pulalah yang akan datang, Begitu juga sebaliknya”
MENGABDIKAN DIRI, KADANG SETENGAH HATI Denny Aprianto
Pandangan Awamku tentang KKN
Suasana kampus selalu ramai, mahasiswa baru hingga mahasiswa menjelang kelulusan sibuk dengan urusannya masing-masing. Mahasiswa baru sibuk beradaptasi dengan lingkungan barunya, ada yang cepat membaur, ada yang menutup diri, ada juga yang mengalami fenomena kaget budaya, biasanya dialami oleh para perantau.
Sementara itu, mahasiswa semester akhir sibuk mondar-mandir ke perpustakaan untuk mencari bahan skripsinya. Saya, Denny Aprianto, menginjak semester enam, sedang asyik menyeruput kopi sambil mengamati para mahasiswa baru dan akhir tersebut.
Pernah ada yang cerita, semester enam merupakan semester terberat, sebab punya kewajiban untuk menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Semua rekan berisik membahas soal KKN, ada yang sudah membentuk kelompok, ada juga yang santai karena mendengar isu pembagian kelompok ditentukan pihak kampus.
Ternyata benar, pembentukan kelompok KKN ditentukan oleh kampus, Lembaga Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) adalah lembaga yang memiliki otoritas tersebut. Pembagian kelompok dilakukan secara acak dari berbagai Fakultas dan jurusan.
Metodenya seperti apa pun tak ada yang tahu, mungkin hanya PPM dan Tuhan yang tahu. Tapi setidaknya kebijakan ini sangat memudahkan bagi mahasiswa yang malas ribet mencari dan merekrut anggota kelompok sendiri, saya salah satunya.
Pandangan pribadi saya terhadap KKN tak lebih dari sekadar menjalani kewajiban dari kampus sebagai salah satu syarat kelulusan. Saya tidak begitu antusias dengan program ini, belajar dari KKN sebelumnya, toh kegiatan yang dilakukan hanya membuat gapura dan menyelenggarakan lomba 17 Agustus, ya agar lebih keren bisa juga membuat seminar atau penyuluhan.
Esensi mengabdi kepada masyarakat sulit didapat dalam program KKN, alih-alih ingin memperbaiki kehidupan masyarakat, kadang mahasiswa justru membuat risih. Penyaluran ide-ide mahasiswa kepada
98 | Menabur BAKTI Menebar KARYA
masyarakat hampir nihil, toh mahasiswanya jarang punya ide, baca buku saja malas.
Dalam pikiran saya, KKN adalah tinggal di desa yang masyarakatnya masih tertinggal, dengan fasilitas dan pendidikan yang minim. Lalu, mahasiswa datang membawa pemikiran-pemikiran brilian agar masyarakat desa lebih berdaya, baik dalam segi pemikiran atau perbuatan.
Bahasa merupakan kekhawatiran terbesar saya dalam menjalani program KKN, saya sama sekali tidak menguasai bahasa daerah apa pun dan mana pun. Kendala bahasa dapat menyulitkan saya dalam proses adaptasi dengan masyarakat.
Setelah tiba di desa tempat saya KKN, yaitu Desa Cikasungka, Solear, Banten, ternyata semuanya jauh dari yang saya bayangkan. Perumahan berjajar rapi, stasiun kereta, hingga supermarket sudah tersedia di desa itu. Awal Mula SOLARITY
Ketika tiba saat pengumuman anggota, ternyata saya terdaftar di kelompok dengan nomor urut 199, tanpa tahu siapa saja anggota kelompok yang lain. Siapa pun rekan saya nanti, menurut saya sama saja, toh masing-masing individu sudah mempunyai program kerja masing-masing-masing-masing pada saat mendaftar program ini.
Hingga tiba saat untuk pertama kalinya saya berkumpul dengan teman sekelompok, di Auditorium Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kesan pertama yang saya rasakan adalah kelompok 199 terlalu ksaya untuk orang seperti saya. Tapi saya jalani saja, toh seiring berjalan waktu kami semakin kenal dan mengerti satu sama lain.
Saat penentuan ketua kelompok, Iqbal Gade mengajukan diri sebagai ketua, saya sontak setuju, biar cepat saja pertemuan ini selesai. Seusai pertemuan di audit, saya kembali ke perpustakaan untuk melanjutkan bacaan, tak lupa kami berfoto agar terlihat kompak seperti kelompok yang lain.
Setelah itu kami berkomunikasi melalui aplikasi media sosial Whatsapp, kami membuat grup dengan nama “KKN 199” (kala itu belum ditentukan nama SOLARITY). Agenda pertama yang dibicarakan dalam grup adalah pertemuan rutin setiap minggu dan pengumpulan uang kas serta penetapan nama kelompok.
Nama SOLARITY diajukan oleh Iqbal, SOLARITY adalah gabungan dari dua kata yaitu Solidarity and Charity, jelas Iqbal kepada kami pada saat
Sepenggal Kisah Pengabdian Kami Di Cikasungka | 99 pertemuan pertama di Taman Landmark UIN. Nama lain yang diajukan adalah Momentum oleh Ahmad Rafiqi dan Fireworks oleh Humairah (yang akhirnya mundur dari kelompok karena harus berangkat ke China).
Beberapa minggu kemudian PPM mengeluarkan daftar lokasi KKN untuk seluruh kelompok. Desa Cikasungka adalah lokasi KKN kami bersama kelompok dengan nomor urut 197 dan 198. Desa Cikasungka terletak di Banten, berbanding terbalik dengan keinginan saya yang ingin KKN di Bogor.
Setelah mengetahui lokasi, kami rapat untuk menentukan waktu survei dan mencatat apa saja yang sekiranya akan dan harus kami ketahui tentang desa tersebut. Tidak lupa kami berkoordinasi dengan kelompok satu desa agar berangkat bersama-sama.
Kegiatan survei lokasi dilakukan beberapa kali dan tak ada satu pun yang saya ikuti, selalu bentrok dengan kegiatan peliputan, maklum, mahasiswa jurnalistik. Dari cerita yang dijelaskan, akses ke lokasi KKN kami cukup mudah karena ada dua stasiun yang terletak di Desa Cikasungka, yaitu Stasiun Cikoya dan Stasiun Tigaraksa.
Bila saya boleh cerita, semua anggota kelompok saya mempunyai ego yang besar, teruntuk yang perempuan. Kami, kaum pria selalu di desak agar bekerja cepat dan efektif sesuai yang mereka inginkan. Konflik terjadi beberapa kali karena tak ada satu pun yang bias meredam egonya.
Hari pertama tinggal di desa, saya masih mencoba menghafal nama-nama dari anggota kelompok saya, toh memang susah menghafal nama-nama seseorang yang jarang bertemu di kehidupan sehari-hari. Iqbal, Rafiqi, Chika, Fira, Azka mungkin yang paling mudah saya ingat karena sudah beberapa kali bertemu.
Tapi di kelompok ini juga ada abang Hodari, mahasiswa semester 10 di Jurusan Studi Agama-Agama (dulunya perbandingan agama) Fakultas Ushuluddin. Dia adalah satu-satunya teman merokok dan begadang (kita selalu kebagian jaga malam).
Ada juga yang bernama Indah, perempuan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini cenderung pendiam, bahkan tak akan bicara jika tidak ditanya terlebih dahulu. Indah seperti orang yang setengah hati menjalani KKN ini, jarang sekali bersosialisasi dengan anggota yang lain, mungkin ia sedang dalam masalah, tetapi taka da yang ia ceritakan, yaaa biarkan sajalah.
Oiya, di Desa Cikasungka kami tinggal di kontrakan milik Pak Toto, ia saat ini menjabat sebagai Kepala Dusun III Desa Cikasungka (juga sudah
100 | Menabur BAKTI Menebar KARYA
pernah menjabat sebagai Ketua RW 07 selama dua periode). Pak Toto sangat taat beribadah, hari pertama kami sudah langsung diajak untuk meramaikan Masjid Darussalam yang ia kelola.
Sehari-hari kegiatan kami selalu berhubungan dengan program kerja, ya walaupun ada beberapa program yang kami ubah. Perubahan dilakukan karena kami berpikir realistis, kami harus menyortir ulang program mana saja yang kira-kira dapat kami jalani di Desa Cikasungka, khususnya di Dusun III.
Semakin hari kedekatan kami semakin erat, mulai tumbuh guyon-guyon tak jelas namun bisa membuat kami tertawa. Kami suka ngopi di ruang tengah bersama, sekadar bercerita tentang kehidupan kami masing-masing.
Kadang juga kami jalan-jalan bersama ke tempat-tempat yang bisa kami kunjungi, kadang ke rumah kelompok lain, kadang ke tempat wisata daerah Tigaraksa. Walaupun kekurangan kendaraan, kadang kami harus ada yang boncengan bertiga (jika kami pergi satu kelompok).
Hal-hal seperti itu yang menurut saya tak akan terlupakan, bagaimana mahasiswa dari kota besar tiba-tiba harus hidup di desa dengan segala kesederhanaannya. Keadaan seperti itu tak membuat kami murung, banyak hal yang bias membuat kami tertawa dan mengingat kenangan bersama di sana.
Saya memilih untuk mengingat hal yang terkenang karena keceriaannya, ya walaupun banyak juga hal-hal yang membuat jenuh dan bosan. Mulai dari adu argumentasi sampai tidak punya teman untuk menikmati malam, sekadar menghisap rokok dan menyeruput kopi saja. Desa Tak Seperti Desa
Desa Cikasungka merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Desa ini terbagi menjadi 4 dusun, masing-masing dusun memiliki karakteristik yang berbeda, baik dalam hal masyarakatnya maupun kehidupan ekonominya.
Saya akan bercerita fokus pada dusun tiga khususnya RW 07, karena kebetulan saya melaksanakan kegiatan KKN di wilayah tersebut. Sayang sekali saya tidak bias berkontribusi banyak untuk dusun yang lain, semoga teman-teman dari kelompok lain sudah melakukan yang terbaik dalam pengabdiannya di dusun satu, dua dan empat.
Sepenggal Kisah Pengabdian Kami Di Cikasungka | 101 Sebagian besar Dusun III merupakan perumahan, tepatnya adalah Perumahan Taman Adiyasa. Sebagian besar warganya bekerja di kota-kota besar seperti Jakarta, Bogor, dan Depok. Oleh karena itu, keberadaan stasiun kereta di desa ini sangat membantu masyarakat untuk pergi ke tempat kerja masing-masing.
Keadaan di Dusun III ini sangat sepi, apalagi siang hari, hanya mobil-mobil angkot yang lalu lalang melintasi dusun ini. Kondisi jalanan yang rusak, menurut warga sini, pihak pengembang Perumahan Adiyasa tak jelas kabar keberadaannya dan dianggap lepas tanggung jawab pada pemeliharaan jalan umum.
Sebagian warga bahkan membentuk sebuah tim untuk mendesak Pemerintah Kabupaten Tangerang agar mau mengakuisisi perumahan tersebut. Harapannya agar pemerintah bias membantu dalam hal perbaikan jalan umum di dusun ini. Sampai saat ini perjuangan warga memperoleh hasil yang nihil.
Cuaca di sini amat panas, merasakan panas matahari di sini menyebabkan kami banyak menunda-nunda pekerjaan. Kondisi dusun yang minim pepohonan dan banyak jalan tak layak menyebabkan wilayah ini sangat berdebu.
Keadaan selokan pun tak layak, hujan sedikit saja langsung banjir, wajar sih, warga di dusun ini tak gemar menanam pohon. Sampah menumpuk di mana-mana, paling banyak sih sampah konveksi, 20% rumah di sini dijadikan konveksi oleh pemiliknya dan tak punya tempat sampah yang lebar.
Kondisi ekonomi masyarakat di Dusun III cenderung baik, terlihat dari banyaknya warga yang memiliki mobil di rumahnya, bahkan sebagian besar mobil produksi tahun 2010-2012. Supermarket banyak sekali, apotek juga, ya dusun ini sudah tak layak disebut desa lagi.
Di Dusun III ini, ada beberapa orang yang cara beragama nya menurut saya berlebihan, sampai suatu ketika saya mendengar ada ancaman tentang surga dan neraka bagi anak-anak kecil melalui pengeras suara di Masjid. Hal ini menurut saya tak baik untuk perkembangan anak, anak diancam dan di teror melalui pengeras suara, yang notabene harusnya dipakai untuk kegiatan yang baik-baik.
Setiap jam 4 pagi, kontrakan kami digedor-gedor oleh Pak Toto, maksudnya baik sih, ingin mengajak shalat Subuh berjamaah, tapi caranya itu lho, berlebihan menurut saya. Tanpa harus digedor pun kami pasti
102 | Menabur BAKTI Menebar KARYA
bangun karena Alarm telepon genggam nya Iqbal pasti berbunyi sangat keras ketika adzan Subuh.
Beberapa warga ada yang merasa risih dengan kelakuan Pak Toto. Namun tak mereka tak enak jika menegurnya, maklum, Pak Toto bias dibilang adalah sesepuh di dusun ini. Pak Toto juga banyak membantu masyarakat yang kesusahan, pernah ada yang datang ke rumahnya untuk mengadu tak punya biaya melahirkan. Akhirnya Pak Toto menanggung semua biayanya, yaaa itu adalah sisi baik dari diri Pak Toto, semua orang punya sisi baik dan buruk manusia.
Sebenarnya, permasalahan desa ini adalah kurangnya gotong royong antar sesame warga, baik warga satu dusun maupun antar dusun. Wilayah desa yang sangat luas ini mungkin menjadi penyebab kurangnya gotong royong antar warga. Menurut data yang saya punya, desa ini jumlah penduduknya 24 ribu orang.
Jumlah penduduk sebesar itu, menurut saya desa ini harusnya dimekarkan menjadi Kecamatan Cikasungka. Dana desa dari pemerintah tak akan merata jika dibagikan ke masyarakat sebanyak itu. Di desa ini juga banyak lahan pertanian, sungguh aneh jika desa ini masih dikategorikan sebagai desa tertinggal.
Keadaan politik di desa ini sedang memanas, terkait semakin mendekatnya pagelaran pemilu kades tahun 2017 nanti. Beberapa calon sudah mendeklarasikan diri sebagai calon kepala desa. Makanya, antar tokoh masyarakat di sini tak akur, bahkan saling mencibir satu sama lain.
Di berbagai kesempatan, kami selalu menebar senyum kepada warga sekitar Dusun III ini. Bahkan, sewaktu menanam Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan mendekorasi gapura, ada beberapa warga yang dengan inisiatif sendiri membantu pekerjaan kami. Sebagian lain menyumbangkan makanan untuk kami konsumsi ketika istirahat.
Kira-kira itu sebagian pesan baik yang bias kami tinggalkan di Desa Cikasungka, khususnya Dusun III. Kami selalu berusaha gotong royong sesame manusia agar segala permasalahan cepat terselesaikan. Semoga pesan kami tak menguap bersama kepergian kami dari desa itu.
Bila Saya Anak Cikasungka
Akhirnya saya sudah sampai pada bab terakhir penulisan tugas ini, BAB IV, saya diharuskan mengandai-andai menjadi seorang warga Desa Cikasungka. Sebagai seorang pemuda desa, pertama-tama saya akan
Sepenggal Kisah Pengabdian Kami Di Cikasungka | 103 mengembangkan kemampuan pribadi saya, sebelum saya bermimpi mengubah kondisi sosial masyarakat di desa saya.
Seharusnya PPM juga berpikir seperti ini, hanya pengirim mahasiswa yang mempunyai kompetensi baik dan teruji sebagai wakil kampus untuk terjun langsung membantu masyarakat. Realitanya banyak mahasiswa yang melaksanakan KKN sekadar menggugurkan kewajiban, dan mengulang program kerja yang sudah dilakukan kakak kelasnya tahun lalu.
Kedua, saya akan membuat suatu kelompok masyarakat yang focus kegiatannya mengembangkan segala potensi daerah Desa Cikasungka, tentunya bekerja sama dengan aparat desa agar segalanya dimudahkan. Nah, di Desa Cikasungka sekarang ini, Kepala Desanya sama sekali tak serius mengembangkan potensi desa.
Terbukti dengan sulitnya menemui dia di kantornya, bukan karena ia sibuk, tapi karena ia tak hadir. Dalam seminggu, mungkin hanya dua hari ia ada di kantornya, alasannya tak pernah jelas, stafnya pun tak tahu.
Lanjut, ketika semuanya sudah terbentuk, harus ada pembagian tugas antara satu divisi dengan divisi lainnya dalam kelompok masyarakat tersebut. Dalam bayangan saya sih, harus ada divisi pariwisata, divisi pengolahan hasil alam daerah, divisi keagamaan dan keberagaman, dan divisi perlindungan wilayah daerah.
Menyoal pengolahan hasil alam daerah, penduduk di desa ini masih minim pengetahuan tentang pengolahan makanan. Semua hasil alam dijual mentah-mentah kepada pembeli di pasar. Padahal, hasil alam itu bias dioleh terlebih dahulu agar harga jual ke pasarnya naik.
Saya dan teman-teman sudah melakukan penyuluhan tentang pengolahan tersebut. Penyuluhan nya berisi bagaimana kita mengubah singkong menjadi Gembus. Makanan ini gurih sekali, hanya perlu dikemas dalam kemasan yang menarik, saya yakin akan laku keras, apalagi industri makanan kreatif sedang di gandrungi anak muda belakangan ini.
Divisi Keagamaan dan keberagaman mempunyai tugas agar terciptanya masyarakat yang toleran antar agama satu dengan yang lainnya. Beberapa hari sebelum saya pulang dari desa, ada petisi dari beberapa pemuka salah satu agama agar kepala desa membubarkan kegiatan keagamaan di salah satu rumah warga Desa Cikasungka.
Ketika saya tanya kepada kepala desa, memang fasilitas keagamaan di desa ini kurang, makanya saya tak merasa aneh jika ada kegiatan keagamaan dilakukan di rumah warga. Harusnya desa dapat memfasilitasi
104 | Menabur BAKTI Menebar KARYA
seluruh warganya karena hak beragama adalah hak seluruh warga negara seperti yang tercantum dalam UUD 1945.
Hal yang akan saya lakukan selanjutnya adalah melakukan sebuah gerakan penanaman pohon bersama, seperti yang saya ketahui, apalagi di Dusun III, jika hujan lebat sebentar saja langsung terjadi banjir. Untuk mengurangi bencana tersebut, tampaknya penanaman pohon adalah hal yang paling realistis mengurangi banjir.
Melakukan perbaikan saluran air memerlukan dana yang besar, seharusnya ini menjadi kewajiban pengembang perumahan Adiyasa. Mengandalkan uang dari pemerintah pun tak mungkin, karena tak punya wewenang karena lahan ini sudah dibeli pengembang.
Nampaknya hanya itu yang bias saya lakukan jika menjadi warga di Desa Cikasungka, saya hanya melakukan apa yang seharusnya pemuda lakukan, urusan lainnya adalah urusan aparat desa dan tokoh masyarakat.
Hari-hari pun telah berganti. Tidak terasa sudah tinggal menghitung hari kami akan berpisah dan meninggalkan Desa Cikasungka. Setelah pulang KKN nanti, pasti kebersamaan dan sikap kekeluargaan inilah yang akan kami rindukan. Saya yang awalnya kurang betah di sini lama-lama betah juga dan ada rasa tidak ingin berpisah dengan teman-teman kelompok 199. Di tempat inilah saya menemukan kenyamanan, ketenangan, persahabatan, dan kegembiraan bersama teman-teman tercinta kelompok 199. Semoga setelah pulang KKN ini kami semua saling mengingat dan tidak melupakan kenangan-kenangan yang kami rangkai di tempat KKN tepatnya di Desa Cikasungka, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang.
Sebuah cerita indah yang tidak akan pernah saya lupa karena ini terjadi hanya satu kali seumur hidup saya, semoga cerita ini terbungkus indah dan akan saya buka kelak nanti ketika semuanya sudah berbeda, iya meskipun dengan situasinya yang berbeda saya yakin cerita di dalamnya akan tetap seperti saat ini, saat-saat indah seperti ini bersama kalian teman-teman KKN 199. Banyak persepsi tentang KKN, kalau menurut saya KKN adalah salah satu dari berbagai moment yang sangat indah dan tidak akan pernah saya lupakan dan menjadi cerita indah yang mungkin bisa membuat saya bangga setelah melewatinya. Akhir kata, terima kasih untuk teman-teman SOLARITY, pengalaman tinggal serumah selama satu bulan bersama tak akan bisa saya lupakan, Assalamualaikum.
Sepenggal Kisah Pengabdian Kami Di Cikasungka | 105 5
SEBULAN DI CIKASUNGKA