Lager Onderwijs
C. KURIKULUM SMP 1975
Kurikulum 1968 dianggap sudah mulai usang. Perkembangan kehidupan politik, sosial, budaya, teknologi dan terutama ekonomi dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan kurikulum yang ada. Sementara itu keberadaan lembaga resmi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Badan Pengembangan Pendidikan dimana ada bagian Pengembangan Kurikulum memberikan arahan pengembangan kurikulum yang lebih fokus, sistematis, dan sesuai dengan perkembangan ilmu pendidikan terutama kurikulum. Pakar yang belajar khusus dalam kurikulum menambah kekuatan bangsa Indonesia dalam memikirkan kurikulum lebih serius. Pada tahun 1975 Pemerintah mensyahkan kurikulum baru untuk SMP yang diberi nama Kurikulum SMP 1975.
Hasil kajian penilaian telah menunjukkan bahwa kualitas tamatan SMP sebagaimana yang dikembangkan dalam Kurikulum SMP 1968 sudah dianggap tidak lagi sesuai dengan tuntutan masyarakat. Masyarakat menghendaki tamatan SMP yang mampu belajar aktif, menjadi manusia yang mampu mencari, mengolah, dan mengembangkan pengetahuan baru. Untuk itu peserta didik tidak lagi menjadi orang yang pasif menerima berbagai informasi yang disajikan guru dan buku teks tetapi sudah harus menjadi subjek yang mampu membelajrkan dirinya dengan cara belajar aktif.
Untuk mendukung posisi peserta didik sebagai subjek dalam belajar berbagai inovasi pendidikan telah tersedia. Inovasi dalam proses pembelajaran yang mengarah kepada pendekatan teknologi pembelajaran yang terencana, terarah dan jelas memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk menguasai pengetahuan, kemampuan, nilai, dan sikap yang harus mereka miliki. Inovasi pembelajaran dengan menggunakan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional dianggap lebih efisien dan efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu Pemerintah telah menyelesaikan penulisan buku-buku pelajaran yang memerlukan kurikulum baru karena berbagai pokok bahasan dan informasi baru yang terdapat pada buku-buku tersebut.
1.Perkembangan Kebijakan Pendidikan
Perubahan dalam tujuan pendidikan pada masa pemerintahan Orde Baru terus berkembang. Dapat dikatakan hampir pada setiap sidang MPR lima tahunan menghasilkan tujuan pendidikan baru. Dalam Sidang Umum MPRS pada tahun 1973 MPRS menghasilkan TAP MPR Nomor IV/MPR/1973 yaitu mengenai Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Dalam bagian mengenai Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pembinaan Generasi Muda dinyatakan bahwa “pembangunan dibidang pendidikan didasarkan atas Falsafah Negara Pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan untuk membentuk manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rokhaninya, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, dapat mengembangkan kreaktivitas dan tanggung-jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945.”
(Dokumen TAP MPRS No. IV Tahun 1973; Gunawan, 1986: 52).
Istilah manusia Pancasila sejati tidak lagi digunakan. Situasi politik pada tahun 1973 kiranya sudah lebih stabil dibandingkan tahun 1966 dalam menangkal
pengaruh negatif faham dan gerakan komunis di Indonesia. Oleh karena itu kata-kata Pancasila sejati dalam tujuan pendidikan tidak perlu dinyatakan secara ekspilisit. Sebagai gantinya jargon politik yang populer pada waktu itu adalah manusia pembangunan. Semua kegiatan diarahkan untuk pembangunan dan suasana pembangunan fisik dan non fisik mendominasi kehidupan kebangsaan. Pembentukan manusia pembangunan sesuai dengan kebijakan politik pada waktu itu yang menempatkan pembangunan sebagai jargon politik penting dalam kehidupan bangsa. Sesuai dengan arah pembangunan bangsa maka pendidikan sebagai salah satu upaya pembangunan bangsa harus menghasilkan manusia sesuai dengan ciri kehidupan bangsa pada waktu itu.
Perubahan lain yang cukup menonjol dari rumusan tujuan dalam TAP MPRS IV tahun 1973 dibandingkan TAP MPR sebelumnya adalah pada TAP MPRS IV tahun 1973 posisi pengetahuan dan ketrampilan cukup penting dibandingkan rumusan TAP MPRS nomor XXVII/MPRS/1966. Penempatan posisi pengetahuan dan ketrampilan memang sudah sewajarnya karena adalah suatu kenyataan yang tak dapat disangkal bahwa manusia memang tidak mungkin hidup tanpa ilmu pengetahuan. Tujuan pendidikan yang dirumuskan TAP MPRS IV tahun 1973 memperlihatkan tugas pendidikan yang cukup mendasar dalam mengembangkan potensi peserta didik di berbagai bidang untuk menjadi manusia yang “sehat jasmani dan rokhaninya, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, dapat mengembangkan kreaktivitas dan tanggung-jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945.”
Dalam tujuan yang dirumuskan TAP MPRS nomor IV Tahun 1973 manusia Indonesia adalah manusia yang selain sehat jasmani dan rokhani, memiliki pengetahuan dan ketrampilan tetapi memiliki pula berbagai kualitas afektif yang
masih tetap aktual untuk masa kini. Sikap demokrasi dan tanggungjawab adalah sesuatu yang masih diperlukan hingga saat kini dan untuk masa panjang selama negara Indonesia dan bangsa Indonesia menegakkan kehidupan kebangsaannya atas dasar demokrasi, sesuatu yang tidak saja dominan tetapi juga menjadi alternatif terbaik dalam kehidupan kebangsaan. Cara merumuskan yang memberikan keseimbangan antara kemampuan kognitif dan afektif (demokrasi dan bertanggungjawab) digunakan pula dalam rumusan berikutnya. Kualitas kognitif yaitu kecerdasan yang tinggi diseimbangkan dengan kualitas afektif yaitu budi pekerti yang luhur. Prinsip keseimbangan digunakan pula dalam rumusan mengenai usaha pendidikan untuk menghasilkan manusia yang mencintai bangsanya dan juga sesama manusia untuk tidak menimbulkan sikap chauvinistis atau nasionalisme yang sempit.
Untuk merealisasikan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan, TAP MPRS Nomor IV tahun 1973 telah pula menetapkan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila sebagai pengganti Civics atau Kewargaan Negara pada kurikulum sebelumnya. Pada bagian Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, Tenologi dan Pembinaan Generasi Muda titik 2 TAP MPRS tersebut dirumuskan arah bagi kurikulum TK sampai Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA). Dalam titik 2 itu dirumuskan sebagai berikut: “untuk mencapai cita-cita tersebut maka kurikulum disemua tingkat pendidikan, mulai dari Taman kanak-kanak sampai perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta harus berisikan Pendidikan Moral Pancasila dan unsur unsur yang cukup untuk meneruskan Jiwa dan Nilai-nilai 1945 kepada Generasi Muda”. Kedudukan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila sebagai mata pelajaran wajib berlaku sampai saat kini walau pun nama mata pelajaran ini mengalami perubahan nama beberapa kali, disesuaikan dengan TAP-TAP MPR pada masa berikutnya.
Disamping perubahan politik yang terutama dalam keputusan mengenai tujuan pendidikan nasional terjadi pula berbagai pemikiran baru tentang kurikulum. Kehadiran beberapa sarjana yang memfokuskan dirinya pada bidang
pengembangan kurikulum dan bidang studi kurikulum memperkenalkan berbagai pemikiran baru untuk kurikulum 1975. Berbagai teoori dan pemikiran mengenai pengembangan kurikulum (curriculum development) yang mereka pelajari dan dianggap bermanfaat bagi dunia pendidikan Indonesia mereka aplikasikan dalam pekerjaan pengembangan Kurikulum 1975. Mereka memperkenalkan pikiran inovatif mengenai desain kurikulum, posisi peserta didik dalam belajar, proses pembelajaran, dan evaluasi atau asesmen hasil belajar. Desain kurikulum yang mengarah kepada model pendekatan tujuan menghasilkan struktur tujuan lebih jelas dan keterkaitan antara berbagai jenjang tujuan dinyatakan secara eksplisit. Jika dalam Kurikulum SMP 1954 tujuan setiap mata pelajaran dirumuskan terpisah dari materi yang dipelajari maka pada Kurikulum SMP 1975 dirumuskan dalam sebuah matriks sehingga jelas keterkaitan antara tujuan kurikuler dan tujuan instruksional. Selain itu, Kurikulum SMP 1975 memperlihatkan keterkaitan yang jelas antara Tujuan Kurikuler, Tujuan Instruksional Umum, materi, metode, dan penilaian hasil belajar. Kurikulum sebelumnya tidak memperlihatkan keterkaitan berbagai komponen itu dalam satu matriks.
Pemikiran inovatif yang juga dikembangkan dalam Kurikulum SMP 1975 adalah adanya penjelasan mengenai berbagai hal yang dianggap inovatif atau pun yang merupakan kelanjutan dari apa yang sudah dilaksanakan seebelumnya. Diantara pikiran-pikiran itu penggunaan model Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) dan sistem penilaian yang berkelanjutan merupakan aspek inovasi, pedoman pelaksanaan kurikulum banyak berpengaruh terhadap pengembangan kurikulum berikutnya. Sebagian dari pemikiran inovatif yaitu pengunaan filosofi perenialisme masih dipertahankan untuk jenjang pendidikaan dasar sedangkan penerapan filosofi perenialisme untuk kurikulum SMA mendapatkan tantangan politis yang kuat sehingga pada tahun 1984 Kurikulum SMA kembali dikembangkan berdasarkan filosofi esensialisme sampai hari ini.
Tentang tujuan, Kurikulum 1975 menggunakan pendekatan hierarkis antara tujuan pendidikan nasional, tujuan pendidikan institusional, tujuan pendidikan kurikuler, tujuan pendidikan instruksional umum, dan tujuan pendidikan instruksional
khusus. Keterkaitan antar tujuan tersebut masih berlangsung sampai kurikulum 1994 dan menjadi petunjuk kuat mengenai keterkaitan antara apa yang dikehendaki bangsa Indonesia dengan apa yang dikembangkan kurikulum. Secara diagramatik keterkaitan itu digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2: Heirarki Tujuan Pendidikan
TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL TUJUAN KURIKULER TUJUAN KURIKULER TUJUAN KURIKULER
TIU TIU TIU TIU TIU TIU TUJUAN INSTITUSIONAL
(LEMBAGA)
Di bawah setiap TIU terdapat sejumlah TIK yang harus dirumuskan guru. Hierarchi keterkaitan tujuan pendidikan tersebut berdasarkan asumsi bahwa apabila tujuan pendidikan di bawah dirumuskan dengan benar dan tercapai maka tujuan pendidikan di atasnya akan tercapai. Artinya, jika kualitas hasil belajar yang dirumuskan guru dalam TIK tercapai maka TIU yang menjadi dasar pengembangan TIK tersebut diasumsikan tercapai. Jika berbagai kualitas hasil
belajar yang dirumuskan dalam berbagai TIU tercapai maka Tujuan Kurikuler untuk bidang tudi tersebut tercapai. Jika kualitas hasil belajar yang dirumuskan dalam berbagai Tujuan Kurikuler dimiliki peserta didik maka tamatan SMP akan memiliki kualitas hasil belajar yang dirumuskan dalam Tujuan Institusional (SMP) tersebut. Apabila semua tujuan institusional semua lembaga pendidikan tercapai maka kualitas manusia Indonesia yang dirumuskan dalam Tujuan Pendidikan Nasional tercapai pula.
2. Tujuan Institusional SMP
Dalam bab III Buku I Kurikulum SMP 1975 ditetapkan adanya Tujuan Umum dan Tujuan Khusus. Tujuan Umum menggambarkan tujuan pendidikan SMP yang terdiri atas tiga tujuan yang mencakup wewenang yang dimiliki seorang tamatan pendidikan SMP. Ketiganya adalah menjadi “warganegara yang baik sebagai manusia yang utuh, sehat, kuat lahir dan batin; menguasai hasil pendidikan umum yang merupakan kelanjutan dari hasil pendidikan di Sekolah Dasar; dan memiliki bekal untuk melanjutkan pelajarannya ke Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan untuk terjun ke masyarakat”. Tujuan nomor satu jelas merupakan tujuan yang dirancang untuk menjadi kualitas peserta didik yang belajar dari kurikulum SMP sehingga kurikulum SMP diharapkan mampu mengembangkan berbagai pengetahuan, ketrampilan dan nilai untuk menjadi warganegara yang baik. Tujuan nomor dua menggambarkan keterkaitan antara kurikulum SD – SMP sehingga ketiga kualitas yang dirumuskan dalam tujuan pertama merupakan suatu upaya lanjutan dari apa yang sudah dikembangkan dalam kurikulum SD. Sedangkan tujuan ketiga menggambarkan apa yang dapat dilakukan peserta didik dari hasil yang dirumuskan pada tujuan pertama dan kedua yaitu peserta didik dapat menggunakan kemampuan yang sudah dimiliki untuk melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi atau menjadi anggota masyarakat yang memiliki keutuhan kemampuan serta sehat lahir-batin.
Tujuan khusus pendidikan SMP menjadi tujuan yang secara operasional harus terjamin ketercapaiannya dalam rancangan dokumen kurikulum, dalam proses
implementasi kurikulum berupa kegiatan proses belajar-mengajar, dan terbukti dalam informasi yang dikumpulkan oleh asesmen hasil belajar dan bahkan evaluasi kurikulum. Tujuan khusus tersebut mencakup bidang pengetahuan, ketrampilan, dan nilai. Ketiga ranah ini merupakan ranah penting karena pengetahuan adalah landasan untuk mengembangkan ketrampilan (belajar, berpikir, kinestetik, estetika, kesehatan, kepemimpinan, dan vokasional), dan untuk mengembangkan nilai yang berkenaan dengan ideologi dan dasar hukum/ filosofi negara, agama, kemanusiaan; sikap demokratis dan tenggang rasa, tanggungjawab, apresiasi budaya dan karya, percaya diri, rasa ingin tahu (minat), disiplin dan patuh, jujur, mandiri, berinisiatif, kreativitas, kritis, rasional, objektif, menghargai pekerjaan ; kebiasan hidup hemat, produktif, sehat dan berolahraga, menghargai waktu.
Dari tujuan khusus yang dirumuskan dalam Buku I Bab III Pasal 5 jelas menunjukkan pemahaman para pengembang kurikulum dalam berbagai teori tentang intelegensia, sikap dan nilai, serta tujuan. Rumusan tujuan khusus tersebut jelas membedakan ranah pengetahuan dari kemampuan/ketrampilan dan nilai. Pada masa belakangan para pelaksana kurikulum dan pengambil kebijakan dalam kurikulum tidak memberikan perhatian yang sungguh dalam mengembangkan ranah kemampuan/ketrampilan serta sikap dan nilai tetapi terfokuskan pada pengembangan pengetahuan. Ranah kemampuan/ketrampilan yang meliputi berbagai aspek inteleligensia yang lebih luas dibandingkan “multiple intelligences” Howard Gardner tidak mendapatkan perhatian dan pengembangan yang seharusnya. Ranah sikap dan nilai terabaikan dalam kadar yang sama dengan ranah kemampuan/ketrampilan. Kedua ranah yang disebutkan belakangan ini diperlakukan seperti ranah pengetahuan sehingga proses belajar dan materi pelajaran kedua ranah tersebut dikerdilkan menjadi ranah pengetahuan.
Ketrampilan dan nilai serta sikap yang dikembangkan Kurikulum 1975 masih relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia masa kini dan masih relevan dengan kebijakan pendidikan Pemerintah akhir-akhir ini yang diterjemahkan dalam kebijakan pendidikan budaya dan karakter bangsa, belajar aktif,
mandiri-kreatif dan kewirausahaan. Pelajaran yang muncul dari pengalaman Kurikulum SMP 1975 adalah kekurangan dalam perhatian dan kemampuan mengembangkan proses belajar yang dapat membangun kemampuan, sikap dan nilai yang telah dirumuskan sebagai tujuan menjadi perilaku peserta didik. Kelemahan dalam mengembangkan proses pembelajaran dan keterpurukaa proses pembelajaran kemampuan (skills), sikap dan nilai menyebabkan pengembangan ranah ketrampilan intelektual dan afektif tersebut menjadi pengembangan pengetahuan sehingga peserta didik mengenai apa yang dimaksudkan dengan berbagai ketrampilan, sikap dan nilai yang dibahas di kelas tapi mereka tidak mampu melakukannya dalam perilaku keseharian mereka di sekolah dan masyarakat. Kelemahan lain adalah dalam penilaian hasil belajar peserta didik yang sebagaimana halnya dengan proses pembelajaran terfokuskan dan terpuruk pada upaya mencari informasi tentang kemampuan peserta didik dalam ranah pengetahuan. Pengaruh dari asesmen hasil belajar yang terpuruk pada pengetahuan maka proses pembelajaran semakin memusatkan perhatiannya pada upaya pengembangan pengetahuan. Sayangnya, kelemahan ini berlanjut pada kurikulum SMP berikutnya. Kenyataan ini merupakan pelajaran terbaik agar bangsa ini tidak lagi dan lagi mengulang kesalahan yang sama.
3. Prinsip Yang Melandasi Pengembangan Kurikulum SMP 1975
Prinsip yang digunakan dalam mengembangkan Kurikulum SMP 1975 adalah sebagai berikut:
- Prinsip Fleksibilitas Program - Prinsip efisiensi dan efektivitas - Prinsip berorientasi pada Tujuan - Prinsip Kontinuitas
- Prinsip Pendidikan Seumur Hidup
Kelima prinsip tersebut digunakan dalam aspek pengembangan kurikulum yang berbeda. Prinsip fleksibilitas program memberikan kemungkinan bagi sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan ketrampilan yang berbeda baik pendidikan ketrampilan wajib mau pun pilihan. Sekolah harus menentukan proram pendidikan mana yang akan dikembangkan disesuaikan dengan fasilitas yang
dimiliki sekolah dan kebutuhan masyarakat akan ketrampilan yang ada pada program yang ditawarkan kurikulum. Sekolah harus menghindari kejenuhan yang terjadi di masyarakat akan kebutuhan suatu ketrampilan tertentu sehingga peserta didik dapat memanfaatkan ketrampilannya untuk mencari pekerjaan.
Prinsip efisiensi dan efektivitas digunakan untuk memanfaatkan waktu yang tersedia di kelas dengan sebaik-baiknya dan kemampuan belajar peserta didik diukur dari beban tugas yang harus dilakukannya. Kurikulum mendesain agar proses belajar-mengajar di kelas tidak menghabiskan waktu belajar untuk menyalin materi pelajaran dari papan tulis. Penerapan prinsip efisiensi dan efektiitas kedua adalah dengan cara mengurangi jam belajar per minggu dari 42 jam menjadi 36. Pengurangan jam belajar tersebut dilakukan dengan landasan pikiran bahwa jam belajaar yang terlalu padat tidak memberikan peluang bagi peserta didik untuk mencernakan materi pelajaran dengan baik karena jenuh, dan memungkinkan peserta didik menggunakan waktu untuk mengembangkan kreativitas di luar kegiatan kelas.
Prinsip berorientasi pada tujuan digunakan untuk mengembangkan proe belajar-mengajar sehingga setiap guru dan peserta didik memahami apa yang akan mereka capai dengan materi pelajaran yang ada. Berdasarkan tujuan yang akan dicapai dan materi pelajaran maka guru haru dapat menentukan proses belajar yang paling efektif.
Prinsip kontinuitas dirancang dan dikembangkan dalam pengertian bahwa adanya kontinuitas antara apa yang sudah dipelajari di SD dengan apa yang dipelajari di SMP dan juga dasar untuk melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Prinsip ini merapakan prinsip kurikulum yang cukup penting yang sering diistilahkan dengan “vertical organization”. Kontinuitas dalam “vertical organization” tidak saja berkenaan dengan materi pengetahuan (knowledge) yang sudah dipelajari di sebuah jenjang pendidikan tetapi juga kontinuitas antara materi ketrampilan (intelektual, emosional, sosial, psikomotorik) dan materi afekti (nilai dan sikap) dari kelas/sekolah ke kelas/sekolah yang lebih tinggi.
Prinsip pendidikan seumur hidup menyatakan bahwa apa yang sudah dipelajari di sekolah dapat digunakan dan dikembangkan lebih lanjut ketika eseorang sudah
tidak lagi belajar di jalur sekolah atau pun luar sekolah. Ia memiliki kemandirian untuk belajar terus bagi pengembangan kemampuan dan kepribadian dirinya. Sebetulnya untuk bisa belajar sepanjang hiddup seseorang memerlukan ketrampilan belajar, kebiasaan dan ketrampilan membaca, rasa ingin tahu yang tinggi serta disiplin. Sayangnya, nilai-nilai ini yang juga dinatakan dalam tujuan kurikulum tidak dikembangkan sebagaimana seharusnya. Tneu saja dengan demikian, belajar sepanjang hidup tidak tampak dalam realita kehidupan peserta didik di sekolah dan masyarakat.
4. Pikiran Pokok Kurikulum 1975
Pada tanggal 17 Januari tahun 1975, melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 008-D/U/1975, Pemerintah menetapkan kurikulum baru untuk SMP dan dinamakan Kurikulum 1975, sesuai dengan tahun penetapan berlakunya kurikulum tersebut. Dapat dikatakan bahwa Kurikulum 1975 memberikan landasan baru bagi kebijakan pengembangan kurikulum di Indonesia. Kurikulum 1975 merupakan kurikulum pertama di Indonesia yang dikembangkan berdasarkan teori, model, dan desain kurikulum modern. Pikiran teoritik tentang peserta didik, proses pembelajaran, penilaian hasil belajar dijadikan dasar-dasar utama dalam pemikiran pengembangan kurikulum. Model pembelajaran yang dikenal dengan nama Perencanaan Sistem Instruksional menjadi model baru dalam dunia pendidikan Indonesia.
Dalam kegiatan pengembangan kurikulum 1975 pikiran teoritik dan prosedur pengembangan kurikulum modern dilaksanakan dalam pengembangan ide kurikulum, rancangan pembelajaran dan pedoman pelaksanaan. Ide kurikulum memuat landasan filosofis, teoritis dan model kurikulum dan sebenarnya adalah jawaban kependidikan Pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat sebagaimana yang dipersepsi oleh para pengambil keputusan dalam bidang pendidikan dan terjemahan dari kebijakan tersebut oleh para pengembang kurikulum secara teknis. Ide kurikulum tersebut dirancang sedemikian rupa dan ditulis dalam Buku I dokumen kurikulum yang dinamakan Ketentuan-ketentuan Pokok. Rancangan pembelajaran yang dinamakan Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) untuk setiap mata pelajaran dikembangkan dalam Buku II. Untuk melaksanakan Kurikulum 1975 dikembangkan Pedoman Pelaksanaan Kurikulum berkenaan dengan hal khusus dan model satuan pelajaran, penilaian, bimbingan dan
penyuluhan, serta administrasi dan supervisi dalam Buku III. Model pengembangan dokumen kurikulum yang terdiri atas 3 buku ini nantinya dilanjutkan terus pada pengembangan kurikulum berikutnya dan baru berubah ketika kebijakan pendidikan memberikan wewenang pengembangan kurikulum kepada daerah dan sekolah.
Buku I Kurikulum 1975 memuat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 008-D/U/1975 tentang pikiran-pikiran pokok (curriculum ideas) dari Kurikulum 1975. Pikiran pokok tersebut berisikan ketentuan umum, dasar dan tujuan pendidikan , tujuan umum dan tujuan khusus pendidikan SMP, susunan kurikulum (struktur kurikulum), susunan program pengajaran dan metode penyampaian, dan strategi implementasi yang dinyatakan dalam bagian lain-lain/ penutup. Dalam bagian umum dirumuskan berbagai istilah yang digunakan dalam kurikulum seperti GBPP, model satuan pelajaran, jam pelajaran, semester, program pendidikan umum, program pendidikan akademis, pendidikan ketrampilan pilihan terikat, pendidikan ketrampilan pilihan bebas, lama waktu belajar di SMP, dan guru bidang studi (Kurikulum SMP 1975 menggunakan istilah bidang studi dan bukan mata pelajaran dan oleh karena itu maka guru pun adalah guru bidang studi dan bukan lagi guru mata pelajaran. Beberapa dari istilah tersebut merupakan istilah yang sudah dikenal dan diartikan sama dengan pengertian yang sudah dikenal kepala sekolah, guru, dan masyarakat. Beberapa istilah adalah istilah baru yang dikembangkan dan digunakan oleh Kurikulum 1975.
Rumusan istilah-istilah yang digunakan dalam kurikulum baik yang sudah umum mau pun yang baru, memiliki makna yang penting. Rumusan itu menyampaikan pengertian yang digunakan oleh para pengembang ketika mereka mendesain dan mengembangkan dokumen kurikulum (curriculum as a written plan). Pengertian tersebut mengikat dan menjadi patokan bagi kepala sekolah, guru dan pengawas sehingga terjadi kesamaan bahasa dalam komunikasi antara para pelaksana kurikulum dengan pengembang kurikulum. Kesamaan bahasa antara para pengembang dan pelaksana dipersyaratkan dalam banyak literatur tentang pengembang kurikulum karena kesamaan bahasa tersebut menjadi satu kunci
keberhasilan pelaksanaan kurikulum. Meski pun demikian harus diingat bahwa adanya rumusan istilah yang telah dilakukan para pengembang kurikulum bukanlah pengganti sosialisasi sebagai salah satu strategi implementasi kurikulum. Rumusan yang telah dikembangkan menjadi titik berangkat dalam membangun persamaan bahasa dalam sosialisasi. Lagipula, sosialisasi mempunyai fungsi untuk membangun pemahaman dan mengembangkan ketrampilan baru yang diperlukan guru bidang studi. Sayangnya, kelemahan dalam sosialisasi untuk implementasi terutama berkenaan dengan aspek ketrampilan yang harus dimiliki guru seperti pengembangan PPSI, merumuskan tujuan instruksional khusus berdasarkan kaategori atau taksonomi tujuan pendidikan Bloom (Taxonomy of