• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Pengembangan Kurikulum

PENDEKATAN DAN MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM

B. Pendekatan Pengembangan Kurikulum

Kurikulum sebagai suatu perencanaan merupakan dokumen yang dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. Pada proses pengembangannya, kurikulum tentunya memiliki pendekatan-pendekatan yang digunakan agar kurikulum tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Berikut beberapa pendekatan yang lazim digunakan dalam proses pengembangan kurikulum:

1. Pendekatan Kompetensi (Competency Approach)

Kompetensi ialah perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan.83 Pendekatan kompetensi dalam hal ini merupakan proses pengembangan kurikulum dengan menjadikan kompetensi sebagai titik tolak atau sudut pandang.

Prosedur penggunaan pendekatan ini adalah:

a. Menetapkan standar kompetensi lulusan yang harus dikuasai oleh para lulusan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan,

b. Merincikan perangkat kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh para lulusan,

c. Menetapkan bentuk dan kualitas pengalaman belajar melalui bidang studi atau mata pelajaran (jika perlu menciptakan mata pelajaran baru) dan kegiatan-kegiatan pendukung lainnya yang relevan,

82 Wina Sanjaya. Kurikulum dan Pembelajaran..., hlm. 82.

83 Moh. Uzer Usman. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

2010, hlm. 14.

d. Mengembangkan silabus,

e. Mengembangkan skenario pembelajaran,

f. Mengembangkan perangkat lunak (soft ware) pembelajaran, dan g. Mengembangkan sistem penilaian.

Warjian, dkk. Dalam Arifin84 mengemukakan langkah-langkah pengembangan kurikulum berdasarkan pendekatan kompetensi yaitu mengidentifikasi kompetensi, merumuskan tujuan pendidikan, menyusun pengalaman pembelajaran, menentukan topik dan subtopik, menetapkan dan mengalokasikan waktu, memberi nama mata pelajaran, dan menetapkan bobot sks.

Pertama, mengidentifikasi kompetensi, yaitu menetapkan dan mendeskripsikan ciri-ciri, jenis, dan mutu kompetensi yang harus dimiliki peserta didik agar dapat melaksanakan tugas–tugas dalam bidang pekerjaan tertentu atau melaksanakan tugas untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Kedua, merumuskan tujuan pendidikan, yaitu menggunakan kompetensi yang telah diidentifikasi sebelumnya sebagai tujuan institusional.

Melalui tujuan institusional ini dapat dirumuskan tujuan–tujuan kurikuler dan tujuan–tujuan pembelajaran dengan cara menjabarkan kompetensi tersebut.

Ketiga, menyusun pengalaman pembelajaran, yaitu menyediakan pengalaman–pengalaman pembelajaran yang diperlukan peserta didik untuk dapat melaksanakan langkah-langkah tugas sebagaimana ditetapkan sebelumnya. Keempat, menetapkan topik dan subtopik, yaitu mengidentifikasi pokok dan subpokok bahasan sebagai isi atau persoalan-persoalan yang dibahas untuk memperoleh pengalaman-pengalaman pembelajaran.

Kelima, menetapkan waktu yang diperlukan untuk mempelajari topik dan subtopik dengan memperhatikan kegiatan tatap muka, terstruktur dan mandiri, baik melalui kajian teoretis di kelas, praktikum maupun kerja

84 Arifin, Zainal. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya. 2011, hlm. 114-115.

lapangan dengan perbandingan waktu untuk tiap-tiap kegiatan 1 : 2 : 4.

Kemudian mengalokasikan waktu untuk masing-masing topik dan subtopik.

Keenam, memberi nama mata pelajaran dengan cara mengorganisasikan topik dan subtopik yang relevan menjadi satuan bahan pembelajaran. Selanjutnya menetapkan nama mata pelajaran berdasarkan organisasi topik dan subtopik yang menjadi satuan bahan pembelajaran tersebut. Ketujuh, menetapkan bobot SKS setiap mata pelajaran sesuai dengan jumlah jam pelajaran yang diperlukan peserta didik untuk mempelajari semua topik dan subtopik dari suatu mata pelajaran.

Terdapat tiga hal penting yang harus diperhatikan guru dalam penilaian penguasaan kompetensi, yaitu: pertama, sasaran penilaian tidak hanya terfokus pada kemampuan tertulis dan lisan saja, tetapi juga tingkat kinerja (performance) pelaksanaan tugas yang telah ditetapkan. Kedua, kriteria penilaian adalah persyaratan minimal pelaksanaan tugas-tugas yang dijabarkan langsung dari hakikat dan tuntutan tugas yang dapat dikerjakan peserta didik, bukan dari prestasi rata-rata kelompok atau patokan mutlak yang tidak memiliki rujukan yang jelas. Ketiga, sasaran utama adalah penguasaan kemampuan dan bukan pada cara atau waktu pencapaiannya.

Para pengembang kurikulum harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menilai penguasaan kemampuannya atas bahan yang akan disajikan sebelum bahan tersebut dikerjakan (pre-test). Para pengembang kurikulum juga harus yakin bahwa pengalaman belajar yang akan diikuti bersifat fungsional bukan hanya sekedar seremonial (formalitas).

Ciri utama pendekatan kompetensi ini ialah penjaringan dan pengolahan informasi umpan balik (feedback) secara teratur untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan sehingga kurikulum ini memiliki mekanisme untuk memperbaiki diri baik pada tingkat lembaga maupun tingkat nasional.

2. Pendekatan Sistem (System Approach)

Pendekatan sistem dapat diartikan sebagai suatu totalitas atau keseluruhan komponen yang saling berfungsi, berinteraksi dan

interdependensi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Inti pendekatan sistem sebagai proses adalah merumuskan masalah, mengidentifikasi strategi pemecahan masalah, dan evaluasi. Berikut langkah-langkah pengembangan kurikulum dengan mengunakan pendekatan sistem.

Pertama, merumuskan masalah, yaitu: a) menentukan masalah, analisis kebutuhan, menentukan prioritas, b) menganalisis latar, ciri-ciri peserta didik, kondisi (hambatan), sumber-sumber, c) mengatur pengelolaan, analisis tugas, tanggung jawab, dan penjadwalan.

Kedua, mengidentifikasi strategi pemecahan masalah, yang meliputi a) menentukan tujuan pembelajaran, tujuan akhir dan tujuan sementara, b) menentukan strategi, pendekatan, metode, media, dan sumber belajar, c) membuat prototipe, bahan-bahan, pembelajaran, dan bahan-bahan evaluasi.

Ketiga, melaksanakan evaluasi, yang meliputi a) uji coba prototipe, melakukan uji coba, mengumpulkan data, dan evaluasi, b) analisis hasil uji coba, tujuan pembelajaran, metode, dan teknik evaluasi, c) penyempurnaan langkah-langkah terdahulu, review, menetapkan, melaksanakan.

Secara umum, berikut model manajemen kurikulum dengan menggunakan pendekatan sistem: 1) mengidentifikasi kebutuhan dan masalah yang berkaitan dengan kurikulum, 2) menentukan persyaratan pemecahan masalah dan mengidentifikasi alternatif pemecahan masalah, 3) menentukan alternatif strategi pemecahan masalah, 4) menguji coba pelaksanaan kurikulum, 5) memonitoring pelaksanaan kurikulum, 6) mengevaluasi keberhasilan kurikulum berdasarkan kebutuhan dan persyaratan yang telah ditetapkan, dan 7) penyempurnaan terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan untuk menjamin kurikulum agar bersifat responsif, efektif, dan efisien.

3. Pendekatan Klarifikasi Nilai (Value Clarification Approach)

Pendekatan ini merupakan proses pengembangan kurikulum dengan menjadikan klarifikasi nilai sebagai titik tolak atau sudut pandang. Adapun ciri-ciri pengembangan kurikulum berdasarkan pendekatan klarifikasi nilai, antara lain:

a. Peran guru kurang dominan dalam pembelajaran, sementara peserta didik diberi kesempatan untuk mencari jawaban yang dapat memuaskan dirinya,

b. Guru sedikit memberikan informasi dan lebih banyak mendengarkan penjelasan dari peserta didik,

c. Guru lebih sering menggunakan metode tanya jawab,

d. Tidak banyak kritik yang destruktif. Guru lebih mengarah kepada perhatian peserta didik, sehingga kembali pada perasaan dan pengertian peserta didik itu sendiri,

e. Kurang menekankan pada faktor kegagalan dan lebih menerima kesalahan-kesalahan,

f. Menanggapi dan menghayati pekerjaan peserta didik,

g. Merumuskan tujuan dengan jelas, sehingga struktur kegiatan dapat dipahami oleh peserta didik,

h. Dalam batas tertentu peserta didik diberikan kebebasan untuk bekerja dan bertanggung jawab,

i. Peserta didik bebas mengungkapkan apa yang mereka rasakan,

j. Adanya keseimbangan antara tugas kelompok dengan tugas perseorangan,

k. Belajar bersifat individual (individual learning),

l. Evaluasi tidak terfokus pada prestasi akademik, tetapi juga proses pertukaran pengalaman, dan

m. Peserta didik menemukan sistem nilainya sendiri.

Secara umum, tujuan klarifikasi nilai ialah: pertama, mengembangkan hubungan pribadi di antara peserta didik secara lebih baik yang mungkin di antara mereka terjadi konflik nilai atau untuk mengambil keputusan pada masa mendatang, kedua, melengkapi kebutuhan peserta didik, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani.

Secara khusus, tujuan klarifikasi nilai ialah: pertama, mengukur dan mengetahui tingkat kesadaran peserta didik tentang suatu nilai, kedua, menyadarkan peserta didik tentang nilai-nilai yang dimilikinya, baik tingkat

maupun sifatnya. Jika nilai yang dimiliki peserta didik sifatnya negatif, maka tugas guru adalah meluruskan atau mengarahkannya menjadi sifat yang positif, ketiga, menanamkan nilai kepada peserta didik melalui contoh nyata atau keteladanan dan cara-cara yang rasional, yang dapat diterima peserta didik sebagai milik pribadinya, keempat, melatih dan membina peserta didik tentang bagaimana cara menilai, menerima, dan mengambil keputusan terhadap suatu nilai umum.

4. Pendekatan Komprehensif (Comprehensive Approach)

Pendekatan komprehensif ialah pelaksanaan proses pengembangan kurikulum dengan bertitik tolak dan sudut pandang secara menyeluruh.

Langkah-langkah pengembangan kurikulum berdasarkan pendekatan komprehensif adalah sebagai berikut:

a. Merumuskan filsafat pendidikan

b. Merumuskan visi dan tujuan pendidikan c. Merumuskan target atau sasaran

d. Merancang perencanaan e. Implementasi (uji coba) f. Monitoring dan evaluasi g. Revisi

Pendekatan ini berupaya untuk melihat, memperhatikan, dan menganalisis serta mengidentifikasi semua masalah yang berkaitan dengan kurikulum secara keseluruhan (global) oleh pengembang kurikulum.

Berdasarkan langkah-langkah di atas, pengembang kurikulum dapat menetapkan langkah pertama yang akan dilakukan dan apa yang akan dicapai sebagai sasaran dengan merumuskan filsafat pendidikan, visi-misi dan tujuan pendidikan serta sasaran yang ingin dicapai. Setelah itu, merancang perencanaan dan strategi pelaksanaan untuk mencapai sasaran.

Tahap berikutnya adalah mengimplementasikan sebagai upaya untuk menguji coba hasil perencanaan tersebut dalam proses pembelajaran. Dari hasil percobaan tersebut dilakukan evaluasi terhadap perencanaan sebagai

bahan feedback untuk semua langkah yang telah dilakukan. Selanjutnya, dilakukan revisi dan penyempurnaan terhadap pendekatan secara keseluruhan.

Proses ini harus dilakukan secara berulang-ulang sampai pada titik yang memuaskan sehingga akhirnya pendekatan tersebut dapat diterapkan di sekolah.

5. Pendekatan yang Berpusat pada Masalah (Problem-Centered Approach)

Pengembangan kurikulum dengan pendekatan ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi berbagai masalah kurikulum secara khusus. Para guru diminta untuk mengumpulkan berbagai informasi tentang masalah-masalah, keinginan atau harapan, dan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi dalam mata pelajaran, seperti perbaikan cara penampilan, penggunaan banyak metode (multi method) dan media dalam pembelajaran serta sistem penilaian.

Untuk mempelajari masalah dan keinginan dari para guru tersebut, pengembang kurikulum perlu melakukan penelitian yang tidak bersifat evaluatif, melainkan bersifat stimulatif dan mendorong guru untuk memberikan informasi yang objektif semata-mata demi kepentingan pengembangan kurikulum yang lebih baik. Melalui pendekatan ini, guru merasa sangat dihargai karena pendapat atau saran mereka didengar bahkan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan kurikulum.

Pengembang kurikulum harus duduk bersama dengan guru untuk membahas silabus yang berlaku dan mencari alternatif pemecahannya.

6. Pendekatan Terpadu (Integratif Approach)

Pendekatan ini bertitik tolak dari suatu keseluruhan atau satu kesatuan yang bermakna dan berstruktur. Pendekatan terpadu adalah suatu pendekatan yang memadukan keseluruhan bagian dan indikator-indikatornya dalam suatu bingkai kurikulum untuk mencapai tujuan tertentu. Bagian yang dimaksud menggambarkan: pertama, hasil belajar peserta didik (kognitif, afektif, dan psikomotorik), kedua, tahap-tahap pengembangan kurikulum (perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, dan pengendalian), ketiga, program

pendidikan yang ditawarkan, seperti program pendidikan umum, program pendidikan agama, dan program pendidikan pilihan. Pendekatan terpadu dapat dilaksanakan dalam berbagai tingkatan, baik pada tingkat makro, tingkat institusi, tingkat mikro, maupun tingkat individual.

7. Pendekatan Sentralisasi (Centrelized Approach)

Pendekatan ini sering disebut juga dengan pendekatan top-down, yaitu pendekatan dengan menggunakan sistem komando (dari atas ke bawah).

Artinya, kurikulum dikembangkan oleh pemerintah pusat sesuai dengan garis komando atau vertikal disosialisasikan dan dilaksanakan oleh institusi di bawahnya. Berikut langkah-langkah pengembangan kurikulum dengan menggunakan pendekatan sentralisasi (top-down):

Pertama, membentuk Tim Pengarah (Pejabat struktural yang terkait, ahli kurikulum, dan bidang studi, psikolog, praktisi, dll.). Tugasnya adalah merumuskan konsep & blue print kebijakan secara umum sesuai dengan falsafah dan dasar negara, visi-misi dan tujuan pendidikan nasional.

Kedua, membentuk kelompok kerja (ahli kurikulum, ahli bidang studi dari perguruan tinggi dan guru senior), yang tugasnya adalah merumuskan semua komponen kurikulum dan pedoman pelaksanaannya sesuai dengan blue print kebijakan umum.

Ketiga, membentuk tim perumus (ahli kurikulum, ahli bidang studi, kepala sekolah, guru senior, dan praktisi), yang tugasnya adalah menganalisis dan me-review bahan, melaksanakan uji coba, evaluasi kelayakan, dan penyempurnaan.

Keempat, membentuk tim pelaksana (pejabat struktural pusat/daerah, pengawas, kepsek, dan guru), yang tugasnya adalah melakukan diseminasi dan sosialisasi kurikulum baru serta memerintahkan kepala sekolah untuk melaksanakannya.

8. Pendekatan Desentralisasi (Decentrelized Approach)

Pendekatan ini disebut juga dengan pendekatan grass-rooth atau down-top, yaitu suatu pendekatan yang dimulai dari akar rumput, dalam hal ini

adalah guru sebagai ujung tombak pengembang kurikulum di tingkat sekolah, baik secara individual maupun kelompok. Semua kebijakan kurikulum tidak diatur oleh pemerintah pusat melainkan ditentukan oleh pemerintah daerah dan sekolah. Dalam implementasinya, sering terjadi persaingan kualitas pendidikan (proses dan hasil) yang sangat ketat, baik sesama peserta didik, sekolah maupun daerah. Prosedur kerja pendekatan ini dimulai dari guru, kemudian hasilnya diserahkan kepada pejabat struktural di atasnya secara berjenjang. Pendekatan ini hanya dapat digunakan jika guru memiliki kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik yang memadai. Jika tidak, maka perubahan dan pengembangan kurikulum tidak akan terjadi.

Peran administrator dalam pendekatan desentralisasi sangat besar, terutama dalam mengambil inisiatif pengembangan kurikulum, menyusun, menyempurnakan, mengevaluasi, dan menyesuaikan kurikulum dengan daerahnya masing-masing. Penyesuaian kurikulum dapat dilakukan oleh administrator yang bekerja sama dengan pakar pendidikan dan pakar kurikulum dari perguruan tinggi, kepala sekolah, dan guru-guru. Kerangka kurikulum secara umum mungkin saja disusun oleh pemerintah pusat, tetapi pengembangannya secara khusus dan lebih terperinci diserahkan kepada masing-masing daerah. Adakalanya guru harus melakukan penyempurnaan terhadap kurikulum itu sendiri. Asumsi pendekatan ini adalah kurikulum tidak perlu seragam untuk seluruh daerah.85