Indonesia-Malaysia
ANALISA HUKUM ISLAM TERHADAP PROBLEMATIKA FIQH DI JAGOI BABANG, NANGA BADAU, DAN ENTIKONG
6. Kartu Tanda Penduduk (KTP) ganda
Problema ka masyarakat perbatasan yang menarik untuk dikaji secara hukum Islam adalah perihal iden tas ganda, fenomena ini terjadi pada masyarakat di perbatasan Nanga Badau. Memiliki iden tas ganda itu dilakukan antara lain karena ingin berobat dan mendapat pekerjaan ke Malaysia.
Dalam Islam dak ada aturan teknis tentang kartu iden tas kebangsaan yang wajib dimiliki oleh penduduk suatu negeri. Dalam hal kepemilikan KTP ganda ini yang bisa dikaji lebih jauh adalah melakukan mengkaji apakah kebijakan Negara tentang KTP itu kebijakan itu menimbulkan maslahah atau sebaliknya justru bertentangan dengan nash syar’i.
Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai salah satu dokumen kependudukan adalah hak yang dimiliki se ap warga Negara, 53 Abu Bakr Ibn Syatha al-Dimyathi, 1999, I’anah al-Tholibin, (Beirut : Dar
dan persyaratan untuk mendapatkan KTP bagi penduduk warga Negara Indonesia dan Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap adalah telah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin atau pernah kawin. Se ap penduduk hanya diperbolehkan memiliki 1 (satu) KTP.54
Dalam Islam, Negara melalui pemerintah yang berkuasa diberikan ruang yang sebesar-besarnya untuk membuat kebijakan-kebijakan yang dibutuhkan untuk menegakkan Negara. Salah satu kebijakan Negara adalah mener bkan administrasi kependudukan dengan membuat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan. Dalam hal ini Abdul Qodir Audah, berkata :
“sesungguhnya Syari’at memberikan hak kepada pemerintah untuk membuat kebijakan-kebijakan yang menyentuh kemaslahatan dan kemanfaatan bagi individu dan kelompok”.55
Sya bi mengatakan bahwa dak ada satupun dari kebijakan negara yang dak mempunyai tujuan karena jika kebijakan itu
dak mempunyai tujuan, sama saja dengan membebankan sesuatu yang dak dapat dilaksanakan.56
Tidak ada nash syar’i, baik secara manthuq atau ma um,
yang bertentangan dengan kebijakan Negara tentang KTP tersebut. Terhadap keadaan seper ini, pendapat Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Umar Ba’ Alawy layak untuk dijadikan per mbangan.
54 Lihat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan pasal 2, pasal 63. Lihat juga Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan
55 Abdul Qodir Audah, 1997, At-Tasyri’ al-Jina’i al-Islamy, (Beirut: Muassah Risalah), Jilid 1, hlm. 181
56 Abu Isyhaq al-Sya bi, al-Muwafaqot fi Ushul al-Syari’ah, (Maktabah al- Tauhid), Juz II, hlm. 289
Walhasil, sesungguhnya wajib taat terhadap kebijakan- kebijakan pemerintah, baik secara zhohir maupun ba n, dalam hal yang dak diharamkan ataupun dimakruhkan [oleh Syar’i] 57
Jika sebaliknya, didalam kebijakan pemerintah dak terdapat maslahah ammah, maka dak ada kewajiban menta’a nya secara bathin.58 Pendapat seper ini pulalah yang
diputuskan oleh Majelis Ulama Indonesia melalui Keputusan Komisi A Ij ma’ Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Se- Indonesia IV Tahun 2012 Tentang Masail Asasiyyah Wathaniyyah
(Masalah Strategis Kebangsaan). Maka berdasarkan analisa diatas, memiliki KTP ganda yang terjadi pada masyarakat perbatasan sebaiknya dihindari karena aturan dan kebijakan pemerintah tentang administrasi Negara melarang hal tersebut, sedangkan dibalik kebijakan itu ada maslahah yang tersimpan dan dak ada dalil syar’i yang bertentangan dengan kebijakan negara tersebut.
PENUTUP
Dalam hal ini Negara dan Pemerintah Daerah perlu memberikan prioritas perha an yang lebih terhadap masyarakat dan wilayah perbatasan, karena perbatasan merupakan wajah Negara yang pertama kali dilihat oleh luar negeri. Apalagi terjadi perbedaan yang jauh antara kondisi perbatasan di Negara Malaysia dengan kondisi perbatasan di Negara Indonesia, baik itu pada wilayah perbatasan Jagoi Babang, Nanga Badau, atau En kong. Lemahnya perha an dari Negara dalam segala aspek yang berhubungan dengan wilayah perbatasan, secara dak langsung menyebabkan terjadinya problema ka yang dialami oleh masyarakat perbatasan. Diantara peran pen ng Negara yang bias memberikan manfaat yang besar adalah dengan melakukan 57 Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Umar Ba’ Alawy, ,
Bughyah al-Mustarsyidin, (Surabaya : Maktabah al-Hidayah), hlm. 91 58 Ibnu Hajar al-Haitami, 2005, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi al-Manhaj, (Beirut:
Darul kutub Al-Ilmiyah), hlm.105
أَنﱠ مَاأَمَرَبِهِمِمﱠالَيْسَفِيهِمَصْلَحَةٌعَامﱠةٌلَايَجِبُامْتِثَالُهُإلﱠاظَاهِرًافَقَطْ بِخِلَافِمَافِيهِذَلِكَيَجِبُبَاطِنًاأَيْضًا
re-MoU dengan Negara Malaysia untuk meningkatkan harga minimal transaksi yang dilegalkan antar masyarakat perbatasan, yang semula 600 MYR di ngkatkan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini, dan tentu akan lebih baik jika Negara bias menggiring dan memas kan berlakunya Asean Free Trade Area
(pasar bebas) sehingga masyarakat perbatasan dak terjebak pada transaksi yang ilegal.
Begitupula bagi Aparat Keamanan (TNI/Polri) untuk lebih tegas mengatur lalu lintas jual beli masyarakat, terutama jual beli kendaraan bodong. Fenomena menjamurnya kendaraan bodong di wilayah perbatasan secara dak langsung menunjukkan pembiaran yang dilakukan aparat keamanan sehingga hal-hal yang seharusnya ilegal dianggap sebagai sesuatu yang boleh- boleh saja.
DAFTAR PUSTAKA
al-Qur’an al-Karim
Abdul Qodir Audah, 1997, At-Tasyri’ al-Jina’i al-Islamy, (Beirut: Muassah Risalah), Jilid 1
Abdullah bin Yusuf al-Juday‘,1997, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, (Beirut: Mu’assasah al-Rayyan)
Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Umar Ba’ Alawy, , Bughyah al-Mustarsyidin, (Surabaya : Maktabah al- Hidayah)
Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Umar, , Bughyah al-Mustarsyidin, (Surabaya : Maktabah al-Hidayah)
Abu Bakr Ibn Syatha al-Dimyathi, 1999, I’anah al-Tholibin, (Beirut : Dar al-Fikr) Juz I dan II
Abu Ishaq al-Syathibi, 2003, Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’ah, (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyyah)
Abu Isyhaq al-Sya bi, Al-I’ shom (Maktabah al-Tauhid)
Ad-Dasuqy, dalam Hasyiyah ad-Dasuqy ala al-Syarhi al-Kabir, (Bairut, Dar al-Fikr), Juz I
Ahmad bin ‘Ali bin Abu Bakar al-Razi al-Jashas, Ahkam al-Quran Ali Ahmad Al-Nadwi, 2000, Al-Qowa’id al-Fiqhiyyah, (Beirut: Dar
al-Qolam)
Edwin Seligman, 1957, Encyclopedia of Social Science, Vol.24. (New York: The Mac Millah Company)
Gasthoul Bothoul, , 1998, Teori-teori Filsafat Ibn Khaldun, terj, Yudian W. Asmin (Jakarta: Ti an Ilahi Press)
Hatem al-Haj, 2007, Commentary on ‘Umdat al-Fiqh, (The Interna onal University in La n America)
Ibn Rusyd, 2005, Bidayatul mujtahid, (Beirut : Dar al-Fikr), jilid II
Ibnu Hajar al-Haitami, 2005, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi al-Manhaj, (Beirut: Darul kutub Al-Ilmiyah)
Ibnu Qoyyim al-Jauzy, , I’lam al-Muwaqqi’in an Robb al-Alamin (Beirut : Dar al-Jail).
Imam Al-ghozali, 1997, Al-Mustasfa, Juz 1, (Beirut : Daar Al Ihya’ Al Turats Al ‘Araby)
Imam Al-Nawawi, Imam al-Subki, dan Syekh Najib Al-Muthi’i, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab, (Jeddah -Arab Saudi : Maktabah Al-Irsyad), Jilid 18
Izzuddin bin Abdi al-Salam, 1980, Qowa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, (Beirut : Dar al-Jail) Juz II
Jalaluddin Abd Rahman al-Suyuthi, 1979, al-Asybah wa al- Nadza’ir fi Qowa’id wa Furu’ Fiqh al-Syafi ’ie, (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah)
Muhammad Bakar Ismail, 1996, Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah Bayna Al-Ashalah wa Al-Taujih, (Dar al-Manan)
Mahmud Salthut, 2001, Al-Islam Aqidah wa Syari’ah, (Dar al- Syuruq)
Muhammad Abu Zahrah, , al-Ahwal al-Syakhsiyyah, (Kairo: Dar Al Fikr Al ‘Arabi)
Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad al-Syaukani, , al-Fukhul ila Tahqiq al-Haqqi min ‘Ilm al-Ushul, (Beirut : Dar al-Fikr) Muhammad bin Uman bin Ali bin Nawawi al-Jawi dalam Nihayatuz
Zain, (Bairut: Dar al-Fikr), Juz I
Muwaffi q al-Din Abi Muhammad bin Ahmad bin Qudamah, 1984, Al-Mughni (Beirut: Dar al-Fikr)
Said Hawa, 1985, al-Asas fi at-Tafsir, (Mesir: Dar al-Salam)
Sayyed Hossein Nasr, , 2003, The Heart of Islam, Terjemahan Nurasiah Fakih Sutan Harahap, Pesan-pesan Universal Islam Untuk Kemanusiaan, Bandung: Mizan
Sayyid Sabiq, 1983, Fiqh al-Sunnah (Beirut: Dari al-Fikr,)
Shidiq bin Ahmad al-Burnu, 1983, Mausu’ah Al-Qawa’id al- Fiqhiyyah, (Beirut: Muassasah al-Risalah) Juz 12,
Sulaiman al-Bujairimi, Khasyiyah al-Bujairami ‘ala Syarhi al- Kho b, Juz II
Syihabuddin Ahmad bin Idris al-Qorofi , Anwar al-Buruq fi Anwa’ al-Furu’, (Juz 6 / 197)
Tolhah bin Muhammad bin Abdur Rahman Ghouts, Al-Addi’a’ al- ‘Am wa Ahkamuhu fi Al-Fiqh wa an-Nizhom, (Kunuz Isbilia,
)
Wahbah Zuhaili, 1998, Al-Fiqh Al-Islamiy wa Adillatuh, Juz 4, (Damaskus: Dar Al-fi kr)
Yusuf al-Qordhowi, 1993, al-halal wa al-harom fi al-Islam, (PT. Bina Ilmu)
Zainuddin bin Ali bin Ahmad Asy-Syafi ’I, Qomi’ al-Thughyan, Bandung : Syirkah Ma’arif
Da ar Pustaka Pendukung :
Undang-Undang Dasar 1945
Undang-undang Nomor 17 tahun 2006 tentang Kepabeanan Undang-Undang Republik Indonesia No.1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan
Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2004
tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Peraturan Pemerintah No.9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Perkawinan. Kompilasi Hukum Islam
Kabupaten Bengkayang Dalam Angka 2013 En kong Dalam Angka 2013
Data Pokok 2013 Kabupaten Kapuas Hulu h p://www.wilayahperbatasan.com