Karakteristik responden yang ditampilkan pada pembahasan ini adalah umur (tahun), pendidikan formal (tahun), tanggungan keluarga (orang), dan pendapatan rumah tangga (Rp/bulan).
Tabel 1. Karakteristik responden penelitian analisis faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan non beras berbasis pangan lokal di Provinsi Bengkulu Tahun 2011.
No
Kabupaten/Kota Umur (th)) Pendidikan formal (th) Tanggungan keluarga (org) Pendapatan RT (Rp/bln) 1. Bengkulu Tengah 37,30 8,14 3,40 2.271.081,08 2. Bengkulu Utara 30,67 10,87 4,10 1.725.000,00 3. Seluma 33,94 9,11 4,00 2.255.555,56 4. Bengkulu 42,07 9,88 3,40 2.255.000,00 Jumlah 143,98 38,00 14,90 8.506.636,64 Rata-rata 35,99 9,50 3,70 2.126.659,16
Sumber : data primer 2011.
Umur merupakan hal yang penting dalam suatu kegiatan usaha karena berkaitan dengan semangat, tenaga dan kondisi fisik seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Menurut Rosman (2000) usia produktif berkisar antara 15-55 tahun dimana pada usia produktif seseorang masih memiliki semangat dan tenaga yang kuat serta dapat diandalkan dalam menjalani usahanya dengan baik.. Rata-rata umur responden adalah 35,99 tahun ini berarti umumnya responden berada pada usia produktif.
Lama pendidikan formal responden rata-rata adalah 9,50 tahun dan bila diasumsikan responden menyelesaikan setiap jenjang tepat waktu maka dapat dikatakan rata-rata responden menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Umum. Menurut Riyadi (2003) dalam Suyastiri (2008) semakin tinggi tingkat pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki seseorang umumnya semakin tinggi pula tingkat
kesadaran untuk memenuhi pola konsumsi yang seimbang dan memenuhi syarat gizi serta selektif dalam kaitannya tentang ketahanan pangan.
Rata-rata jumlah anggota keluarga responden sebanyak 3,7 orang. Jumlah anggota keluarga terbanyak berada di Kabupaten Bengkulu Utara dengan jumlah 4,1 orang sedangkan jumlah anggota keluarga terkecil berada di Kabupaten Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu sebanyak 3,4 orang.
Ditinjau dari aspek sosial ekonomi, rata-rata total pendapatan keluarga responden adalah Rp 2.126.659,16 per bulan. Pendapatan ini lebih tinggi dibandingkan dengan upah minimum regional Provinsi Bengkulu tahun 2010 yaitu sebesar Rp 780.000,- per bulan (BPS, 2011). Menurut Suyastiri (2008) pendapatan merupakan faktor utama yang menentukan perilaku rumah tangga dalam melakukan pola konsumsi pangan dan diversifikasi pangan. Secara umum dengan peningkatan pendapatan akan memberikan peluang bagi masing-masing rumah tangga untuk melakukan diversifikasi konsumsi, meningkatkan kualitas bahan pangan pokok dalam rangka meningkatkan gizi keluarganya.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Jumlah Konsumsi Pangan Non Beras Berbasis Pangan Lokal
Pembahasan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsi panga non beras berbasis pangan lokal di Provinsi Bengkulu akan dianalisis secara spesifik lokasi (per Kabupaten/Kota) dan secara umum (Provinsi Bengkulu). Hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsi pangan lokal di masing-masing lokasi penelitian dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal di Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Seluma dan Kota Bengkulu tahun 2011.
Keterangan Bengkulu Tengah Bengkulu Utara Seluma Kota Bengkulu Variabel t hit t hit t hit t hit
Konstanta -2,21 -0,05 1,25 0,35
X1 (umur) 1,37 0,43 -1,48 0,34
X2 (pendidikan formal) 2,86*** -1,13 -1,16 -0,52 X3 (jumlah tanggungan keluarga) 4,79*** 1,23 -0,01 2,93*** X4 (pendapatan rumah tangga) -1,23 1,07 0,08 1,31 X5 (harga pangan lokal) -0,23 -0,81 1,03 -0,84 X6 (frekuensi konsumsi pangan lokal) 1,63 5.71*** 0,69 2,34**
R 0,71 0,75 0,84 0,86 F hitung 4,35** 6,06** 3,14** 7,40**
Keterangan: ** signifikan pada taraf kepercayaan 95%, *** signifikan pada taraf kepercayaan 99%
Hasil uji F di semua Kabupaten/Kota diperoleh nilai F hitung lebih besar dari F tabel sehingga secara statistik ini berarti model yang dianalisis adalah baik atau dapat dipergunakan untuk menerangkan atau menunjukkan bahwa secara keseluruhan semua variabel secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi pangan lokal. Nilai koefisien korelasi (R), secara berurutan untuk Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Seluma dan Kota Bengkulu adalah sebesar 0,71; 0,75; 0,84; 0,86 menunjukkan hubungan yang kuat antara variabel bebas dengan variabel terikat.
Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal di Kabupaten Bengkulu Tengah adalah pendidikan (X2) dan jumlah tanggungan keluarga (X3). Berpengaruhnya variabel pendidikan dikarenakan pola konsumsi pangan tergantung dari pendidikan pengelola rumah tangga tersebut. Semakin tinggi pendidikan formal maka pengetahuan dan wawasan tentang pentingnya kualitas pangan yang dikonsumsi untuk meningkatkan kesehatan akan menyebakan semakin bervariasinya pangan yang dikonsumsi (Suyastiri,2008).
Tingkat pendidikan yang semakin tinggi juga identik dengan semakin tingginya wawasan di segala bidang termasuk pula wawasan dalam pola konsumsi pangan (Taufik, 2007). Atmarita (2004) dalam Mapandin (2006) menyatakan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi juga akan memudahkan seseorang dalam menyerap informasi dan mengimplementasikan dalam perilaku dalam gaya hidup sehari-hari, khususnya dalam hal kesehatan dan gizi. Jumlah tanggungan keluarga yang juga berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal disebabkan karena semakin banyak jumlah anggota keluarga maka kebutuhan pangan yang dikonsumsi akan semakin bervariasi karena masing-masing anggota keluarga mempunyai selera yang belum tentu sama (Suyastiri, 2008).
Faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal di Kabupaten Bengkulu Utara adalah frekuensi konsumsi pangan lokal (X6). Semakin
sering mengkonsumsi pangan lokal maka akan semakin banyak pula jumlah konsumsi pangan lokal tersebut. Sebagian besar responden mengkonsumsi pangan lokal sebagai makanan selingan pada saat sarapan pagi atau sore hari, hal ini dilakukan supaya dapat mencoba variasi cita rasa sehingga tidak membosankan dan dapat menambah nafsu makan (Hidayah, 2011).
Faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal di Kabupaten Seluma adalah pengalaman mengikuti pelatihan pengolahan pangan lokal. Hal ini diduga karena setelah memiliki pengetahuan dalam mengolah pangan lokal responden lebih sering mengaplikasikan pengetahuan yang telah mereka dapatkan. Teknik pengolahan pangan yang bervariasi dapat menimbulkan cita rasa yang menyenangkan bagi orang yang mengkonsumsinya (Hidayah,2011).
Di Kota Bengkulu faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal adalah jumlah tanggungan keluarga (X3), frekuensi konsumsi pangan lokal (X6) dan pengalaman mengikuti pelatihan pengolahan pangan lokal (D1). Tanda negatif pada D1 menunjukkan bahwa ada korelasi yang negatif antara pengalaman pelatihan pengolahan pangan lokal dengan jumlah konsumsi pangan lokal itu sendiri. Apabila responden telah mengikuti pelatihan, jumlah konsumsi pangan lokalnya lebih sedikit dibandingkan dengan responden yang belum mengikuti pelatihan. Hal ini diduga disebabkan karena paradigma di tengah masyarakat perkotaan yang masih menganggap bahwa makanan non beras sebagai makanan yang masih bersifat inferior (www.kabarbisnis.com., 03 April 2012). Selain itu masyarakat perkotaan lebih memilih makanan olahan berbasis gandum, karena dengan berat yang sama, memiliki kandungan kalori yang lebih tinggi ketimbang umbi-umbian atau jagung (Hidayah, 2011).
Hasil analisis regresi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal di Provinsi Bengkulu dapat dilihat pada tabel 3. Hasil uji F menunjukkan bahwa F hitung lebih besar dari F tabel sehingga secara statistik ini berarti model yang dianalisis adalah baik atau dapat dipergunakan untuk menerangkan atau menunjukkan bahwa secara keseluruhan semua variabel secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi pangan lokal. Nilai
koefisien korelasi (R) sebesar 0,61 menunjukkan hubungan yang kuat antara variabel bebas dengan variabel terikat.
Faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal adalah umur (X1), jumlah tanggungan keluarga (X3) dan frekuensi konsumsi pangan lokal (X6). Koefisien X1 (b1) sebesar 0,181 menunjukkan bahwa jika umur meningkat satu tahun maka jumlah konsumsi pangan lokalnya akan meningkat sebanyak 0,181 kg. Koefisien X3 (b3) berkolerasi positif terhadap jumlah konsumsi pangan lokal. Koefisien regresi sebesar 1,186 menunjukkan bahwa jika jumlah tanggungan keluarga responden satu orang maka jumlah konsumsi pangan lokalnya akan meningkat sebanyak 1,186 kg. Koefisien X6 (b6) sebesar 0,265 menunjukkan bahwa jika frekuensi konsumsi pangan lokal meningkat satu kali maka jumlah konsumsi pangan lokalnya akan meningkat sebanyak 0,265 kg.
Tabel 3. Hasil analisis regresi faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsi pangan lokal di Provinsi Bengkulu tahun 2011.
Variabel Koefisien regresi t hitung
Konstanta -8,388 -1,725
Umur (X1) 0,181 2,324**
Pendidikan (X2) 0,223 0,985
Jumlah tanggungan keluarga (X3) 1,186 2,348** Pendapatan rumah tangga (X4) 4,460E-07 1,258 Harga pangan lokal (X5) -3,143E-05 -0,172 Frekuensi konsumsi pangan lokal (X6) 0,265 6,124*** Pelatihan pengolahan panga lokal (D1) -1,069 -0,840
R 0,61 F hitung 9,65**
Keterangan : **signifikan pada taraf kepercayaan 95%, ***signifikan pada taraf kepercayaan 99%
Berpengaruhnya variabel umur pada hasil analisis ini lebih berkaitan dengan kebiasaan responden dalam mengkonsumsi pangan lokal karena tingkat konsumsi dipengaruhi juga oleh pola makan atau kebiasaan makan (Windarsih, 2008). Sebagian besar responden yang merupakan pendatang dari Pulau Jawa telah memiliki kebiasan untuk mengkonsumsi olahan pangan lokal terutama yang berasal dari ubi kayu seperti gaplek, tiwul dan lainnya. Bahkan, responden merasa lebih
bertenaga dalam beraktivitas bila mengkonsumsi olahan tersebut dibandingkan bila mereka mengkonsumsi nasi (beras).
Dalam mengkonsumsi pangan lokal, keluarga yang memiliki jumlah tanggungan keluarga yang banyak akan mengkonsumsi pangan lokal yang lebih banyak bila dibandingkan dengan keluarga yang memilik tanggungan keluarga yang lebih sedikit. Semakin banyak jumlah anggota rumah tangga juga menyebabkan kebutuhan pangan yang dikonsumsi akan semakin bervariasi karena masing-masing anggota rumahtangga mempunyai selera yang belum tentu sama (Suyastiri, 2008).
Semakin sering mengkonsumsi pangan lokal tentu saja mengakibatkan jumlah pangan lokal yang dikonsumsi semakin banyak. Pangan lokal dapat digunakan sebagai pelengkap makanan pokok yang biasa dikonsumsi selama ini. Selain itu pangan lokal dianggap memiliki nilai lebih, antara lain harganya yang dianggap murah dan terjangkau oleh masyarakat (Hidayah,2011).
KESIMPULAN
Dari uraian pada hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
1. Secara umum faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan non beras berbasis pangan lokal di Provinsi Bengkulu adalah umur, jumlah tanggungan keluarga dan frekuensi konsumsi pangan lokal.
2. Secara spesifik faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan non beras berbasis pangan lokal di Kabupaten Bengkulu Tengah adalah pendidikan dan jumlah tanggungan keluarga, di Kabupaten Bengkulu Utara adalah frekuensi konsumsi pangan lokal, Kabupaten Seluma adalah pelatihan pengolahan pangan lokal, dan di Kota Bengkulu adalah jumlah tanggungan keluarga, frekuensi konsumsi pangan lokal dan pelatihan pengolahan pangan lokal.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu. 2011. Bengkulu dalam Angka tahun 2010. Bengkulu.
Badan Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu. 2011. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2010. Bengkulu.
Hidayah, Nurul. 2011. Kesiapan Psikologis Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan Menghadapi Diversifikasi Pangan Pokok. Jurnal Humanitas Vol VII No 1 Januari. Yogyakarta. Kabarbisnis. 2012. Pangan Non Beras Masih Dinilai Inferior. http://www.kabarbisnis.com.
Diakses tanggal 13 Juni 2012.
Mantau,Z dan Bahtiar. 2010. Kajian Kebijakan Harga Pangan Non Beras dalam Konteks Ketahanan Pangan Nasional. Jurnal Litbang Pertanian 29 (2).Jakarta.
Mapandin, Wahida. 2006. Hubungan Faktor-Faktor Sosial Budaya dengan Konsumsi Makanan Pokok Rumah Tangga Pada Masyarakat di Kecamatan Wamena Kabupaten Jayawijaya Tahun 2005. Tesis Magister Gizi masyarakat Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Semarang.
Nganro,N.R. 2009. Dukungan Kebijakan Pemerintah dalam Pengembangan Komoditas Pertanian yang Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Makalah Semiloka Kementrian Riset dan Teknologi 10 November 2009 dengan tema Pengembangan dan Penerapan IPTEK dalam Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi. Jakarta.
Nurdin, P.A. 2008. Perlu Program Diversifikasi.Harian Seputar Indonesia 21 April 2008. Suyastiri,Ni Made. 2008. Diversifikasi Konsumsi Pangan Pokok Berbasis Potensi Lokal dalam
Mewujudkan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Pedesaan di Kecamatan Semin Kabupaten Gunung Kidul. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol 13 No 1 April. Yogyakarta.
Taufiq, Muhammad .2007. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Konsumsi Pangan Masyarakat di Kabupaten Tuban. Jurnal Manajemen Akuntansi dan Bisnis Volume 5 No 3 Desember. Surabaya.
Widowati. 2003. Prospek Tepung Sukun Untuk Berbagai Produk Makanan Olahan dalam Upaya Menunjang Diversifikasi Pangan. Makalah Pribadi. Pengantar Kefalsafah Sains Program Pasca Sarjana IPB Bogor.
Windarsih, Eka. 2008.Perbedaan Pola Pangan Harapan di Pedesaan dan Perkotaan Kabupaten Sukoharjo. Makalah Pribadi. Program Studi DIII Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
ANALISIS TANAH SEBAGAI INDIKATOR TINGKAT KESUBURAN