• Tidak ada hasil yang ditemukan

YOGINI EKADAS

Dalam dokumen EKADASI hari Tuhan Sri Hari non picture (Halaman 60-62)

Maharaja Yudhisthira berkata, O Tuhan Yang Maha Esa hamba telah mendengar keagungan Nirjala Ekadasi yang terjadi menjelang purnama pada bulan Jyestha, sekarang hamba berkeinginan mendengar Ekadasi yang terjadi menjelang bulan mati pada Asadha (Juni) tolong ceritakanlah secara jelas, O pembunuh raksasa Madhu.”

Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, menjawab, O Raja, Aku akan menyampaikan kepada anda, hari yang terbaik dari semua hari-hari puasa. Ekadasi yang terjadi menjelang bulan mati pada bulan mati yang dikenal dengan Yogini Ekadasi yang akan menghancur- kan semua macam reaksi dosa dan mengkaruniai pembebasan yang utama. O raja yang agung Ekadasi ini akan menyelamatkan orang-orang yang tenggelam dalam samudera ma- terial dan membawa mereka ke pintu gerbang dunia spiritual. Itu merupakan hari yang terbaik di antara hari-hari puasa di ketiga dunia ini, saya menyatakan kebenaran ini pada mu dengan cara menceritakan sejarah yang tercantum dalam purana-purana.

Raja Alakapuri, Kuvera bendahara para Dewa merupakan penyembah Dewa Siva yang taat, ia memiliki pembantu yang bernama “Hemamali” yang merupakan tukang ke- bun pribadinya. Hemamali adalah seorang yaksa yang sangat terkenal sekali pada istrinya yang sangat cantik Svarupawata yang memiliki mata yang besar dan menarik sekali.

Kewajiban Hemamali adalah mengunjungi danau Manasarovara dan memetik bunga untuk tuanya Dewa Kuvera yang digunakan untuk memuja Dewa Siva. Pada suatu hari setelah memetik bunga dan melaksanakan kewajibannya tetapi malah pergi ke is- trinya, karena keasyikan bercinta dengan istrinya itu sehingga ia lupa kembali ke tempat Kuvera.

Oh raja sewaktu Hemamali bermesraan dengan istrinya. Dewa Kuvera mulai me- muja Dewa Siva ditempatnya dan tidak ditemukannya bunga untuk pemujaan siang hari, karena hal tersebut menyebabkan Dewa Kuvera menjadi marah dan menanyakan hal itu kepada seorang utusan yaksa mengapa Hemamali yang berhati kotor itu tidak datang, se- telah utusan yaksa kembali dan melaporkan kepada Dewa Kuvera, O Dewa yang hamba hormati, Hemamali sedang bermesraan dengan istrinya.

Dewa Kuvera menjadi sangat marah mendengar hal itu dan segera menyuruh me- nyeret Hemamali kehadapannya, mengetahui bahwa ia telah melakukan kesalahan mela- laikan kewajibannya. Hemamali mendekati tuanya dengan sangat ketakutan. Pertama Hemamali melakukan sujud dan menghadap tuanya yang matanya sedang merah karena kemarahan dan bibirnya bergetar. Kemudian Dewa Kuvera membentuk Hemamali, O

yang berdosa, penghancur prinsip-prinsip dharma, anda telah melakukan kesalahan, penghinaan terhadap dewa oleh karena itu aku mengutukmu menderita sakit lepra putih dan berpisah dengan istri tercinta mu. Hanya penderitaan yang berat menemani mu, oh mahluk rendah yang bodoh, tinggalkan tempat ini segera……..! Dan pergi ke planet yang lebih rendah.

Dengan demikian Hemamali turun dari Alakapuri dan jadi sakit dan menderita ka- rena penyakit Lepra. Dia mendapatkan dirinya berada dalam hutan dimana di mana satu pun tidak ada yang diminum atau dimakan. Demikianlah ia lewati hari-hari dengan penuh penderitaan, ia tidak dapat tidur pada malam harinya karena rasa sakit yang dideritanya. Ia menderita baik musim panas maupun musim dingin, tapi karena dia tetap melanjutkan memuja Dewa Siva dengan penuh keyakinan. Kesadaran nya tetap ada dan mantap wa- laupun memikul dosa yang besar sekali, ia mengingat hidupnya yang lalu karena kesala- hannya.

Setelah berkelana ke sana kemari melewati gunung dan lembah. Hemamali tiba pada suatu daerah di Himalaya. Di sana dia sangat beruntung bertemu dengan Muni yang agung Resi Markandeya pertapa yang baik yang umurnya melebihi tujuh hari Brahma.1 Markandeya Resi sedang duduk dengan damai di asramanya yang bersinar bagaikan Dewa Brahma kedua. Hemamali, merasa sangat berdosa, berdiri agak jauh dari resi dan me- nyampaikan sembah sujud dan doa pujian. Yang selalu tertarik dalam kesejahteraan yang lain, Markandeya melihat orang yang sakit lepra itu dan memanggilnya, ‘O kamu, dosa jenis apa yang telah kamu lakukan sehingga menderita penyakit seperti itu?

Mendengar hal ini Hemamali menjawab, O resi, hamba adalah yaksa yang menjadi pelayan Dewa Kuvera. Nama hamba adalah Hemamali, yang menjadi kewajiban hamba adalah memetik bunga dari danau Manasarovara sebagai persembahan untuk pemujaan terhadap Dewa Siva oleh atasan hamba Dewa Kuvera. Tapi pada suatu hari hamba ter- lambat membawa bunga persembahan itu. Karena hamba terlena dengan kecantikan istri hamba, sewaktu tuan hamba mengetahui hati itu, dia mengutuk hamba dengan marah oleh karena itu saya sekarang jauh dari rumah berpisah dengan istri dan dari tugas hamba. Untunglah hamba bisa bertemu dengan anda yang istimewa karena hamba tahu bahwa seorang bhakta akan selalu berusaha membahagiakan orang lain. Inilah sifat yang agung, O Muni yang agung tolonglah hamba.2

Resi Markandeya menjawab karena anda bercerita dengan jujur saya akan membe- ritahukan kamu tentang hari puasa yang sangat besar sekali manfaatnya, begini, “jika ka- mu berpuasa pada hari Ekadasi yang jatuh pada hari menjelang bulan mati pada bulan Asada pasti kamu akan bebas dari kutukan yang mengerikan itu. Setelah mendengar hal itu dari resi tersebut Hemamali langsung menyampaikan sembah sujud dengan penuh ha- ru.

Resi Markandeya membangunkannya dan menghiburnya dengan perasaan bahagia kemudian seperti yang telah dianjurkan oleh resi tersebut Hemamali melaksanakan puasa Ekadasi tersebut dan dengan pengaruh hari puasa tersebut ia kembali lagi sebagai seorang

yaksa yang tampan dan kemudian ia kembali ketempatnya dan hidup bahagia bersama is- trinya.

Tuhan Krishna menyimpulkan, demikianlah anda bisa mengetahui bahwa puasa pada Yogini Ekadasi adalah sangat kuat dan sangat berkarunia, hasil apapun yang didapat orang dengan memberi makan 88.000 brahmana yang saleh dapat diperoleh pula dengan cara melaksanakan puasa pada Yogini Ekadasi yang bertuah, ia menghancurkan reaksi dosa yang telah dibuat dan membuat seseorang menjadi lebih baik. O raja, demikianlah telah Aku jelaskan kepada mu tentang kesucian dari Yogini Ekadasi.

Dengan demikian berakhirlah uraian tentang keagungan Asadha Krishna Ekadasi atau Yogini Ekadasi dari Brahma-vaivarta Purana.

Catatan

1. Satu hari Brahma ( 12 jam) dikatakan pada akhir Seribu putaran dari empat yuga—Satya, Treta, Dvapara, dan Kali. Karena empat jaman ini berakhir 4.320.000 tahun, dua puluh empat jam penuh hari Brahma adalah 8.640.000.000 tahun, dan tujuh hari adalah 60.480.000.000 tahun. Inilah masa hidup yang menge- jutkan dari Resi Markandeya, sepanjang bumi.

2. Literatur Veda menyatakan,

pibanti nadya svayam eva na jalam svayam na khadanti phalani vrksa nadanti sasyam khalu parivaha paropakaraya satam vibhutayah

“Seperti halnya sungai tidak meminum air mereka tapi mengaliri untuk kemanfaatan mahluk hidup lain, seperti halnya pohon memikul buah miliknya, pohon tidak memakan buah yang dipikulnya tapi memba- gikan untuk mahluk hidup lainnya, dan seperti halnya awan tidak meminum hujan yang dibawanya tapi menghujani ke bawah untuk mahluk hidup lainnya, begitu pula orang suci hidup hanya untuk mahluk hi- dup lainnya.

Canakya Pandita berkata,

sadhunam darsanam punyam tirtha-bhutar hi sadhavah kalena phalate tirtha sadyah sadhu samagamah

“Dengan melihat seorang bhakta murni Krishna lebih menyucikan daripada berziarah ke tempat suci, ka- rena sebuah tempat suci bisa menyucikan setelah waktu yang panjang, memandang seorang penyembah murni menyucikan dengan segera”

3. Karena Hemamali ingin kembali ke planet surga dan bertemu dengan istrinya, dia melaksanakan Ekadasi sehingga hasilnya dia mencapai tujuan material ini. Tapi seorang penyembah Krishna melaksanakan puasa Ekadasi hanya dengan keinginan untuk meningkatkan cinta-bhaktinya kepada Tuhan, dan dengan demi- kian dia mencapai suatu yang spiritual sebagai hasilnya.

16

Dalam dokumen EKADASI hari Tuhan Sri Hari non picture (Halaman 60-62)