• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kurikulum MI/SD pada Masa Orde Lama

PERKEMBANGAN KURIKULUM SD/MI DI INDONESIA

C. Kurikulum MI/SD pada Masa Orde Lama

Kurikulum MI/SD pada dasarnya meliputi perencanaan pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Kurikulum MI/SD sejak kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 telah mengalami beberapa kali perubahan hingga saat ini. Berikut uraian tentang pengembangan kurikulum yang dimulai dari kurikulum MI/SD pada Masa Orde Lama.

1. Rencana Pelajaran 1947 (Kurikulum 1950)

Pasca Kemerdekaan tahun 17 Agustus 1945, ditetapkanlah bahwa pedoman pelaksanaan pendidikan berdasarkan pada Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945. Berdasarkan usulan dari Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), pada bulan Desember 1945 dibentuklah Panitia Penyelidikan Pendidikan oleh Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PP dan K).

Setelah melalui serangkaian kajian-kajian dan pembahasan oleh tim Menteri PP dan K, maka disahkanlah kurikulum pertama pada masa awal kemerdekaan, yang dinamakan dengan Rencana Pelajaran pada tahun 1947.

Penyebutannya ketika itu lebih populer menggunakan istilah leer plan (Rencana Pelajaran) dari pada istilah curriculum dalam bahasa Inggris.

Rencana pelajaran 1947 lebih bersifat politis, dengan mencoba untuk tidak menerapkan kurikulum Belanda lagi, dimana sebelumnya pendidikan dan pengajaran di Indonesia lebih berorientasi pada kepentingan kolonialis Belanda. Asas pendidikan Rencana Pelajaran ditetapkan Pancasila.

Dikarenakan ketika itu situasi perpolitikan sedang bergejolak perang revolusi, maka Rencana Pelajaran 1947 baru diterapkan pada tahun 1950. Oleh sebab itu, Rencana Pelajaran 1947 sering juga disebut dengan Kurikulum 1950.

Mudyahardjo113 menyebutkan bahwa tujuan pendidikan sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian PP dan K dalam bentuk Keputusan Menteri pada tanggal 1 Maret 1946 yaitu menjadi “Warganegara sejati yang menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk negara”. Tujuan ini kemudian mengalami perubahan sejak diberlakukannya UU No. 4 Th. 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah untuk seluruh Indonesia pada Pasal 3, menjadi “Membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air”.

Susunan Rencana Pelajaran 1947 sangat sederhana dengan hanya memuat dua hal pokok, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya. Rencana Pelajaran 1947 lebih mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, daripada pendidikan pikiran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.

Hal ini tentu sesuai dengan konteks Indonesia ketika itu yang baru mengalami kemerdekaan setelah berjuang dari penjajahan hingga lebih dari 358 tahun lamanya. Garis-garis besar pengajaran pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar dan cara murid belajar.

Mata pelajaran untuk tingkat Sekolah Rakyat (SR) ada 16 yaitu:

khusus di Jawa, Sunda, dan Madura diberikan Bahasa Daerah. Berikut daftar pelajarannya.

Tabel 1

Struktur Kurikulum 1947 untuk Sekolah Dasar No Mata Pelajaran

Kelas

1 2 3 4 5 6

1 Bahasa Indonesia - - 8 8 8 8

2 Bahasa Daerah 10 10 6 4 4 4

113 Redja Mudyahardjo. Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2012, hlm. 371.

3 Berhitung 6 6 7 7 7 7

4 Ilmu Alam - - - - 1 1

5 Ilmu Hayat - - - 2 2 2

6 Ilmu Bumi - - 1 1 2 2

7 Sejarah - - - 1 2 2

8 Menggambar - - - - 2 2

9 Menulis 4 4 3 3 - -

10 Seni Suara 2 2 2 2 2 2

11 Pekerjaan Tangan 1 1 2 2 2 2

12 Pekerjaan Keputrian - - - 1 2 2

13 Gerak Badan 3 3 3 3 3 3

14 Kebersihan & Kesehatan 1 1 1 1 1 1

15 Pend. Budi Pekerti 1 1 2 2 2 3

16 Pendidikan Agama - - - 2 2 2

JUMLAH 28 28 35 38 40 41

Sumber: Herlanti, Y. (2008). Kurikulum Pendidikan Indonesia dari Zaman-Ke Zaman. Dalam Trianto, 2009: 56. (Lihat juga dalam Mudyahardjo. 2012: 383-384).

2. Rencana Pelajaran Terurai 1952

Rencana Pelajaran Terurai 1952 merupakan hasil pengembangan dari Rencana Pelajaran 1947, di mana rencana pelajaran yang lebih terperinci pada setiap pelajarannya, silabus mata pelajarannya lebih jelas. Kurikulum ini dapat dikategorikan sebagai kurikulum tradisional yaitu kurikulum dengan menyajikan mata pelajaran secara terpisah (separated subject curriculum).

Pada tahun 1952 ini, pemerintah Indonesia melalui kementerian PP dan K menerbitkan buku Pedoman Kurikulum SD yang lebih terperinci pada setiap mata pelajaran yang berfungsi membimbing para guru dalam kegiatan mengajar di Sekolah Dasar.

Tujuan pendidikan dan pengajaran Republik Indonesia pada saat itu bermaksud untuk menuntun timbulnya rohani dan jasmani kanak-kanak,

memberikan kesempatan kepadanya guna mengembangkan bakat dan kesukaannya masing-masing dan memberikan dasar-dasar pengetahuan, kecakapan dan ketangkasannya, baik lahir maupun batin (UU No. 12 Th.

1954 Pasal 7 Ayat 2 dalam Mudyahardjo).114

Di dalamnya tercantum jenis-jenis pelajaran yang harus menjadi kegiatan murid dalam belajar di sekolah, seperti pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi dan Sejarah.

Pelajaran Bahasa Indonesia baru diberikan sejak kelas tiga dan empat yang terbagi menjadi: bercakap-cakap, membaca, bahasa dan mengarang. Dalam pelajaran Bahasa Daerah diberikan pelajaran membaca dalam huruf daerah seperti huruf Jawa bagi peserta didik di Jawa dimulai sejak kelas dua.

Pelajaran berhitung terbagi menjadi hitung angka, ilmu bangun dan mencongak, sedangkan pelajaran Ilmu Hayat terbagi atas Ilmu Tubuh Manusia, Ilmu Tumbuh-tumbuhan dan Ilmu Hewan.

Dalam satu tahun, terdapat delapan bulan waktu untuk belajar dan tiap mata pelajaran diuraikan menjadi delapan bagian untuk masing-masing kelas yaitu: untuk bulan pertama, kedua, ketiga, sampai bulan kedelapan. Pendidik (guru) dalam tiap kelas sudah memiliki pedoman mengenai hal-hal yang perlu diajarkan berdasarkan waktu yang telah ditentukan (delapan bulan) tersebut.

Mata pelajaran lain yang juga diajarkan di sekolah selai mata pelajaran yang telah tercantum di dalam Rencana Pelajaran Terurai 1952, sesuai dengan Peraturan Kemeterian PP dan K mengenai Sapta Usaha Tama, yaitu:

a. Penertiban aparatur dan usaha-usaha Kementerian PP dan K b. Menggiatkan kesenian dan olahraga

c. Mengharuskan penabungan d. Mewajibkan usaha-usaha koperasi e. Mengadakan kelas masyarakat

f. Membentuk regu kerja pada Sekolah Lanjut Atas (SLA) dan Universitas.

114 Redja Mudyahardjo. Pengantar Pendidikan.... hlm. 387.

3. Rencana Pendidikan 1964 (Kurikulum SD 1964)

Pada penghujung era pemerintahan Presiden Soekarno menjelang tahun 1964, pemerintah kembali melakukan penyempurnaan kurikulum di Indonesia. Pokok-pokok kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini ialah keinginan pemerintah agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardana.115

Pada periode ini, istilah Sekolah Rakyat diubah menjadi Sekolah Dasar. Kurikulum SD 1964 membedakan dua macam struktur program yaitu a) SD yang menggunakan bahasa pengantar bahasa daerah dari kelas I sampai kelas III, b) SD yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia sejak kelas I.116

Pada tahun 1964, Direktorat Pendidikan dasar/Pra-sekolah beserta Kementerian PP dan K, menerbitkan suatu buku yang dinamakan Rencana Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah dasar. Tujuan pendidikan pada masa ini adalah membentuk manusia pancasila dan Manipol/Usdek yang bertanggungjawab atas terselenggaranya masyarakat adil dan makmur, materil dan spiritual.

Sistem pendidikan sebagaimana disebut Sistem Panca Wardana atau Sistem lima aspek perkembangan yaitu perkembangan moral, perkembangan intelegensi, perkembangan emosional artistik (rasa keharuan), perkembangan keprigelan, dan perkembangan jasmaniah. Kelima wardana tersebut diuraikan menjadi beberapa bahan pelajaran, yaitu:

a. Perkembangan moral: pendidikan kemasyarakatan dan pendidikan agama/budi pekerti.

b. Perkembangan kecerdasan (inteligensi): bahasa Indonesia, bahasa daerah, berhitung, dan pengetahuan alamiah.

c. Perkembangan emosional/artistik: seni sastra/musik, seni lukis/rupa, seni tari, dan seni sastra/drama.

115 Sholeh Hidayat. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

2013, hlm. 3.

116 Redja Mudyahardjo. Pengantar Pendidikan.... hlm. 416.

d. Perkembangan keprigelan: pertanian, peternakan, industri kecil, pekerjaan tangan, koperasi, tabungan, dan keprigelan-keprigelan lainnya.

e. Perkembangan jasmaniah: pendidikan jasmaniah dan pendidikan kesehatan.

Semua pelajaran tersebut diberikan sejak kelas I, II, dan III. Jumlah jam pelajaran dalam satu minggu, yaitu: kelas I & II (26 jam pelajaran dan 30 menit per jam pelajaran), kelas III & IV (36 jam pelajaran dan 40 menit per jam pelajaran).

Dalam pelaksanaannya, kurikulum ini menunjukkan keberadaan anak didik lebih aktif, meskipun masih berada dalam bimbingan pendidik (guru).

Di samping mata pelajaran Wardana, dikenal juga Krida yang berarti hari untuk berlatih menurut bakat dan minat anak didik, misalnya kesenian, olahraga, lapangan, kebudayaan, dan permainan, namun masih tetap di bawah bimbingan guru. Kurikulum sekolah dasar tahun 1964 dapat dikategorikan sebagai kurikulum dengan mengkorelasikan antar mata pelajaran (correlated Curriculum). Hal ini tampak dari kurikulum masa ini yang mengarahkan dan membekali anak didik untuk turun ke dunia kerja.

D. Kurikulum MI/SD pada Masa Orde Baru