BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
4.2.6 Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan
Tujuan pemantauan dilakukan untuk memastikan dan mengetahui pelaksanaan, identifikasi masalah dan kegiatan operasional Kampung KB berjalan sesuai dengan rencana yang disepakati bersama; Waktu pemantauan dilakukan secara periodik dan berjenjang untuk mengetahui perkembangan Kampung KB; Kegiatan yang dipantau meliputi keberadaan, pemanfaatan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan program KKBPK.
B. Evaluasi
Tujuan evaluasi dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang hasil dan manfaat serta perkembangan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan program KKBPK; Hasil evaluasi diperlukan untuk merencanakan pengembangan kegiatan-kegiatan program KKBPK yang akan datang dengan melibatkan pemberintah daerah dan lintas sektor.
C. Pelaporan
Perkembangan pelaksanaan kegiatan dan realisasi program dan anggaran secara rutin dilaporkan (triwulanan, semesteran dan tahunan) oleh Ketua Kampung KB secara berjenjang kepada Kepala SKPD KB untuk ditembuskan kepada Bupati/Walikota selaku Pembina Kampung KB dan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi.
4.3 Koordinasi dalam Implementasi Program Kampung Keluarga Berencana di kelurahan Sari Rejo Kecamatan Medan Polonia
Dengan terbitnya Undang-undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga memperluas peran BKKBN bukan hanya sebagai penyelenggaraan KB tapi juga pengendalian penduduk. Diperkuat lagi dengan adanya Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2010 tentang BKKBN dimana tugasnya melaksanakan pemerintahan di bidang pengendalian penduduk dan keluarga berencana. Sesuai dengan arah kebijakan pemerintahan Kabinet Kerja, BKKBN diamanatkan turut serta untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia dengan diharapkan menjadi lembaga yang handal dan dipercaya dalam mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas.
Tindakan melakukan inovasi atas perintah presiden dengan pembentukan kampung KB yang melibatkan pembangunan lintas sektoral mengharuskan BKKBN untuk melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Untuk melakukan koordinasi BKKBN meneruskan perpanjangan tangan kebijakannya pada setiap provinsi dengan adanya Perwakilan BKKBN pada setiap provinsi di Indonesia.
Perwakilan BKKBN di Provinsi memiliki tugas diantaranya perumusan kebijakan, pemaduan, sinkronisasi kebijakan di bidang pengendalian penduduk dan keluarga berencana, pelaksana advokasi dan koordinasi di bidang pengendalian penduduk dan KB, penyediaan alat dan kebutuhan KB, Pemberdayaan organisasi masyarakat dalam hal KB, penyelenggara pemantauan dan lainnya.
Untuk menjalankan tugas-tugas di tingkat provinsi tersebut BKKBN perwakilan
pemerintahan daerah, menjalin perjanjian kerja dengan pemerintah daerah untuk dapat mensinkronisasi kebijakan tentang pengendalian penduduk dan keluarga berencana dalam pemerintahan daerah. Selanjutnya, Pemerintah daerah yaitu Gubernur dan Bupati/Walikota mengkoordinasikan kebijakan tersebut dengan Perangkat Daerah Provinsi dan Perangkat Daerah Kabupaten/Kota.
Berdasarkan nomenklatur, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana adalah penamaan Perangkat Daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang pengendalian penduduk dan keluarga berencana. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten/Kota bertugas membantu Bupati/Walikota dalam melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang pengendalian penduduk, KB, ketahanan dan kesejahteraan keluarga Daerah Kabupaten/Kota.
Dalam melaksanakan tugasnya, DPPKB memiliki fungsi sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, yaitu: perumusan kebijakan teknis; pelaksanaan pemaduan dan sinkronisasi kebijakan pengendalian kuantitas penduduk; pelaksanaan pendayagunaan tenaga penyuluh KB/petugas lapangan KB dan kader KB; pelaksana pengendalian dan pendistribusian alat dan kontrasepsi, pelaksanaan pemberdaya dan peningkatan peran serta organisasi kemasyarakatan dalam pelaksanaan pelayanan ber-KB, dan pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
Untuk melaksanakan tugas dan fungsinya, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) melakukan koordinasi dengan Kecamatan hingga Kelurahan. Hal ini dilakukan untuk melaksanakan program dari kebijakan yang telah
yang dimaksud adalah Program Kampung Keluarga Berencana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kampung KB merupakan satuan tingkat wilayah setingkat RT/Dusun atau yang setara dengan kriteria tertentu, dimana nantinya berdasarkan kriteria tertentu tersebut dilaksanakan keterpaduan program KKBPK dan pembangunan sektor lain yang dilaksanakan secara sistemik dan sistematis untuk mendorong kemajuan wilayah tersebut yaitu mensejahterakan masyarakat setempat.
Atas tujuan untuk mendorong kemajuan wilayah dan mensejahterakan masyarakat program kampung Keluarga Berencana memiliki syarat adanya partisipasi langsung dari masyarakat sebagai salah satu pendorong kesuksesan program. Untuk itu, program kampung KB dilaksanakan dengan adanya bentukan kelompok kerja (pokja) yang saling berkoordinasi dengan kepengurusannya.
Kelompok Kerja tersebut didampingi langsung oleh Petugas Lapangan KB (PLKB) dari Dinas Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana (DPPKB) sebagai pembina lapangan pokja kampung KB yang ada di kelurahan.
Sebagaimana alur koordinasi yang dijelaskan di atas, dapat diketahui bahwa program kampung KB bergantung dengan koordinasi yang dilakukan untuk melaksanakan keterpaduan Program KKBPK dan pembangunan lintas sektoral di wilayah setingkat kelurahan. Dalam penelitian ini untuk melihat koordinasi program kampung KB di kelurahan Sari Rejo mengunakan pendapat dari Tripathi dan Reddy dalam buku Moekijat terkait syarat-syarat mencapai koordinasi yang efektif hubungan langsung, kesempatan awal, kontinuitas, dinamisme, tujuan yang jelas, organisasi yang sederhana, perumusan wewenang dan tanggung jawab yang jelas,
4.3.1 Hubungan Langsung
Menurut Beebe (2005) dalam Skripsi Rahayu mengungkapkan bahwa hubungan antar pribadi merupakan hubungan yang terbangun antara dua orang sebagai hasil dari komunikasi antar pribadi. Hubungan antar pribadi seperti layaknya komunikasi antar pribadi bersifat transaksional dimana setiap individu yang terlibat saling mempengaruhi satu dengan lainnya.
Hubungan pribadi langsung dapat dilakukan dengan melakukan komunikasi tatap muka (face to face communication). Komunikasi ini juga biasa disebut komunikasi secara lisan (oral communication). Maka dapat diukur indikator dalam hubungan pribadi langsung adalah komunikasi lisan (oral communication) Komunikasi lisan adalah komunikasi yang dilakukan dengan cara tatap muka (face to face communication). Komunikasi ini mempunyai banyak keuntungan karena dapat menilai dari tingkat daripada penerimaan atas pengertian terhadap orang-orang yang diajak bicara, sebab dapat langsung menanyakan, dapat menilai dari jawabannya, dapat mengetahui secara jelas pengertian-pengertiannya, dan dapat diketahui secara jelas apa yang dibicarakan.
Pada aspek hubungan langsung berbicara tentang adanya keterlibatan dengan komunikasi langsung berbagai lembaga dalam koordinasi pada program kampung KB di Kelurahan Sari Rejo. Dimana jika mengacu pada surat Walikota Medan Nomor 476/572.K/IV tahun 2017 lembaga yang terlibat dalam kelompok kerja kampung KB diantaranya adalah seluruh kepengurusan pokja,
kelurahan Sari Rejo juga melibatkan dinas lintas sektoral yang disesuaikan dengan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat di kampung KB di kelurahan Sari Rejo.
Adapun terkait dengan hubungan langsung dalam koordinasi yang dilakukan pada program kampung KB Sari Rejo dapat dilihat melalui pertemuan langsung yang dihadiri oleh pihak-pihak terlibat. Pihak-pihak tersebut termasuk juga mitra dan instansi lintas sektoral yang hadir dalam tiap-tiap pertemuan yang diadakan di kampung KB. Pertemuan tersebut bertujuan untuk memusyawarahkan permasalahan dan pencarian solusi serta pembahasan mengenai rencana kerja yang selanjutnya dilakukan di kampung KB Sari Rejo.
Jadwal pertemuan yang dilakukan dalam kampung KB dilakukan dalam jangka waktu tertentu, seperti yang dapat dilihat dari gambar berikut :
Gambar 4.5: Pertemuan Forum Musyawarah Kampung KB Sari Rejo
Sumber: Dokumentasi peneliti 2020
Dari hasil dokumentasi peneliti tentang keterlibatan stakeholder dalam berbagai pertemuan koordinasi pada program kampung KB Sari Rejo, adanya
jadwal yang ditetapkan, membuat pertemuan yang diadakan menjadi lebih tersistematis sehingga hal tersebut mendukung para stakeholder agar dapat terlibat dalam setiap pertemuan yang dilakukan. Dalam setiap pertemuan juga terdapat daftar hadir, dokumentasi, dan berita acara. Dapat dilihat dari gambar di atas dan daftar hadir yang diamati peneliti, pertemuan dihadiri para stakeholder yang termasuk dalam undangan pertemuan yaitu kepala seksi DPPKB, koordinator PLKB Kecamatan, PLKB kelurahan, Lurah, semua kepala lingkungan, setiap penanggung jawab seksi pokja dan pengurus pokja hadir dalam forum musyawarah.
Gambar 4.6: Notulensi Forum dan Daftar Hadir Pertemuan Kampung KB
Sumber: Dokumentasi peneliti 2020
Dalam notulensi forum musyawarah mencatat permasalahan prioritas yang dihadapi masyarakat Sari Rejo. Forum musyawarah di masa pandemi bulan Nopember tercatat permasalahan yang diangkat mengenai meningkatnya kriminalitas pada masa pandemi di kelurahan Sari Rejo. Kriminalitas terjadi diduga karena semakin terhimpitnya ekonomi masyarakat menyebabkan banyak pelaku pencurian. Hal ini menjadi perhatian kampung KB terkait keamanan dan kenyamanan masyarakat Sari Rejo. Untuk mengatasi masalah tersebut diusulkan beberapa solusi di antaranya ialah memberlakukan jam malam untuk anak-anak, memperketat patroli dengan menjadwalkan warga dan keikutsertaan mitra dari Babinsa dan Bhabinkamtimnas melakukan patroli keamanan disekitar lingkungan kelurahan Sari Rejo.
Kemudian seperti hasil dari pertemuan forum musyawarah pada bulan Oktober lalu yang diamati peneliti, yaitu musyawarah terkait masalah sampah dan kenakalan remaja. Dan solusi yang diberikan oleh para stakeholder yaitu dengan menjadwalkan gotong royong membersihkan lingkungan dan memberikan sangsi pada warga yang kedapatan membuang sampah diselokan dan pinggir jalan yang bukan tempatnya. Forum musyawarah dilakukan sekali setiap bulannya. Adapun untuk permasalahan lain yang belum dinilai sebagai masalah mendesak dibicarakan kembali di luar pertemuan sesuai arahan pihak berwenang, seperti halnya keinginan warga dalam solusi sistem belajar online ketika masa pandemi.
Hubungan langsung dalam kampung KB di kelurahan Sari Rejo juga diungkapkan oleh PLKB Sari Rejo sebagai berikut,
“Kalau dikampung KB sari rejo bisa adek lihat karena ini kampung KB percontohan mungkin jadi ya semua pihak memang menunjukkan keterlibatan dankomunikasi langsung, seperti dinas P2KB Kota Medan yang memantau terus pelaksanaan kegiatan di kampung KB. Kami juga ada musyawarah atau pertemuan biasanya 2 bulan sekali untuk membahas kegiatan dan rencana kerja bersama pihak-pihak tersebut, misalnya bu lurah, koordinator KB juga, TP-PKK, babinsa dan lainnya karena kita bermitra tidak bisa kerja sendiri sendiri karena tugas saya juga bukan memantau masalah KB tapi juga pengendalian penduduk bahkan hingga ke perekonomiannnya.” (Wawancara Halimatun 8 Agustus 2020).
Berdasarkan hasil obeservasi peneliti tentang jadwal pertemuan, daftar kehadiran dan pertemuan yang diadakan di kampung KB Sari Rejo dapat diketahui bahwa hubungan langsung dalam pertemuan DPPKB dan Pokja program kampung KB bersama mitra sudah baik. Dengan hadirnya semua pihak yang menunjukkan komunikasi lisan dan partisipasi aktif sesuai dengan kapasitasnya. Namun dalam koordinasi dengan lembaga lintas sektoral masih menemui kekurangan. Dimana beberapa lembaga lintas sektoral yang diharapkan mengintervensi belum berpartisipasi aktif dalam kegiatan kampung KB di kelurahan Sari Rejo. Seperti yang disampaikan Koordinator PLKB Sari Rejo berikut,
“kalau dalam koordinasi di pokja kampung KB kita sudah sangat aktif ya anggotanya, tetapi dalam intervensi kita tidak punya wewenang untuk mendesak lembaga tersebut kita hanya menyurati. Seperti BNN yang belum langsung turun dengan timnya ke kampung KB Sari Rejo, karena memang masalah utama di kampung KB Sari Rejo ini masih banyak ditemukan penyalahgunaan narkoba.” (Wawancara Aminah, 14 Januari 2020).
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti mengenai hubungan langsung lintas sektoral dan dari data-data di atas, peneliti menemukan fakta bahwa kampung KB Sari Rejo sebagai kampung KB percontohan yang ada di Kota Medan masih menemui kendala dalam mengundang lintas sektoral.
Seperti yang diakui oleh koordinator PLKB di kecamatan yang menjelaskan tentang dinas-dinas lain yang memiliki program tersendiri dan kurangnya anggaran untuk berpartisipasi pada program kampung KB menjadi alasan lintas sektoral masih menemui kendala seperti halnya di Kelurahan Sari Rejo yang belum menerima kunjungan langsung dari BNN untuk urusan penyuluhan narkoba.
Penyuluhan narkoba dimaksudkan agar masyarakat terutama remaja mengetahui bahaya dari pemakaian obat-obat terlarang dan enggan untuk memakai narkotika karena memahami akibat yang akan diterima apabila kedapatan menggunakan obat-obatan terlarang tersebut, serta memberikan wawasan akan kerugian dan efek yang ditimbulkan dari pemakaian narotika.
Walaupun dalam pelaksanaannya kegiatan penyuluhan selama ini tetap dapat berjalan, dengan memberikan arahan tentang bahaya narkoba dilakukan oleh mitra kerja di kelurahan yaitu Babinsa dan Babinkamtimnas. Kemudian, mengacu pada Surat Edaran Walikota Medan Nomor 470/1856 tahun 2019 bahwa belum ada daftar BNN sebagai pelaksana penyuluhan narkoba. Hal ini menjadi masalah dalam pemahaman setiap lembaga lintas sektoral tentang keterlibatannya. Ini juga berkaitan dengan pentingnya tujuan yang didefinisikan
4.3.2 Kesempatan Awal
Koordinasi dapat dicapai lebih mudah dalam tingkat-tingkat awal perencanaan dan pembuatan kebijakan. Misalnya, sambil mempersiapkan rencana itu sendiri harus ada konsultasi bersama. Dengan cara demikian tugas penyesuaian dan penyatuan dalam proses pelaksanaan rencana menjadi lebih mudah. Maka dalam kesempatan awal ditunjukkan dengan adanya konsultasi bersama pada saat pembuatan kebijakan. Konsultasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pertukaran pikiran untuk mendapatkan kesimpulan (nasihat, saran, kebijakan dan sebagainya) yang sebaik-baiknya.
Dalam koordinasi pada program Kampung KB di Kelurahan Sari Rejo, kesempatan awal ditunjukkan dengan adanya komitmen para pemimpin yang tercermin dalam landasan kebijakan untuk dilakukan koordinasi yaitu berupa kesepakatan kerja, ataupun aturan yang mendukung koordinasi yang dilakukan untuk menunjukkan komitmen para pemimpin. Koordinasi dalam program Kampung Keluarga Berencana (KB) didasari oleh Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor : 440/70/SJ, tertanggal 11 Januari 2016 tentang Pencanangan dan Pembentukan Kampung KB. Dalam poin kedua tertulis bahwa persiapan dan pelaksanaan kampung KB di masing-masing Kabupaten/Kota dikoordinasikan oleh Gubernur/bupati dan perwakilan BKKBN provinsi sesuai batas kewenangan masing-masing. Surat tersebut ditindaklanjuti oleh Gubernur Sumatera Utara dengan menerbitkan Surat
Nomor 440/842 tanggal 3 Januari 2017 perihal pencanangan dan pembentukan kampung KB yang bertujuan membangun Indonesia dimulai dari pinggiran, untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga dan masyarakat melalui program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) serta pembangunan sektor terkait.
Surat Gubernur Sumatera Utara tersebut ditindaklanjuti sampai pada pemerintahan kabupaten/kota sebagai sinkronisasi kebijakan kependudukan dan keluarga berencana yaitu dengan adanya surat tersebut Walikota Medan meneruskan Surat Edaran Nomor 470/1856 tanggal 28 Februari 2019 tentang Intervensi Organisasi Perangkat Daerah Kota Medan dalam Melaksanakan 8 Fungsi Keluarga di Kampung KB. Surat tersebut diterbitkan untuk mempertegas kembali koordinasi dalam pelaksanaan kampung KB setelah sebelumnya Walikota Medan telah membuat Surat Keputusan Nomor 476/572.K/VI/2017 tanggal 15 Juni 2017 tentang Kelompok Kerja Kampung KB di Kota Medan. Dengan memperhatikan surat keputusan tersebut Lurah Kelurahan Sari Rejo menindaklanjuti dengan membuat surat keputusan terbaru Nomor 411.4/01 tanggal 4 Maret 2020 tentang Kelompok Kerja Kampung KB Percontohan Kelurahan Sari Rejo tahun 2020.
Mengenai surat-surat yang telah dijelaskan di atas, menjelaskan kesempatan awal dalam koordinasi pada program kampung KB sudah ada dalam bentuk surat resmi yang dikonsultasikan bersama oleh para pemimpin dalam setiap hirarki pemerintahan, sebagaimana pendapat Ketua pokja berikut:
“Ya sudah ada, karena kan nawacita presiden jadi harus didukung semua pihak, dari Lurah dan Camat menunjukkan ada SK kampung KB juga mereka sering mengunjungi, jadi memang kampung KB ini ada koordinasinya”. (Wawancara Sufiati, 5 Agustus 2020).
Sejalan dengan pendapat di atas, pendapat dari informan lain yaitu Kabid Pengendalian Penduduk BKKBN juga menunjukkan adanya kesempatan awal berupa bentuk SK kampung KB yang telah dibuat dan edaran dari pemimpin,
“Sudah ya untuk BKKBN yang pasti kita muat direnstra juga kan dengan mengundang sekda dan lembaga pemerintahan lain. Untuk peraturan dari lembaga lain, seperti surat tanggapan dari bupati atau kepala daerah di Sumatera Utara sendiri khususnya Kota Medan sudah ada ya dari pencanangan itu ada surat walikota”. (Wawancara Alpian Siregar, 7 September 2020).
Dan pendapat Lurah berikut mempertegas kembali bahwa kesempatan awal dalam pembuatan kebijakan atau bentuk formal berupa surat keputusan tentang program kampung KB dan kepengurusannya sudah dibuat untuk mendukung koordinasi,
“Ooh sudah sudah, kan ada juga itu sudah ada SK nya beserta dengan kepengurusan resminya sudah lengkap di SK Kampung KB Sari Rejo.
Itulah bentuk komitmen bersama pada kesempatan awal kami dalam memprioritaskan program kampung KB di kelurahan Sari Rejo ini”.
(Wawancara Nur’aini, 31 Agustus 2020).
Berdasarkan hasil wawancara yang dihimpun peneliti dan observasi peneliti tentang kesempatan awal perihal pembentukan kebijakan ataupun aturan formal, koordinasi pada program kampung KB di kelurahan Sari Rejo berjalan dengan adanya komitmen sebagai bentuk kesepakatan bersama dalam kesempatan awal koordinasi yang dituangkan dalam bentuk formal seperti surat-surat yang disebutkan sebelumnya terkait pelaksanaan kampung KB dan peran-peran dalam struktur organisasi pelaksana program Kampung KB.
Kesempatan awal dalam koordinasi juga ditunjukkan melalui adanya kerangka kerja yang jelas yang menjabarkan tugas dan fungsi merupakan hal yang penting dalam koordinasi untuk menghindari adanya tumpang tindih tugas. Selain itu, alur kerja akan jelas dan pihak-pihak akan dapat bekerja dengan rapi. Dalam aspek kerangka kerja pada program kampung KB di Kelurahan Sari Rejo bahwa hal tesebut sudah jelas berdasarkan adanya pedoman dan petunjuk teknis yang dibuat untuk pelaksanaan seluruh kampung KB. Pada kampung KB Sari Rejo yang ditetapkan sebagai kampung KB percontohan, pedoman dan petunjuk yang jelas seperti yang dikemukakan PLKB Sari Rejo sebagai berikut :
“Ada, kita ada buku pedoman pelaksanaan yang dibagikan dari DPPKB juga BKKBN. Kalau saya ya harus paham kalau tidak bagaimana menjadi pendamping atau Pembina dilapangan. Jadi sudah jelas lah tupoksi saya dan saya mengerti karena kita juga ada pelatihan kan, sejauh ini kita bekerja pasti ya sesuai kapasitas kita masing-masing ya dek, misalnya pak babinsa juga sering ikut serta dalam kegiatan binaan remaja agar tidak terjerumus pada kenakalan remaja dan penggunaan narkotika. Dan yang lain juga begitu, sampai pada mitra juga ya melakukan tugasnya masing masing sesuai kapasitas.” (Wawancara, Halimatun 8 Agustus 2020).
Pendapat informan didukung dengan dokumen pedoman dan petunjuk pelaksanaan kampung KB di lini lapangan dan road map kampung KB percontohan yang dibuat oleh BKKBN dengan melakukan rapat koordinasi pada berbagai pihak yang dilibatkan. Pedoman pengelolaan dibuat untuk dipahami oleh setiap lembaga yang terkoordinasi dalam program kampung KB hingga ke tingkat hirarki pemerintahan terkecil.
Gambar 4.7: Buku Pedoman Pengelolaan Kampung KB
Sumber : Dokumentasi peneliti 2020
Berdasarkan adanya dokumen-dokumen berupa pedoman pengelolaan dan road map yang tertera lengkap di website kemudian, website juga dapat diakses oleh siapa saja. Dalam pedoman tersebut dijelaskan secara gamblang dan rinci mengenai peran masing-masing pihak dalam kepengurusan kelompok kerja kampung KB. Pedoman juga berisikan sasaran, indikator, dan kegiatan yang direkomendasikan untuk dilakukan sesuai kebutuhan masyarakat dalam mengatasi masalah-masalah krusial di pemukiman padat penduduk dan masalah lainnya serta dituliskan dengan kalimat yang mudah dipahami kalangan tokoh masyarakat. Bukan hanya itu saja, road map penyelenggaraan kampung KB juga dipetakan dengan jelas dari berbagai dokumen yang disusun BKKBN.
Dijalankannya tugas dan peran masing-masing pihak dalam program kampung KB Sari Rejo sesuai pedoman dan petunjuk teknis yang disepakati terlihat dari adanya keterlibatan mitra Babinsa dalam pelayanan keamanan dan
kegiatan pembinaan kenakalan remaja. Selain itu, seksi pendidikan juga telah melakukan kegiatan pembinaan dengan melaksanakan Bina Keluarga Lansia (BKL), Bina Keluarga Remaja (BKR), Bina Keluarga Balita (BKB) sebulan sekali. Adapun seksi lainnya, seperti seksi reproduksi melaksanakan pelayanan KB rutin sebulan sekali. Seksi ekonomi membentuk dan membina usaha wedang sere, produksi tempe dan kripik. Seksi perlindungan melakukan mediasi dari warga yang terlibat KDRT, serta seksi pembinaan lingkungan yang melakukan gerakan penanaman tanaman dan melakukan kerja bakti memelihara lingkungan.
Menurut hasil observasi penulis mengenai kerangka kerja berdasarkan pedoman pengelolaan kampung KB, penulis mengamati bahwa kampung KB Sari Rejo sudah dilaksanakan sesuai dengan kerangka kerja yang menjelaskan tupoksi masing-masing pihak khususnya peran-peran pihak dalam lini lapangan. Output dalam kegiatan yang dilaksanakan sesuai tupoksi yang tertera dalam pedoman pelaksanaan kampung KB sehingga tiap seksi dapat mengetahui tupoksi dan indikator dari output yang akan dicapai. Dari hasil pengamatan peneliti pihak-pihak yang terlibat koordinasi dalam program ini juga sudah mengetahui tupoksi dan perannya dengan jelas. Untuk beberapa pengurus lini lapangan yang anggotanya direkrut dari masyarakat di kelurahan Sari Rejo tupoksi dan peran dapat dibaca, dipelajari langsung oleh para penyuluh KB lapangan atau siapa saja yang dianggap dapat menjelaskan tupoksi dan peran yang mereka emban.
4.3.3 Kontunuitas
Koordinasi merupakan suatu proses yang kontinu dan harus berlangsung pada semua waktu mulai dari tahap perencanaan. Oleh karena koordinasi merupakan dasar struktur organisasi, maka koordinasi harus berlangsung selama organisasi melaksanakan fungsinya. Maka dari penjelasan tersebut kontinuitas ditunjukkan dengan koordinasi yang berlangsung pada semua waktu. Berlangsung pada semua waktu artinya koordinasi merupakan suatu proses yang harus dilakukan mulai dari tahap perencanaan hingga tahap evaluasi dan pelaporan. Dapat dipahami dalam mengukur bagaimana kontinuitas koordinasi yang berlangsung maka peneliti melihat apakah koordinasi berlangsung selama proses dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengawasaan hingga tahap pengukuran kinerja.
Dalam koordinasi pada program kampung KB Sari Rejo, pada tahap
Dalam koordinasi pada program kampung KB Sari Rejo, pada tahap