• Tidak ada hasil yang ditemukan

JAYA EKADAS

Dalam dokumen EKADASI hari Tuhan Sri Hari non picture (Halaman 37-40)

Maharaja Yudhisthira berkata, "O Tuhan dari segala penguasa, Sri Krishna segala pemujian kehadiran-Mu! O Penguasa seluruh alam, hanya Andalah sumber dari 4 jenis mahluk hidup (mereka yang lahir dari telur dan biji-biji, dan mereka yang lahir dari em- brio). Andalah sumber segala penyebab, O Tuhan, oleh karena itu Anda adalah Pencipta, Pemelihara dan Pelebur. O Tuhan, Anda telah menjelaskan dengan baik hati kepada hamba hari yang suci yang dikenal dengan nama Sat-tila Ekadasi yang terjadi menjelang bulan mati dan bulan Magha (Januari-Februari). Sekarang mohon jelaskan kepada hamba Ekadasi yang, berikutnya, yang terjadi menjelang purnama dalam bulan ini. Dengan nama apa Ekadasi itu disebutkan, dan bagaimana proses menjalankannya? Arca apa yang harus di puja pada hari yang suci ini, yang merupakan hari yang paling Anda sayangi?."

Tuhan Sri Krishna menjawab, "O Yudhistira, dengan senang hati Aku akan men- ceriterakan kepada anda tentang Ekadasi yang terjadi menjelang bulan purnama perten- gahan bulan Magha ini. Ekadasi ini bisa melebur segala macam reaksi dosa dan pengaruh setan-setan yang mengimbasi roh (jiwatman). Hari itu dinamai Jaya Ekadasi dan roh yang beruntung yang dapat melakukan puasa pada hari yang suci ini akan terbebaskan dari penderitaan yang besar yang disebabkan oleh gangguan setan-setan. Dengan demikian tidak ada hari yang lebih baik dari pada Ekadasi ini. Karena ia benar- benar memberikan kebebasan dari kelahiran dan kematian. Hari ini hendaklah dihormati dan dilaksanakan secara berhati-hati dan tekun. Oleh karena itu Aku minta anda mendengarkan ceritera Ku dengan sangat penuh perhatian O Pandawa, jika Aku menerangkan ceritera yang indah ini, yang merupakan ceritera tentang Ekadasi, suatu ceritera yang Aku pernah uraikan di dalam Padma Purana"

"Pada jaman dahulu kala di planet-planet surga Dewa Indra memerintah kerajaan dewanya dengan sangat baik dan semua dewa-dewa yang tinggal di sana sangat berbaha- gia dan merasa damai. Di sebuah hutan Nandana yang sangat indah dan dihiasi dengan bunga-bunga parijata, Dewa Indra minum nektar bilamana saja beliau suka dan menikma-

ti pelayanan dari 50 juta gadis-gadis remaja yang cantik, yang menari dengan indahnya un- tuk kesenangannya.

Banyak penyanyi-penyanyi yang dipimpin oleh Puspadanta beryanyi dengan suara mereka yang sangat manis yang tidak ada bandingannya. Citrasena, kepala musisi Dewa Indra juga hadir di sana, yang didampingi oleh isterinya Malini dan Putranya yang tam- pan, Maliawan. Seorang apsari bernama Puspawati merasa sangat tertarik pada Maliawan, sesungguhnya panah Dewa Asmara menembus jantung hatinya. Badannya yang indah dan gemulai diiringi dengan gerak aslinya yang memukau sangat mempesona Maliawan.

O raja, dengarkanlah apa yang Aku paparkan tentang kecantikan Puspawati: dia mempunyai lengan yang indah yang tidak ada bandingannya dengan mana dia akan me- meluk laki-laki seperti terbelit bunga padma, hampir mendekati kupingnya yang indah, yang dihiasi dengan giwang yang sangat mengagumkan; lehernya yang kurus dan jenjang dihiasi dengan kalung seperti sanka, pinggangnya sangat ramping hanya segenggam, ping- gulnya lebar dan pahanya seperti pudak sinungsang (terbalik)" kecantikannya yang alami itu diimbangi oleh perhiasan-perhiasan yang indah gemerlapan dengan busana yang ang- gun, susunya "nyangkih", dan melihat kakinya, kita akan terkenang pada bunga padma indah yang baru mekar.

Dengan melihat Puspawati dalam segala keindahan surgawi itu, Maliawan seketika terpukau. Mereka bersama-sama dengan penari-penari lainnya bertugas untuk menye- nangkan Dewa Indra dengan menyanyi dan menari dengan sangat mempesona, tetapi ka- rena mereka dimabuk asmara satu sama lainnya karena kena panah Dewa Asmara me- nembus hati mereka, birahi mereka tumbuh, sehingga mereka tidak mampu menyanyi atau menari dengan baik di hadapan Dewa Indra penguasa Surga.1 Ucapan-ucapan mere- ka salah, ritmetnya ngawur, Dewa Indra segera mengetahui sumber dari ketidak beresan itu. Dengan sangat tersinggung pada saat menyaksikan musik itu, beliau menjadi sangat marah lalu berteriak, "Kamu si tolol yang tidak berguna, kamu berpura-pura menyanyi untukku, tetapi sebenarnya saling berkasih-kasihan satu dengan yang lainnya. Kamu men- gejek aku. Aku kutuk kamu berdua, dari saat ini dan selanjutnya kamu akan menderita se- bagai pisaca. Sebagai suami istri pergilah ke bumi, dan nikmati reaksi kesalahan terha- dapku."

Dengan sangat terkejut dan terpana mendengar kata-kata yang kasar ini, Maliawan dan Puspawati segera menjadi burung dan jatuh dari hutan Nandana yang indah itu ke puncak pegunungan Himalaya yang berada di planet bumi ini. Dengan kesedihan yang tiada taranya dan dengan berkurangnya kecerdasan dewanya akibat dari kutukan yang ke- jam dari Dewa Indra, mereka kehilangan penghayatan indera-indera, seperti: rasa bau, ra- ba. Di sana begitu dingin dan sangat menderita di puncak gunung Himalaya yang penuh salju dan es sehingga mereka tidak bisa menikmati rasa kantuk untuk tidur.

Dengan mengembara tanpa tujuan ke sana kemari di bagian daerah yang mengeri- kan ini, Maliawan dan Puspawati menderita makin lama makin parah, dari menit ke menit makin menderita, walaupun mereka tinggal di suatu goa, oleh karena salju tidak henti- hentinya turun, dan mereka sangat dingin sehingga gigi mereka gemeretak terus menerus, dan bulu kuduk berdiri disebabkan mereka sangat takut dan kebingungan.

Dalam situasi yang sangat memutusasakan ini Maliawan berkata kepada Puspawali, dosa yang kejam apakah yang pernah kita lakukan sehingga kita menderita di dalam badan

pisaca ini, serta berada dalam lingkungan yang sangat memprihatinkan ini? Ini benar-benar tempat neraka, Walaupun neraka itu sangat mengerikan, tetapi penderitaan yang kita ala- mi di sini terasa lebih kejam dari itu. Oleh karena itu sekarang jelaslah bagi setiap orang penderitaan orang yang berbuat dosa sangat mengerikan sehingga jangan sampai seo- rangpun pernah melakukan dosa dalam bentuk apa saja.

Dan demikianlah pasangan yang menderita itu berjuang keras di tengah-tengah sal- ju dan es. Namun karena mereka mujur, kebetulan pada hari itu juga adalah hari Jaya Ekadasi adalah Ekadasi yang terjadi menjelang purnama pada pertengahan bulan Magha Pada saat itu mereka sangat menderita sehingga mereka lupa makan dan minum dan juga tidak dapat berburu atau bahkan makan buah-buahan dan daun-daunan. Jadi dengan tan- pa mereka sadari, mereka telah melaksanakan Ekadasi dengan berpuasa penuh dari semua makan dan minum. Disebabkan penderitaan mereka sangat berat Maliawan dan Puspawa- ti terduduk lemas di bawah sebatang pohon Pipal dan bahkan mereka tidak mampu bangkit. Matahari sudah terbenam pada saat itu.

Malam harinya malah lebih dingin dari pada siang harinya. Mereka menggigil di tengah-tengah hujan salju dengan gigi mereka gemeretak tak henti-hentinya, dan ketika mereka sudah kehilangan rasa karena dingin (numb) mereka "berpelukan demikian mereka tidak bisa menikmati tidur maupun bermesraan. Demikianlah penderitaan sepanjang ma- lam akibat kutukan yang ampuh dari Dewa Indra.

Namun OYudhistira, karena hikmah dari puasa mereka yang dilakukan dengan ti- dak sengaja pada Jaya Ekadasi itu, dan di samping itu mereka tetap terjaga sepanjang ma- lam, maka mereka dikaruniai. Sekarang dengarkanlah apa yang terjadi keesokan harinya. Ketika Dvadasi telah muncul, Maliawan dan Puspawati telah kehilangan bentuk pisaca

mereka dan sekali lagi kembali memiliki wajah seperti asalnya, cantik dan tampan surgawi dengan mengenakan pakaian dengan keheranan, sebuah kendaraan surga (Vimana) tiba di tempat itu. Maka para apsara-apsari surga secara serempak menyanyi dan memuja mereka ketika pasangan ini naik ke dalam kendaraan surga yang indah itu dan langsung menuju surga, dengan diiringi doa restu oleh setiap orang. Tidak lama kemudian Maliawan dan Puspawati tiba di Ambarawati adalah ibu kota kerajaan Dewa Indra dan kemudian mere- ka langsung menghadap beliau dan menghaturkan sembah sujud mereka dengan gembira. Dewa Indra sangat heran melihat, bahwa mereka telah kembali sebagai wujud asal mereka begitu cepat sesudah beliau mengutuk mereka untuk menderita sebagai pisaca

yang bertempat tinggal jauh di bawah kerajaan surga. Dewa Indra lalu bertanya kepada mereka, Perbuatan yang istimewa baik apa yang kalian telah lakukan sehingga kalian bisa membuang badan pisaca begitu cepat sesudah aku mengutuk kalian? Siapa yang telah membebaskan dari ketukan Ku yang sangat ampuh itu?

Maliawan menjawab, O Dewa Indra, oleh karena karunia Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Sri Vasudevalah yang membebaskan kami, di samping itu juga karena kekua- tan pengaruh Jaya Ekadasi, yang kami lakukan dengan tidak sengaja, sehingga kami ter- bebas dari penderitaan kami melaksanakan bhakti kehadapan Sri Vishnu dengan melak- sanakan peraturan Jaya Ekadasi adalah hari yang paling Beliau sayangi, maka kami dengan bahagia telah dikembalikan seperti status kami semula.

Dewa Indra berkata, "Karena anda telah melayani Tuhan Yang Maha Kuasa, Sri Kesava, dengan melakukan puasa Ekadasi, maka anda patut dihormati termasuk olehku juga, dan aku bisa melihat, bahwa kalian sekarang benar-benar sepenuhnya telah bebas dari dosa. Siapapun yang melaksanakan pelayanan bhakti kehadirat Tuhan Sri Hari, atau kehadapan Dewa Siva, akan menjadi orang yang patut dihormati, bahkan olehku juga. Tentang hal ini tidak usah diragukan lagi. Lalu Dewa Indra memberikan Maliawan dan Puspawati kebebasan untuk berjalan-jalan menikmati satu sama lain di sekitar planet- surga.

Oleh karena itu, O Yudhisthira, seseorang hendaknya dengan ketat melaksanakan puasa pada hari Tuhan Hari, terutama pada Jaya Ekadasi, yang dapat membebaskan se- seorang dari reaksi dosa membunuh bahkan membunuh seorang brahmana pun. Orang yang saleh, yang melaksanakan puasa ini dengan penuh keimanan dan bhakti akan sama

pengaruhnya dengan orang yang memberikan segala macam dana punia dengan orang yang melakukan segala macam korban suci.

Dan dengan orang mandi di tempat-tempa suci sebagai bertirta-yatra, berpuasa pada Jaya Ekadasi memberikan seseorang kualifikasi untuk bertempat tinggal di Vaikunta dan menikmati kebahagiaan yang abadi. Selama bermilyar-milyar yuga, sebenarnya dapat dikatakan suatu hal yang kekal. O raja yang agung, bahkan seseorang yang hanya men- dengarkan, membaca kemuliaan Jaya Ekadasi ini akan mendapatkan karunia yang sama dengan mereka yang melakukan korban suci agni-homa, dalam mana semua sloka Sama Veda diucapkan.

Dengan demikian berakhirlah ceritera tentang kemulian Magha-Sukla Ekadasi atau

Jaya Ekadasi, dari Bhavisya-uttara-purana.

Catatan

1. Kamadeva, personifikasi nafsu, memiliki lima nama menurut kamus Amara-kosa: kandarpa-darpako’ nanga

kamah panca –saraih smarah. Dewa Asmara memiliki lima nama: (1) Dewa Asmara : (2) Darpaka, ‘dia yang

menghalangi kejadian masa depan’ : (3)Ananga, ‘dia yang tidak memiliki badan fisik; (4) Kama, ‘personi- fikasi nafsu’ ; dan (5) Panca-saraih, ‘dia yang memegang lima panah’.”

Kandarpa. Dalam bab sepuluh Bahagavad-gita (10.28), Sri Krsna bersabda, prajanas casmi kandarpah : “ten- tunya untuk berketurunan, Aku adalah Kandarpa.” Kata kandarpa juga berarti” sangat cantik/tampan.” Kandarpa muncul sebagai putra Krishna Pradyumna di Dvaraka.

Darpaka. Nama ini menunjukkan Dewa Asmara bisa merasakan apa yang terjadi dan mencegah untuk

terjadinya. Khususnya, dia mencoba untuk merintangi aktivitas spiritual yang murni dengan memikat pikiran seorang dan dengan setengah memaksa menyibukkan seorang di dalam kese- nangan indera material.

Ananga. Suatu kejadian, ketika Dewa Asmara mengganggu meditasi Dewa Siva, dewa yang perkasa itu

membakarnya menjadi abu. Tetap saja, Dewa Siva memberi Dewa Asmara memberikan berkat bahwa dia dapat tetap bertindak di dunia ini bahkan tanpa memiliki badan fisik.

Kama. Dalam Bhagavad-gita (7.11) Sri Krishna bersabda, dharmaviruddho bhutesu kamo smi: “Aku hubun- gan suami istri yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip keagamaan.”

Panca-saraih. Lima panah yang digunakan oleh Dewa Asmara menembus pikiran dari mahluk hidup yai-

tu rasa, sentuhan, suara, bau-bauan dan pandangan.

Inilah lima nama dari Dewa Asmara, yang mempesonakan seluruh mahluk hidup dan membuat mereka melakukan apapun yang dia inginkan. Tanpa memperoleh karunia dari guru dan Sri Krishna, seorang tidak bisa menentang kekuatan ini.

7

Dalam dokumen EKADASI hari Tuhan Sri Hari non picture (Halaman 37-40)