• Tidak ada hasil yang ditemukan

BELA NEGARA DI WILAYAH PERBATASAN

C. KESADARAN BELA NEGARA DI PERBATASAN

Kesadaran bela negara di wilayah perbatasan sangat penting ditumbuh-kan oleh berbagai pemangku kepentingan mengingat wilayah perba-tasan merupakan wilayah pintu gerbang dan wajah bangsa Indonesia dalam bertatap muka atau berhadapan langsung dengan negara lain di dunia. Kesadaran bela negara bagi masyarakat perbatasan merupakan keniscayaan dan keharusan yang harus terus ditumbuhkan dan dikem-bangkan sampai kapanpun. Masyarakat di perbatasan sangat penting dalam konteks pertahanan negara, khususnya strategi pertahanan ne-gara dalam menghadapi musuh, sehingga harus terdidik, terlatih, dan terampil dalam berbagai hal yang berkaitan dengan pertahanan, ke-amanan, dan aspek kemiliteran lainnya. Masyarakat perbatasan harus terus mengembangkan dan menumbuhkan semangat bela negara agar supaya tidak mudah goyah oleh provokasi, hasutan maupun iming-iming dari kekuatan atau pihak asing yang ingin menjatuhkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Kejadian beberapa tahun yang lalu dimana diberitakan oleh media massa bahwa masyarakat Indonesia yang ada di wilayah per-batasan Kalimantan diindikasikan telah direkrut oleh Tentara Diraja Malaysia sebagai laskar wathoniyah yang dilatih, dididik dan diberi keterampilan khusus secara dasar kemiliteran guna kepentingan per-tahanan Malaysia. Masyarakat Indonesia yang bergabung menjadi las-kar wathoniyah diberi gaji atau pendapatan per bulan oleh pemerintah Malaysia meskipun secara legal formal mereka ini warga negara In-donesia. Mereka didesain untuk menjaga keamanan di wilayah per-batasan dan mengangkat senjata apabila Indonesia berperang dengan Malaysia. Sesuatu yang bersifat ironi di tengah kobaran api nasional-isme yang dikobarkan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Mengapa mereka mau bergabung dalam laskar wathoniyah? Jawabannya sangat simpel dan singkat, yakni masalah perut. Arti nya, mereka masuk menjadi laskar wathoniyah yang ditawarkan oleh Ma-laysia karena tuntutan perut dan kebutuhan ekonomi mengingat men-jadi laskar wathoniyah akan mendapatkan penghasilan setiap bulan sehingga masyarakat perbatasan berbondong-bondong untuk menjadi anggota laskar wathoniyah. Dalam kaitan ini, laskar wathoniyah di-anggap sebagai sebuah pekerjaan untuk menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah maraknya pengangguran di wilayah perbatasan. Mereka tidak peduli ketika masuk menjadi laskar wathoniyah melanggar kedaulatan dan dituduh tipis rasa nasionalisme dan semangat patriotismenya. Dalam logika berpikir masyarakat per-batasan adalah bahwa urusan perut lebih penting dibandingkan de-ngan nasionalisme. Dalam otak mereka akan berpikir: “buat apa ber-bicara nasionalisme dalam perut kosong”. Prioritas kebutuhan mereka sekarang ini adalah urusan perut, urusan pekerjaan, urusan kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi saat itu juga dan tidak bisa ditunda-tunda lagi. Nasionalisme dianggap sebagai barang yang “mahal” bagi mereka sehingga mereka tidak akan menghiraukan apa itu nasional-isme, patriotnasional-isme, cinta tanah air dan bela negara.

Dalam konteks ini, kita semua harus memetik hikmah dari pe-lajaran tersebut dimana nasionalisme, patriotisme, dan cinta tanah air yang merupakan komponen utama dari bela negara sangat terkait de-ngan kesejahteraan masyarakat. Artinya, pede-ngangguran, kemiskinan, dan kesenjangan di tengah masyarakat akan sangat mempengaruhi tinggi rendahnya bela negara di wilayah perbatasan. Bahkan, dapat dikatakan bahwa aspek kesejahteraan masyarakat kuat dan kemakmur-an ekonomi ykemakmur-ang tinggi merupakkemakmur-an fondasi kuatnya bela negara di dalam masyarakat. Meskipun gencarnya pemerintah bersama kompo-nen yang lain menggalakkan sosialisasi pelaksanaan bela negara di wilayah perbatasan, apabila masyarakat di wilayah perbatasan masih dalam kondisi yang serba terbatas, serba nestapa dan serba kesulitan

secara ekonomi, maka upaya meningkatkan bela negara akan menjadi sia-sia belaka.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan bela negara di masyarakat wilayah perbatasan, maka yang harus pertama dan utama dilakukan adalah perbaikan kondisi ekonomi masyarakat, lebarkan lapangan pe-kerjaan, buat penyerapan kerja, dan bangun masyarakat yang mak-mur dan sejahtera sehingga masyarakat di wilayah perbatasan akan mau menaruh perhatian tentang bela negara. Program bela negara harus dibarengi dengan program-program ekonomi dan pengentasan kemiskinan di wilayah perbatasan. Kesadaran masyarakat perbatasan akan bela negara semakin kuat dan kokoh apabila taraf hidup ekonomi masyarakat perbatasan tercapai kemakmuran dan kesejahteraan yang tinggi.

Pembinaan kesadaran bela negara terus dilakukan Kementerian Pertahanan (Kemhan) di perbatasan. Pembinaan itu melalui Desk Pe-ngendali Pusat Kantor Pertahanan (PPKP) di daerah. Salah satunya di-lakukan di Provinsi Kalimantan Barat melalui Koordinator Daerah (Kor-da) yang melaksanakan kegiatan Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN), karya bhakti dan bhakti sosial di daerah perbatasan RI – Ma-laysia, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Menurut Kapuskom Pu-blik Kemhan Kolonel (Kav) Bambang Hartawan, kegiatan dilaksanakan di dua tempat yaitu di Dusun Camar Bulan, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh dan Dusun Aruk, Desa Sebunga, Kecamatan Sajingan. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kesadaran bela negara dan cinta tanah air, kesejahteraan masyarakat dan derajat kesehatan bagi masyarakat di perbatasan. Khususnya yang berada di Kecamatan Paloh dan Kecamatan Sajingan Kabupaten Sambas, Provinsi Kalbar. Kegiatan PKBN, karya bhakti dan bakti sosial meliputi dua kegiatan yaitu kegiatan fisik yang dimulai pada 16 November sampai 10 De-sember 2012 dan kegiatan non fisik dimulai pada 16 November sam-pai 18 November 2012.3

Kegiatan fisik dilakukan seperti karya bakti oleh TNI dibantu ma-syarakat dengan melakukan pekerjaan pembetonan jalan sepanjang 1000 meter, dan pembangunan lapangan voley di Dusun Camar Bu-lan, serta pipanisasi sepanjang 3000 meter dan pembuatan bendungan air di Dusun Aruk. Sedangkan untuk kegiatan non fisik, yaitu kegiatan PKBN berupa pemberian materi tentang wawasan kebangsaan dan empat pilar kebangsaan kepada masyarakat dan lingkungan pendidik-an. Selain itu, dilaksanakan pula bhakti sosial berupa pengobatan ma-ssal dan pemberian bantuan perangkat alat sekolah.Kegiatan ini dilak-sanakan sebagai upaya untuk menumbuhkan nilai-nilai bela negara bagi seluruh warga negara.4

Melihat kondisi pada era demokrasi saat ini, ada kecenderun-gan melemahnya ikatan kebangsaan dan kesadaran bela negara di lingkung an masyarakat, maka pembinaan kesadaran bela negara ha-rus di intensifkan dan dikembangkan dengan berbagai metode dan kegiatan, sehingga kecintaan masyarakat terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 semakin meningkat. Hal itu dilakukan guna mewujudkan sasaran kesadaran bela negara kepada seluruh masyara-kat dan generasi muda secara dini. Juga dalam rangka menumbuhkan semangat, tekad dan sikap serta perilaku seluruh masyarakat yang di-jiwai oleh kecintaan kepada NKRI yang berdasarkan kepada Panca-sila dan UUD 1945. Selain itu, sikap rela berkorban demi menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara, perlu diselenggarakan pembi-naan kesadaran bela negara bagi masyarakat khususnya bagi masyara-kat yang berada di wilayah perbatasan.5

Selain itu, berbagai sosialisasi, penyuluhan, dan pendidikan bela negara harus terus dikembangkan dan ditingkatkan oleh selu-ruh instansi pemerintahan dengan sasaran generasi muda di wilayah perbatasan. Anak-anak sekolah, mulai dari SD, SMP, dan SMA harus terus ditanamkan nilai-nilai bela negara agar supaya tertanam kesada-ran bela negara yang besar sehingga kecintaan terhadap NKRI akan

semakin kokoh. Berbagai Ormas, LSM, organisasi kepemudaan, or-ganisasi sosial, dan tokoh masyarakat lainnya harus dijadikan sebagai ujung tombak dalam meningkatkan kesadaran bela negara di tengah masyarakat perbatasan. Mereka harus dilatih, dididik, dan dibekali dengan materi bela negara sehingga mereka akan daapat menularkan-nya kepada masyarakat di lingkunganmenularkan-nya masing-masing.

Tanpa partisipasi masyarakat dalam meningkatkan bela negara di wilayah perbatasan, maka mustahil pemerintah akan mampu mem-berikan kesadaran bela negara yang tinggi kepada masyarakat bawah. Di tengah budaya masyarakat perbatasan yang masih memegang teg-uh tokoh adat, maka peran tokoh adat harus dikedepankan sehingga akan mampu membawa efek berganda bagi para masyarakat yang ada di akar rumput untuk bersama-sama membela negara demi NKRI tercinta. Program dan kegiatan bela negara harus dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan sehingga akan mampu mening-katkan kesadaran bela negara yang kuat, kokoh dan optimal. Bela negara merupakan landasan kuat dan modal awal dalam membangun ekonomi masyarakat perbatasan. Sangat mengkhawatirkan apabila di-lakukan pembangunan ekonomi yang gencar di wilayah perbatasan tanpa dibarengi dengan upaya menumbuhkan semangat bela negara bagi masyarakatnya. 1 http://www.setkab.go.id/artikel-7605-komitmen-pemerintah-membangun-wilayah-perba-tasan.html. 2 http://www.bekangdam-mulawarman.mil.id/artikel/118-konsep-meningkatkan-rasa-nasi- onalisme-warga-sekitar-batas-negara-di-wilayah-kalimantan-agar-mau-berpartisipasi-dalam-bela-negara-melalui-kegiatan-binter. 3 http://forum.detik.com/kemhan-bangun-kesadaran-bela-negara-di-perbatasan-t568652.html 4 Ibid. 5 Ibid.