• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERAGAMAN MORFOMETRIK SAPI KUANTAN DI KECAMATAN KUANTAN HILIR KABUPATEN KUANTAN SINGINGI

PRODUKSI TERNAK

KERAGAMAN MORFOMETRIK SAPI KUANTAN DI KECAMATAN KUANTAN HILIR KABUPATEN KUANTAN SINGINGI

Restu Misrianti1, A.Ali1, dan Y.S Dedi1

Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, PO Box 28083 Pekanbaru

ABSTRAK

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2013 di Kecamatan Kuantan Hilir Kabupaten Kuantan Singingi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman sifat kuantitatif Sapi Kuantan. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah Sapi Kuantan yang terdiri dari 18 ekor sapi jantan dan 64 ekor sapi betina. Peubah yang diamati adalah ukuran-ukuran tubuh yaitu panjang badan, tinggi pundak, tinggi pinggul, lingkar dada dan dalam dada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sapi Kuantan jantan mempunyai tinggi pundak dan tinggi pinggul yang lebih tinggi dari sapi betina kuantan, dan tidak berbeda pada ukuran panjang badan, lingkar dada dan dalam dada. Ukuran tubuh Sapi Kuantan lebih kecil daripada sapi lokal lainnya, kecuali pada dalam dada.

Kata kunci: sapi Kuantan, sifat kuantitatif, ukuran tubuh, Kuantan Singingi.

ABSTRACT

This study was conducted to describe morphometric performance of Kuantan Cattle in district of Kuantan Hilir, Kuantan Singingi Regency. A number of 82 heads, consist of 18 heads male and 64 head female of Kuantan Cattle. Variable measured were body length, shoulder height, hip height, chest circumference and the chest depth. This data was analysed by test to compare head male and head female. The results showed that hip helgh and shoulder of head male higher than head female, and did not differ in body length. Chest girth and in the chest dept. Kuantan Cattle smaller than other local cattle except on the chest dept. Key words : Kuantan cattle, morphometric , body size, Kuantan Singingi.

PENDAHULUAN

Provinsi Riau memiliki sapi lokal yang dikenal dengan nama sapi kuantan. Diberi nama sapi kuantan karena dibudidayakan secara ekstensif disepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) kuantan. Keberadaan sapi kuantan yang terletak di Kabupaten Kuantan Singingi, diduga sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, dengan demikian sapi kuantan juga merupakan sumber daya genetik (plasma nutfah) seperti halnya sapi lokal lainnya yang dapat dikembangkan untuk perbaikan sapi lokal Indonesia. Populasi sapi kuntan di Kabupaten Kuantan Singingi menurut laporan Dinas Peternakan Provinsi Riau (2011) untuk Kabupaten Kuantan Singingi berjumlah sekitar 2386 ekor. Untuk populasi terbesar sapi kuantan di Kabupaten Kuantan singingi terdapat di Kecamatan Kuantan Mudik dengan populasi 523 ekor, disusul Kecamatan Kuantan Hilir dengan 447 ekor, Kecamatan Inuman 453 ekor, Kecamatan Gunung Toar 253 ekor, Kecamatan Singingi Hilir 247 ekor, Kecamatan

156 Cerenti 185 ekor, Kecamatan Pagean 160 ekor, Kecamatan Kuantan Tengah 60 ekor, Kecamatan Benai 39 ekor, Kecamatan Hulu Kuantan 9 ekor (Dinas Peternakan Provinsi Riau 2011).

Sapi Kuantan terdapat di dua Kabupaten yaitu, Kabupaten Kuantan singingi dan Kabupaten Indragiri Hulu. Penyebaran sapi kuantan ini sangat terbatas, hanya beberapa lokasi saja yang populasinya relatif besar, sedangkan dibeberapa lokasi lagi relatif sedikit. Hal ini dikarenakan infrastruktur yang terbatas, dimana masih banyak terdapat jalan tanah dan sungai, sehingga sulitnya terhubung atara wilayah yang satu denga yang lainnya terutama disaat musim hujan. Tidak seperti tenak lokal lainnya yang sudah banyak dilakukan penelitian, informasi mengenai sapi kuantan ini masih sangat minim, oleh karena itu pada tahap awal ini dilakukan penelituan untuk memperoleh memperoleh ukuran karakteristik tubuh sapi.

Ukuran-ukuran tubuh dapat menggambarkan ciri khas dari suatu bangsa. Karakterisasi bisa dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif (Noor, 2008; Sarbaini, 2004). Sifat kuantitatif adalah sifat-sifat produksi dan reproduksi atau sifat yang dapat diukur, seperti bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh. Ekspresi sifat ini ditentukan oleh banyak pasangan gen (poligen), baik dalam keadaan homozigot maupun heterozigot (Noor, 2008) dan dipengaruhi oleh lingkungan, yaitu melalui pakan,penyakit dan pengelolaan, tetapi tidak dapat mempengaruhi genotipe hewan (Warwick et al., 1995;Martojo, 1992). Karakterisasi ukuran-ukuran tubuh dapat digunakan untuk mengukur jarak genetik, merupakan metode pengukuran yang murah dan sederhana (Brahmantyo et al., 2003). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran tubuh Sapi Kuantan di Kecamatan Kuantan Hilir Kabupaten Kuantan Singingi.

METODE PENELITIAN

Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sapi Kuantan yang ada di Kecamatan Kuantan Hilir Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Sampel di ambil sebanyak 82 ekor, yang terdiri dari 18 ekor jantan dan 64 ekor betina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Data primer didapatkan berdasarkan hasil pengamatan langsung dan pengukuran langsung dilapangan, sedangkan data sekunder berupa Topografi (suhu, curah hujan, dataran rendah atau dataran tinggi, ketersediaan hijauan dan luas lahan peternakan) diperoleh dari instansi terkait.

Peubah yang diteliti pada penelitian ini meliputi panjang badan, tinggi pundak, tinggi pinggul, lingkar dada dan dalam dada. Prosedur penelitian menggunakan metode pengukuran dilakukan menurut Amano et al. (1981). Panjang badan merupakan jarak garis lurus dari sendi bahu sampai dengan tonjolan tulang tapis (Osischium), diukur dengan pita ukur (cm). Tinggi pundak merupakan jarak tertinggi pundak melalui belakang scapula tegak lurus ke tanah diukur dengan menggunakan tongkat ukur (cm). Tinggi pinggul adalah jarak tertinggi pinggul secara tegak lurus ke tanah, diukur dengan menggunakan tongkat ukur (cm). Lingkar dada diukur melingkar tepat dibelakang scapula diukur dengan menggunakan pita ukur (cm). Dalam dada merupakan jarak antara titik tertinggi pundak sampai tulang dada, diukur dengan menggunakan tongkat ukur (cm).

Analisis Data

Data sifat kuantitatif berupa ukuran-ukuran tubuh dikelompokkan berdasarkan bangsa dan jenis kelamin. Nilai rataan, standar deviasi dan koefisien keragaman dianalisis menurut Walpole (1982), dengan rumus:

n Xi X 1 ) ( 2 n X Xi S KK = x 100% Keterangan:

X = Nilai rata-rata pengamatan atau rata-rata sampel ∑ = Penjumlahan

Xi = Nilai pengamatan ke- i (i = 1,2,3……., n) N = Jumlah sampel

s = Standar deviasi atau simpangan baku. KK = Koefisien keragaman

Untuk membandingkan ukuran tubuh sapi Kuantan jantan dan betina dilakukan Uji-t dengan menggunakan rumus Walpole (1982) sebagai berikut:

Keterangan:

th = Nilai t hitung

1 = Rataan sampel pada kelompok ke-1 2 = Rataan sampel pada kelompok ke-2

S12 = Simpangan baku data pada kelompok pertama S22 = Simpangan baku data pada kelompok kedua N = Jumlah sampel

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sifat kuantitatif merupakan salah satu sifat yang dapat diukur atau diamati pada seekor ternak. Beberapa parameter sifat kuantitatif yang biasa diamati adalah ukuran panjang badan, tinggi pundak, tinggi pinggul, lingkar dada, dan dalam dada.

Panjang Badan

Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman panjang badan sapi Kuantan jantan dan betina dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman panjang badan Sapi Kuantan

No Jenis Kelamin N

±SD KK

1 Jantan 18 103.78± 1.83 0.02

158 Rataan panjang badan Sapi Kuantan jantan adalah 103,77 cm dan Sapi Kuantan betina adalah 103,34 cm. Rataan ukuran tubuh Sapi Kuantan jantan dan betina tidak berbeda nyata. Mengingat hal di lokasi penelitian dapat diketahui bahwa manajemen pemeliharaan dan pemberian pakan sapi pada umumnya seragam, maka peran genetik pejantan yang mempengaruhi panjang badan pada Sapi Kuantan. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjosubroto (1994) yang menyebutkan bahwa karakteristik eksterior merupakan sifat kualitatif dari individu yang dikendalikan satu atau beberapa pasang gen.

Faktor genetik dapat dilihat dari bangsa sapi tetuanya, karena faktor ini sangat berpengaruh terhadap keturunannya. Sapi Kuantan diduga berasal dari sapi PO (Peranakan Ongole). Ukuran panjang badan Sapi Kuantan ini berbeda dengan ukuran panjang badan sapi lokal jenis lain, dimana panjang badan Sapi Pesisir adalah 114,7 cm, panjang badan pada Sapi Bali adalah 112,60 cm, Sapi Aceh panjang badannya adalah 126,0 cm dan sapi PO (Peranakan Ongole) adalah 133,0 cm (Prasetia, 2011). Dari pengamatan di atas ukuran panjang badan Sapi Kuantan jantan dan betina lebih pendek dari Sapi Pesisir, Sapi Bali, Sapi Aceh dan Sapi PO.

Sistem pemeliharaan Sapi Kuantan di Kecamatan Kuantan Hilir masih bersifat tradisional (ekstensif) yaitu ternak dilepas pada siang hari dan malam harinya dikandangkan. Ketersediaan pakan juga mempengaruhi ukuran tubuh Sapi Kuantan. dimana pakan yang diperoleh dari padang pengembalaan yang kurang luas, peternak juga mencari hijauan pakan dari sisa – sisa perkebunan warga sekitarnya.

Perhitungan koefesien keragaman ukuran tubuh Sapi Kuantan jantan dan betina secara umum seragam. Dimana nilai koefesien keragaman ukuran tubuh panjang badan Sapi Kuantan adalah 0,02%. Keseragaman panjang badan menggambarkan tingginya kesamaan morfometrik suatu kelompok dan rendahnya variasi ukuran-ukuran yang menyusun kompormasi bentuk tubuh.

Tinggi Pundak

Hasil pengamatan Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman tinggi pundak Sapi Kuantan jantan dan betina dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman tinggi pundak Sapi Kuantan

No Jenis Kelamin n ±SD KK

1 Jantan 18 99,28a± 1,23 0,01

2 Betina 64 99,19b± 1,34 0,01

Keterangan: Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata.

Pengamatan pada ukuran rataan tinggi pundak Sapi Kuantan jantan dan betina adalah 99,28 cm dan 99,19 cm. Perbedaan ukuran tinggi pundak disebabkan karena faktor genetik dan hormon pada Sapi Kuantan jantan dan betina. Menurut Kay dan Housseman, (1987) menyatakan bahwa hormon androgen pada hewan jantan dapat merangsang pertumbuhan sehingga hewan jantan lebih besar daripada hewan betina. Abdullah.,dkk (2006) juga menambahkan bahwa sapi-sapi berukuran besar terkuras melalui pemotongan dan pengeluaran tanpa ada usaha pencegahan

mempertahankan sapi-sapi yang unggul, sehingga hanya sapi-sapi berukuran kecil yang tetap berada dalam populasi dan mendapat kesempatan berkembang biak.

Rataan tinggi pundak Sapi Kuantan ini berbeda dengan ukuran tinggi pundak sapi lokal jenis lainnya, dimana tinggi pundak Sapi Pesisir adalah 100,2 cm, Sapi Bali 119,10, Sapi PO (peranakan ongole) adalah 127,03 cm dan tinggi pundak Sapi Aceh adalah 105,56 cm (Abdullah dkk., 2006). Penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran tinggi pundak Sapi Kuantan jantan dan betina lebih rendah dibandingkan rataan ukuran tinggi pundak Sapi Pesisir, Sapi Bali, Sapi PO (peranakan ongole) dan Sapi Aceh. Dilihat dari nilai koefesien keragaman ukuran tinggi pundak Sapi Kuantan jantan dan betina secara umum seragam. Dimana nilai koefesien keragaman ukuran tubuh tinggi pundak Sapi Kuantan adalah 0,01%.

Tinggi Pinggul

Hasil Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman tinggi pinggul Sapi Kuantan jantan dan betina dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman tinggi pinggul Sapi Kuantan.

No Jenis Kelamin N ±SD KK

1 Jantan 18 103,89a± 1,60 0,02

2 Betina 64 103,19b± 1,62 0,02

Keterangan: Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata.

Hasil pengamatan ukuran tinggi pinggul pada Sapi Kuantan jantan adalah 103,89 cm dan tinggi pinggul Sapi Kuantan betina adalah 103,19 cm. Hal ini disebabkan oleh faktor gen atau berat lahir dan bangsa sapi. bahwa bobot lahir pedet jantan lebih besar dibandingkan bobot lahir pedet betina hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa anak yang memiliki bobot lahir yang lebih besar cenderung berjenis kelamin jantan.

Sejauh ini bangsa Sapi Kuantan jantan dan betina belum diketahui tetapi menurut Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau, 2013 menyatakan bahwa Sapi Kuantan diduga berasal dari keturunan Sapi PO (Peranakan Ongole) yang dibawa penjajahan Belanda dan disilangkan dengan sapi-sapi lokal yang ada di Riau tepatnya di Kabupaten Kuantan Singingi dan Kabupaten Indragiri Hulu.

Menurut Sarbaini (2004) ukuran tinggi pinggul Sapi Pesisir adalah 101,59 cm, Sapi Bali adalah 122,14 cm, sedangkan tinggi pinggul Sapi PO (peranakan ongole) adalah 129,82 cm dan pada Sapi Aceh adalah 110,25 cm. Dari pengamatan tersebut menunjukkan bahwa Sapi Kuantan jantan lebih kecil dari pada sapi-sapi lokal lainnya. Dimana ukuran-ukuran tubuh sapi-sapi Asia dipengaruhi oleh bangsa, keadaan fisik Sapi Aceh, Sapi Padang (sapi lokal Sumatera), Sapi Thai dan Cebu (salah satu sapi asli Filipina) diklasifikasikan ke dalam kelompok yang sama. Otsuka.,dkk. (1992). Nilai koefesien keragaman ukuran tinggi pundak Sapi Kuantan jantan dan betina secara umum seragam. Dimana nilai koefesien keragaman ukuran tubuh tinggi pundak Sapi Kuantan adalah 0,02%.

Lingkar Dada

Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman lingkar dada Sapi Kuantan jantan dan betina dapat dilihat pada Tabel 4.

160 Tabel 4. Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman lingkar dada Sapi

Kuantan.

No Jenis Kelamin n ±SD KK

1 Jantan 18 126,22± 4,80 0,04

2 Betina 64 126,14± 4,25 0,03

Rataan ukuran lingkar dada pada Sapi Kuantan jantan adalah 126,22 cm. Sementara ukuran lingkar dada pada Sapi Kuantan betina adalah 126,14 cm. Perbedaan ini ada dugaan faktor pakan dan inbreeding menjadi penyebab kecilnya ukuran tubuh Sapi Kuantan jantan dan betina.

Teknologi peternakan untuk Sapi Kuantan, di Kecamatan Kuantan Hilir ini belum diterapkan terutama teknologi reproduksi, tetapi teknologi reproduksi untuk jenis sapi lokal lainnya seperti Sapi Bali sudah di terapkan, hal ini diketahui dari beberapa peternak yang sudah melaksanakan kawin suntik atau Inseminasi Buatan (IB). Teknologi pengolahan pakan seperti pembuatan silase (rumput yang dikeringkan) belum diterapkan, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan keterampilan peternak. Menurut Gunawan,dkk (2008) selain faktor genetik, ukuran-ukuran tubuh dapat dipengaruhi oleh manajemen pemeliharaan di setiap lokasi penelitian yang berbeda-beda.

Dari rataan diatas menunjukkan terdapat perbedaan ukuran lingkar dada Sapi Kuantan jantan dan betina dengan ukuran lingkar dada sapi lokal lainnya, dimana Sapi Kuantan lebih kecil dari sapi lokal yang lain. Rataan ukuran lingkar dada Sapi Pesisir adalah 127,2 cm, Sapi Bali 176,71 cm, Sapi PO (peranakan ongole) adalah 160,37 cm dan lingkar dada Sapi Aceh adalah 138,39 cm (Astuti, 2004).

Koefesien keragaman ukuran tubuh Sapi Kuantan jantan dan betina secara umum seragam. Dimana nilai koefesien keragaman ukuran tubuh ukuran lingkar dada Sapi Kuantan jantan adalah 0,04% dan betina 0,3%. Noor (2008) menyatakan bahwa keragaman suatu sifat yang tinggi pada populasi memungkinkan upaya seleksi terhadap sifat tersebut efektif dilaksanakan.

Dalam Dada

Hasil penelitian dari rataan, simpangan baku dan koefisien keragaman dalam dada Sapi Kuantan jantan dan betina dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman dalam dada Sapi Kuantan.

No Jenis Kelamin n ±SD KK

1 Jantan 18 60,94± 2,73 0,04

2 Betina 64 62,46± 2,43 0,04

Rataan ukuran dalam dada pada Sapi Kuantan jantan adalah 60,94 cm dan Sapi Kuantan betina adalah 60,46 cm. Perbedaan ukuran ini disebabkan oleh faktor manajemen pemeliharaan dan pakan yang diberikan. Karena semua faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ternak sapi. Dilihat dari ukuran dalam dada pada sapi lokal lainya seperti Sapi Pesisir adalah 46,47 cm, Sapi Bali adalah

66,45 cm, Sapi PO (peranakan ongole) adalah 59,15 cm dan Sapi Aceh adalah 49,50 cm.

Dilihat dari rataan diatas menunjukkan bahwa dalam dada Sapi Kuantan lebih besar dari Sapi Pesisir dan Sapi PO (peranakan ongole), jika dilihat dari ukuran dalam dada Sapi Kuantan lebih kecil dari Sapi Bali. Otsuka,dkk (1992) menyatakan bahwa Sapi Bali merupakan bangsa sapi yang didomestikasi dari Banteng. Everitt dan Dunn (1998) menyatakan bahwa bentuk suatu kelompok ternak berhubungan erat dengan karakteristik suatu bangsa, yang lebih banyak dipengaruhi faktor genetik, sehingga lebih banyak diperhatikan ahli taksonomi dan pemeliharaannya. Becker (1985) juga menambahkan bahwa faktor genetik melalui persilangan maupun pembentukan bangsa sapi baru tidak akan berhasil bila tidak diikuti dengan perbaikan manajemen pemeliharaan ternak.

Dari hasil koefesien keragaman ukuran tubuh Sapi Kuantan jantan dan betina secara umum seragam. Dimana nilai koefesien keragaman ukuran tubuh ukuran dalam dada jantan adalah 0,04%. Menurut Prasetia (2011) koefisien keragaman variabel-variabel ukuran tubuh Sapi Pesisir ditemukan lebih tinggi daripada Sapi Bali dan Sapi PO, sedangkan Sapi PO lebih tinggi dari pada Sapi Bali.

Sistem Pemeliharaan Sapi Kuantan pada masyarakat atau peternak di Kecamatan Kuantan Hilir umumnya menggunakan sistem pemeliharaan ekstensif. Sistem pemeliharaan semi intensif di masyarakat kurang efektif karena kurangnya pemberian pakan, lokasi yang tidak mendukung serta minimnya peralatan dalam pengembangan peternakan sapi minsalnya dalam Inseminasi Buatan (IB) sehingga tidak mendukung pertumbuhan dan pengembangan sapi (Devendra, 1994).

Dari rataan ukuran tubuh sapi yang diamati menunjukkan adanya perbedaan yaitu Sapi Kuantan jantan memiliki ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan dengan sapi-sapi lokal lainnya seperti Sapi Pesisir, Sapi Bali, Sapi PO (Peranakan Ongole) dan Sapi Aceh kecuali pada ukuran dalam dada. Perbedaan ukuran ini disebabkan oleh faktor genetik, iklim dan manajemen pemeliharaannya.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian di Kecamatan Kuantan Hilir Kabupaten Kuantan Singingi maka dapat disimpulkan bahwa Sapi Kuantan jantan mempunyai tinggi pundak dan tinggi pinggul yang lebih tinggi dari sapi betina kuantan dan tidak berbeda pada ukuran panjang badan, lingkar dada dan dalam dada.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M.A.N. R.R. Noor. H. Martojo. D.D. Solihin, dan E. Handiwirawan. 2006. Keragaman Fenotipik Sapi Aceh Di Nanggroe Aceh Darussalam. Journal Indonesian Trofical Animal Agriculture, 32 : 11-21.

Amano, K., M. Katsumata, S. Suzuki, K. Nozawa, Y. Kawamoto, T. Namikawa, H. Martojo, I. K. Abdulgani, dan H. Nadjib. 1981. Morphological and genetical survey of Water Buffaloes in Indonesia. The Research Group of Orearseas Scientife Survey, The Origin and Phylogeny of Indonesian Native Livestock. Part II : 31-54.

Astuti, M. 2004. Potensi dan keragaman sumberdaya 20 J.Indon.Trop.Anim.Agric. 32 [1] March 2007 genetic sapi Peranakan Ongole. 14(3):63-74.

162 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau 2011. Statistik Peternakan Provinsi Riau, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau. Pekanbaru, Riau.

Gunawan, A. dan C. Sumantri. 2008. Pendugaan nilai campuran fenotipik dan jarak genetik domba Garut dan persilangannya. J. Indon. Trop. Anim. Agric. 33: 176-185.

Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Hermanto, H. 2012. Studi Keragaman Fenotipe Sapi Bali dan Silangan di Kecamatan Bunga Raya Kabupaten Siak. Skripsi. Fakultas Pertanian dan Peternakan. UIN SUSKA Riau. Pekanbaru. 76 hal.

Martojo, H. 1992. Peningkatan Mutu Genetik Ternak. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Noor, R. R. 2008. Genetika Ternak. Cetakan ke-4. PT Penebar Swadaya. Jakarta. Otsuka J. T. namikawa. K. Nozowa, and Martojo. 1992. Statistical, Analisys on the

body Measuruments of East Asian Native livestock. Part III: 7-17.

Prasetia, A. 2011. Studi Keragaman dan Bentuk Tubuh Sapi Pesisir, Sapi Bali dan Peranakan Ongole Jantan. Skripsi. Fakultas Peternakan. IPB. Bogor. 62 hal. Toelihere, M.R. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa. Bandung

Toelihere, M.R. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa. Bandung Walpole, R. 1982. Pengantar Statistika. Terjemahan : B. Sumantri. PT. Gramedia,

Jakarta.

Sarbaini. 2004. Kajian keragaman Karakter Eksternal dan DNA Mikrosatelit Sapi Pesisir di Sumetera Barat. Disertasi. Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Toelihere, M.R. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa. Bandung Toelihere, M.R. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa. Bandung Warwik, E.J., J.M. Astuti dan W. Harjosubroto. 1995. Pemuliaan Ternak. Cetakan

PENGARUH SUPLEMENTASI KUNYIT DAN MINERAL ZINK