• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

3. Istilah

3.1 Definisi dan Proses Pembentukan Istilah

Kata ‘istilah’ di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007) diartikan sebagai kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Istilah dibagi menjadi dua jenis, yaitu istilah khusus dan istilah umum. Istilah khusus adalah istilah yang pemakaiannya dan atau maknanya terbatas pada bidang tertentu, misalnya istilah hukum, istilah politik, istilah ekonomi, istilah kedokteran, istilah komputer, istilah teknologi informasi dan lain-lain, sedangkan istilah umum adalah istilah yang menjadi unsur bahasa secara umum. Tidak dapat dipungkiri, perkembangan istilah itu sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Laju ilmu pengetahuan terus berkembang, konsep-konsep baru bermunculan. Dengan demikian, istilah-istilah baru diperlukan untuk merumuskan konsep-konsep tersebut.

Salah satu yang menjadi sumber perbendaharaan istilah dalam bahasa Indonesia adalah kosakata bahasa asing. Jika baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa serumpun tidak ditemukan istilah yang tepat, maka bahasa asing dapat dijadikan sumber peristilahan Indonesia. Istilah baru tersebut dibentuk dengan jalan menerjemahkan, menyerap, dan menerjemahkan sekaligus menyerap istilah asing (Handayani, 2009).

3.2 Ciri-ciri Istilah

Istilah adalah unsur bahasa, sebagaimana kalimat, kata, atau fonem. Kridalaksana (1985: 50-53) menyebutkan beberapa ciri istilah yang membedakannya dengan unsur-unsur bahasa yang lain. Ciri-ciri tersebut di antaranya, dari segi makna:

a. Hubungan antara ungkapan dan makna tetap tegas (monosemantis, dalam peristilahan yang baik tidak ada sinonim atau homonim).

b. Istilah itu secara gramatikal bebas konteks, artinya makna tergantung dari konteks dalam kalimat. Makna dapat dinyatakan dengan definisi atau rumus dalam ilmu yang bersangkutan.

Sementara itu, dari segi ungkapan:

a. Istilah tersebut bisa berupa kata benda, kata kerja, atau kata sifat.

b. Bangun istilah sepadan, misalnya:

- Kata tunggal, misalnya asimilasi.

- Kata majemuk, misalnya bobot atom.

- Kata bersambungan, misalnya pemuaian.

- Kata ulang, misalnya (arus) bolak-balik.

- Frase, misalnya tabung tanpa udara.

c. Istilah bersifat internasional, artinya makna istilah dikenal dalam ilmu yang bersangkutan, sedangkan bentuk ungkapan dalam suatu bahasa sedapat-dapatnya tidak jauh berbeda dengan bentuk ungkapan dalam bahasa lain.

3.3 Penerjemahan Istilah Asing

Handayani (2009) mengemukakan bahwa:

Istilah baru dapat terbentuk dengan jalan menerjemahkan istilah asing, sehingga istilah baru tersebut menjadi kosakata baru dalam bahasa Indonesia. Dalam menerjemahkan istilah asing tersebut tidak selalu berbentuk berimbang atau satu-lawan-satu (word-for-word). Hal terpenting dalam menerjemahkan istilah asing tersebut yaitu kesamaan dan kesepadanan konsep, bukan kemiripan bentuk luarnya atau makna harfiahnya.

Sementara itu, di dalam buku Pedoman Umum Pembentukan Istilah (2005) diuraikan bahwa pemadanan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia, dan jika perlu ke salah satu bahasa serumpun, dilakukan lewat penerjemahan, penyerapan, atau gabungan penerjemahan dan penyerapan. Demi keseragaman, sumber rujukan yang diutamakan ialah istilah Inggris yang pemakaiannya bersifat internasional karena sudah dilazimkan oleh para ahli dalam bidangnya. Penulisan istilah serapan itu dilakukan dengan atau tanpa penyesuaian ejaannya berdasarkan kaidah fonotaktik, yakni hubungan urutan bunyi yang diizinkan dalam bahasa Indonesia.

Upaya pemadanan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia melalui penerjemahan dilakukan dengan dua cara, yaitu penerjemahan langsung dan penerjemahan dengan perekaan.

a. Penerjemahan Langsung

Istilah Indonesia dapat dibentuk lewat penerjemahan berdasarkan kesesuaian makna, tetapi bentuknya tidak sepadan. Misalnya, supermarket diterjemahkan menjadi pasar swalayan. Penerjemahan dapat pula dilakukan berdasarkan kesesuaian bentuk dan

makna. Misalnya, bonded zone diterjemahkan menjadi kawasan berikat. Untuk itu, dalam pembentukan istilah lewat penerjemahan perlu diperhatikan pedoman berikut.

1) Penerjemahan tidak harus berasas satu kata diterjemahkan dengan satu kata.

Misalnya, psychologist diterjemahkan menjadi ahli psikologi.

2) Istilah asing dalam bentuk positif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuk positif, sedangkan istilah dalam bentuk negatif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuk negatif pula. Misalnya, bound form diterjemahkan menjadi bentuk terikat (bukan bentuk takbebas), illiterate diterjemahkan menjadi niraksara.

3) Kelas kata istilah asing dalam penerjemahan sedapat-dapatnya dipertahankan pada istilah terjemahannya. Misalnya, transparent (adjektiva) diterjemahkan menjadi bening (adjektiva).

4) Dalam penerjemahan istilah asing dengan bentuk plural, pemarkah kejamakannya ditanggalkan pada istilah Indonesia. Misalnya, alumni diterjemahkan menjadi lulusan.

b. Penerjemahan dengan Perekaan

Adakalanya upaya pemadanan istilah asing perlu dilakukan dengan menciptakan istilah baru. Istilah factoring, misalnya, sulit diterjemahkan atau diserap secara utuh.

Dalam khazanah kosakata bahasa Indonesia/Melayu terdapat bentuk anjak dan piutang yang menggambarkan pengalihan hak menagih hutang. Lalu, direka istilah anjak piutang sebagai padanan istilah factoring. Begitu pula pemadanan catering menjadi jasa boga dan invention menjadi rekacipta diperoleh lewat perekaan.

Di sisi lain, upaya pemadanan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia melalui gabungan penerjemahan dan penyerapan mengindikasikan bahwa istilah bahasa Indonesia dapat dibentuk dengan menerjemahkan dan menyerap istilah asing sekaligus.

Misalnya, clay colloid diterjemahkan menjadi koloid lempung, subdivision diterjemahkan menjadi subbagian.

Dalam menerjemahkan istilah asing di bidang komputer dan teknologi informasi, medan dan ciri makna istilah asing masing-masing perlu diperhatikan dengan baik sehingga kesepadanan itu nantinya dapat terealisasi sebagaimana mestinya. Mengacu kepada Pedoman Khusus Pembentukan Istilah Komputer (2001), pemadanan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia dilakukan berdasarkan ketentuan sebagai berikut:

a. Istilah asing dipadankan dengan bahasa Indonesia yang umum.

Contoh: delete - hapus, exit - keluar.

b. Istilah asing dipadankan dengan bahasa Indonesia yang tidak lazim.

Contoh: scan - pindai, scanner - pemindai.

c. Istilah asing dipadankan dengan bahasa serumpun yang lazim.

Contoh: batch - tumpak, homepage - laman.

d. Istilah asing dipadankan dengan bahasa serumpun yang tidak lazim.

Contoh: discharge - luah, download - unduh.

e. Istilah asing diserap ke dalam bahasa Indonesia:

1) tanpa melalui proses penyesuaian ejaan.

Contoh: monitor - monitor, internet - internet.

2) melalui penyesuaian ejaan.

Contoh: access - akses, computer - komputer.

3) melalui penyesuaian lafal.

Contoh: design - desain, manager - manajer.

4) melalui penyesuaian ejaan dan lafal.

Contoh: management - manajemen, architecture - arsitektur.

5) melalui penambahan vokal pada akhir kata yang hanya berupa satu suku kata, sekaligus dengan penyesuaian ejaan.

Contoh: byte - bita.