• Tidak ada hasil yang ditemukan

PALABUHANRATU 4.1 Pendahuluan

4.3 Metode Penelitian

4.3.1 Lokasi dan waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa

Barat. Pengumpulan data terkait penelitian ini dilakukan pada bulan Juni – November 2010.

4.3.2 Jenis data dan metode pengumpulan data

Jenis data primer dan sekunder yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data potensi sumberdaya perikanan tangkap, data nelayan, data alat tangkap, armada penangkapan, data ekonomi, sosial dan budaya, serta data/informasi terkait program co-management di Palabuhanratu.

Data potensi sumberdaya perikanan yang dikumpulkan mencakup hasil tangkapan utama nelayan, informasi fishing ground, konservasi SDI, dan zona pemanfaatan SDI. Data nelayan yang dikumpulkan mencakup jumlah dan kualitas SDM perikanan, keaktifan nelayan di lembaga lokal, dan intensitas pembinaan nelayan muda. Data alat tangkap dan armada/kapal yang dikumpulkan mencakup introduksi teknologi penangkapan, pengembangan alat tangkap, dan kontrol operasi kapal dan alat tangkap. Data ekonomi, sosial, dan budaya yang dikumpulkan mencakup modal usaha, perbekalan, sistem bagi hasil, sistem

51 promosi, jaringan pasar, harga jual, pengelolaan fasilitas, pengawasan pemanfaatan, pencemaran, dan mekanisme penyelesaian konflik nelayan. Data/informasi terkait program co-management yang dikumpulkan mencakup intensitas pendampingan, riset perikanan yang melibatkan masyarakat, mekanisme penyaluran hibah, dan bimbingan teknis perikanan.

Metode pengumpulan data primer terdiri dari pemilihan kelompok sampling, identifikasi responden, dan pengumpulan data responden. Kelompok sampling merupakan perwakilan stakeholders yang berinteraksi langsung dengan kegiatan pengelolaan perikanan, seperti nelayan pemilik, pedagang/pengolah ikan, pengelola pelabuhan perikanan, dan Dinas Kelautan dan Perikanan. Responden ini dipilih secara purposive sampling dari kelompok sampling berdasarkan ketokohan, pengetahuan, dan penguasaan terhadap aktivitas kelompoknya. Jumlah responden untuk pengambilan data analisis SWOT ditetapkan 5 – 10% dari total populasi setiap kelompok sampling (Gasperzs, 1992).

Tabel 1 Keperluan data responden untuk analisis SWOT

No. Kelompok Responden Populasi (orang) Sampling (orang)

1. Nelayan (pemilik) 824 40

2. Pengolah/Pedagang Ikan (pemilik)

102 4

3. Pengusaha 20 2

4. Pengelola Pelabuhan dan DKP Kab. Sukabumi

35 4

Total 50

Keterangan : Sampling 50 orang

Sedikit berbeda dengan data analisis SWOT, jumlah responden untuk penentuan faktor SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dan pengambilan data QSPM lebih sedikit yakni 20 orang, yang terdiri dari 10 nelayan pemilik, 4 pengolah pedagang/pedagang ikan, 2 pengusaha, 2 pengola pelabuhan, dan 2 dari DKP Kabupaten Sukabumi. Hal ini karena data yang dibutuhkan lebih bersifat konseptual dan strategis (bukan teknis), sehingga ketokohan responden dalam kelompok benar-benar diperhatikan. Dari informasi lapangan, hanya sekitar 25 % dari nelayan pemilik yang mengetahui betul dan aktif menyuarakan aspirasi kelompok nelayan, sehingga dari 40 nelayan pemilik hanya diambil 20 orang. Sedangkan untuk kelompok sampling/stakeholders

52

lainnya lebih aktif dan berani, mungkin karena pendidikannnya umumnya lebih tinggi daripada nelayan.

Sedangkan data sekunder berasal dari buku, jurnal, hasil penelitian/kegiatan terkait, yang di-cross check dengan pendapat pakar yang mengetahui perkembangan perikanan di lokasi termasuk dengan menerapkan konsep co- management.

4.3.3 Analisis data

Untuk mengetahui kondisi kini (present status) pelaksanaan co-management di Palabuhanratu yang digunakan ialah analisis SWOT. Analisis SWOT dapat membantu memetakan kondisi kini (present status) pelaksanaan kegiatan pengembangan berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya secara internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses)) sedangkan faktor meliputi peluang (opportunity) dan ancaman (threat)). Untuk meningkatkan akurasi hasil analisis, maka informasi dari pihak- pihak terkait akan digali sebanyak mungkin.

Adapun tahapan proses analisis yang dilakukan menggunakan SWOT adalah :

1) Pengembangan matriks IFAS, yaitu kegiatan menentukan faktor-faktor strategis internal, memuat tentang kekuatan dan kelemahan lengkap dengan hasil analisis bobot, rating dan skornya.

2) Pengembangan matriks EFAS, yaitu kegiatan menentukan faktor-faktor strategis eksternal, memuat tentang peluang dan ancaman lengkap dengan hasil analisis bobot, rating dan skornya

3) Pengembangan matriks internal-eksternal (IE), yaitu kegiatan penentuan kondisi/posisi perikanan tangkap saat ini yang menggunakan konsep co- management.

Dalam analisis ini, bobot menunjukkan tingkat kepentingan pengelolaan perikanan tangkap pada co-management oleh beberapa faktor. Nilai bobot 0 - 1, dimana 0 menunjukkan tidak penting sampai 1 menunjukkan sangat penting. Rating menunjukkan tingkat pengaruh yang secara riil dapat diberikan oleh faktor tersebut terhadap co-management perikanan tangkap. Nilai rating 1 – 4. Dimana 1, 2, 3, dan 4 berturut-turut menyatakan rendah, biasa, tinggi, dan sangat tinggi.

53 Nilai rating untuk faktor kelemahan dan ancaman diberi secara terbalik, yaitu bila pengaruh rendah diberi nilai 4 dan pengaruh sangat tinggi diberi nilai 1. Skor menyatakan tingkat pengaruh positif sesuai kepentingan co-management perikanan tangkap terhadap faktor dimaksud.

Pengembangan matriks internal-eksternal (IE) dilakukan dengan mengidentifikasi kesesuaian kondisi pelaksanaan konsep co-management perikanan tangkap dengan sembilan kuadran strategi pengelolaan yang digunakan dalam analisis SWOT. Kesembilan kuadran tersebut adalah kuadran I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, dan IX yang berturut-turut menyatakan I (kondisi pertumbuhan dengan konsentrasi pada integrasi vertikal), II (kondisi pertumbuhan dengan konsentrasi pada integrasi horizontal), III (kondisi penciutan atau turnaround), IV (kondisi stabilitas), V (kondisi pertumbuhan dengan konsentrasi pada integrasi horizontal atau stabilitas), VI (kondisi divestasi atau pengurangan), VII (kondisi pertumbuhan melalui diversifikasi konsentrik), VIII (kondisi pertumbuhan melalui konsentrasi konglomerasi), dan IX (kondisi likuidasi). Setiap kuadran punya kisaran nilai faktor internal dan faktor eksternal tertentu. Posisi pengelolaan yang saat ini ditentukan dengan mencocokkan total skor faktor internal (matriks IFAS) dan faktor eksternal (matriks EFAS) dengan kisaran nilai pada kuadran. Posisi tersebut mencerminkan kondisi kini (present status) pelaksanaan konsep co- management perikanan tangkap di Palabuhanratu.

Untuk mengidentifikasi beberapa variabel dominan yang mempengaruhi co- management perikanan tangkap di Palabuhanratu saat ini digunakan analisis Quantitative strategic planning matrix (QSPM). Tahapan analisis yang dilakukan terkait penentuan variabel dominan ini mengacu kepada David (2002), yaitu : 1) Mendaftarkan variabel-variabel yang diduga mempengaruhi pelaksanaan

konsep co-management perikanan tangkap di Palabuhanratu ke dalam matrik QSPM. Berbeda dengan analisis SWOT, variabel/faktor yang dimaksud di sini lebih bersifat strategis dan menentukan arah pelaksanaan. 2) Memberikan bobot untuk setiap variabel sukses kritis

3) Menetapkan nilai pengaruh (NP), yaitu : 1 = tidak berpengaruh, 2 = agak berpengaruh, 3 = cukup berpengaruh, dan 4 = sangat berpengaruh.

54

4) Menghitung total nilai pengaruh (TNP), dengan menjumlahkan hasil perkalian bobot dengan NP dalam setiap baris.

5) Menghitung total nilai pengaruh total variabel (TNPV), dengan menjumlahkan semua nilai TNP setiap baris.

Nilai bobot, rating, dan nilai pengaruh (NP) pada masing-masing kriteria didapatkan dari pendapat responden.