kasi dengan kelompok sosial lain, misalnya kelasmu mengunjungi kelompok orang lanjut usia di rumah jompo, maka kamu mengada-kan hubungan sosial
antara kelompok sosial yang satu dengan kelom-
pok sosial lainnya.
Interaksi sosial merupakan titik tolak dalam semua kegiatan sosial. Tanpa adanya interaksi sosi- al, tidak akan mungkin terjadi kehidupan bersama. Pergaulan hidup baru muncul bila individu-indi- vidu atau kelompok saling membentuk komunitas, saling berkomunikasi untuk mencapai tujuan ber- sama yang dapat dilakukan dalam berbagai bentuk seperti persaingan, pertikaian, dan kerjasama. Ka- rena itu, dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial merupakan dasar proses sosial pada bentuk hu- bungan sosial yang dinamis.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa in-
teraksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang
sifatnya dinamis antara seorang individu dengan individu
Gambar 2.1.2
Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang sifatnya dinamis antara seorang individu dengan individu lain, antara seorang individu dengan suatu kelompok sosial
tertentu, atau antara kelompok sosial yang satu dengan kelompok sosial lainnya.
Sumber: Kompas, 22 Februari 2005
Ada 3 hal yang dapat kamu ketahui dari in- teraksi sosial ini, yakni sifat interaksi sosial yang dinamis, nilai dan norma dalam interaksi sosial, serta komunikasi dalam interaksi sosial.
1. Interaksi sosial merupakan proses sosial yang bersifat dinamis.
Sifat dinamis di sini maksudnya adalah inter- aksi sosial terjadi menurut pola tertentu yang sifatnya hidup (tidak kaku, tidak statis). Sifat dinamis juga menunjukkan bahwa interaksi so- sial selalu dapat diperbarui sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Misalnya, kamu ingin mengajak seorang te- manmu mengunjungi kebun binatang. Ketika kamu mengajak temanmu itu, kamu pasti mengadakan interaksi sosial dengan dia. Tujuan yang ingin kamu capai adalah agar temanmu mau atau bersedia diajak. Cara kamu berinter- aksi pasti berbeda dengan kalau kamu meng- ajak temanmu membantu kamu mengerjakan pekerjaan rumah.
Nah, kamu melakukan interaksi sosial secara dinamis. Misalnya, kamu tidak langsung mengatakan kepada dia bahwa kamu mau mengajak dia mengunjungi kebun binatang.
Interaksi
Sosial
Individu dengan kelompok sosial Individu dengan individuMungkin kamu mulai dengan menceritakan sifat binatang tertentu yang lucu, atau berita- berita terbaru mengenai binatang. Mungkin berita mengenai anak Harimau Sumatera yang baru lahir setelah lebih dari 10 tahun berada di kebun binatang. Kamu pasti punya cara sendiri-sendiri. Selah itu baru kamu utarakan maksud kamu mengajak temanmu mengun- jungi kebun binatang. Jika tujuan belum ter- capai, kamu ubah lagi cara pendekatan kamu sampai temanmu bersedia diajak. Inilah sifat dinamis dari interaksi sosial.
Sikap-sikap yang muncul dari interaksi sosial pun dapat berbeda-beda. Dalam interaksi so- sial kamu dapat bersikap simpati, tenang, terpeso-
na, menghindar, memengaruhi, dan sebagainya.
2. Interaksi sosial selalu berdasarkan nilai dan norma tertentu.
Nilai dan norma selalu menjadi dasar dalam melakukan interaksi sosial. Kembali ke contoh Pak Dicky Waluyo di atas. Keluarga Pak Dicky Waluyo harus melakukan interaksi sosial pada waktu mereka berpindah ke tempat tugas yang baru. Supaya interaksi sosial tersebut menca- pai tujuan sebagaimana diharapkan, Pak Dicky Waluyo dan keluarganya pertama-tama harus mempelajari nilai dan norma yang sangat di- junjung tinggi oleh masyarakat setempat. Mi- salnya, masyarakat setempat sangat men- junjung tinggi nilai sopan santun dan hidup sederhana. Pak Dicky dan keluarganya harus menampilkan diri mereka sebegitu rupa (dalam hal ini mereka harus memainkan peran sosial) supaya dalam interaksi dengan masyarakat se- tempat mereka dapat berperilaku sosial sesuai dengan nilai dan norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat tersebut. Keberhasilan mema- inkan peran ini dengan baik justru menjadi sya- rat bagi kesuksesan dalam melakukan interaksi sosial.
Sekarang coba kamu mengingat bagaimana ka- mu berinteraksi dengan orang lain. Dalam ber- interaksi dengan orang yang lebih kecil kamu memiliki cara yang khas. Demikian pula dengan teman sebaya, dengan orang yang lebih dewasa atau dengan orang yang belum kamu kenal. Se- muanya kamu lakukan berdasarkan nilai dan norma tertentu. Dapatkah kamu menyebutkan beberapa nilai atau norma yang kamu praktik- kan dalam berinteraksi dengan orang lain? 3. Interaksi sosial menuntut adanya komunikasi.
Dari seluruh penjelasan di atas tampak jelas bahwa interaksi sosial memang membutuhkan komunikasi. Dengan kata lain, interaksi sosial tidak
akan dapat terjadi tanpa adanya komunikasi. Saat
orang mulai berkomunikasi, saat itulah dia ber- alih dari agregasi dan memulai interaksi sosial. Sama seperti interaksi sosial didasarkan pada nilai dan norma tertentu, demikian pula halnya dengan komunikasi. Komunikasi dengan orang lain pasti didasarkan pada nilai dan norma ter- tentu.
Alat yang dipakai dalam berkomunikasi adalah
bahasa (lisan, tulisan, dan isyarat). Alat atau
sarana berkomunikasi ini berbeda dari satu ma- syarakat ke masyarakat lainnya karena adanya keanekaragaman bahasa. Bahasa yang dipakai pun mengandung nilai dan norma tertentu. Ada bahasa yang halus dan sopan dan ada bahasa atau tuturan tertentu yang dianggap kasar. Se- mua itu menunjukkan adanya nilai-nilai yang dimiliki oleh masyarakat pemakai bahasa ter- sebut.
Coba kamu perhatikan keadaan di sekitar tem- pat tinggalmu. Apakah masyarakat di daerah tersebut mengizinkan kalau ada seorang anak kecil yang berkomunikasi dengan orang yang lebih tua sambil berkacak pinggang? Apakah kamu sendiri diperbolehkan orang tuamu kalau berbicara dengan mereka sambil berteriak- teriak? Semua ini adalah contoh sederhana me- ngenai adanya nilai dan norma yang dijunjung tinggi dalam berkomunikasi.
2.1.2 Proses Interaksi
Ada faktor-faktor tertentu yang memengaruhi terjadinya interaksi sosial. Demikian juga ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk terjadinya suatu interaksi sosial.
A. Syarat-syarat terjadinya interaksi
sosial
Suatu interaksi sosial tidak akan terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu: adanya kontak
sosial dan adanya komunikasi.
Gambar 2.1.3
Para nelayan adalah salah satu kelompok sosial yang ada dalam masyarakat. Mereka memiliki pola interaksi dan tujuan yang ingin dicapai yang berbeda dengan kelompok
sosial lainnya.
Sumber: Majalah T
a. Kontak sosial
Kata “kontak” berasal dari bahasa Latin con
atau cum yang artinya besama-sama, dan tango atau
tangere yang berarti menyentuh. Jadi, kontak berarti
bersama-sama menyentuh secara fisik atau terjadi persentuhan secara badaniah. Namun demikian, dalam kontak sosial tidak harus terjadi persentuh- an. Orang dapat melakukan kontak sosial melalui pihak-pihak lain, atau dengan mempergunakan sa- rana tertentu seperti melalui telepon, televisi, dan sebagainya. Contohnya, dalam kunjungan pejabat negara ke suatu daerah ada pengawal yang meng- adakan kontak dengan temannya di tempat yang dituju dengan mempergunakan handytalky untuk mengabarkan bahwa mereka sedang di perjalanan atau hampir sampai. Hal tersebut juga dapat dise- but kontak atau interaksi sosial.
Kontak sosial dibedakan atas 3 bentuk, yaitu kontak antara individu dan individu, individu dan kelompok, kelompok dan kelompok.
1. Kontak antara individu dan individu lain. Mi- salnya, anak kecil dalam suatu keluarga akan mengadakan kontak sosial dengan ibu, ayah, dan saudara-saudaranya. Anak kecil itu akan mempelajari kebiasaan-kebiasaan dalam kelu- arganya, seperti sopan santun dalam hal ma- kan, mandi, dan lain-lain.
beberapa partai Islam berafiliasi untuk men- capai ketetapan itu, walaupun sesama partai tersebut terdapat beberapa perbedaan dalam tujuannya.
Kontak yang terjadi belum menjamin terjadi- nya hubungan timbal-balik. Kontak sosial tidak di- lihat dari suatu tindakan yang dilakukan, tetapi bagaimana tanggapan atas tindakan tersebut. Da- lam sebuah pertunjukan, seorang penggemar salah satu artis begitu antusias mengelu-elukan artis ter- sebut, bahkan sampai berteriak histeris. Tetapi, be- lum tentu sang artis tersebut tanggap terhadap ke- inginan penggemarnya itu. Penggemar itu dapat saja histeris dan bahkan pingsan, tetapi kontak so- sial tidak terjadi karena tidak adanya tanggapan dari artis tersebut secara individual.
Kontak sosial dapat terjadi dalam bentuk nega- tif dan positif yang dapat menghasilkan kerjasama. Contoh kontak sosial dalam bentuk positif adalah pedagang di pasar yang menjajakan barang da- gangannya kepada seorang pembeli. Dengan cara menjajakan yang sopan dan lembut, barang da- gangan yang bagus, dan harganya murah tentu pembeli tertarik dan membeli barang dagangan pedagang tersebut. Sebaliknya, akan terdapat kon- tak sosial dalam bentuk yang negatif bila si peda- gang menawarkan dagangannya dengan setengah hati dan acuh tak acuh. Tindakan penjual itu meng- akibatkan kontak sosial dan interaksi sosial tidak akan terjadi.
Di samping kontak positif dan negatif, dikenal pula kontak primer dan kontak sekunder.
1. Kontak primer terjadi bila seseorang berhubung- an secara langsung dengan orang lain melalui tatap muka. Misalnya, orang tersebut saling berjabat tangan, tersenyum, bercakap-cakap, dan sebagainya.
2. Kontak sekunder terjadi saat orang tidak berhu- bungan secara langsung, melainkan melalui perantara, yang dibagi atas:
a. kontak sekunder langsung, seperti melalui telepon;
b. kontak sekunder tidak langsung, melalui pihak ketiga, seperti pengantar surat, dan sebagainya.
b. Komunikasi
Komunikasi adalah pengiriman dan penerima- an pesan antara dua orang atau lebih sehingga pe- san yang dimaksud dapat dipahami (KBBI, 2001, hlm. 585). Orang yang berkomunikasi mengirimkan suatu pesan yang ingin disampaikan kepada or- ang lain dan orang lain tersebut bereaksi terha- dap pesan yang disampaikan. Pesan yang disam- paikan bisa dalam bentuk gerakan badan, pem- bicaraan atau menunjukkan sikap tertentu yang Gambar 2.1.4
Interaksi antara seorang ibu dan anak ini adalah contoh kontak antara individu dan individu lain.
Sumber: T
empo, 12-19
Agustus 2001
2. Kontak antara individu dan kelompok atau se- baliknya. Misalnya, seseorang memasuki par- tai politik. Ia harus tunduk ke dalam sistem atau ideologi yang ada dalam sistem kepartaian ter-sebut. Ia harus menyesuaikan diri serta patuh pada apa yang diinginkan oleh partainya.
3. Kontak antara kelompok dan kelompok. Misal- nya, dalam pemilu, partai-partai yang tidak memenuhi jumlah persentase yang ditetapkan oleh undang-undang Pemilu harus mengga- bungkan diri dengan partai lain atau tidak bo- leh mengikuti Pemilu berikutnya. Untuk itu,
dapat dipahami oleh orang lain. Misalnya, sese- orang berpapasan dengan kita. Orang tersebut tidak kita kenal, namun tiba-tiba mengajukan sebu- ah alamat pada secarik kertas. Walau kita hanya mengangguk dan menunjuk ke arah alamat yang ditanyakan, telah terjadi komunikasi. Contoh lain, seorang gadis menerima seikat bunga dari orang yang tak ia kenal. Kemudian gadis tersebut mena- nyakan siapa sang pengirim bunga dan mencari tahu apa maksud si pengirim. Bila ia tidak menda- patkan jawabannya maka reaksi tidak akan mun- cul. Selama reaksi tidak ada dan si gadis tidak tahu apa yang harus dilakukannya, maka sejauh itu pula tidak akan terjadi komunikasi. Adanya komunikasi, perasaan individu/kelompok akan diketahui oleh pihak lain. Dengan demikian dapat dibedakan an- tara kontak sosial dengan komunikasi.
Kontak dapat terjadi tanpa sebuah komunikasi. Contoh, kita bertemu dengan turis asing lalu mene- gurnya dengan bahasa Inggris dan melanjutkan dengan bahasa Indonesia. Sedangkan turis itu, yang ternyata berkebangsaan Perancis, mengangguk dan menjawab dengan bahasa Perancis. Dengan de- mikian, satu sama lain tidak dapat memahami maksudnya. Dalam hal ini kontak sudah terjadi, tetapi belum ada komunikasi. Maka, interaksi sosial belum terjadi jika tidak ada kontak dan komunikasi secara lengkap.