METODE PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian
I. HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian diadakan di ruang Kenanga Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam. Rumah Sakit Umum Daerah Lubuk Pakam didirikan pada tahun 1958, pertama sebagai Rumah sakit pembantu, pada tahun 1979
menjadi Rumah Sakit Umum Kelas D sesuai dengan SK Mentri Kesehatan RI. No. 51/Menkes/SK/II/1979. Pada tahun 1987 menjadi Rumah Sakit Umum Kelas C sesuai dengan Sk Mentri Kesehatan
RI. No.
303/Menkes/SK/IV/1987. Pada tahun 2002 menjadi
Lembaga Teknis Daerah
berbentuk Badan berdasarkan
keputusan Bupati Deli
Serdang NO. 264 tanggal 01 Mei 2002, dan pada tanggal 25 April 2008 menjadi Rumah Sakit Umum Kelas B Non Pendidikan sesuai dengan surat Keputusan Menkes RI. 405/Menkes/SK/IV/2008.
Kedudukan Rumah
Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah sebagai Pelaksana Teknis Daerah. Dalam melaksanakan tugas pokoknya Rumah Sakit ini memiliki tugas pokok yaitu:
(1). Menyelenggarakan Pelayanan Medis, (2). Menyelenggarakan Pelayanan Penunjang Medis, (3). Menyelenggarakan Pelayanan Asuhan Keperawatan, (4). Menyelanggarakan pendidikan dan pelatihan, (5). Menyelanggarakkan
Administrasi Umum dan
Keuangan.
Dalam melaksanakan tugas dan fungsi, Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam dipimpin oleh seorang Direktur, dibantu oleh
seorang Sekretaris dan 3 (tiga) orang Kepala Bidang, 13 (tiga
belas) Sub Bidang dan
didukung oleh tenaga Dokter spesialis, Dokter Umum, Dokter Gigi, Paramedis, Perawat dan Non Perawat, serta tenaga Non Medis lainnya. Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam berada di Kota Lubuk Pakam (Ibu Kota Babupaten Deli Serdang) 29 km dari Kota Medan (Ibu Kota Propinsi Sumatra Utara) RSUD Deli Serdang mempunyai luas 2 Ha dengan luar bangunan 10.352 m2.
Visi Rumah Sakit
Umum Daerah Deli Serdang
Lubuk Pakam adalah
pelayanan yang unggul dalam
mutu,prima dalam
pelayanandan menjadi pusat rujukan pelayanan kesehatan yang paripurna dan proaktif untuk mewujudkan masyarakat sehat 2010. Sedangkan misinya adalah:
1. Memberikan pelayanan
prima serta terjangkau
oleh semua lapisan
masyarakat.
2. Terwujudnya pelayanan kesehatan rujukan spesialis secara profesional sesuai standar pelayanan medis.
3. Mengembangkan sarana
dan prasarana sebagai
temat pendidikan,
penelitian dan
pengembangan.
Sarana dan prasarana pelayanan kesehatan di RSUD Deli Serdang terdiri dari: Instalasi Gawat Darurat,
Instalasi Bedah Sentral, Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rawat Inap, serta sarana dan prasarana penunjang medis seperti Apotek, Gizi, Rontgen Foto dan lain-lain.
4.2 Analisa Univariat
Tujuan dari analisis ini adalah
menjelaskan atau mendeskripsikan setiap karakteristik variabel penelitian. Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Ruang Kenanga Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam. N o Jenis Kelami n Kelom pok Kontr ol (n=5) Kelom pok Interve nsi (n=5) f % f % 1 2 Laki-laki Perem puan 4 80 1 20 2 40 3 60 Total 5 100 5 100
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa
jumlah responden
berdasarkan jenis kelamin
pada kelompok kontrol
sebanyak 4 anak berjenis kelamin laki-laki (80%) dan 1
anak berjenis kelamin
perempuan (20%). Pada
kelompok intervensi sebanyak 2 anak berjenis kelamin
laki-laki (40%) dan 3 anak berjenis kelamin perempuan (60%).
Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Usia di Ruang Kenanga Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam.
N o. Usia (tahu n) Kelompo k Kontrol (n=5) Kelompok Intervensi (n=5) f % f % 1. 2. 3. 4. 3 4 5 6 1 2 0 1 2 0 1 2 0 2 40 -1 20 2 4 0 2 40 Total 5 100 5 100 Tabel 4.2 menunjukkan bahwa
jumlah responden
berdasarkan usia pada
kelompok kontrol sebanyak 1 anak berusia 3 tahun (20%), 1 anak berusia 4 tahun (20%), 1 anak berusia 5 tahun (20%), 2 anak berusia 6 tahun (40%). Pada kelompok intervensi sebanyak 1 anak berusia 4 tahun (20%), 2 anak berusia 5 tahun (40%), dan 2 anak berusia 6 tahun (40%).
Tabel 4.3 Distribusi Berdasarkan Kehadiran Orang Tua Saat Dilakukan Pemasangan Infus di Ruang Kenanga Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam. No. Keadiran 1. 2. Hadir Tidak Hadir Total
Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan bahwa kehadiran orang tua pada kelompok kontrol dan intrvensi
sebanyak80% kehadiransaat
dilakukan tindakan pemasangan infus.
kelompok kontrol yang
mengalami nyeri pada skala nyeri 4 sebanyak 3 anak (60%) dan pada skala nyeri 5 sebanyak 2 anak (40%). Pada kelompok intervensi yang mengalami nyeri pada skala nyeri 2 sebanyak 2 orang (40%) dan pada skala nyeri 3 sebanyak 3 orang (60%).
4.3 Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui Pengaruh Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Penurunan Nyeri Anak Prasekolah (3-6 tahun) yang Menjalani Penusukan Intravena Untuk Pemasangan Infus Di Ruang Kenanga Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam Tahun 2016, dengan hasil tertera pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.5 Pengaruh Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Penurunan Nyeri Anak Prasekolah (3-6 tahun) yang Menjalani Penusukan
Intravena Untuk Pemasangan Infus Mean SD SE n pValue Skala Nyeri Kelompok Intervensi Kelompok Kontrol 2,60 4,40 0,548 0,548 0,245 0,245 5 5 0,001* ∗ ≤ 0,05
Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat bahwa hasil uji T (Independent-Samples T Test) menunjukkan < 0,05. Dengan demikian Ho ditolak. Dari hasil penelitian ini dapat dibuktikan adanya pengaruh yang signifikan antara terapi musik klasik Mozart dengan penurunan nyeri pada pasien anak prasekolah yang menjalani
penusukan intravena untuk
pemasangan infus di Ruang Kenanga RSUD Deli Serdang Lubuk Pakam.
II. PEMBAHASAN
4.4 Karakteristik Demografi
Berdasarkan jenis kelamin responden, terdapat 60% responden yang berjenis kelamin laki-laki. Berdasarkan usia responden, responden termasuk ke dalam usia anak prasekolah. Hal ini sesuai dengan teori yang dijelaskan oleh Wong (2009) yaitu respons perilaku anak terhadap nyeri berubah sejalan dengan pertambahan usia dan mengikuti tren perkembangan. Akan tetapi, anak-anak sangat bervariasi dalam responsnya terhadap nyeri dan dapat menunjukkan perilaku pada
usia tertentu yang lebih khas terlihat pada usia yang berbeda. Anak-anak dengan alam perasaan yang baik tampak menunjukkan nyeri yang lebih sedikit dibandingkan yang sebenarnya mereka alami.
4.5 Terapi Musik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata nyeri pada responden dalam kelompok kontrol adalah 4,40 dan rerata nyeri pada responden dalam kelompok intervensi adalah 2,60 (skala nyeri = 0-5). Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Musbikin, 2009 yang menyatakan bahwa Pemberian intervensi terapi musik klasik membuat seseorang menjadi rileks, menimbulkan rasa aman dan sejahtera, melepaskan rasa gembira dan sedih, melepaskan rasa sakit dan menurunkan tingkat stres,
sehingga dapat menyebabkan
penurunan kecemasan (Musbikin, 2009). Hal tersebut terjadi karena
adanya penurunan Ardenal
Corticotropin Hormon (ACTH) yang merupakan hormon stres (Djohan, 2009).
4.6 Nyeri Anak Prasekolah
Hasil penelitian menunjukkan bahwaresponden dalam kelompok kontrol yang mengalami nyeri pada skala nyeri 5 sebanyak 2 anak (40%) dan pada skala nyeri 4 sebanyak 3
anak (60%). Pada kelompok
intervensi yang mengalami nyeri pada skala nyeri 2 sebanyak 2 orang (40%) dan pada skala nyeri 3 sebanyak 3 orang (60%).
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Wang, 2008, dalam Maryam, 2012 yang menyatakan bahwa Adanya prosedur penusukan vena dalam pemasangan infus dapat
menimbulkan rasa cemas, takut, dan nyeri pada anak.
4.7 Pengaruh Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Penurunan Nyeri Anak
Prasekolah
Dalam penelitian ini
menggunakan uji statistik T Test. Hasilnya, terdapat pengaruh yang signifikan antara terapi musik klasik Mozart dengan penurunan nyeri anak
prasekolah yang dilakukan
pemasangan infus dengan nilai signifikansi = 0,001 (< 0,05).
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh antara terapi musik klasik Mozartdengan penurunan nyeri anak prasekolah yang dilakukan pemasangan infus di Ruang Kenanga Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Purwati (2010) tentang penurunan tingkat nyeri anak prasekolah yang menjalani penusukan intravena untuk pemasangan infus melalui terapi musik mengatakan bahwa dari 32 responden anak prasekolah yang dilakukan pemasangan infus terdapat 18,8 % anak yang merasakan nyeri lebih banyak, 31,3 % anak merasakan nyeri secara keseluruhan, dan 50 % anak merasakan nyeri sekali dan menangis.
KESIMPULAN DAN SARAN