PENGEMBANGAN KURIKULUM
D. Landasan Pengembangan Kurikulum
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama dalam bidang informasi berperan penting dalam memicu perkembangan dalam setiap sektor kehidupan manusia. Oleh karena itu, proses pengembangan kurikulum juga pada dasarnya merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan. Adanya kurikulum ialah untuk dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan perkembangan yang ada. Inilah yang dimaksud dengan proses pengembangan kurikulum sebagai suatu siklus.
Proses pengembangan kurikulum harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang dijadikan sebagai dasar pijakan. Sukmadinata53 mengungkapkan bahwa kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai
53 Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum..., hlm. 38.
kedudukan yang sentral dalam seluruh kegiatan pendidikan, menentukan proses pelaksanaan dan hasil pendidikan.
Demikian pentingnya peran kurikulum dalam pendidikan, maka penyusunan kurikulum harus dilaksanakan secara terencana dan sistematis.
Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan yang kuat, ibarat sebuah gedung, jika landasannya tidak kokoh maka gedung tersebut akan mudah ambruk.
Demikian juga dengan kurikulum, jika landasannya lemah maka yang ambruk adalah manusianya sebagai pengguna kurikulum tersebut.
Dengan memiliki landasan yang kokoh maka diharapkan proses pengembangan kurikulum menjadi lebih kokoh dan kontributif dalam pelaksanaan pendidikan. Berikut beberapa landasan dalam mengembangkan kurikulum.
1. Landasan Religius
Muhammad al-Thoumy al-Syaibany dalam Hidayat54 mengungkapkan bahwa salah satu landasan pengembangan kurikulum ialah landasan religius (agama). Kurikulum dikembangkan dan diimplementasikan berdasarkan nilai-nilai Ilahiyah, sehingga kurikulum diharapkan dapat membimbing peserta didik untuk memiliki iman yang kuat, teguh terhadap ajaran agama, berakhlak mulia dan melengkapinya dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat di dunia dan akhirat.
Sesuai dengan UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa tujuan pendidikan nasional ialah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan berdasarkan tujuan pendidikan nasional tersebut, landasan religius (agama) tidak bisa dilepaskan sebagai salah satu landasan kurikulum. Bahkan, bisa dikatakan bahwa landasan religius ini menjadi landasan pokok dari kurikulum itu sendiri.
54 Sholeh Hidayat. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
2013, hlm. 34.
Landasan religius ini bisa dikatakan sebagai landasan pokok dan utama dalam proses pengembangan kurikulum. Sebab agama merupakan pedoman manusia dalam kehidupannya di dunia ini. Landasan agama diyakini langsung bersumber dari Sang Khaliq (Pencipta) merupakan pedoman manusia yang paling autentik. Pedoman yang langsung bersumber dari Allah SWT. dan tidak berasal dari manusia. Sebab pedoman yang berasal dari manusia bisa jadi sarat dengan kepentingan, tergantung dari manusia itu sendiri. Sedangkan pedoman dari Allah SWT. merupakan pedoman dari Sang Pencipta manusia dan tentunya paling mengetahui seluk beluk ciptaan-Nya. Ibarat sebuah handphone (HP), pihak yang paling berhak dalam mengeluarkan buku petunjuk penggunaannya ialah pabrik pembuat HP tersebut. Demikian halnya manusia, maka yang paling berhak dan autentik dalam membuat pedoman hidupnya ialah Sang Khaliq/Pencipta manusia itu sendiri.
2. Landasan Filosofis
Pendidikan merupakan proses interaksi antar manusia, yaitu antara pendidik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Interaksi tersebut melibatkan isi serta proses bagaimana interaksi tersebut berlangsung.
Apakah yang menjadi tujuan pendidikan, siapa yang disebut dengan pendidik dan peserta didik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses interaksi pendidikan tersebut berlangsung, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban-jawaban yang bersifat filosofis.
Secara harfiah filosofis (filsafat) berarti “cinta kebijaksanaan” (love of wisdom). Sedangkan secara istilah, filsafat merupakan upaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu pandangan secara sistematis dan komprehensif terkait dengan alam semesta dan kedudukan manusia di dalamnya. Dengan demikian, filsafat membahas segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia termasuk masalah-masalah pendidikan yang kemudian diistilahkan dengan filsafat pendidikan.
Hidayat55 mengungkapkan bahwa kurikulum senantiasa memiliki keterkaitan yang erat dengan filsafat pendidikan, sebab filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai, harapan atau cita masyarakat. Berdasarkan cita-cita tersebut menjadi landasan ke mana arah pendidikan yang hendak dicapai melalui pelaksanaan suatu kurikulum.
Permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam proses pendidikan, terutama dalam upaya mengimplementasikan dokumen kurikulum akan dijumpai jawabannya berdasarkan kajian-kajian yang dilakukan secara filosofis. Oleh karena itu, di samping landasan religius, landasan filosofis juga turut berperan penting dalam upaya pengembangan kurikulum khususnya, dan pelaksanaan pendidikan pada umumnya.
3. Landasan Psikologis
Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan berkaitan dengan proses perubahan perilaku peserta didik. Sehingga, proses pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kondisi kejiwaan peserta didik yang ditunjukkan melalui gejala-gejala yang tampak dari luar. Dengan demikian, kurikulum tidak bisa dipisahkan dari ilmu psikologi yang merupakan salah satu landasan pokok dari pengembangan kurikulum itu sendiri.
Suatu kurikulum hendaknya menjadikan hasil kajian-kajian terbaru dalam bidang psikologi sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun dan mendesain sebuah kurikulum. Seperti misalnya upaya untuk menyesuaikan desain kurikulum dengan karakteristik perkembangan peserta didik, meliputi semua komponen-komponen dalam kurikulum, mulai dari tujuan, materi, evaluasi, strategi, metode, dsb.
4. Landasan Sosiologis dan Kultural
Pendidikan bersumberkan pada ilmu sosial (sociology) dan budaya (culture), baik dari masyarakat di masa lampau ataupun masyarakat masa sekarang. Dengan demikian, kurikulum sebagai salah satu komponen penting dari penyelenggaraan pendidikan juga harus berlandaskan pada landasan
55 Sholeh Hidayat. Pengembangan Kurikulum..., hlm. 35.
sosiologis dan kultural. Lebih jelasnya, Arifin56 menjelaskannya melalui asumsi bahwa peserta didik berasal dari masyarakat dan dididik oleh masyarakat, serta harus kembali menuju masyarakat. Ketika peserta didik kembali menuju masyarakat, maka ia harus memiliki sejumlah kemampuan agar ia dapat berbakti dan berguna bagi masyarakat. Kemampuan yang dimaksud ialah sejumlah pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diperoleh peserta didik melalui berbagai kegiatan dan pengalaman belajar di sekolah. Kegiatan dan pengalaman belajar tersebut diorganisir dalam pendekatan dan desain tertentu yang disebut dengan kurikulum.
Perkembangan masyarakat yang demikian pesat berimplikasi pada perkembangan ilmu sosiologi itu sendiri yang selanjutnya menjadi cikal bakal kebudayaan baru (new culture) untuk masyarakat selanjutnya. Sebagaimana diungkapkan Mudlofir57 bahwa masyarakat selalu mengalami perubahan yang bergerak maju menuju perkembangan yang semakin kompleks. Perubahan ini meliputi sistem nilai, pola kehidupan, struktur sosial, kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
Dengan demikian, kurikulum juga harus berlandaskan pada landasan sosiologis (ilmu sosial) dan kultural (kebudayaan) yang merupakan warisan masyarakat, yang dalam hal ini menjadi modal penting bagi peserta didik untuk melanjutkan dan menyesuaikan, serta memperbaiki warisan tersebut untuk masyarakat di masa sekarang dan di masa mendatang.
5. Landasan Perkembangan Ilmu dan Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi informasi yang amat pesat, dengan pesat pula bisa mempengaruhi serta mengubah karakter seseorang merupakan realitas perkembangan yang tidak bisa dihindarkan. Ibarat jika kita menutup pintu rumah agar perkembangan pengetahuan dan teknologi tersebut tidak masuk, maka ia akan tetap masuk
56 Zainal Arifin. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya. 2011, hlm. 65.
57 Ali Mudlofir. Aplikasi Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Bahan Ajar dalam Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Rajawali Press. 2011, hlm. 28.
melalui jendela. Oleh karena itu, perkembangan ilmu dan teknologi merupakan landasan penting dalam upaya pengembangan kurikulum.
Implikasi landasan perkembangan ilmu dan teknologi terhadap pengembangan kurikulum di satu sisi ialah harus dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan berfikir peserta didik untuk lebih banyak menghasilkan teknologi baru sesuai dengan perkembangan zaman dan karakteristik masyarakat Indonesia. Pengembangan kurikulum harus difokuskan pada kemampuan peserta didik untuk mengenali dan merevitalisasi produk teknologi yang lama untuk dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi itu sendiri.58
Tetapi, di sisi lain kurikulum juga harus difokuskan pada kemampuan peserta didik untuk memanfaatkan ilmu dan teknologi sebagai alat untuk memudahkan manusia, bukan sebaliknya mengancam eksistensi manusia itu sendiri (dehumanisasi). Kemajuan teknologi transportasi misalnya yang semula bertujuan untuk memudahkan manusia dalam berperjalanan dan menghemat waktu dan biaya, tetapi di sisi lain kecelakaan yang disebabkan transportasi menjadi salah satu ancaman besar bagi manusia.
Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi perhatian penting dalam penyelenggaraan pendidikan, di mana kurikulum memiliki posisi strategis untuk mengakomodir perkembangan tersebut, dan bukan justru menghindarinya.
Senada dengan di atas, Tyler dalam Nasution59 menyimpulkan bahwa pengembangan kurikulum ditentukan oleh empat landasan utama, yaitu:
1. Falsafah bangsa, masyarakat, sekolah dan guru-guru (aspek filosofis).
2. Harapan dan kebutuhan masyarakat: orang tua, kebudayaan masyarakat, pemerintah, agama, ekonomi, dan sebagainya (aspek sosiologis)
3. Hakikat anak, antara lain: taraf perkembangan fisik, mental, psikologis, emosional, sosial serta cara anak belajar (aspek psikologis)
4. Hakikat pengetahuan atau disiplin ilmu (bahan pelajaran).
58 Zainal Arifin. Konsep dan Model..., hlm. 78.
59 Nasution. Kurikulum & Pengajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara. 2012, hlm. 6.
Lebih lanjut, Hamalik60 juga menyimpulkan bahwa pengembangan kurikulum memiliki landasan sebagai berikut:
1. Tujuan filsafat dan pendidikan nasional yang dijadikan sebagai dasar dalam merumuskan tujuan institusional yang pada gilirannya menjadi landasan dalam merumuskan tujuan kurikulum suatu pendidikan.
2. Sosial budaya dan agama yang berlaku dalam masyarakat.
3. Karakteristik Perkembangan peserta didik
4. Keadaan lingkungan, meliputi: lingkungan manusiawi (interpersonal), lingkungan kebudayaan dan iptek (kultural), dan lingkungan hidup (bioekologi), serta lingkungan alam (geoekologis).
5. Kebutuhan pembangunan, meliputi bidang ekonomi, kesejahteraan sosial, hukum, dsb.
6. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan sistem nilai dan kemanusiawian serta budaya bangsa.