ikan dan lingkungannya. Berbagai upaya pengelolaan seperti penyuluhan dan bimbingan teknis penangkapan ikan yang ramah lingkungan, pengelolaan ekosistem pantai, bimbingan teknis peningkatan usaha dan mutu hasil olahan, pelibatan masyarakat dalam berbagai program pelestarian terumbu karang, dan lain sebagainya telah diimplementasikan di Palabuhanratu.

PPN Palabuhanratu (2010) dan DKP Kabupaten Sukabumi (2006), menyatakan bahwa upaya pelibatan/partisipatif masyarakat yang dikembangkan melalui beberapa program di Palabuhanratu dapat : (1) mendorong peningkatan kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir terutama dari kalangan menengah ke bawah, (2) mendorong percepatan transfer knowledge dan teknologi pengelolaan perikanan tangkap yang mendukung pelaksanaan otonomi daerah di kawasan Palabuhanratu, (3) mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi di bidang pengelolaan sumberdaya perikanan, pesisir, dan pulau-pulau kecil serta ekosistemnya, serta (4) mendukung kemandirian ekonomi lokal di Palabuhanratu. Mengingat partisipasi masyarakat manfaatnya cukup baik, upaya tersebut harus dipertahankan dan konsep yang digunakan perlu dibakukan dan dikembangkan lebih lanjut menjadi sebuah model co-management pengelolaan perikanan. Supaya bermanfaat nyata, model co-management tersebut hendaknya mengakomodir kondisi pengelolaan perikanan yang ada, memperhatikan variabel- variabel dominan pengelolaan dan harapan stakeholders di kawasan tersebut, serta ada panduan implementasinya bila dikemudian hari akan dikembangkan. Penelitian ini mencoba mengkaji secara mendalam terhadap hal-hal tersebut.