• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPAMOCANI EKADAS

Dalam dokumen EKADASI hari Tuhan Sri Hari non picture (Halaman 46-51)

Maharaja Yudhistira berkata, “O Tuhan Yang Maha Esa, hamba telah mendengar uraian tentang Amalaki Ekadasi yang terjadi menjelang purnama di bulan Phalguna (Fe- bruari-Maret) dari-Mu. Dan sekarang hamba ingin mendengar tentang Ekadasi yang ter- jadi menjelang bulan mati di bulan Caitra (Maret-April), apakah nama Ekadasi tersebut dan apakah karunia bila seorang melaksanakannya, O Tuhan?"

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, menjawab, "O... Raja yang agung, demi untuk kepentingan setiap orang Aku akan uraikan kemudian Ekadasi ini, yang terkenal dengan nama Papamocani. Ceritera tentang Ekadasi ini pernah di uraikan oleh Resi Lomasa ke pada Maharaja Mandhata. Raja Mandhata bertanya kepada sang Re- si. O Resi yang agung, demi untuk kepentingan masyarakat, ceritakanlah tentang Ekadasi yang terjadi pada bulan Caitra dan uraikanlah proses dalam melaksanakannya.

"Resi Lomasa menjawab, "Ekadasi yang terjadi menjelang bulan mati bulan Caitra dinamakan Papamocani Ekadasi. Bagi bhakta yang taat dan yakin, Ekadasi ini akan men- gusir pengaruh hantu dan para raksasa, O singa di antara manusia, Ekadasi ini juga menghadiahkan 8 kesempurnaan hidup, memenuhi semua keinginan, menyucikan hidup seorang dari segala reaksi dosa, dan menjadikan seorang saleh sepenuhnya.

"Sekarang dengarkanlah ceritera yang berhubungan dengan Ekadasi ini dan Citra- ratha, pemimpin para Gandharwa (pemusik surga). Sekali, selama musim semi Citraratha datang bersama-sama dengan para penari surga, ke sebuah hutan yang sangat indah den- gan bermacam-macam bunga Di sana beliau dan gadis-gadis penari itu bergabung dengan gandarwa-gandarwa yang lain dan para Kinnara, termasuk juga dengan Dewa Indra, yang menjadi Raja surga, datang juga ke hutan itu untuk bersenang-senang. Setiap orang mera- sakan bahwa tak ada kebun seindah hutan itu. Para Resi juga hadir melaksanakan perta- paan dari penebusan dosa. Khususnya para dewa sangat merasa senang berkunjung ke tempat itu pada bulan-bulan Caitra dan Vaisakha (April-Mei).

"Seorang resi yang agung bernama Medhavi tinggal di hutan, dan salah seorang penari yang sangat menarik selalu berusaha menggodanya. Penari ini bernama Manjugho- sa, dengan berbagai cara berusaha memikat hati resi yang agung itu. Tapi karena hormat dan rasa takut akan kehebatan resi itu yang diperoleh dengan melakukan pertapaan berta- hun-tahun, sehingga gadis itu tak berani terlalu dekat dengannya. Sedikitnya 1 mile dari resi itu, dia tinggal dan mulai menyanyi dengan suaranya yang manis sambil memainkan tambora. Dewa Kama (asmara) sendiri merasa bergairah sewaktu dia melihat dan men- dengar nyayiannya dan bau bedak cendana yang tercium dari badannya. Dewa Kama in- gat akan pengalamannya yang pahit sewaktu menggoda Dewa Siva, oleh karena itu dia ingin membalas dendam dengan cara menggoda Resi Medhavi. (waktu itu Dewa Siva sangat marah dan membakar Dewa Asmara jadi abu dengan api yang keluar dari mata ke- tiga-nya).1

Dengan cara menggunakan alis mata Manjughosa sebagai busur, kerlingan ma- tanya sebagai tali busur, matanya sebagai panah dan buah dadanya sebagai target, Dewa Kama mendekati Medhavi dan menggodanya agar Sang Resi menghentikan semedinya dan melanggar janjinya. Jadi, Dewa Kama menginginkan Manjughosa sebagai alatnya, dan ketika penari itu dekat dengan Resi yang muda dan hebat itu diapun merasa sangat terta- rik juga jadinya. Mengetahui bahwa sang Resi sangat bijaksana dan terpelajar, memakai tali suci, mencirikan seorang sannyasi dan duduk dengan damai di asrama Cyavana Resi, kemudian Manjughosa datang di hadapannya.

Ia mulai menyanyi dengan manisnya, dan suara gemerincing dari gelang-gelang tangan dan kakinya membuat suatu simponi musik yang merdu sekali. Resi Medhavi me- nyadari bahwa gadis yang cantik itu ingin bersenang-senang dengannya.

Pada saat itu Dewa Asmara menambah pengaruhnya pada Manjughosa dengan ca- ra melepaskan senjatanya yang ampuh yaitu rasaan, sentuhan, pandangan, bau dan suara. Dengan perlahan-lahan akhirnya Manjughosa mendekati Medhavi, gerakan badannya dan kerlingan matanya yang manis menggoyahkannya. Diletakkannya tambora/alat musiknya dan pelan-pelan dipeluknya sang resi dengan kedua tangannya, bagaikan hembusan angin mengenai sebatang pohon yang kuat. Merasa goyah, akhirnya Medhavi menghentikan meditasinya dan memutuskan untuk bercengkrama dengannya. Dan seketika kesucian hati dan pikirannya meninggalkan beliau. Siang dan malam mereka menggunakan wak- tunya untuk bersenang-senang dan dalam waktu yang cukup lama.2

"Menyadari bahwa kesucian sang resi semakin berkurang, Manjughosa memu- tuskan untuk meninggalkannya dan kembali pulang. Dia. berkata, "O resi ijinkanlah ham- ba untuk kembali". “resi menjawab, tapi ... anda kan baru saja tiba di sini, O devi, ting- gallah dulu disini setidaknya sampai besok." "Karena takut dengan kesaktian sang resi, Manjughosa tinggal bersama Resi Medhavi selama 57 tahun, 9 bulan, 3 hari, tapi bagi resi sendiri rasanya hanya sekejap. Berulang kali Manjughosa memohon untuk diijinkan pu- lang dan meminta pada sang resi. Ijinkanlah hamba untuk meninggalkan tempat ini. Resi Medhavi menjawab, dengarkanlah sayang... tinggallah bersamaku semalam lagi dan ka- mu bisa meninggalkanku besok pagi.

Tinggallah bersamaku sampai aku selesai melaksanakan kewajiban pagi hariku dan setelah aku mengucapkan gayatri mantra. Tunggulah sampai saat itu.

"Manjughosa masih merasa takut dengan kesaktian Resi Medhavi, dia berusaha tersenyum dan berkata, "berapa lama nanti anda akan menyelesaikan kewajiban dan ritual anda? Tolong kasihanilah hamba, bukankah kita telah bersama-sama sepanjang waktu. Sang resi merenungkan tahun-tahun yang telah beliau gunakan bersama Manjughosa dan kemudian berkata dengan keheranan "Mengapa ..., aku telah hidup bersamamu lebih dari 50 tahun. Matanya menjadi merah dan mulai mengeluarkan percikan-percikan. Resi Med- havi menganggap bahwa Manjughosa adalah personalitas kematian yang menghancurkan kehidupan spiritualnya.

"Perempuan bangsat kamu! Kamu telah menghancurkan hasil tapa brataku menja- di abu.Dengan menggigil karena marah, dia mengutuk Manjughosa, perempuan rendah dan hina kamu hanya tahu dosa semoga penderitaan selalu menyertaimu!

Jadilah hantu pisaca yang jahat!”

"Mendengar kutukan Resi itu, Manjughosa yang cantik memohon belas kasihan- nya, "O brahmana yang mulia, ampunilah hamba dan tariklah kutukanmu' O resi, dikata- kan bahwa dengan bergaul dengan para bhakta yang murni akan segera memberikan hasil, tapi kutukannya akan terjadi setelah tujuh hari. Hamba telah bersamamu selama 57 tahun, o resi ampunilah hamba!".

"Resi Medhavi menjawab, "O Wanita malang, apa yang mesti aku perbuat? Kamu telah menghancurkan tapaku, tapi walaupun anda telah melakukan perbuatan yang berdo- sa ini, aku akan memberitahukanmu cara untuk bebas dari kutukanku itu. Menjelang bu- lan mati di bulan Caitra ada hari Ekadasi yang sangat berkarunia sekali yang mampu menghapuskan segala dosa. Nama hari suci itu adalah Papamocani, O devi yang cantik, barang siapa yang berpuasa pada hari yang mulia itu akan sepenuhnya bebas dari kelahi- ran yang berwujud mengerikan"

"Setelah berkata demikian sang resi meninggalkannya dan pergi menuju ashram ayahnya. Melihat putranya datang ke pertapaannya, Resi Cyavana berkata, "O putraku,

engkau telah berbuat hal-hal yang menyebabkan tapa bratamu hancur." Medhavi menja- wab, "O ayahanda. penebusan dosa apa yang seharusnya hamba laksanakan untuk meng- hapuskan dosa selama hamba bergaul intim dengan Manjughosa, gadis penari itu, mohon beritahukanlah pada nanda."

"Resi Cyavana menjawab, "putraku sayang kamu harus melaksanakan puasa pada hari Papamocani Ekadasi, yang terjadi menjelang bulan mati di bulan Caitra. Hal itu akan mampu menghapus dosa-dosamu, betapapun menyedihkannya,”

"Kemudian Resi Medhavi mengikuti nasehat ayahnya, dengan berpuasa pada wak- tu Papamocani Ekadasi. Sehingga segala dosanya terhancurkan dan beliau mendapatkan kembali karunianya. Demikian pula halnya Manjughosa, setelah berpuasa Papamocani Ekadasi, dia terbebas dari kutukan sebagai hantu pisaca itu. Kembali ke tempat asalnya semula di planet surga.

"Lomasa Resi melanjutkan ceritanya, "Jadi, keuntungan besarlah yang diperoleh bila seorang berpuasa pada hari Papamocani Ekadasi dengan penuh keyakinan dan rasa bhakti sehingga segala dosanya akan terhapuskan, O raja."

"Sri Krishna menyimpulkan, "O Raja Yudhistira, siapapun yang mendengar dan membaca tentang uraian Papamocani Ekadasi ini akan memperoleh karunia yang sama, bila dia mempuniakan 1000 ekor sapi. Dosanya juga akan dihapuskan, walaupun dosa membunuh seorang brahmana, dosa menggugurkan kandungan, minum-minuman keras ataupun dosa berhubungan kelamin dengan istri guru. Seperti itulah karunia yang dipero- lehnya, bila dilaksanakan dengan taat dan benar puasa hari yang suci, Papamocani Ekada- si ini yang sangat Aku cintai dan sangat berkarunia sekali."

Dengan demikianlah berakhirlah uraian tentang keagungan Caitra Krishna Ekadasi

atau Papamocani Ekadasi yang dipetik dari Bhavisya-uttara Purana.

Catatan

1. Setelah Dewa Siva kehilangan istri tercintanya Sati Dewi pada arena korban suci Prajapati Daksa, Dewa Siva menghancurkan seluruh arena korban suci itu. Kemudian dia membawa mertuanya Daksa untuk memberikan kehidupan dengan memberikannya kepala seekor kambing, dan pada akhirnya dia duduk un- tuk bermeditasi selama enam puluh ribu tahun. Dewa Brahma, bagaimanapun, mengatur agar Kamadeva (Dewa Asmara) untuk datang ke tempat Dewa Siva dan mengganggu meditasinya. Dengan menggunakan panah dalam bentuk suara, rasa, sentuhan, kerlingan, dan bau-bauan, Dewa Kama menyerang Dewa Siva, yang pada akhirnya tersadar dari keadaan meditasinya. Dia begitu marah dan menjadi terganggu dan den- gan segera ia membakar Dewa Asmara menjadi abu dengan suatu pandangan dari mata ketiganya. 2. Pergaulan wanita begitu kuat sekali sehingga seorang pria dapat lupa akan waktu, energi, milik dan bahkan

identitas kesadaran dirinya. Seperti yang dijelaskan dalam Niti-sastra, striya caritram purusasya bhabyam daivo

vijanati kuto manusyah: “Bahkan para dewa tidak bisa memprediksi prilaku dari seorang wanita. Tidak pun

mereka bisa mengerti keberuntungan terhadap seorang pria atau bagaimana hal itu akan menentukan tu- juannya.”

3. Menurut Yajnavalkya Muni, “seorang (brahmacari) yang menginginkan kehidupan spiritual seharusnya me- ninggalkan segala pergaulan dengan wanita, termasuk berpikir tentang mereka, melihat mereka, berbicara dengan mereka di sebuah tempat yang tersembunyi, mendapatkan pelayanan dari mereka, atau melakukan hubungan suami-istri dengan mereka.”

10

KAMADA E K A D AS I

Sri Suta Gosvami berkata, "O para resi ijinkanlah saya untuk menyampaikan sem- bah sujud saya kehadapan Yang Maha Kuasa Sri Hari, Putra dari Devaki dan Vasudeva, Sehingga atas karunianya saya bisa menguraikan hari suci yang mampu menghancurkan dosa-dosa. Tuhan Sri Krishna menguraikan keagungan ke 24 Ekadasi yang utama, peng-

hancur segala dosa kepada raja Yudhistira yang tekun berbhakti. Dan sekarang saya akan uraikan kembali hal itu kepadamu. Para resi yang agung telah memilih ke 24 ceritera itu dari 18 Purana demi untuk kemuliaan mereka.

"Maharaja Yudhistira bertanya, O Sri Krishna, O Vasudeva, terimalah sembah su- jud hamba. Mohon uraikanlah kepada hamba Ekadasi yang terjadi menjelang purnama pada bulan Caitra (Maret-April). Apakah nama Ekadasi itu dan bagaimanakah kemuliaan- nya?.

"Tuhan Sri Krishna menjawab, O Yudhistira, dengarkanlah dengan penuh perha- tian, Aku ceritakan sejarah Ekadasi yang suci ini, cerita sewaktu Raja Dilipa kakek Sri Ramacandra bertemu dengan Vasistha Muni.

"Raja Dilipa bertanya kepada Vasistha Muni, “O brahmana yang bijak, hamba ingin mendengar tentang Ekadasi yang terjadi menjelang purnama di bulan Caitra. Mohon uraikanlah hal itu pada hamba. "Vasistha Muni menjawab, O Raja keinginanmu sangat baik. Dengan senang hati saya akan ceriterakan apa yang ingin anda ketahui. Ekadasi yang terjadi menjelang purnama di bulan Caitra bernama Kamada Ekadasi. Ekadasi ini meng- hancurkan dosa-dosa, bagaikan kebakaran hutan yang membakar habis kayu-kayu kering. Memberikan karunia yang besar kepada mereka yang melaksanakan puasa dengan penuh keyakinan dan sangat menyucikan sekali. O raja, dengarkanlah sekarang ceritera kuno ini, yang begitu berkarunia dan mengusir dosa-dosa walaupun dengan cara mendengarkannya saja.

"Dahulu kala, ada sebuah kota yang bernama Ratnapura, yang berhiaskan emas dan permata dimana ular-ular yang bertaring tajam menikmati mabuk-mabukan. Yang memerintah di kerajaan itu adalah Raja Pundarika yang penduduknya terdiri dari gandarva, kinnara dan apsara. Di antara Gandharva ada yang bernama Lalita dan istrinya bernama Lalita, seorang penari yang cantik. Mereka sangat mencintai satu sama lainnya dan ru- mahnya penuh dengan kekayaan dan makanan yang baik. Lalita mencintai istrinya dan Lalita mencintai suaminya dan selalu berpikir tentang dia serta menempatkan di lubuk ha- tinya, suatu hari ada acara pesta di kerajaan itu, banyak Gandharva, yang menari dan Lali- ta bernyanyi sendirian tanpa istrinya. Sehingga dia tak sepenuhnya bisa konsentrasi sewak- tu menyanyi yang menyebabkan nada dan irama lagunya kurang baik. Akhirnya dia men- gakhiri nyanyiannya dengan kacau. Dan salah satu dari ular yang hadir, mendengarkan nyanyianya seperti itu memberitahukan raja bahwa dia tak menyanyi dengan baik karena selalu berpikir tentang istrinya, dan bukan untuk memuaskan Sang raja. Mendengar hal ini raja menjadi marah dan matanya berubah kemerahan. Segera dia berteriak. Hai bajingan .... bangsat, karena kamu selalu berpikir tentang wanita dan bukan mempersembahkan nyanyian untuk memuaskan rajamu sebagai kewajiban seorang abdi, aku mengutukmu .... jadilah kanibal!

"O raja, seketika itu Lalita menjadi raksasa pemakan manusia yang menakutkan sekali. Panjang lengannya 8 mil, mulutnya bagaikan gua yang besar, matanya bagaikan bu- lan dan matahari, hidungnya seperti terowongan, lehernya seperti gunung, pinggangnya 4 mil, lebarnya dan tinggi badannya sampai 64 mile. Lalita yang malang ini mendapatkan hukuman karena penghinaan kepada raja Pundarika. Melihat suaminya berubah menjadi raksasa, Lalita menjadi sangat sedih dan berpikir. "Suamiku menderita karena kutukan sang raja, bagaimana nanti nasibku? Kemana aku harus pergi? Apa yang harus aku kerja- kan? Sambil berpikir demikian dia menderita dari hari ke hari. Dia berkelana kesana ke- mari di rimba yang luas itu menemani suaminya yang selalu berbuat dosa sebagai seorang raksasa, yang sebelumnya seorang Gandharva, dan kini menjadi pemakan manusia. Mera- sakan penderitaan suaminya. Seperti itu dia berteriak bagaikan orang gila.

"Akhirnya Lalitaa, tiba pada suatu tempat dimana Resi Srngi berada. Resi itu du- duk di puncak bukit Vindhyacala. Lalitaa mendekati dan menyampaikan sembah sujud pada Resi Srngi. Resi itu memperhatikan dan bertanya, “Hai ... wanita cantik, siapakah anda? Putri siapakah anda, dan mengapa datang ke tempat ini? Berterus teranglah padaku. "Lalitaa menjawab, O resi yang agung, hamba adalah putri dari Gandharva Virad- hanva, nama hamba Lalitaa, hamba berkelana di hutan-hutan dan menemani suami ham- ba, Raja Pundarika telah mengutuknya menjadi raksasa yang kanibal. O resi hamba sangat sedih melihatnya dan dengan kegiatannya yang berdosa itu. O resi mohon beritahukan pertapaan apa yang harus hamba laksanakan untuk menebus kesalahan dan dosa suami hamba, supaya terbebas dari wujud raksasa ini, O brahmana yang terbaik?"

"Sang resi menjawab, "Wahai gadis surga, ada hari Ekadasi yang terjadi menjelang purnama di bulan Caitra ini yang bernama Kamada. Hari yang suci itu akan segera datang, bagi siapa yang berpuasa pada hari itu semua keinginannya terkabulkan. Bila engkau me- laksanakan puasa sesuai dengan aturan dan peraturan dan memberikan hasil puasa itu un- tuk suamimu, dia akan terbebas dari kutukan itu. Lalitaa sangat senang mendengar penje- lasan Resi itu.

"Dengan penuh keyakinan Lalitaa melaksanakan puasa pada saat Kamada Ekadasi tiba dan mengikuti perintah yang dianjurkan oleh resi itu. Dan sewaktu hari Dvadasi kee- sokannya dia datang kepada Resi Srngi dan Kehadapan Tuhan Vasudeva, dan berkata, "Hamba telah berpuasa dengan sepenuh hati di hari Kamada Ekadasi. Semoga karunia yang hamba peroleh berkat puasa itu membebaskan suami hamba dari kutukan sang Raja. Begitu Lalitaa selesai berdoa demikian, seketika suaminya yang berdiri dekatnya menda- patkan kembali bentuk aslinya sebagai Gandharva, yang sangat tampan dengan berbagai perhiasan. Sekarang Lalita bersama Lalitaa, istrinya menikmati kesenangan dan kemewa- han yang melebihi dari sebelumnya. Hal ini semua disebabkan karena kekuatan dan ke- muliaan Kamada Ekadasi. Akhirnya kedua pasangan itu kembali ke surga dengan vimana

(pesawat surga)."

"Tuhan Sri Krishna melanjutkan ceriteranya, "O Yudhistira, raja yang terbaik, bagi siapapun yang mendengarkan uraian cerita yang indah ini hendaknya berpuasa dengan sepenuh kemampuannya di hari Kamada Ekadasi yang suci ini. Karena karunia seperti itu akan diperoleh pula oleh bhakta yang penuh keyakinan melaksanakannya. Aku uraikan karena tak ada Ekadasi yang lebih baik dari Kamada Ekadasi. Karenanya seorang mampu menghapuskan dosa karena membunuh brahmana dan membebaskan seorang dari kutu- kan yang mengerikan dan menyakitkan kesadaran. Di seluruh tri bhuana ini di antara mahluk yang bergerak dan tidak bergerak, tak ada hari yang lebih baik lagi.

Dengan demikian berakhirlah uraian tentang keagungan Caitra Sukla Ekadasi atau

11

Dalam dokumen EKADASI hari Tuhan Sri Hari non picture (Halaman 46-51)