terbaik dari yang bisa kau berikan”
KELUARGA DAN SUASANA BARU Ahmad Rafiqi S
Dugaan Semata
KKN, mendengar namanya saja membuat diriku sangat gundah gulana, Korupsi Kolusi dan Nepotisme begitulah kepanjangan dari singkatan KKN dalam dunia Pemerintahan. Namun dalam dunia perkuliahan disebut Kuliah Kerja Nyata, tapi keduanya sama-sama membuat diriku takut seperti KKN kali ini dikarenakan kita sudah berada di semester akhir dan sudah dekat dengan aktivitas skripsi yang membuat sebagian mahasiswa berada pada puncaknya dalam hal pemikirannya maupun kegiatan dikampus. Saya sangat menyadari bahwa ketika kegiatan KKN ini berlangsung kita akan mendapat teman baru dan hidup di lingkungan yang baru pula, dalam hal ini saya tidak terlalu kaget karena kegiatan ini pernah saya lakukan ketika waktu kelas akhir di MA. At-Taufiqiyah yang tercinta sehingga pengalaman-pengalaman tentang pengabdian sudah saya dapatkan ketika waktu sekolah tersebut. Mungkin kendala yang ada di dalam benak saya waktu itu ketika memikirkan KKN ini, yaitu siapakah teman kelompok saya dan dapat di daerah
Mana kegiatan KKN ini. Sebab baru pertama kali ini sistem pengabdian ini dirubah sehingga beda dengan kegiatan pengabdian pada tahun-tahun sebelumnya yaitu contohnya anggota kelompoknya ditentukan oleh pihak kampus sendiri sehingga mahasiswa tidak dapat memilih anggota itu sendiri. Dari itu saya sangat khawatir bilamana keanggotaan yang baru terbentuk dan baru kenal beberapa hari akan membuat kekompakan dalam kelompok akan sulit terbangun, namun hal tersebut di luar dugaan saya, kami bisa mengatasi persepsi tersebut sehingga tercipta kelompok yang solid sesuai dengan nama kelompok kami SOLARITY.
Hal kedua yang menjadi salah satu kendala dalam KKN tersebut yang saya bayangkan yaitu dari segi tempat yang di mana dalam bayangan saya bahwa tempat yang akan kami tempati itu sangat jauh dari daerah perkotaan maupun pelosok sehingga mempersulit kegiatan kami di sananya. Namun hal itu sangat jauh berbeda dengan dugaan semata saya,
72 | Menabur BAKTI Menebar KARYA
fakta dan realitanya tempat atau desa saya sangat mudah terjangkau meskipun jarak tempuh dari Kota Ciputat ke desa saya lumayan jauh yakni 2-3 jam perjalanan menggunakan kendaraan motor sedangkan dengan kereta api yaitu 1-2 jam namun hal tersebut terobati dengan indahnya sepanjang perjalanan menuju lokasi meskipun masih ada macet di jalan.
Hal-hal tersebut sudah saya bayangkan sejak masih semester awal di mana kegiatan KKN itu sangat menyita waktu dan tenaga seorang mahasiswa dikarenakan terjun langsung ke masyarakat yang waktunya itu selama sebulan. Di sini saya menganggap kegiatan ini sangat rumit dan sangat susah setara dengan tugas skripsi karena saya pernah ngeliat langsung bagaimana mahasiswa KKN melakukan tugasnya itu semasa saya masih sekolah SMA. Nah dari itu saya membayangkan bahwa kegiatan tersebut sangat menghantui pas waktu masa-masa masuk semester 5. Namun hal tersebut di luar dugaan saya, malahan 100% berbeda terbalik dengan kenyataannya, setelah terjun langsung kelapangan, masa tersebut terasa sangat singkat dan susah untuk mengakhiri kegiatan yang cuma sebulan tersebut. Dari itu saya menarik kesimpulan bahwa segala sesuatu yang dianggap sulit itu jangan pernah dibayangkan, namun langsung kerjakan apa yang semestinya dilakukan karena segala sesuatu itu mempunyai akhir yang indah.
Keluarga Filosofi Kopi
Mungkin ini adalah salah satu dari beberapa pengalaman yang ingin saya ceritakan kepada sahabat semua. Pengalaman yang mengenang dan dapat saya ceritakan ini baru saja saya alami. Sudah seminggu ini saya berada di kosan (maklum anak rantau) setelah sebulan penuh menghuni desa orang lain. Sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir saya telah melewati salah tugas yang sangat berat sih, tapi enak koq setelah di jalani. Tugas ini adalah KKN, tau kan kepanjangan KKN, bukan Kura-Kura Ninja lho..., seperti sebelumnya yang pernah saya bahas, KKN adalah kuliah kerja nyata, di mana di sini kita belajar bermasyarakat di sebuah desa. Di mana dalam hal ini saya jadi teringat salah satu nasihat dosen saya, begini nasihatnya “Di kampus kita belajar untuk diuji, di masyarakat kita diuji untuk belajar”. Ternyata nasihat itu kalau diresapi ada benarnya juga sih. Pada tanggal 25 Agustus 2016, pada saat itulah KKN dimulai, para mahasiswa telah bersiap dengan persiapan masing – masing. Setelah semua
Sepenggal Kisah Pengabdian Kami Di Cikasungka | 73 berkumpul di halaman kampus, para peserta mendengarkan ceramah dan pemberangkatan yang langsung dipimpin bapak Rektor tercinta.
Sebelumnya perkenalkan nama saya dan teman-teman sekaligus keluarga besar KKN 199 beserta jurusannya yang semuanya hampir berbeda, saya sendiri Ahmad Rafiqi S. (Ilmu Ekonomi Pembangunan), Muhammad Iqbal Gade (Perbankan Syariah), Khodari (Perbandingan Agama), Irma Apriyanti (Perbankan Syariah), Denny Aprianto (Jurnalistik), Alfira Maya Jelita (Hubungan Internasional), Nurul Azka Rabbani (Ilmu Quran & Tafsir), Chika Cintia Ayu (Komunikasi Penyiaran Islam), ST. Rohmah (Ilmu Fisika) dan Indah T. (Ilmu Ekonomi Pembangunan). Satu kata yang pas mencerminkan karakter kelompok kami yaitu kompak atau solid, kata tersebut yang menjadi landasan saya maupun teman yang lain dalam menjalani kegiatan sehari-hari di sana. Meskipun ada hal kecil yang memicu konflik dalam diri masing-masing anak, namun hal tersebut dalam diselesaikan secara kekeluargaan. Dalam sebulan ini banyak hal-hal yang tidak bisa terlupakan karena saya menemukan keluarga baru dan hidup ditengah-tengah mereka, seperti canda tawa ketika pada ngumpul dan tradisi yang tidak lepas dari kelompok kami yaitu acara ngopi bareng atau yang lebih dikenal dengan istilah Ngops di dalam kelompok ini yang dilakukan setiap hari selama sebulan ini. Kegiatan inilah yang tidak bisa terlupakan meskipun kegiatan ini merupakan hal yang sepele namun dengan adanya ini saya belajar bahwa kebersamaan ini dimulai dengan seduhan secangkir kopi, saya baru sadar arti dari Filosofi Kopi itu sendiri.
Meskipun awalnya saya ragu akan kelompok ini akan berjalan dengan kompak, dikarenakan pada setiap ada kegiatan rapat mingguan sebelum berangkat kegiatan KKN cuma hanya segelintir anak yang datang dan hanya berapa kali yang komplit satu kelompok datang semua. Hal tersebut disebabkan oleh ada sebagian anak yang mempunyai kegiatan masing-masing yang tidak menututi untuk ditinggalkan. Tapi Alhamdulillah saya bisa hadir setiap ada acara kumpul meskipun saya mempunyai kegiatan yang lebih menguntungkan, namun hal ini demi keberlangsungan kegiatan dari kampus ini. Setiap anak dalam kelompok ini mempunyai karakter yang berbeda-beda, dari sifat maupun tingkah lakunya. Pokoknya kelompok ini komplit dan saling melengkapi dalam sebulan ini. Dan dalam kelompok ini sangat beragam, yang sudah jelas yaitu tiap anak itu beda Fakultas dan jurusan sehingga pemikirannya sangat berbeda-beda, hal
74 | Menabur BAKTI Menebar KARYA
lainnya yaitu kita berasal dari beberapa kota maupun suku dan adat yang berbeda seperti saya sendiri dan dua teman lainnya berasal dari Madura, dan ada juga dari Aceh, Medan, Karawang, Ciputat, Bogor, dan Padang, keanekaragaman budaya di dalam kelompok ini sangat jelas terlihat sehingga saya ingat suatu semboyan negara Kesatuan Republik Indonesia ini yaitu bhineka tunggal ika .
Setelah acara pembukaan dan pemberangkatan selesai, para peserta bersiap meluncur ke lokasi KKN masing-masing. Alhamdulillah akses ke lokasi saya tak begitu sulit dari kampus maupun dari kontrakan. Alhamdulillah setelah tiba di desa, kelompok saya mendapatkan tempat yang begitu cocok dengan apa yang kita inginkan. Tempat yang cocok buat bermalam selama sebulan.
Hari pertama di lokasi kita disambut dengan baik dengan Pak Kades dan keluarga yang rumahnya ditempati kelompok kami. Selanjutnya kita bersih-bersih dan menaruh barang bawaan kami yang begitu banyak, seperti orang pindah rumah saja. Dalam benak saya ternyata jadi mahasiswa itu tidak seperti yang orang bayangkan, dalam pikiranku mahasiswa adalah agent of change. Di mana kita dituntut bisa memberikan perubahan. Dalam hati saya timbul pertanyaan, (perubahan apa yang akan terjadi setelah KKN), setelah begitu lama termenung tak terasa sudah hampir malam, dan agenda selanjutnya adalah bersilaturrahmi dengan warga sekitar.
Hari mulai berganti, tiba saatnya para peserta KKN menjalankan agenda kegiatan yang sudah disusun sebelumnya. Agenda kelompok kami pada minggu pertama difokuskan pada adaptasi dan pengenalan lebih jauh mengenai kondisi desa, mulai dari pengenalan bidang pendidikan & keagamaan, pengenalan bidang kelembagaan, bidang hukum, bidang perekonomian, bidang kesehatan, bidang lingkungan. Selama adaptasi dan pengenalan ini, banyak kisah seru yang terjadi. Banyak hal-hal baru yang mungkin kita tidak diajarkan di kampus kita dapat ketika bermasyarakat. Salah satunya kita diajarkan bahwa untuk menarik simpati masyarakat itu tidak mudah, ada salah satu hal yang mungkin tidak pernah saya lupakan sampai saat ini, kegiatan yang hampir tidak pernah dilakukan selama dikontrakan yaitu shalat berjamaah Subuh (kalau di kosan shalat Subuhnya nafsi-nafsi) kita setiap saat dibangunkan oleh pemilik rumah tersebut, kita
Sepenggal Kisah Pengabdian Kami Di Cikasungka | 75 belajar bahwa budaya yang di sana sangat disiplin beda dengan budaya anak muda sekarang.
Menginjak minggu ke-2, di mana minggu ini mulai menjadi hari – hari menjelang sibuk. Pada minggu ke-2 ini banyak agenda yang harus dikerjakan, mulai dari kegiatan di desa, dan lembaga pendidikan. Kebetulan bidang yang menjadi tanggung jawab saya adalah bidang pendidikan & keagamaan, yang mana bidang ini adalah bidang paling sibuk dan tersibuk. Pagi mengajar di sekolah, sore mengajar TPQ, dan lain sebagainya. Ini adalah tantangan sekaligus pembelajaran bagi diri saya bahwa menjadi mahasiswa itu harus multitalent (tangan bekerja, otak berpikir, hati berzikir). Otak ini terpaksa harus berpikir ekstra, sampai berat badan pun turun.
Minggu ke-2 berlalu, berganti minggu ke-3, di mana minggu ini menjadi minggu puncak kesibukan KKN. Banyak program kerja dilaksanakan sehingga harus banting tulang mencari dana kesana kemari, bahkan hingga terjadi konflik internal yang menyebabkan terjadi perpecahan (di sinilah kita dapat melihat bahwa tidak semua mahasiswa itu dewasa, bahkan ada juga yang bersifat seperti anak TK). Alhamdulillah dengan do’a dan semangat kebersamaan bisa bersatu kembali (inilah kisah yang paling mengharukan, seperti di film).
Setelah minggu ke-3, kini kita sampai pada minggu ke-4, di mana minggu terakhir dan kegiatan yang di jalani juga agak berkurang. Minggu ini kita mengadakan banyak kegiatan perlombaan untuk masyarakat, anak-anak dan melakukan acara penutupan KKN dengan mengadakan pentas seni. Tidak sampai di situ para peserta KKN juga disibukkan pada pembuatan laporan, mulai laporan individu, laporan bidang dan laporan kelompok. Akhirya tanggal yang ditunggu-tunggu tiba, yaitu tanggal selesainya KKN. Dengan hati yang sedih bercampur bahagia kita berpamitan dengan masyarakat, dengan sekolah yang kita ajar dan perangkat desa setempat. Mungkin ini kisah singkat yang bisa saya ceritakan yang bisa kita ambil pelajarannya. Bahwa intinya, di kampus belajar untuk diuji, di masyarakat kita diuji untuk belajar.
Adapun hikmah dari KKN ini saya bisa mengambil pelajaran bahwa kepala setiap orang itu isinya tidak sama dan butuh kesabaran untuk menyamakan walau tidak harus sama. Meskipun banyak pula rintangan yang harus dihadapi.
76 | Menabur BAKTI Menebar KARYA Desa dan Permasalahannya
Desa yang saya tempati merupakan desa terbesar yang ada di Kecamatan Solear dan mempunyai penduduk terbanyak di sana, desa yang besar ini dikenal dengan nama Desa Cikasungka. Untuk akses kesana sangat mudah dikarenakan terdapat dua stasiun yang sangat membantu masyarakat sana melakukan aktivitas ekonominya maupun bagi saya dalam keperluan kegiatan pengabdian ini. Di desa ini kebanyakan penduduknya merupakan pendatang dari luar Tangerang dan penduduk aslinya sangat sedikit yang kami jumpai sebagian besar dari luar Cikasungka dan perangkat desanya pun kebanyakan bukan penduduk asli daerah tersebut. Pertama, saya akan mendeskripsikan tentang keadaan lingkungan di sana, baik lingkungan maupun masyarakatnya. Ketika tiba di sana, saya merasakan suasana yang tidak asing menurut saya, suasana tersebut mengingatkan saya pada suasana di kampung halaman saya yang sempat saya tinggalkan sebulan lalu ketika waktu liburan semester ini. Namun yang sedikit berbeda yaitu suasana di desa ini sudah tidak murni lagi baik dari kesegaran udaranya dikarenakan terlalu banyak kendaraan-kendaraan proyek yang lalu lalang masuk ke daerah desa ini.
Keadaan alam yang ada di daerah tersebut sudah banyak lahan yang sudah dibeli oleh pihak pengembang swasta dan separuh dari desa tersebut sudah menjadi areal perumahan. Ketika saya sampai di sana dan melakukan survei untuk mencari data buat laporan KKN, saya sangat kecewa atas perizinan atas pengalian tanah tersebut dikarenakan dapat merusak lingkungan alam sekitar. Dan saya juga mendapatkan informasi bahwasanya tanah-tanah yang dijual kepada pihak pengembang di desa ini, pemiliknya bukan masyarakat desa tersebut melainkan milik masyarakat dari desa lain sedangkan masyarakat yang tinggal di desa tersebut hanya mendapatkan dampak dari penggalian tersebut seperti contohnya ketika alat berat dan truk-truk beroperasi udara sekitar dipenuhi debu dan polusi, tidak sampai di situ juga dari faktor keselamatan di jalan raya sangat mengkhawatirkan sebab jalan utama di desa tersebut lalu-lalang kendaraan besar sehingga keselamatan berkendara masyarakat di sana sangat minim sekali. Namun jauh dari keriuhan aktivitas tersebut masih tersimpan keindahan alam yang berupa lahan pertanian masyarakat masih hijau akan padi para petani desa tersebut sehingga menyegarkan suasana udara di sana. Waktu yang pas menikmati indahnya kehijauan padi tersebut yaitu ketika pada pagi hari dan tidak kalah menariknya lagi yaitu pada waktu
Sepenggal Kisah Pengabdian Kami Di Cikasungka | 77 senja hari ditemani suara kereta api yang tiap satu jam melintas di daerah desa saya.
Kedua dari segi masyarakatnya, masyarakat di Desa Cikasungka sangat terbuka terhadap kami sehingga kami sangat betah dan senang akan sifat keterbukaan dari masyarakat di sana, hal tersebut disebabkan masyarakat di sana mayoritas merupakan pendatang dan sudah lama tinggal di daerah desa tersebut. Semisal setiap ada kegiatan yang kami lakukan di sana, kami mendapatkan response yang sangat positif dan tidak segan pula masyarakat ikut membantu dalam proses kegiatan yang kelompok kami adakan seperti kegiatan yang bersifat fisik. Yang membuat saya dan juga teman sekelompok nyaman akan lingkungan masyarakat di sana yaitu contohnya para perangkat desa di sana seperti para ketua RT yang ada di dusun kami sangat bersahabat sama kami. Setiap ada kegiatan seperti kegiatan mingguan desa maupun kegiatan makan bersama, saya beserta teman yang lainnya sering diundang dan kamipun ikut serta dalam kehangatan keluar baru ini.
Anak-anak di sana sangat antusias sekali dengan kedatangan kami di desa mereka bagaimana tidak, setiap sore posko kami selalu didatangi ramai-ramai oleh mereka. Ada yang ingin belajar dan ada juga yang ingin mengajak kami main bersama, entah itu main bola atau main permainan yang lain. Pada hari Minggu pagi kami dan anak-anak di sana lari pagi sekaligus berkeliling melihat keadaan desa yang kami belum explore sebelumnya. Berjalan kaki mengelilingi desa dengan mereka itu asyik karena seperti diajak berpetualang melewati sawah-sawah, dan lain-lain. Keadaan alam yang ada di daerah tersebut sudah banyak lahan yang sudah dibeli oleh pihak pengembang swasta dan separuh dari desa tersebut sudah menjadi areal perumahan. Ketika saya sampai di sana dan melakukan survei untuk mencari data buat laporan KKN, saya sangat kecewa atas perizinan atas pengalian tanah tersebut dikarenakan dapat merusak lingkungan alam sekitar. Saya juga mendapatkan informasi bahwasanya tanah-tanah yang dijual kepada pihak pengembang di desa ini, pemiliknya bukan masyarakat desa tersebut melainkan milik masyarakat dari desa lain sedangkan masyarakat yang tinggal di desa tersebut hanya mendapatkan dampak dari penggalian tersebut seperti contohnya ketika alat berat dan truk-truk beroperasi udara sekitar dipenuhi debu dan polusi, tidak sampai di situ juga dari faktor keselamatan di jalan raya sangat mengkhawatirkan sebab jalan utama di desa tersebut lalu-lalang kendaraan besar sehingga
78 | Menabur BAKTI Menebar KARYA
keselamatan berkendara masyarakat di sana sangat minim sekali. Namun jauh dari keriuhan aktivitas tersebut masih tersimpan keindahan alam yang berupa lahan pertanian masyarakat masih hijau akan padi para petani desa tersebut sehingga menyegarkan suasana udara di sana. Waktu yang pas menikmati indahnya kehijauan padi tersebut yaitu pas pada pagi hari dan tidak kalah menariknya lagi yaitu pada waktu senja hari ditemani suara kereta api yang tiap satu jam melintas di daerah desa saya.
Suasana tersebutlah yang membuat saya sangat betah berada di tengah-tengah masyarakat di daerah tersebut tidak hayalnya sebagai keluarga baru saya. Mereka pun memberikan pelajaran akan bagaimana hidup bermasyarakat yang harmonis dan selalu kompak dalam segala urusan yang tentunya itu merupakan hal yang baik bagi kemajuan daerah tersebut. Hal yang tidak bisa terlupakan dalam hidup bermasyarakat di sana yaitu ketika ada kegiatan mingguan, masyarakat yang mayoritas kerjanya di luar daerah tersebut bisa menyempatkan hadir dan berkontribusi dalam kegiatan yang diadakan pihak desa dari segi tenaga maupun materil sehingga kekompakan dan kebersamaan mereka tetap terjaga meskipun tiap harinya jarang berkumpul. Ini mengajarkan saya bahwa kebersamaan itu sangat penting dalam menjaga hubungan antar masyarakat sehingga tercipta suasana yang tentram dan harmonis.
Jika Saya Menjadi Cikasungka
Ketika saya membayangkan menjadi warga atau masyarakat di sana, saya menemukan banyak permasalahan yang bakal dihadapinya, soalnya ketika saya menjalankan kegiatan pengabdian tersebut banyak masyarakat yang mengeluh akan keadaan yang mereka alami dari segi fasilitas umum maupun fasilitas sosial yang di mana di daerah tersebut masih kurang dan belum memadai mencakup masyarakat di sana. Seharusnya pemerintahan di desa tersebut dapat menyediakan fasilitas tersebut dengan memanfaatkan anggaran yang sudah dikucurkan pemerintah pusat yaitu berupa dana desa yang turun 2 kali tiap tahunnya, namun hal tersebut masih terkendala suatu problem atau masalah yang dihadapi masyarakat maupun perangkat pemerintahan di sana yaitu masalah pembebasan lahan yang sudah terjadi sudah cukup lama namun sampai saat ini permasalahan tersebut belum terselesaikan sehingga semuanya terbelengkalai. Permasalahan tersebut yaitu ketidakjelasan sistem pemerintahan dengan pihak pengembang daerah tersebut sehingga yang dikorbankan itu
Sepenggal Kisah Pengabdian Kami Di Cikasungka | 79 masyarakat sendiri. Solusi dari itu sendiri yaitu harus ada diskusi secara langsung yang diadakan oleh pemerintah pusat yang mempertemukan semua pihak yaitu dari pihak pengembang, perangkat desa maupun masyarakat itu sendiri sehingga dapat diperoleh titik temu yang jelas apakah status daerah tersebut milik swasta atau udah pemerintah.
Dari segi hasil alam di sana, yang menjadi ciri khas dari desa tersebut yaitu dikenal dengan penghasil singkong. Namun masih banyak masyarakat sana menjual hasil alam tersebut langsung kepada pengepul maupun dijual sendiri ke pasar sehingga untung atau margin yang didapat sangat sedikit dibandingkan dengan ketika hasil alam tersebut diolah menjadi bahan yang lebih menghasilkan seperti diolah menjadi makanan khas sehingga mempunyai nilai lebih ketika dipasarkan sehingga masyarakat dapat untung lebih dibandingkan sebelumnya. Namun masih banyak masyarakat yang mengetahui sistem ini, sehingga dibutuhkan suatu penyuluhan akan pengolahan makanan tersebut dan kami sudah pernah memberikan suatu demonstrasi bagaimana cara mengolah makanan tersebut meskipun cakupan kegiatan tersebut hanya bagi sebagian masyarakat.
Selain diatas itu, saya bersama teman-teman mengadakan beberapa sosialisasi tentang koperasi simpan pinjam yang berbasis syariah sehingga masyarakat tidak perlu terikat dengan makelar hutang dan di sana masyarakat dapat ikut serta membantu anggota yang lagi membutuhkan. Kami juga membuat taman yang berisi tanaman obat tradisional tujuannya agar masyarakat dapat memanfaatkan tanaman alami dapat berobat sehingga tidak perlu memakai obat.
Itulah segelintir kisah senang dan sedih selama perjalanan KKN, terdapat banyak pembelajaran yang saya dapatkan dari kegiatan tersebut dan pengalaman-pengalaman baru. Akhirnya kata yang pas buat kalian semua anggota kelompok KKN 199 “Sukses Gengs, Kuys Ngops”.
80 | Menabur BAKTI Menebar KARYA