• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penentuan alokasi optimal usaha perikanan tangkap

PALABUHANRATU 4.1 Pendahuluan

5 PENENTUAN USAHA PERIKANAN TANGKAP POTENSIAL

5.4.3 Alokasi optimal usaha perikanan tangkap

5.4.3.2 Penentuan alokasi optimal usaha perikanan tangkap

Dalam menentukan alokasi optimal dari payang, gillnet, pancing tonda, dan longline akan dikembangkan konsep optimalisasi bertahap sesuai dengan kelompok urgensi/kepentingan setiap sasaran. Hal ini lebih akomodatif terutama pada kondisi infrastruktur perikanan yang terbatas, sementara sasaran optimalisasi perlu dicapai. Mengacu kepada hal ini, kelima sasaran tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu ;

1) Mengoptimalkan penggunaan BBM (solar) Kelompok I :

2) Mengoptimalkan penggunaan umpan

3) Mengoptimalkan pemanfaatan kolam pelabuhan

1) Mengoptimalkan penggunaan es balok Kelompok II :

2) Mengoptimalkan pendapatan usaha

Mengacu kepada konsep tersebut, hasil analisis alokasi optimal payang, longline, gillnet, dan pancing tonda disajikan pada Tabel 22. Pada Tabel 22 tersebut juga diperlihatkan jumlah saat ini dari setiap usaha perikanan tangkap sebagai bahan perbandingan. Sedangkan tampilan detail olahan LINDO disajikan pada Lampiran 67.

100

Tabel 22 Hasil analisis alokasi optimal usaha perikanan tangkap

Usaha Perikanan Tangkap

Jumlah Saat Ini (unit) Jumlah/Alokasi Optimal (unit) Penambahan (+) Pengurangan (-) Payang 81 141 +60 Gillnet 31 31 0 Pancing Tonda 50 30 -20 Longline 23 20 -3

Alokasi optimal dari usaha perikanan payang, gillnet, pancing tonda, dan longline berurut-turut adalah 141unit, 31 unit, 30 unit, dan 20 unit (Tabel 22). Untuk mendukung penerapan model co-management pengelolaan perikanan tangkap, maka keempat usaha perikanan tangkap ada yang dapat ditambah, dikurangi, dan ada yang jumlahnya tetap. Bila jumlah payang saat ini sekitar 81 unit, maka dapat ditambah lagi sekitar 60 unit. Gillnet jumlahnya tetap dipertahankan 31 unit. Pancing tonda dan longline perlu dikurangi masing-masing sekitar 20 unit dan 3 unit.

Bila jumlah alat tangkap yang ada dapat diatur sehingga sesuai dengan alokasi optimal tersebut, maka sasaran mengoptimalkan penggunaan BBM, mengoptimalkan penggunaan es balok, mengoptimalkan penggunaan umpan, dan mengoptimalkan pemanfaatan kolam pelabuhan dapat dicapai. Hal ini ditunjukkan oleh nilai DA1, DA2, DA3, dan DA4 yang bernilai 0 (nol) (Lampiran 67). Nilai DA = 0 (nol) menunjukkan bahwa simpangan dari pencapaian sasaran yang ditetapkan “tidak ada” atau dengan kata lain sasaran tercapai. Sasaran mengoptimalkan pendapatan usaha kurang dapat dicapai dalam penentuan lokasi optimalnya (DB4 = 9.629.820). Hal ini bisa jadi karena pendapatan usaha tidak semata-mata ditentukan oleh kegiatan penangkapan tetapi juga tergantung pada dinamika harga jual dan trend permintaan yang terjadi di pasaran. Namun demikian, alokasi optimal tersebut merupakan jumlah atau komposisi usaha perikanan tangkap terbaik yang dapat dikembangkan untuk pengelolaan perikanan tangkap secara berkelanjutan di Palabuhanratu terutama dengan menerapkan model co-management kooperatif yang mengedepankan keterlibatan dan kebersamaan dari semua stakeholders perikanan di Palabuhanratu.

101

5.5 Pembahasan

Pemilihan usaha perikanan tangkap merupakan tahapan penting dalam pengembangan kegiatan perikanan tangkap di suatu kawasan. Usaha perikanan perikanan tangkap yang bersesuaian dengan aspek pengelolaan yang ada akan membawa manfaat lebih banyak, baik bagi nelayan pelakunya, masyarakat, kelestarian sumberdaya ikan, maupun lingkungan sekitar. Dalam kaitan ini, maka pemilihan dengan pertimbangan yang multi aspek, seperti aspek biologi, teknologi, ekonomi, sosial dan budaya yang dikembangkan dalam penelitian ini relevan dengan maksud tersebut. Menurut Herman (2006) dalam disertasinya menyatakan bahwa usaha perikanan tangkap yang dikembangkan sesuai dengan karakteristik wilayah dan masyarakat pesisir akan lebih dapat diterapkan dan lebih terjamin keleberlanjutan di suatu kawasan. Bila kondisi ini terjadi, berbagai program pengembangan lebih mudah diimplementasikan, termasuk dengan menerapkan model co-management pada kegiatan perikanan tangkap.

Bila ditinjau dari aspek biologi, pancing tonda merupakan usaha perikanan tangkap yang paling unggul (urutan prioritas 1). Hal ini karena jumlah hasil tangkapan dari pancing tonda yang relatif stabil setiap bulannya dan juga hasil tangkapannya sesuai dengan ukuran mata pancing dan jenis umpan. Menurut PPN Palabuhanratu (2010), frekuensi pendaratan ikan oleh pancing tonda setiap bulannya rata-rata 78 kali dan nilai ini berfluktuasi dari 27 – 126 kali. Di samping long line, frekuensi pendaratan ikan tersebut termasuk yang paling stabil karena jumlah hasil tangkapan yang didapat nelayan pancing tonda umumnya lebih baik dapat diperoleh sepanjang tahun. Dalam kaitan ini, maka musim penggunaan alat tangkapnya menjadi lebih lama (12 bulan setiap tahunannya).

Pancing ulur dan payang juga mempunyai fungsi nilai yang baik untuk aspek biologi ini. Hal ini juga karena jumlah hasil tangkapan yang didapat setiap kali melaut cukup banyak dan ikan yang ditangkap seperti cakalang, tongkol, dan kembung termasuk ikan yang potensial dan banyak dibutuhkan di pasar. Menurut Simbolon (2011) dan Nikijuluw (2002), stabilnya jumlah hasil tangkapan merupakan salah satu indikasi dari kestabilan stock ikan yang terdapat suatu fishing ground, dan kesesuaian ikan tersebut dengan permintaan pasar merupakan indikasi dari keberlanjutan usaha perikanan tangkap. Sedangkan menurut Ditjen

102

P2HP (2010), selain dibutuhkan dalam keadaan segar, ikan tongkol dan kembung juga banyak dipasarkan dalam bentuk kering (ikan asin), sedangkan ikan cakalang juga banyak dipasarkan sebagai ikan asap.

Jaring rampus mempunyai dukungan atau fungsi nilai yang paling rendah dari aspek biologi, yang dominan karena musim ikan sasaran dan musim penggunaannya yang pendek. Jaring rampus ini umumnya menangkap ikan pelagis kecil, sementara jenis ikan ini berumur pendek dan umumnya hanya

muncul pada bulan-bulan tertentu. Menurut PPN Palabuhanratu (2010), jaring rampus efektif dioperasikan selama enam bulan setiap tahunnya, yaitu pada

Januari – April dan bulan November – Desember. Sedangkan menurut Suman et al. (1993), hasil tangkapan optimal dari jaring rampus di perairan

Selatan Jawa terjadi pada bulan Februari – Maret.

Dalam kaitan dengan aspek teknologi, longline merupakan usaha perikanan tangkap yang paling unggul dalam mendukung pengelolaan perikanan tangkap dengan menerapkan co-management terpilih di Palabuhanratu. Ukuran kapal, mesin, alat tangkap, dan alat pendukung penangkapan yang lebih modern dan berukuran besar menjadi penyebab utama longline ini lebih unggul daripada usaha perikanan tangkap lainnya. Hamdan et al. (2006) dalam penelitiannya menyatakan bahwa usaha perikanan yang berukuran besar seperti longline dan purse seine lebih stabil dalam pengoperasian penangkapan dan dapat dilakukan sepanjang tahun. Hal ini karena teknologi alat tangkap dan kapasitas kapal yang digunakan umumnya lebih baik dan dapat menjangkau perairan yang luas. Sebagai contoh misalnya, meskipun banyak usaha perikanan tangkap di Kabupaten Indramayu yang tidak beroperasi pada musim paceklik, tetapi longline dapat terus dioperasikan dengan mencari fishing ground alternatif di perairan yang lebih luas. Sedangkan menurut DKP Propinsi Jawa Barat (2010), usaha perikanan longline, purse seine, dan gillnet menjadi penyumbang utama produksi perikanan laut (70 – 85%) dari Propinsi Jawa Barat, dan karenanya pengusaha besar umumunya lebih tertarik mengembangkan usaha perikanan tangkap tersebut, dimana teknologi dan metode operasi yang digunakan dapat dikembangkan dalam skala industri.

Untuk purse seine dan gillnet, berdasarkan Tabel 15, keduanya merupakan

103 Hasil survei lapang menunjukkan bahwa purse seine di Pelabuhan mempunyai alat pendukung penangkapan yang baik seperti echosounder, kompas, roller, mesin lampu, dan pelampung permanen, sehingga mendukung operasinya sepanjnag tahun. Sedangkan untuk gillnet, juga termasuk handal pada alat pendukung penangkapannya, dimana alat pendukung minimalnya dapat terdiri dari kompas, radio HT, dan mesin lampu. Kondisi ini sangat mendukung kinerja usaha perikanan tangkap selama operasi di Palabuhanratu. Menurut PPN Palabuhanratu (2010), usaha perikanan gillnet di atas 10 GT telah dilengkapi dengan alat pendukung yang baik, sehingga setiap bulan dapat dioperasikan secara intensif (4 -5 trip).

Gillnet dan purse seine mempekerjakan ABK cukup banyak untuk setiap trip penangkapannya, dimana untuk gillnet dapat mencapai 7 – 10 orang, dan purse seine dapat mencapai 11-15 orang, sehingga bila dibina dengan baik melalui co-management kooperatif, akan menjadi potensi besar untuk pengelolaan perikanan tangkap secara berkelanjutan. Dalam kaitan ini, maka program bimbingan teknis, praktek teknologi penangkapan baru, dan pelatihan dapat secara aktif melibatkan ABK langsung, sehingga mereka dapat menerapkannya pada kegiatan teknis perikanan tangkap yang dilakukannya. Menurut Nikijuluw (2005), pelibatan pelaku langsung perikanan dalam berbagai program co-management dapat menciptakan kondisi bisnis perikanan yang kondusif dan secara jangka panjang menjadi kekuatan ekonomi daerah yang diperhitungkan.

Dalam kaitan dengan co-managemnet, Pemerintah Daerah dapat mengambil peran penting untuk mendukung transfer teknologi penangkapan bagi nelayan dan masyarakat pesisir di Palabuhanratu, karena secara jangka panjang dapat memperkuat ekonomi pesisir di kawasan. PEMDA Kabupaten Sukabumi perlu mengambil peran aktif untuk membina, melatih, dan mengayomi masyarakat nelayan sekitar, dan harus menjadi penengah dalam setiap konflik pengelolaan yang ada. Hendriwan et al. (2008) dalam penelitiannya memperlihatkan keberhasilan PEMDA Kota Lampung dalam menyelesaikan konflik perikanan

pasca pemindahan basis perikanan ke PPI Lempasing, Teluk Lampung. PEMDA Kota Bandar Lampung dengan didukung PEMDA Propinsi Lampung

104

nelayan besar dengan nelayan kecil, dan konflik perumahan nelayan. Peran aktif tersebut direspon sangat positif oleh stakeholders perikanan yang bertikai, dimana Pemerintah Daerah memberikan perhatian penuh pada masa depan usaha perikanan dan kehidupan keluarga mereka. Hal seperti ini tentu sangat baik dicontoh dalam penerapan co-management pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu.

Namun bila melihat lebih jauh terkait dengan aspek ekonomi ini dikaitkan dengan kinerja usaha perikanan yang ada, maka longline, payang, dan purse seine menjadi usaha perikanan tangkap yang paling baik prospek bisnisnya (Tabel 17). Aspek ekonomi ini penting dalam pemilihan usaha perikanan yang mendukung co-management karena terkait dengan jaminan kelangsungan usaha dan peningkatan kesejahteraan bagi nelayan dan masyarakat pesisir. Longline mempunyai pendapatan kotor yang fantastis mencapai Rp.9.716.820.000 per tahun atau Rp 809.735.000 per trip. Longline juga mempunyai tingkat penggembalian usaha yang mencapai 39,52 kali dari nilai investasi awalnya. Syarifin (1993) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pendapatan yang didapatkan secara langsung setelah nelayan pulang melaut sangat berpengaruh secara psikologis dan menentukan kinerja nelayan dalam operasi penangkapan ikan berikutnya. Kondisi ini sangat mempengaruhi pendapatan usaha penangkapan secara jangka panjang. Sedangkan tingkat pengembalian investasi sangat menentukan keberlanjutan usaha di masa yang akan datang. Hal ini harus menjadi perhatian penting dalam berbagai kegiatan pembinaan dan pengembangan usaha perikanan dalam konteks co-management di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Payang mempunyai internal rate of return (IRR) yang sangat baik, mencapai 163,5 %, dan purse seine mempunyai benefit-cost ratio (B/C ratio) yang paling tinggi dibandingkan usaha perikanan lainnya yaitu mencapai 1,47. Nilai IRR payang ini memberi indikasi bahwa pengelolaan usaha perikanan payang relatif lebih baik dalam membawa manfaat bagi investasi yang dikeluarkan. Setiap 100 satuan nilai investasi yang dikeluarkan dapat membawa

manfaat sebesar 163,5 satuan setelah usaha perikanan ini dilakukan. Soenarno et al. (2007) menyatakan usaha perikanan yang memberi manfaat

105 banyak lebih dapat menggerakan semua lapisan masyarakat pesisir untuk berpartisipasi mendukungnya termasuk dari kalangan gender dan anak nelayan. Hal ini tentu sangat baik bagi pengembangan co-management terpilih dalam pengelolaan. Nilai B/C ratio dan kriteria ekonomi lainnya, juga menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan usaha perikanan dengan orientasi bisnis. Dalam kaitan ini, maka pertimbangan semua kriteria menjadi penting dalam penilaian aspek ekonomi semua usaha perikanan tangkap yang di Palabuhanratu.

Usaha perikanan trammel net merupakan usaha perikanan tangkap yang paling tidak unggul dari aspek ekonominya di Palabuhanratu. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha perikanan ini mempunyai nilai yang rendah untuk pendapatan kotor per tahun (Rp.427.480.000 per tahun), pendapatan kotor per trip (Rp.2.590.788 per trip), NPV (Rp.176.327.017), B/C ratio (1,07), dan IRR (25,3%). Dalam kaitan dengan pengembangan co-management yang bersifat mendorong partisipasi nelayan dan masyarakat pesisir, maka usaha perikanan dengan kinerja ekonomi yang rendah kurang baik dijadikan fokus pengembangan. Menurut Brown et al. (2005) menyatakan fokus utama dalam penerapan co- management adalah menawarkan alternatif pengelolaan yang baik, integratif, dan membawa manfaat lebih bagi masyarakat sasaran. Hal ini tentunya didukung oleh program-program yang tepat guna dan teruji kehandalan atau dampaknya bagi kesejahteraan masyarakat sasaran.

Pemilihan usaha perikanan tangkap yang mendukung co-management terpilih juga dilihat dari aspek sosial dan budayanya. Usaha perikanan tangkap yang memberi pengaruh positif pada kehidupan sosial masyarakat dan dalam operasinya tidak bertentangan dengan tata nilai dan budaya sangat diperhitungkan.

Hal ini penting supaya pengelolaan perikanan tangkap dengan konsep co-management dapat diterima dengan baik dan mengakar dalam kehidupan sosial

masyarakat Palabuhanratu. Payang dan gillnet merupakan usaha perikanan tangkap yang paling unggul dari aspek sosial dan budaya ini. Kedua usaha perikanan tangkap ini dianggap sebagai usaha perikanan yang paling diandalkan

dalam mensejahterakan keluarga nelayan dan mendukung pendidikan anak. Hal ini bisa jadi karena menyerap tenaga kerja yang banyak dan kegiatan

106

operasinya cukup stabil setiap tahun (rata-rata 10 bulan operasi per tahun). Menurut PPN Palabuhanratu (2010), penerapan tenaga kerja perikanan tangkap di Palabuhanratu cenderung meningkat dari tahun ke tahun, dengan peningkatan signifikan terjadi pada usaha perikanan payang, gillnet, dan pancing tonda. Pada tahun 2000, jumlah nelayan Palabuhanratu sekitar 2.354 orang, dan pada tahun

2009, jumlah mereka diperkirakan sudah mencapai 5.234 orang (PPN Palabuhanratu, 2010).

Payang, gillnet, dan pancing tonda juga tergolong dari aspek ekonomi dalam pengelolaannya (Tabel 17), sehingga kebutuhan hidup keluarga nelayan, pendidikan anak, dan rasa tentram juga dapat dipenuhi dan dinikmati oleh selama bekerja pada usaha perikanan tangkap tersebut. Musick et al. (2008) menyatakan bahwa sistem proteksi pengelolaan perikanan tidak hanya diupayakan pada pelestarian stock sumberdaya ikan, tetapi juga perlu untuk perlindungan mata pencaharian dan kehidupan keluarga nelayan sekitar. Hal ini penting untuk menggerakkan partisipasi masyarakat lokal dalam setiap program pengelolaan yang berkelanjutan di suatu kawasan perairan.

Longline juga mempunyai kontribusi yang baik dari aspek sosial dan budaya ini, namun sedikit di bawah payang dan gillnet terutama dalam memberikan kenyaman secara sosial. Hal ini bisa jadi karena operasi setiap trip penangkapan gillnet bisa memakan waktu 1-2 bulan, sehingga kurang nyaman terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Di samping itu, lamanya di laut cenderung membuat nelayan lepas kontrol saat kembali ke daratan. Hasil penelitian Purba (2009) di Indaramayu menunjukkan bahwa setelah nelayan kembali dari melaut selama 30-45 hari, banyak diantara yang mengadakan pesta minuman keras untuk menghilangkan kepenatan selama di laut, dan bahkan ada yang meninggal karena kelebihan dosis. Bila model co-management pengelolaan perikanan tangkap dikembangkan di Palabuhanratu, hal-hal seperti ini perlu menjadi fokus pembinaan sehingga usaha perikanan yang ada lebih bermanfaat bagi kehidupan nelayan dan ekonomi daerah. Tabel 20 dan Tabel 21 menggabungkan semua aspek pengelolaan dalam menilai payang, pancing ulur, jaring rampus, bagan apung, trammel net, purse seine, gillnet, pancing tonda, dan longline di Palabuhanratu. Dari penilaian gabungan aspek biologi, teknologi, ekonomi, sosial

107 dan budaya, terpilih longline, payang, gillnet, dan pancing tonda sebagai usaha perikanan tangkap potensial untuk mendukung penerapan model co-management kooperatif pada pengelolaan perikanan tangkap.

Longline menjadi usaha perikanan tangkap paling unggul/potensial dari penilaian gabungan aspek pengelolaan lebih karena usaha perikanan tangkap ini handal dari aspek teknologi dan ekonomi, sementara aspek lainnya seperti biologi, sosial dan budaya juga sangat baik walaupun tidak paling tingggi. Menurut Ruddle et al. (1992) menyatakan pengelolaan perikanan harus memberikan dampak yang baik bagi semua elemen pengelolaan meskipun tidak harus sama. Hal ini penting supaya tidak terjadi ketimpangan dalam pengelolaan yang bisa berdampak pada kelangkaan sumberdaya, konflik sosial, dan kerusakan lingkungan. Bila memperhatikan hal ini, maka dapat dikatakan bahwa longline dapat memenuhi dengan sangat baik semua aspek pengelolaan sehingga tepat dipilih sebagai usaha perikanan tangkap paling potensial dalam mendukung model co-management pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu.

Payang, gillnet, dan pancing tonda umumnya handal dari aspek biologi dan aspek sosial dan budaya. Bila mengacu kepada hal ini, maka ketiga usaha perikanan tangkap dapat diandalkan untuk kegiatan pemanfaatan yang ramah lingkungan, pelibatan masyarakat secara luas pada kegiatan perikanan, dan dapat mendukung peningkatan kesejahteraan nelayan. Hasil penelitian Karyana (1993) dan Gandhi (2008) menunjukkan bahwa pancing tonda dan gillnet banyak digunakan di perairan Kalimantan Barat dan menurut Pemerintah Daerah lebih sesuai untuk perairan yang tidak terlalu dalam dan kaya biota perairannya.

Menurut DKP Kabupaten Sukabumi (2006), secara sosial, payang termasuk usaha perikanan tangkap yang banyak menyerap tenaga kerja, dimana dalam setiap trip operasi penangkapannya membutuhkan ABK sekitar 12-18 orang. Bila usaha perikanan payang saat ini jumlahnya mencapai 81 unit, maka setiap operasi penangkapannya membutuhkan ABK sekitar 972-1377 orang. Sedangkan menurut PPN Palabuhanratu (2010), operasi penangkapan ikan menggunakan payang dapat berlangsung selama 10-12 bulan dalam setahun. Operasi pada bulan-bulan tertentu biasanya dihentikan bila ada doking saja, dan bukan karena misalnya ikan target menipis di perairan. Payang, gillnet, dan pancing tonda juga handal dari aspek

108

teknologi dan ekonomi, walaupun dengan nilai fungsi tidak terlalu tinggi. Bila melihat hasil analisis Tabel 20, maka ketiga usaha perikanan tangkap tersebut memenuhi semua persyaratan kelayakan usaha , seperti NPV >1, B/C ratio >1, IRR > 6,25 %, dan ROI > 1. Menurut Gaspersz (1992), bila usaha bisnis memenuhi semua persyaratan tersebut, maka dapat dipastikan bahwa usaha bisnis tersebut akan memberi manfaat bagi kesejahteraan pelakunya dan pertumbuhan ekonomi kawasan.

Mengacu kepada hal tersebut, maka longline, payang, gillnet, pancing tonda dapat dikatakan lebih tepat mendukung pengelolaan perikanan tangkap terutama dengan menerapkan model co-management dibandingkan lima usaha perikanan tangkap lainnya. Hasil penilaian gabungan aspek biologi, teknologi, ekonomi, sosial dan budaya yang lebih rendah untuk pancing ulur, jaring rampus, bagan apung, trammel net, dan purse seine memberi indikasi hal ini. Namun demikian, bila kondisi pengelolaan yang ada mengalami ketimapangan, misal pencemaran serius di perairan, sehingga pengelolaan difokuskan pada aspek tertentu saja, maka pilihan usaha perikanan tangkap yang bisa saja berubah. Menurut Garrod dan Willis (1999), aspek biologi dan lingkungan menjadi prioritas utama penanganan pada kawasan yang terdegradasi, dan bila hal ini tidak ditangani segera, maka nilai ekonomi pemanfaatan kawasan akan berkurang.

Untuk mengoptimalkan peran longline, payang, gillnet dan pancing tonda dalam mendukung pengelolaan perikanan tangkap terutama dengan menerapkan model co-management, maka jumlah usaha perikanan tangkap tersebut harus sesuai dengan kebutuhan optimal pengelolaan perikanan tangkap Palabuhanratu. Hasil analisis pada Tabel 22 menunjukkan bahwa alokasi optimal dari usaha perikanan payang, gillnet, pancing tonda, dan gillnet di Palabuhanratu masing- masing sekitar 141 unit, 31 unit, 30 unit, dan 20 unit. Bila dibandingkan dengan jumlah saat ini, payang perlu ditambah 60 unit, gillnet tetap, pancing dan longline perlu dikurangi 30 unit dan 3 unit. Alokasi optimal tersebut merupakan jumlah yang paling tepat atau ideal untuk keempat usaha perikanan tangkap pada kondisi sumberdaya, pola pengelolaan, dan infrastruktur seperti saat ini. Dahuri (2001) menyatakan penggalian potensi perikanan dan kelautan harus dapat memberikan manfaat yang sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat dan kelangsungan

109 pemanfaatan. Supaya hal ini bisa terjadi, maka potensi stock sumberdaya, dan kesiapan infrastruktur perikanan, dan mekanisme pengelolaan diidentifikasi dan dipersiapkan dengan biak.

Dalam kaitan ini, maka dalam pengelolaan perikanan tangkap dengan menerapkan model co-management kooperatif, harus sebisa mungkin dapat mengupayakan alokasi payang, gillnet, pancing tonda di Palabuhanratu sesuai dengan rekomendasi optimal tersebut. Alokasi alokasi payang dapat menjadi substitusi/pengganti lima jenis usaha perikanan tangkap lainnya yang tidak terpilih sebagai usaha perikanan tangkap unggulan/potensial. Substitusi ini dapat dilakukan dengan difasilitasi oleh Pemerintah Daerah atau pihak lainnya yang dianggap berkomponen. Hartoto et al. (2009) menyatakan Pemerintah Daerah dapat menjadi penggerak sekaligus penengah bagi kegiatan perubahan ke arah yang lebih baik dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian perlu mendukung Pemerintah Daerah dalam program tersebut, terutama terkait dengan pengembangan teknologi perikanan, penyuluhan, dan bimbingan teknis usaha perikanan.

Usaha perikanan pancing tonda dan longline yang diminta dikurangi dapat dilakukan secara bertahap, misalnya dengan mengoperasikan usaha perikanan tangkap tersebut sampai umur teknisnya habis dalan lainnya. Hal ini penting untuk menghindari penolakan dari masyarakat nelayan, sehingga kegiatan pengelolaan dengan menerapkan model co-management dapat dilakukan secara optimal. Nikijuluw (2002) menyatakan bahwa kekuatan utama dalam pelaksanaan co-management pada kegiatan perikanan adalah bagaimana meningkat peran masyarakat nelayan dalam semua kegiatan pengelolaan baik yang bersifat pemanfaatan maupun yang bersifat pelestarian/konservasi.

5.6 Kesimpulan

Alokasi optimal untuk payang, gillnet, pancing tonda, dan longline tersebut di Palabuhanratu masing-masing adalah 141 unit, 31 unit, 30 unit, dan 20 unit. Bila dihubungkan dengan jumlah yang ada saat ini, maka payang perlu penambahan 60 unit, gillnet tetap, pancing tonda perlu pengurangan 20 unit, dan longline perlu pengurangan 3 unit.

110

5.7 Saran

Kebijakan pertambahan atau pengurangan alokasi unit usaha (perahu/kapal) maupun alat tangkap dengan tujuan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya