KONTEKSTUALISASI TATA PEMERINTAHAN DAN PEMBANGUNAN DI PAPUA
B. Keluar Dari Teknokratisme Pembangunan
Ketika membicarakan pembangunan di Papua dan Papua Barat maka persoalan besar yang harus diselesaikan terlebih dahulu adalah bagaimana mempertemukan paradigma pembangunan dari atas yang cenderung teknokratis dengan paradigma lokal yang cenderung menjaga stabilitas sosial dan mempertahakan budaya. Karena, paradigma pembangunan cenderung berorientasi kepada kemajuan (progress) yang hendak dicapai, sedangkan paradigma budaya lokal bertitik tolak dari bagaimana membangun harmoni di dalam masyarakat. Mempertemukan dua hal ini merupakan kunci utama untuk menerobos kemacetan pembangunan Papua selama ini. Dengan membawa pendekatan antropologi ke dalam prosem pembangunan Papua akan lebih mendekatkan pembangunan ke dalam pandangan hidup orang Papua dan kemungkinan keberhasilannya menjadi lebih besar.
Pembangunan yang dijalankan untuk Papua sejauh ini cenderung berorientasi kepada modernisasi masyarakat karena dilandasi oleh nalar modernisasi yang kuat. Padahal, orientasi kemajuan dengan ukuran-ukuran material itu tidak kompatibel dengan eksistensi budaya lokal Papua. Sementara di sisi lain, sistem nilai, pandangan hidup dan tradisi orang Papua cenderung tidak mudah menerima perubahan, bahkan dalam derajat tertentu agak anti perubahan. Oleh adanya pembiaran terhadap benturan cara pandang ini, maka tidak heran jika muncul anggapan bahwa paradigma pembangunan Papua berlawanan dengan paradigma budaya lokal. Para perancang kebijakan yang teknokratis dan terus bersikukuh memegang cara pandangnya bahkan menganggap budaya lokal Papua sebagai penghambat (resistor) percepatan pembangunan Papua. Apa yang dilakukan pertama kali untuk meraih kemajuan adalah dengan merubah dan atau bahkan menghilangkan budaya yang dianggap bertentangan nilai-nilai kehidupan modern. Tetapi pada kenyataanya, sifat agresif paradigma pembangunan teknokratik tersebut mendapat perlawanan kultural dari orang Papua sendiri sehingga keduanya berada pada posisi saling menegasikan satu sama lain. Kondisi seperti inilah yang dapat terlihat dari 10 tahun program pembangunan daerah dalam bentuk OTSUS Papua dan Papua Barat.
Meletakkan paradigma pembangunan dan paradigma budaya lokal pada posisi saling meniadakan tidak akan memberikan manfaat bagi masyarakat Papua dan Papua Barat. Karena apa yang ingin dicapai orang Papua bukan semata-mata kemajuan pembangunan fisik material semata tetapi juga kenyamanan dan kebahagiaan dalam artian pembangunan hal-hal yang bersifat non-material. Bukan hanya badan atau fisiknya yang dibangun tetapi juga jiwanya.
ilai Dasar O rang P apua engelola T a ta P emerin tahan ( G o v ernanc e)
Dengan kata lain proses pembangunan dan budaya lokal harus diletakkan pada posisi yang dialektis. Pembangunan merupakan sebuah proses perkembangan yang merupakan refleksi atas sikap dan respon masyarakat terhadap perubahan, sedangkan budaya lokal menjadi katalisator agar pembangunan yang dicapai tidak menyebabkan masyarakat teralienasi dan kehilangan akar lokalitasnya. Pada posisi ini, perlu dibangun jembatan penghubung antara paradigma pembangunan dan paradigma budaya lokal sehingga keduanya saling bersinergi untuk meningkatkan kesejahteraan dan membangun marwah masyarakat Papua dan Papua Barat sehingga sejajar dengan wilayah-wilayah Indonesia lainnya.
Untuk membangun jembatan antara paradigma pembangunan dan paradigma budaya lokal, hal yang diperlukan adalah mengetahui karakteristik dasar masing-masing. Berbekal pengetahuan atas karakteristik dasar tersebut, maka akan dapat dibangun sebuah jembatan yang bisa mewujudkan keselarasan antara pembangunan — yang ditandai dengan sistem birokrasi — dan budaya lokal yang merupakan manifestasi dari pandangan hidup masyarakat. Pada saat yang sama, dengan memahami karakter teknokratisme pembangunan, maka akan proses pembangunan yang terjadi akan bisa terhidndar dari, pertama, pandangan bahwa birokrasi sebagai pelaku pembangunan itu adalah rasionalitas universal manusia yang tidak dapat diubah. Kedua, pemahaman itu dapat membantu untuk melihat birokrasi sebagai sesuatu yang dapat selalu dimodifikasi sehingga lebih sesuai dengan struktur sosial masyarakat lokal. Sedangkan pemahaman utuh terhadap nilai-nilai budaya lokal masyarakat akan memberikan ruang untuk melakukan reinterpretasi dan revitalisasi budaya yang berlaku sehingga budaya tersebut dapat didesain menjadi penopang utama bagi proses pembangunan yang humanis. Pembangunan tidak semata-mata diartikan sebagai kemampuan menarasikan dan menterjemahkan kebutuhan masyarakat dalam bentuk program-program, tetapi bagaimana masyarakat dapat terlibat (berpartispasi) dalam proses pembangunan. Terlibat dalam proses pembangunan tidak saja berupa keterlibatan masyarakat untuk membangun, tetapi juga keterlibatan masyarakat untuk memanfaatkan pembangunan itu. Jika masyarakat dilibatkan mulai dari proses pembangunan hingga pemanfaatan hasil pembangunan, maka pembangunan akan berdampak signifikan terhadap peningkatan taraf hidup dan martabat masyarakat Papua.
Untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan, maka yang diperlukan adalah pembangunan yang berbasis budaya lokal dan melibatkan potensi lokal masyarakat. Kesalahan utama birokratisasi pembangunan adalah anggapan bahwa birokrasi pembangunan merupakan sistem universal yang cocok diterapkan di semua bentuk masyarakat yang kondisinya berbeda-beda. Kegagalan pembangunan Papua tidak disebabkan hanya oleh ketidakmatangan program, kelemahan personel, dan kekurangan biaya tetapi juga karena gagal membaca kebutuhan utama masyarakat Papua dan memahami sistem nilai orang Papua yang menjadi kerangka berpikir dan bertindak. Sistem nilai budaya itu sangat mempengaruhi cara orang Papua memandang dan memperlakukan program-program pembangunan dan apa saja yang datang kepada mereka. Akibatnya, pembangunan yang dilakukan cenderung tidak mencerminkan kebutuhan masyarakat pada satu sisi dan memunculkan resisitensi pada sisi yang lain.
Pertanyaanya adalah bagaimana seharusnya sistem birokrasi pembangunan dijalankan, terutama di Papua? Operasionalisasi birokrasi pembangunan harus mempertimbangkan dan/atau memberikan ruang kepada sistem sosial dan budaya yang memang hidup
tekstualisasi Ta ta P emer in tahan dan P embangunan di P apua
dan berkembang dalam masyarakat sejak lama. Birokrasi pembangunan di Papua harus diterjemahkan sedemikian rupa dan mempertimbangkan sistem sosial-budaya yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Hanya dengan cara ini pembangunan akan memberikan manfaat signifikan terhadap Papua. Dengan demikian praktik pembangunan bukan hanya “Pembangunan di Papua”, dan juga bukan “Pembangunan untuk Papua”, tetapi “Pembangunan Papua”. Perbedaan masing-masing paradigma pembangunan itu dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1.2.1. Paradigma pembangunan Papua dan karekteristiknya
Paradigma Pembangunan Karakteristik
Membangun di Papua
Eksploitasi sumber kekayaan Papua oleh dan untuk pihak luar
Pengelolaan pembangunan berpendekatan dan berorientasi pasar
Membangun untuk Papua
Pembangunan Papua didominasi oleh framework pihak luar
Pembangunan dikendalikan dan dokooptasi oleh kepentingan dari luar
Membangun Papua
Memijakkan proses pembangunan Papua pada sistem nilai, pandangan hidup, dan budaya orang Papua
Menggerakkan pembangunan Papua dari bawah
Akibat lanjutan dari anggapan tentang universalitas sistem birokrasi modern itu adalah tidak diperhatikanya budaya lokal Papua sebagi wujud pandangan hidup orang Papua di dalam strategi dan implementasi pembangunan Papua. Bagi orang Papua, pandangan hidup ini sangat penting karena ia merupakan panduan dan karangka bertindak. Mengapa OTSUS Papua sejauh ini lepas dari harapan orang Papua adalah karena pembangunan lewat OTSUS itu cenderung berdasarkan asumsi tentang pembangunan kebutuhan orang Papua dan bukan didasarkan pada nilai-nilai kultural yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Papua. Dalam paradigma pembangunan tersebut orang Papua dianggap sebagai obyek yang pasif dan tidak mengetahui kebutuhannya sendiri sehingga perlu “dibantu” untuk merumuskan kebutuhannya itu.
Kesalahan paradigmatik pembangunan Papua tidak saja menyebabkan pembangunan kehilangan spirit filosofisnya yaitu kesejahteraan tetapi juga tidak bermanfaat karena tidak mampu memberikan jawaban atas persoalan hidup masyarakat Papua. Kebutuhan hidup masyarakat Papua bukan hanya terhadap hal-hal material tetapi juga non-material sebagaimana termanifestasikan dalam enam nilai antropologis Papua yaitu: (1) konsep tentang kekayaan, (2) konsep tentang pekerjaan, (3) konsep tentang waktu, (4) konsep tentang hubungan sosial, (5) konsep tentang tanah, dan (6) konsep tentang jaminan sosial. Keenam nilai antropologis Papua yang merupakan manifestasi dari pandangan hidup masyarakat Papua tersebut harus menjadi landasan pijak dalam membangun Papua. Tetapi jika pembangunan
ilai Dasar O rang P apua engelola T a ta P emerin tahan ( G o v ernanc e)
Papua hanya untuk memenuhi “kewajiban” politik, maka pembangunan itu tidak akan menyentuh aspek-aspek antropologis yang fundamental di dalam masyarakat Papua. Untuk merumuskan strategi pembangunan yang berlandaskan nilai antropologis Papua tersebut, para pengambil kebijakan perlu memahami keragaman Papua sebagai potensi strategis penopang pembangungan Papua. Nilai antropologis orang Papua ini bukanlah ancaman bagi proses pembangunan yang harus didisiplinkan tetapi merupakan potensi besar yang harus dikembangkan untuk membangun ke-Papua-an seutuhnya.
Secara antropologis ke-Papua-an memiliki rasionalitasnya sendiri yang berbeda dengan daerah-daerah lainya. Pemahaman antropologis masyarakarat Papua terhadap dirinya dan dunia di luarnya mungkin saja berbeda dengan masyarakat di luar Papua memahami Papua. Pada posisi ini, pemahaman dan penghormatan terhadap ke-Papua-an sangat penting bagi pihak-pihak yang melakukan dan/atau berpartisipasi dalam membangun Papua. Kesalahan memahami dan menempatkan nilai-nilai antropologis Papua dalam perencanaan strategi pembangunan Papua justru akan membalik harapan pembangunan Papua. Tidak saja secara teknis bahwa ketidakpedulian antropologis itu dapat menyebabkan kegagalan pembangunan yang direncanakan, tetapi juga –secara filisofis paradigmatis—dapat mencerabut masyarakat Papua dari akar antropologisnya. Hal inilah yang nampaknya sedang terjadi di Papua, selain pembangunan Papua itu tidak berbuah signifikan, secara budaya semakin terlihat fenomena “Orang Papua di Papua Tetapi Bukan Papua”.
Tentu saja spirit yang terkandung dalam nilai-nilai antropologis Papua tidak boleh membelenggu pembangunan yang bertujuan menaikkan harkat dan martabat mereka. Nilai-nilai antropologis Papua dalam konteks ini adalah Nilai-nilai budaya Papua yang ditafsirkan kembali sesuai dengan perkembangan zaman. Budaya Papua, sebagaimana budaya dari daerah lain, harus diposisikan sebaga entitas yang terus berubah dan berkembang. Dengan cara ini, maka akan ada sinergi antara budaya yang dimiliki dan pembangunan yang dijalankan. Papua harus menjadi tanah harapan bagi semua rakyat Papua dimana mereka dapat hidup layak, sejahtera, dan bahagia sebagaimana saudara-saudaranya di daerah lain. Hal ini bukan mimpi jika pembangunan Papua didasarkan kebutuhan masyarakat, melibatkan partisipasi masyarkat, dan berbasiskan budaya masyarakat Papua.