DAFTAR LAMPIRAN
PETA KONFLIK Fungs
II. KAJIAN PUSTAKA
2.5. Konflik Lingkungan dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam
Konflik selalu ada. Manusia hidup selalu berkonflik. Menurut Wijardjo dkk (2001), konflik dapat menciptakan perubahan, konflik memiliki dua sisi yang membawa potensi resiko dan potensi manfaat, dan konflik menciptakan energi yang bersifat merusak atau dapat bersifat kreatif. Menurut Borrini dan Feyerabend (2000), konflik dapat mengarah ke kondisi konstruktif dan sebaliknya dapat destruktif. Kondisi konstruktif terjadi ketika konflik ditangani secara persuasif dengan mengedepankan azas manfaat yang akan diperoleh para pihak jika konflik tidak terjadi, sedangkan kondisi destruktif terjadi pada bila konflik tidak ditangani dengan arif sehingga menimbulkan perilaku yang menjurus saling tidak percaya, perseteruan, bahkan kekerasan (violence) fisik/non-fisik.
Konflik ada di alam dan hadir dalam kehidupan manusia, dengan demikian konflik akan selalu terjadi di lingkungan tempat berlangsungnya interaksi manusia dengan sekelilingnya. Menurut Borrini dan Feyerabend (2000), pengelolaan sumberdaya alam, termasuk sumberdaya hutan, merupakan suatu arena yang syarat dengan muatan politik, baik itu politik sosial-ekonomi maupun politik lingkungan, hampir semua konflik yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam selalu berawal dari perbedaan beragam kepentingan. Perbedaan kepentingan tersebut menjadikan sumberdaya alam sebagai arena konflik. Di dalam Propenas 2000-2004, pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia terdiri atas sumber-sumber daya air, laut, udara, mineral, dan hutan.
2.5.1. Batasan Tentang Konflik
Kata konflik berasal dari bahasa latin yaitu confligere yang artinya menyerang bersama. Aslinya, kata tersebut lebih memiliki konotasi fisik daripada
moral; namun di dalam bahasa inggris kedua konotasi tersebut terkandung di dalam kata konflik (Burton dan Dukes, 1990). Kata konflik dalam bahasa Indonesia memiliki arti percekcokan, perselisihan, atau pertentangan.
Pendefinisian konflik secara spesifik merupakan suatu yang rumit karena banyaknya overlapping (tumpang-tindih) komponen proses dan dinamika yang terlibat; oleh karenanya pendifinisian akan cenderung mengkombinasikan berbagai komponen tersebut (Isenhart dan Spangle, 2000). Hal tersebut dapat dibuktikan dengan berbagai pengertian tentang konflik yang didefinisikan oleh beberapa ahli seperti ditayangkan pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4. Beberapa Definisi Tentang Konflik
Sumber Definisi Konflik Tekanan
Perbedaan Fisher et al (2001) Hubungan antara dua pihak atau lebih yang memiliki,
atau yang merasa memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan.
Sasaran
Wijarko dkk (2001) Suatu situasi yang terjadi apabila seseorang atau sekelompok orang (bisa lebih) menunjukkan praktek- praktek untuk menghilangkan pengakuan (hak) orang atau kelompok lainnya mengenai benda atau kedudukan yang diperebutkan.
Hak atas benda dan/atau kedudukan.
LATIN (2000) Benturan yang terjadi antara dua pihak atau lebih, yang disebabkan adanya perbedaan nilai, status, kekuasaan, dan kelangkaan sumberdaya.
Nilai, status, kekuasaan, kelangkaan sumberdaya. Kriesberg (1998) Suatu kondisi sosial ketika dua orang/pihak atau lebih
memanifestasikan keyakinan mereka akan suatu tujuan yang saling berbeda.
Keyakinan, tujuan.
Coser (1967) *) Perjuangan terhadap suatu gugatan dan nilai yang disebabkan oleh kelangkaan status, kekuasaan, dan sumberdaya.
Nilai, status, kekuasaan, sumberdaya. Bush dan Folger
(1994) *)
Suatu perbedaan kebutuhan dan kepentingan antar para-pihak yang nampak dan nyata.
Kebutuhan, kepentingan. Rubin et al (1994) *) Perbedaan kepentingan yang dirasakan atau diyakini
yang mebuat aspirasi para pihak tidak dapat dicapai secara simultan.
Kepentingan
Hocker dan Wilmot (1991) *)
Eskpresi perjuangan antara minimal dua pihak yang saling berketergantungan yang saling merasa berketidak-sesuaian dalam tujuan, kelangkaan sumberdaya, dan adanya campur-tangan oleh pihak lain dalam mencapai tujuan mereka.
Tujuan, kelangkaan sumberdaya,
Pada tabel tersebut, definisi konflik yang paling sederhana adalah hubungan antara dua pihak atau lebih yang memiliki, atau yang merasa memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan (Fisher et al. 2001). Sementara itu, Kriesberg (1998) lebih mendefinisikan pengertian konflik dengan penekanan pada kondisi sosial. Dari berbagai pengertian tentang konflik yang disajikan, terdapat suatu kondisi yang selalu menyertai dalam pendefinisian konflik yaitu adanya perbedaan. Letak perbedaan tersebut di antaranya adalah perbedaan- perbedaan dalam keyakinan, nilai, status, kekuasaan, sasaran, tujuan, kebutuhan, kepentingan, hak atas benda dan/atau kedudukan, dan kelangkaan sumberdaya, yang kesemuanya melekat pada masing-masing pihak yang berkonflik.
Berdasarkan berbagai perbedaan tersebut, Isenhart dan Spangle (2000) mengelompokkan sumber perbedaan yang paling sering muncul dan menjadi penyebab/akar konflik yaitu berangkat dari perbedaan-perbedaan dalam hal: (1) data, (2) kepentingan, (3) komunikasi, (4) prosedur, (5) nilai-nilai, (6) hubungan sosial dan (7) struktur peran. Pemilahan yang hampir serupa namun lebih terincik tentang sumber-sumber konflik juga dilakukan oleh Wijardjo dkk (2001) dan Moore (1996). Menurut mereka, konflik terjadi karena adanya perbedaan- perbedaan: (1) hubungan sosial, (2) kepentingan, (3) data, (4) nilai, dan (5) struktural, seperti ditayangkan dalam Gambar 2.3.
Gambar 2.3. Perbedaan-Perbedaan Yang Sering Menjadi Sumber Konflik. (Sumber: Wijardjo, 2001; Moore, 1996)
PERBEDAAN DATA: • Kurang informasi, salah
informasi,
• Perbedaan pandangan dalam relevansi data
• Perbedaan interpretasi, • Perbedaan prosedur penilaian
PERBEDAAN KEPENTI NGAN: • Kebutuhan dan cara untuk memenuhinya atau tata cara maupun mental psikolog (sikap,
emosi) MASALAH HUBUNGAN SOSI AL:
• Hubungan emosi yang kuat • Salah persepsi atau stereotip • Kurang atau salah komunikasi • Repetisi perilaku negatif
PERBEDAAN STRUKTRUAL: Tidak meratanya distribusi
kekuasaan/ kewenangan, dan Sumberdaya, Pengambilan Keputusan,
Faktor fisik, geografis,
dan lingkungan PERBEDAAN NI LAI :
• Nilai pandangan hidup, norma, ideologi, agama • Nilai universal seperti HAM • Nilai yang diperjuangkan seperti kasta, jender, ras, dll
Suatu konflik yang terjadi dapat bersifat produktif atau non-produktif. Menurut Wijardjo dkk (2001) konflik yang produktif lebih mengacu pada permasalahannya, kepentingan/minat, prosedur, dan nilai-nilai pemahaman. Sedangkan konflik yang non-produktif cenderung mengacu pada pembentukan prasangka terhadap lawan, komunikasi memburuk, sarat emosi, kurang informasi, dan salah informasi. Konflik selalu memiliki dua sisi yaitu bahaya dan peluang.
Beberapa aspek mendasar mengenai konflik seperti ditayangkan pada Gambar 2.4. Menurut Fisher at al (2001), konflik dibedakan diantara dua sumbu: sasaran dan perilaku. Hal tersebut sesuai dengan definisi konflik yang merupakan hubungan antar orang/pihak yang memiliki sasaran yang tidak sejalan. Keempat kotak dalam gambar tersebut menunjukkan hubungan antar berbagai tingkat perbedaan sasaran dan perilaku yang diakibatkan serta implikasinya dalam konteks konflik. Tujuannya adalah untuk menggambarkan tipe-tipe konflik yang dapat menuntun ke berbagai bentuk kemungkinan intervensi atau penanganan konflik.
Dalam skenario tersebut tidak ada situasi yang ideal, keempat tipe konflik tersebut masing-masing memiliki potensi dan tantangannya sendiri:
• Tanpa konflik; dalam kesan umum adalah lebih baik. Namun setiap
kelompok atau masyarakat yang hidup damai, jika mereka ingin keadaan tersebut terus berlangsung, mereka harus hidup bersemangat dan dinamis, memanfaatkan perilaku konflik dan tujuan, serta mengelola konflik secara kreatif.
• Konflik laten; sifatnya tersembunyi dan, seperti telah disebutkan di atas perlu diangkat kepermukaan sehingga dapat ditangani secara efektif.
• Konflik terbuka; adalah yang berakar dalam dan sangat nyata dan
memerlukan berbagai tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan berbagai efeknya.
• Konflik di permukaan; memiliki akar yang dangkal atau tidak berakar dan muncul hanya karena kesalah-fahaman mengenai sasaran, yang dapat diatasi dengan meningkatkan komunikasi.