• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM INTEGRASI KELAPA SAWIT DAN SAPI BALI RAKYAT DI PROVINSI BENGKULU

Dedi Sugandi dan Harwi Kusnadi

ABSTRAK

Sistem integrasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah karena ada timbal balik yang saling menguntungkan. Salah satu yang telah dilaksanakan di Provinsi Bengkulu adalah Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA). Perkebunan kelapa sawit dapat mendukung peternakan rakyat, yaitu sebagai penyedia pakan yang berasal dari limbah tanaman sawit yaitu pelepah daun. Limbah dari industri pengolahan kelapa sawit berupa solid dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi. Kotoran sapi cukup potensial digunakan untuk pemupukan tanaman sawit. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber pupuk organik sangat mendukung usaha perkebunan kelapa sawit. Komposisi pakan pada pengkajian pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pakan ternak sapi Bali yaitu rumput 100%, rumput 100% + solid 2,5% bobot badan, rumput 50% + pelepah sawit 50%, rumput 50% + pelepah sawit 50% + solid 2,5% bobot badan. Komposisi pupuk pada pengkajian pemanfaatan kotoran sapi untuk pemupukan tanaman kelapa sawit yaitu: pupuk NPK 75%+kompos 25% dan NPK 50%+Kompos 50%, sedangkan kontrol dengan aplikasi pemupukan NPK 100% dengan 5 kali ulangan. Integrasi tanaman kelapa sawit dengan sapi Bali dapat dilakukan oleh petani yang memiliki tanaman kelapa sawit yang sudah berproduksi dan memiliki ternak sapi Bali. Pelepah sawit dapat menggantikan rumput lapangan sampai 50% untuk pakan ternak sapi Bali tanpa berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan. Pemberian pakan solid juga tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan. Pemanfaatan kotoran ternak dapat meningkatkan penggunaan pupuk organik dan mengurangi penggunaan pupuk anorganik sampai 50% tanpa mengurangi produksi TBS.

Kata kunci: integrasi, sapi Bali, kelapa sawit, limbah sawit, kotoran sapi

PENDAHULUAN

Data tahun 2010 Provinsi Bengkulu mempunyai luas perkebunan rakyat untuk tanaman kelapa sawit mencapai 205.324 ha dengan produksi 424.617,01 ton (BPS, 2011). Sedangkan Kabupaten Seluma mempunyai luas tanaman kelapa sawit rakyat telah mencapai 31.174 ha dengan produksi 67.097,79 ton tandan buah segar (TBS) (BPS, 2011). Data tahun 2010 jumlah ternak sapi di Provinsi Bengkulu sebanyak 103.262 ekor. Populasi sapi di Kabupaten Seluma tahun 2010 mencapai 16.744 ekor. Sapi potong merupakan salah satu komoditas unggulan yang dapat memenuhi kebutuhan protein hewani dan telah berkembang dengan baik di Kabupaten Seluma. Sapi Bali banyak dipelihara oleh peternak di wilayah Provinsi Bengkulu terutama di wilayah perkebunan kelapa sawit. Sapi Bali menjadi pilihan peternak karena mempunyai kelebihan dibandingkan dengan bangsa sapi yang lain.

Sapi Bali mempunyai daya adaptasi baik terhadap berbagai kondisi lingkungan baik kering maupun hujan. Bisa hidup liar dengan mencari makanan sendiri, di areal pembuangan sampah sekalipun. Sapi Bali dikenal sangat responsif terhadap perlakuan serta memiliki tingkat kesuburan reproduksi tinggi yaitu antara 80-82 persen. Sapi induk (betina) mampu melahirkan setahun sekali. Selain itu, kualitas dagingnya sangat baik dengan persentase karkas (daging dan tulang dalam, tanpa kepala, kaki dan jeroan) mencapai 60 persen (Suryana, 2007).

Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa sapi Bali cukup responsif dalam upaya perbaikan pakan. Pemberian hasil samping kelapa sawit pada sapi di peternakan rakyat pada umumnya masih dalam kondisi segar, belum banyak upaya sentuhan teknologi.

Ketersediaan pakan untuk kecukupan konsumsi selama terjadinya proses perkembangan dan penggemukan ternak sapi juga harus terpenuhi dan belum berbasiskan sumberdaya lokal, begitu juga dengan penggalian sumber pakan lokal terutama untuk sapi potong belum dilakukan secara maksimal. Sehingga penyediaan hijauan untuk kebutuhan ternak sapi semakin terbatas dan perlu didukung dengan pemberian pakan melalui pengoptimalan pemanfaatan limbah tanaman sebagai salah satu bahan penyusun pakan yang dapat meningkatkan produktivitas ternak selain pemberian hijauan. Selama ini petani mengandalkan rumput alam yang terdapat di sekitar desa dengan disabitkan. Pemanfaatan limbah industri sawit berupa solid sebagai pakan ternak sapi memberikan hasil positif dan memberikan peluang kepada masyarakat yang memelihara ternak sapi untuk memanfaatkan solid bagi kecukupan dan kebutuhan pakan ternak sapinya. Akan tetapi solid masih belum banyak dimanfaatkan untuk pakan sapi, terbukti masih banyaknya solid yang dibuang oleh pabrik pengolahan kelapa sawit.

Sistem integrasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah karena ada timbal balik yang saling menguntunkan. Salah satu yang telah dilaksanakan di Provinsi Bengkulu adalah Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA) yang diprakarsai oleh PT.Agricinal, yang secara nyata telah memberi manfaat terhadap peningkatan pendapatan petani. Pola ini terus dikembangkan di Provinsi Bengkulu. Hasil studi Gunawan et al (2004a) tentang model

pengembangan sistem integrasi sapi kelapa sawit menyatakan bahwa, program SISKA dapat dikembangkan tidak hanya di perusahaan besar, tetapi juga di perkebunan kelapa sawit rakyat. Dengan adanya SISKA, maka peternak mempunyai sumber pakan yang potensial untuk ternak sapi dan tanaman sawit mendapatkan pupuk untuk meningkatkan hasil sawit. Sistem ini sederhana sehingga dapat dikembangkan di perkebunan kelapa sawit rakyat.

METODOLOGI

Kegiatan pengkajian integrasi kelapa sawit rakyat dan sapi Bali dilaksanakan di Desa Lokasi Baru, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Waktu pelaksanaan pengkajian dimulai Bulan September 2011 sampai Desember 2011.

Kegiatan yang pertama yaitu pengkajian pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pakan ternak sapi Bali dengan komposisi pakan perlakuan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi pakan perlakuan pada pengkajian pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pakan ternak ternak sapi Bali.

No Perlakuan Pakan Lapangan Rumput (%) Pelepah Sawit (%) Solid (% Berat Badan) 1. A (Kontrol) 100 - - 2. B 100 - 2,5 3. C 50 50 - 4. D 50 50 2,5

Data yang diambil yaitu pertambahan bobot badan setiap 2 minggu sekali.

Kegiatan kedua yaitu potensi kotoran sapi dan pemanfaatannya untuk pemupukan tanaman kelapa sawit dengan perlakuan pupuk kompos kotoran sapi dan pupuk NPK yang disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Komposisi pupuk pada pengkajian tanaman kelapa sawit. No Perlakuan Pupuk Pupuk NPK

(%) Kompos Kotoran Sapi (%)

1. A (Kontrol) 100 0

2. B 75 25

3. C 50 50

Pengamatan tanaman sawit dilakukan pada produksi kelapa sawit. Data yang diambil merupakan hasil penimbangan panen sawit yang dilakukan setiap 20 hari sekali, kemudian dibandingkan pada masing-masing perlakuan. Pengamatan dirancang selama 4 bulan.

Analisis data untuk perlakuan dilakukan dengan uji statistik beda nyata, dilanjutkan dengan DMRT.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Potensi limbah kelapa sawit dan pemanfaatannya untuk pakan ternak sapi Bali

Pakan adalah semua bahan yang bisa diberikan dan bermanfaat bagi ternak serta tidak menimbulkan pengaruh negatif terhadap tubuh ternak. Pakan yang diberikan harus berkualitas tinggi yaitu mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh ternak dalam hidupnya seperti air, karbohidrat, lemak, protein, mineral, dan air (Parakkasi, 1995).

Dalam ilmu pakan ternak, faktor keseimbangan yang dimaksud adalah kesesuaian antara kuantitas maupun kualitas zat gizi pakan dan kebutuhan ternak. Prinsipnya faktor yang menjadi pedoman pakan ruminansia adalah kandungan protein, energi, karbohidrat, dan bahan kering pakan, serta ketepatan proporsi masing-masing sehingga sesuai dengan kebutuhan ternak sapi (McDonald dkk., 1992). Dalam hal ini para petani kebanyakan tidak memperhitungkan secara lengkap karena tidak paham tentang ilmu pakan ternak sapi.

Limbah dari perkebunan kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak antara lain pelepah daun sawit. Hasil pengamatan pada PT. Agrisinal menunjukkan bahwa setiap pohon kelapa sawit TM dapat menghasilkan 22 pelepah

per tahun (Diwyanto et al., 2004) dengan rataan berat pelepah per buah mencapai 7 kg. Jumlah ini setara dengan 20 ribu kg (22 x 130 pohon x 7 kg) pelepah segar yang dihasilkan dalam satu tahun untuk setiap satu hektar kebun kelapa sawit. Jumlah ini diperoleh dengan asumsi bahwa semua bagian pelepah dapat dimanfaatkan dan total bahan kering yang dihasilkan dalam setahun 5.214 kg. Dengan asumsi bahwa luas perkebunan kelapa sawit yang telah berproduksi 5 juta ha (Sekretariat Direktorat Jenderal Perkebunan, 2008), maka jumlah bahan kering pelepah yang tersedia untuk dimanfaatkan sebagai sumber pakan serat/hijauan adalah sejumlah 26,4 juta ton. Komposisi nutrisi pelepah daun sawit sebagai berilkut: PK 6,5%, TDN 56%, Serat Kasar 32,55%, Lemak Kasar 4,47%, Bahan Kering 93,4% (Lab. Ilmu Makanan Ternak, Departemen Peternakan FP USU (2005). Limbah dari industri pengolahan kelapa sawit antara lain solid. Solid dalam bahasa jawa disebut ” blondho sawit ” adalah limbah padat hasil samping prosesing pengolahan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit menjadi minyak mentah kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Bentuk dan konsistensinya seperti ampas tahu namun berwarna coklat gelap, berbau asam-asam manis, masih mengandung minyak CPO sekitar 1,5%. Kandungan nutrisi Solid ini berdasarkan hasil analisis proksimat laboratorium nutrisi ternak Fakultas Peternakan Universitas Bengkulu, adalah berupa; Bahan kering (BK) 49,57%., Protein kasar (PK) 10,16%., Lemak kasar (LK) 12,90%., Serat kasar (SK) dan Bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) sebesar 23,17%.

Pemanfaatan solid untuk pakan sapi oleh peternak di Desa Lokasi Baru, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu dengan cara diberikan ternak sebelum pemberian hijauan. Dengan penyimpanan yang baik solid tetap dalam kondisi baik untuk diberikan sapi sampai 5 hari. Setelah 5 hari solid akan berbau tajam dan mulai tumbuh jamur sehingga sapi juga tidak mau memakannya.

Hasil pengkajian pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pakan ternak sapi Bali di Desa Lokasi Baru, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rata-rata pertambahan bobot badan pada pengkajian ternak sapi Bali.

No Perlakuan Pakan Rata-rata pertambahan bobot badan/hari (kg) 1. A (Kontrol) 0,667

2. B 0,584

3. C 0,411

4. D 0,425

Rata-rata pertambahan bobot hidup sapi perlakuan A 0,667 kg/ekor/hari, sedangkan yang terendah pada perlakuan C (0,411 kg/hari). Namun dari hasil uji varian (uji F) menunjukan tidak berbeda nyata antar perlakuan pada taraf 5% pada peubah penambahan bobot badan sapi. Hasil ini menunjukkan bahwa pelepah sawit dapat menggantikan rumput lapangan sampai 50% untuk pakan ternak sapi Bali tanpa berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan. Pemberian pakan solid juga tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan.

Potensi kotoran sapi dan pemanfaatannya untuk pemupukan tanaman kelapa sawit

Pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber pupuk organik sangat mendukung usaha perkebunan kelapa sawit. Dari sekian banyak kotoran ternak yang terdapat di daerah sentra produksi ternak banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal, sebagian di antaranya terbuang begitu saja, sehingga sering merusak lingkungan yang akibatnya akan menghasilkan bau yang tidak sedap.

Tabel 4. Kandungan unsur hara pada pupuk dari kotoran sapi. Kadar Hara (%)

Kotoran sapi

Nitrogen Phospor Kalium air

1. padat 2. cair 0.40 1.00 0.20 0.50 0.10 1.50 85 92 Sumber Yusuf (2009).

Satu ekor sapi dewasa dapat menghasilkan 23,59 kg kotoran tiap harinya. Pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak dapat menghasilkan beberapa

unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman, seperti terlihat pada Tabel 1. Disamping menghasilkan unsur hara makro, pupuk kandang juga menghasilkan sejumlah unsur hara mikro, seperti Fe, Zn, Bo, Mn, Cu, dan Mo. Jadi dapat dikatakan bahwa, pupuk kandang ini dapat dianggap sebagai pupuk alternative untuk mempertahankan produksi tanaman.

Hasil pengkajian pemanfaatan kotoran sapi untuk pemupukan tanaman kelapa sawit di Desa Lokasi Baru, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Rata-rata panen kelapa sawit. No Perlakuan

Pupuk sawit/perlakuan Panen kelapa (kg) Panen kelapa sawit /ha (kg) 1. A (Kontrol) 290.0 1.667,4 2. B 317.6 1.828,5 3. C 290.1 1.667,5

Rata-rata hasil penimbangan tandan buah sawit perlakuan A, B, dan C masing-masing 290.0 kg, 317.6 kg, dan 290.1 kg. Dari hasil penimbangan, produksi TBS kelapa sawit tertinggi pada perlakuan B (1.828,5 kg/ha/panen) dan terendah pada perlakuan A (1.667,4 kg/ha/panen). Dari hasil uji varian (uji F) menunjukan tidak ada perbedaan yang nyata antar perlakuan pada taraf 5% pada peubah produksi TBS kelapa sawit.

Integrasi tanaman kelapa sawit dengan sapi Bali di perkebunana rakyat Integrasi tanaman kelapa sawit dengan sapi Bali dapat dilakukan oleh petani yang memiliki tanaman kelapa sawit yang sudah berproduksi dan memiliki ternak sapi Bali. Petani memanfaatkan pelepah kelapa sawit hasil ikutan dari pemanenan kelapa sawit untuk pakan sapi Bali. Pemanfaatan pelepah sawit untuk pakan sapi telah lama dilaksanakan oleh peternak di Desa Lokasi Baru, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Pelepah sawit hasil ikutan pada saat pemanenan kelapa sawit dikupas kulitnya dan dipotong kecil-kecil dengan mesin pencacah rumput sehingga memudahkan pada saat dimakan sapi. Pelepah

Kotoran sapi dimanfaatkan untuk pemupukan tanaman kelapa sawit. Petani di Desa Lokasi Baru telah banyak yang mengkomposkan kotoran sapi terlebih dahulu selama 21 dengan aktifator sebelum digunakan untuk pemupukan tanaman sawit. Pemberian pupuk kompos dilakukan setiap 3 - 4 bulan sekali sehingga dalam setahun dilakukan pemupukan 3 – 4 kali dengan rata-rata setiap pemberian 40 – 50 kg per tanaman. Pemanfaatan kotoran ternak dapat meningkatkan penggunaan pupuk organik dan mengurangi penggunaan pupuk anorganik sampai 50% tanpa mengurangi produksi TBS.

KESIMPULAN

Integrasi tanaman kelapa sawit dengan sapi Bali dapat dilakukan oleh petani yang memiliki tanaman kelapa sawit yang sudah berproduksi dan memiliki ternak sapi Bali. Perkebunan kelapa sawit dapat mendukung peternakan rakyat, yaitu sebagai penyedia pakan yang berasal dari limbah tanaman sawit yaitu pelepah daun. Pelepah sawit dapat menggantikan rumput lapangan sampai 50% untuk pakan ternak sapi Bali tanpa berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan. Pemberian pakan solid juga tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan. Pemanfaatan kotoran ternak dapat meningkatkan penggunaan pupuk organik dan mengurangi penggunaan pupuk anorganik sampai 50% tanpa mengurangi produksi TBS.

DAFTAR PUSTAKA

BPS. 2011. Provinsi Bengkulu Dalam Angka 2011.

Diwyanto, K., D. Sitompul, I. Manti, I-W Mathius dan Soentoro. 2004. Pengkajian Pengembangan Usaha Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Prosiding Lokakarya Nasional Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Departemen Pertanian bekerjasama dengan PemProp. Bengkulu dan PT. Agricinal.

Gunawan, B. Hermawan, Sumardi dan E.P. Praptanti. 2004a. Keragaan Model Pengembangan Integrasi Sapi–Sawit pada Perkebunan Rakyat di Propinsi Bengkulu. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Sistem Integrasi Tanaman–Ternak di Denpasar, Bali pada Tanggal 20–22 Juli 2004.

Laboratorium Ilmu Makanan Ternak. 2005. Departemen Peternakan, FP USU, Medan. Laboratorium Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Pertanian UNIB, Bengkulu.

McDonald, P, Edwards, R.A., and Greenhalgh., J.F.D. 1992. Animal nutritiuon (4th Ed.). Longman Scientific & Technical. John Wiley & Sons, Inc. Nerw York.

Parakkasi, A. 1995. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Suryana. 2007 . Pengembangan integrasi temak ruminasia pada perkebunan kelapa sawit. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 26 (l) :35-40. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Sekretariat Direktorat Jenderal Perkebunan, 2008. Yusuf. T. 2009. Kandungan Hara Pupuk Kandang. http://tohariyusuf.wordpress .com

OPTIMASI PEMANFAATAN LIMBAH TANAMAN SAWIT