• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANTROPOLOGIS DALAM PROGRAM PEMBERDAYAAN KAMPUNG BERBASIS OTONOMI ASLI

Bagan 2.6.1. Struktur Dewan Adat Kabupaten Pegunungan Bintang

2. Otonomi dan Kewenangan Kampung

Aspek otonomi dan kewenangan ini muncul sebagai pilar terpenting dalam regulasi tata kelola pemerintahan kampung. Melalui aspek ini, kedudukan dan format hubungan antara kampung dan pemerintah supra kampung ditata sehingga memberikan batasan tertentu terhadap jenis urusan dan kewenangan yang dimiliki oleh kampung10. Atas dasar aspek kewenangan inilah selanjutnya disusun kedudukan, format, dan jenis kewenangan kampung, bentuk lembaga pemerintahan kampung, bentuk lembaga perwakilan masyarakat kampung, sampai dengan integrasi perencanaan pembangunan dan keuangan kampung dengan pemerintah atasan.

Hal ini sebenarnya telah menempatkan konstruksi terhadap kampung cenderung diletakkan dalam formasi hubungan kekuasaan antara kampung dan negara. Melalui cara ini pula, legitimasi terhadap eksistensi negara dalam kampung dikukuhkan melalui pengakuan, pembagian, dan delegasi urusan dan kewenangan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Atas dasar ini pula, negara selanjutnya memiliki kewenangan untuk mengatur kampung.

10 Dalam hal ini, urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kampung mencakup: a) urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal usul kampung; b) urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabu-paten/kota yang diserahkan pengaturannya kepada kampung; c) tugas pembantuan dari Pemerintah, Pemer-intah Provinsi, dan PemerPemer-intah Kabupaten/Kota; dan d) urusan pemerPemer-intahan lainnya yang oleh peraturan perundang-undangan diserahkan kepada kampung.

imen tasi Dan R efleksi N ilai-N ilai A n tr opolog is Dalam P rog ram P ember da yaan K ampung B er basis O tonomi A sli

Secara legal formal, kehendak negara untuk mengintegrasikan kampung sebagai bagian dari struktur pemerintahan nasional tampak berhasil. Secara administratif, kampung diakui sebagai unit terbawah penyelenggaraan urusan pemerintahan, didukung oleh pembiayaan negara, dan diberikan wewenang dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya.

Hanya saja, dalam prakteknya, kewenangan kampung mengelola dirinya yang berbasis pada asal-usul kampung tampaknya luput dari perhatian negara. Masyarakat kampung di Papua sebenarnya memang tidak mengenal eksistensi negara sebagai kekuasaan supra kampung. Kampung adalah bagian dari tempat pemukiman yang menjadi bagian dari komunitas adat serta tunduk pada aturan-aturan adat, termasuk dalam pengelolaan sumberdaya. Dalam konteks ini, keberadaan klan/marga sebagai sub suku menjadi aktor pilar pemilik kedaulatan atas kampung.

Kampung sebagai tempat pemukiman tumbuh dan berkembang mengikuti struktur kepemilikan tanah oleh marga. Pemukiman dibuat untuk mendekatkan akses setiap orang untuk mengelola tanah sebagai sumber kehidupan dalam masyarakat subsisten. Hak atas pengelolaan tanah, baik dari sisi luas maupun kegunaannya, diputuskan pada tingkat marga yang pada lingkup suku menerima mandat penguasaan. Melalui pengaturan semacam ini, sumberdaya yang dikelola oleh warga kampung pada dasarnya lebih bersifat hak guna saja.

Marga menjadi simpul penting dalam pengelolaan setiap individu anggotanya. Melalui marga, dan sebagian melalui bentuk intitusi lain yang menjadi penghubung lintas marga terdekat (misalnya Ap-Iwol di Kabupaten Pegunungan Bintang), kehidupan setiap warga kampung diatur dan ditentukan, mulai dari urusan pengelolaan sumberdaya, pendidikan, maupun urusan adat lainnya. 11 Nilai dan perilaku individu dipandu dan diatur oleh aturan-aturan adat.12

Dari deskripsi di atas, terlihat bahwa format otonomi kampung yang didasarkan pada pengakuan asal-usul kampung tampaknya belum diakomodasi secara tepat. Proses negaranisasi cenderung ingin menempatkan otonomi kampung sebagai bagian dari pemberian negara sehingga justru tidak sensitif terhadap eksistensi dan tata cara lokal.

11 ”Sebelumnya pemerintahan apiwol sudah ada dengan susunannya. Hal-hal yang diijinkan, larangan dan ter-masuk pendidikan. Ada dua bentuk pendidikan, pendidikan untuk anak laki-laki dan anak perempuan, semua sudah ditata. Ketika pemerintahan RI masuk, pemerintahan apiwol sudah tidak dianggap, perannya sudah ter-sisih. Pemerintahan apiwol strukturnya jelas, mulai siapa yang memimpin, kiri kanannya ada yang menguaa-sai kampung, namun ada yang berperan sebagai pengajar. Seperti pendewasaan anak dalam bentuk inisiasi sampai dengan pengujian. … sistem ini diatur oleh adat dan di bawah kepemimpinan apiwol”, Keterangan dari Hosea Uropdana, Sejarah Kampung di Pegunungan Bintang, Laporan Penulisan Sejarah Kampung, CfL, 2011, h. 5

12 “….Ap-iwol, merupakan suatu kampung besar. Itu tempat untuk membina manusia, mendewasakan pemuda. Iniasiasi, perkawinan, kesehatan, kesuburan ternak, kesuburan makanan, semua dibina dalam kampung. Disitu ada tetua, semacam kepala desa. Sebelum pemerintahan masuk sudah ada sejarah pembinaan kampung”, Ket-erangan dari Hiron Bamulki, Tokoh Adat Kabupaten Pegunungan Bintang, Sejarah Kampung di Pegunungan Bintang, Laporan Penulisan Sejarah Kampung, CfL, 2011, h. 4-5

ilai Dasar O rang P apua engelola T a ta P emerin tahan ( G o v ernanc e)

Tabel 2.6.3. Tipologi Desa/Kampung Menurut Asal-usul Kewenangan

Tipe Asas Jenis Deskripsi

Desa/ kampung asli Rekognisi (pengakuan dan penghormatan) self governing community -otonomi asli

Desa/kampung sebagai kesatuan sosial masyarakat yang memiliki kesamaan asal-usul dan adat istiadat yang khas serta menyelenggarakan sendiri urusan rumah tangganya. Desa/kampung tidak menjalankan tugas dan urusan dari negara.

Desa/ kampung Otonom

Desentralisasi Local self government– otonomi diberikan oleh Kabupaten

Desa sebagai unit pemerintahan terbawah yang diberikan otonomi untuk mengurus urusan tangganya secara mandiri.

Desa/ kampung Administratif Delegasi (Dekonsentrasi dan Tugas Perbantuan) Local state government- tidak memiliki otonomi

Desa sebagai unit administratif yang hanya menjalankan tugas dan urusan dari pemerintah kabupaten (kelurahan).

3. Kepemimpinan

Kepemimpinan yang berbasis pada institusi adat adalah pilar penting dalam struktur sosial dan budaya masyarakat Papua. Adat bukan saja memproduksi tata nilai dan perilaku anggotanya namun juga telah memiliki instrumen pengaturan yang mampu menggambarkan struktur kepemimpinan sekaligus distribusi kewenangan di antara anggotanya.

Kabupaten Pegunungan Bintang, misalnya, sebelum ada pemerintahan terpilih seperti sekarang ini ada pemerintahan tradisional yang disebut pemimpin alamiah atau pemimpin kharismatik yang berpusat di Ap-Iwol. Ap-Iwol merupakan pusat penyelenggaraan semua kegiatan dan menyimpan benda/barang yang menopang kehidupan manusia. Melalui Ap-iwol, pembagian peran dilakukan. Ada yang mengurus ekonomi warga atau peran lainnya yang sekarang bisa disamakan dengan kepala tata usaha, sampai tukang sapu (menyiapkan kayu bakar). 13

Tabel 2.6.4. Struktur kewenangan dan Pembagian Peran

dalam Sistem Kepemimpinan Tradisional Orang Pegunungan Bintang14

Jabatan Wewenang/Peran

OKSANGKI Tua – tua Adat yang berkewajiban sebagai penanggungjawab di bidang kesenian khusus Tarian OKSANG

OM BONENGKI Tua–tua Adat yang berwenang sebagai penanggungjawab atas makanan baik KELADI maupun BETATAS / Bidang Ekonomi

APIWOLKI Tua – tua Adat yang berhak atas menerima warisan

moyang, yang juga berhak menyantap keladi sacral dan kuskus sakral

13 Keterangan dari Hiron Bamulki, Tokoh Adat Kabupaten Pegunungan Bintang, Sejarah Kampung di Pegunungan Bintang, Laporan Penulisan Sejarah Kampung, CfL, 2011, h. 4

imen tasi Dan R efleksi N ilai-N ilai A n tr opolog is Dalam P rog ram P ember da yaan K ampung B er basis O tonomi A sli Jabatan Wewenang/Peran

BARKI Tua – tua Adat yang berwenang menerima warisan

moyang dan berperan sebagai lakonis lagu sacral dalam setiap upacara ritualis KAKA NALKONKI Tua – tua bidang Adat yang telah menerima warisan dan bertanggung jawab atas

kesuburan manusia

JEBUKI Tua – tua bidang Adat yang bertanggung jawab tentang “JEBUKI”

APIWOL KAER Tua – tua Adat yang telah menerima warisan leluhur untuk bertanggung jawab tentang bangunan fisik Adat (AP I WOL )

APIWOL 1. Rumah adat sakral bagi manusia Aplim Apom (Pegunungan Bintang ) 2. Kelompok Kategori manusia Pegunungan Bintang

Pada lingkup kampung, keberadaan kepala kampung yang dipilih melalui mekanisme pemilihan tidak sepenuhnya bisa dijalankan. Warga cenderung bisa bersepakat terhadap siapa yang pantas dipilih sebagai pemimpin. Namun, fakta lain juga menunjukkan bahwa ada kepala kampung yang menyatakan dirinya ditunjuk oleh negara sebagai dasar legitimasi saat berinteraksi dengan warga kampung15.

Sejauh fakta yang saat ini ditemui, kontrol adat terhadap pemilihan kepala kampung sangat tinggi. Warga memilih kepala kampung dengan pertimbangan yang berbeda-beda. Sebagian besar memang memilih berdasarkan unsur tetua adat sebagai dasar penghargaan terhadap otoritas adat. Namun, saat ini juga dapat ditemui Kepala Kampung yang dipilih dengan alasan kompetensi tertentu, seperti kemampuan baca tulis ataupun mampu menyelenggarakan administrasi pemerintahan, agar mudah berinteraksi dengan negara. Dalam kasus ini, negara tampaknya memang cenderung dinilai membawa berbagai hal baru bagi warga kampung dan relatif dapat diterima.

Hal yang masih belum terkelola tampaknya berada pada implikasi dari pengakuan negara terhadap kampung yang diwujudkan melalui pemberian dukungan sumberdaya kepada pemerintah kampung, baik dalam bentuk honor bagi aparat pemerintahan kampung maupun pengangkatan PNS bagi jabatan Sekretaris Kampung. Belum lagi, berbagai mekanisme implementasi program yang datang dari pemerintah atasan juga selalu melalui jalur pemerintah kampung, seperti Program RESPEK yang diberikan kepada seluruh kampung di Papua. Pada kesemua ini, pemerintah kampung, termasuk kepala kampung, memiliki wewenang atas sumberdaya baru ini yang tidak dapat diakses oleh warga kampung lainnya.

Persoalan yang selanjutnya sering muncul adalah relasi antara pemerintah kampung dan otoritas adat. Sungguhpun terdapat kepatuhan dari pemerintah kampung terhadap otoritas adat, berbagai sumberdaya kampung yang berasal dari negara memiliki logika dan tata pengaturan sendiri, terpisah dari otoritas adat (tidak harus mendapatkan persetujuan), dan menempatkan pemerintah kampung sebagai aktor sentral. Ini misalnya ditunjukkan dalam Program RESPEK atau BK-3 pada kasus Kabupaten Keerom. Keterlibatan otoritas adat pada level kampung pada gilirannya 15 Meski sebagian warga mengetahui bahwa mekanisme ini tidak tepat, namun hal ini tidak memicu persoalan

ilai Dasar O rang P apua engelola T a ta P emerin tahan ( G o v ernanc e)

dapat diakomodasi namun ditempatkan sebagai sub-sistem dari pemerintahan kampung.