Lager Onderwijs
B. KURIKULUM SMP 1968
Perkembangan kehidupan politik dan ketatanegaraan Indonesia pada tahun 1968 sudah mulai membaik, pemerintahan sudah mulai stabil walau pun bahaya komunis masih dianggap pemerintah dan rakyat masih sebagai bahaya “latent” . Upaya penumpasan gerakan yang secara resmi dikenal dengan nama G.30.S/PKI dianggap sudah dianggap mencapai titik yang dapat memberikan peluang bagi bangsa untuk memikirkan berbagai hal yang terkait dengan berbagai aspek kehidupan lain di luar keamanan. Dalam penataan kehidupan kebangsaan pendidikan dianggap menjadi ujung tombak untuk mengikis pengaruh dan penyebaran paham komunisme. Generasi muda harus mendapatkan perlindungan dari ancaman bahaya “latent” komunisme. Untuk itu, Pemerintah mengeluarkan kurikulum baru untuk SMP yang dikenal dengan nama Kurikulum SMP 1968 sebagai pengganti Kurikulum SMP 1964. Kurikulum SMP 1968 dikeluarkan oleh
Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
1.Perkembangan Kebijakan Pendidikan
Perubahan politik yang mendasar terjadi pada tahun 1965 terutama diakibatkan oleh peristiwa yang dikenal dengan nama Pemberontakan G30S/PKI. Peralihan kekuasaan dari pemerintah Presiden Soekarno kepada mandataris Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) kepada Major Jenderal Soeharto dan kemudian pengangkatan beliau sebagai presiden Republik Indonesia oleh MPRS mengubah banyak kebijakan pendidikan masa sebelumnya. Ajaran Manipol dan ajaran komunis dilarang, dan dengan demikian kurikulum sekolah harus bebas dari upaya memperkenalkan dan menyebarkan ajaran-ajaran tersebut. Pada tahun 1966, MPRS mengeluarkan ketetapan TAP XXVII/MPRS/1966. Dalam TAP tersebut dinyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk ”menghasilkan manusia Pancasila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki oleh Pembukaan Undang Dasar 1945 dan isi Undang-Undang Dasar 1945”.
Dengan adanya TAP tersebut maka arah dan tujuan pendidikan Indonesia berubah dari menghasilkan ”manusia susila yang cakap dan warganegara yang demokratis” menjadi manusia Pancasila sejati. Perubahan ini sangat fundamental dilihat dari pandangan pendidikan karena tujuan pendidikan sebelumnya adalah untuk menghasilkan manusia revolusioner berdasarkan ajaran MANIPOL-USDEK sedangkan tujuan yang ditetapkan oleh MPRS adalah untuk mengikis tujuan tersebut. TAP MPRS ini memang merupakan manifestasi adanya pengaruh politik yang kuat sebagai reaksi pengaruh politik Orde Lama. Meski pun demikian, haruslah diingat bahwa pengaruh politik terhadap pendidikan bukan merupakan sesuatu yang unik dan ekslusif Indonesia tetapi sesuatu yang terjadi di berbagai negara di dunia lagipula perubahan politik yang terjadi sangat fundamental dan dapat dianggap sebagai suatu tuntutan kebutuhan masyarakat (politik) yang baru. Oleh karena itu perubahan kurikulum adalah sesuatu yang tak terhindarkan.
2. Struktur Dan Mata Pelajaran Kurikulum SMP 1968
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, MPRS menetapkan perubahan kebijakan pendidikan di Indonesia yang menghapus pendidikan tentang Manipol-Usdek dari kurikulum sekolah. TAP MPRS nomor XXVII tahun 1966 Bab II Pasal 4 menetapkan isi pendidikan sebagai berikut:
(1) Mempertinggi mental modal budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama;
(2) Mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan;
(3) Membina/memperkembangkan physik yang kuat dan sehat.
Isi pendidikan di atas dapat dianggap sebagai rincian dari manusia Pancasila sejati yang dinyatakan sebagai tujuan pendidikan Indonesia dan dinyatakan dalam Pasal 3 pada Bab II dari TAP MPRS tersebut. Berdasarkan TAP MPRS itu maka disusunlah kurikulum baru yang dinamakan Kurikulum 1968 menggantikan Kurikulum 1964. Dalam sejarah kurikulum di Indonesia, Kurikulum 1964 dapat dikatakan sebagai kurikulum yang paling singkat masa berlakunya.
Struktur Kurikulum SMP 1968 berbeda dari Kurikulum SMP Gaya Baru (1962) atau pun dari Kurikulum SMP 1954. Struktur Kurikulum SMP 1968 lebih sederhana dibandingkan kedua kurikulum yang mendahuluinya. Struktur Kurikulum SMP 1968 terdiri atas Kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila, Kelompok Pembinaan Pengetahuan Dasar, dan Kelompok Pembinaan Kecakapan Khusus. Adanya kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila disesuaikan dengan tujuan pendidikan ”menghasilkan manusia Pancasila sejati” yang telah ditetapkan oleh MPRS, menggantikan Kelompok Dasar yang ditetapkan dalam Kurikulum SMP Gaya Baru. Jumlah mata pelajaran dalam kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila lebih sedikit dibandingkan jumlah mata pelajaran Kelompok Dasar Kurikulum SMP Gaya Baru. Demikian pula dengan beban belajar untuk kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila lebih sedikit yaitu 11 jam dibandingkan 13 jam pada kelompok Dasar Kurikulum SMP Gaya Baru. Mata Pelajaran Sejarah Kebangsaan dan Ilmu Bumi Indonesia dihilangkan dari kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila
sementara itu mata pelajaran Civics (Kewargaan Negara) diantikan oleh Pendidikan Kewargaan Negara yang didalamnya terdapat unsur Sejarah Indonesia, Ideologi Negara Pancasila, Politik dan Tata Hukum Indonesia.
Kelompok Pembinaan Pengetahuan Dasar adalah kelompok mata pelajaran yang memberikan pengetahuan dasar dalam bahasa, ilmu pasti, ilmu alam, dan pengetahuan sosial. Kelompok ini menjadi dasar bagi mereka yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (SMA) dan dasar untuk berbagai ketrampilan yang diperlukan masyarakat. Pada kelompok ketiga yaitu Kelompok Pembinaan Kecakapan Khusus adalah kelompok untuk mengembangkan keckapan khusus yang diperlukan untuk memasuki dunia kerja tertentu tetapi juga untuk mengembangkan minat seseorang yang dapat digunakan dalam mengembangkan pekerjaan yang lepas dari “formal vocation” di pemerintah mau pun swasta. Pada dasarnya Kelompok Pembinaan Kecakapan Khusus dalam Kurikulum SMP 1968 mirip atau bahkan dapat dikatakan sama dengan kelompok Rasa/Karsa dalam Kurikulum SMP Gaya Baru.
Sebagaimana dengan kurikulum Kurikulum SMP Gaya Baru, Kurikulum SMP 1968 tidak mengenal adanya penjurusan pada kelas III SMP. Pendidikan SMP adalah pendidikan umum dan oleh karenanya kurikulum SMP tidak perlu menyiapkan peserta didik dalam spesialisasi pendidikan keilmuan (disiplin ilmu) yang khusus. Pandangan bahwa pendidikan di jenjang SMP ini merupakan bagian dari pendidikan umum bagi banga Indonesia dianut sampai sekarang bahkan diperkuat posisinya dalam program Wajib Belajar 9 Tahun (WAJAR 9 Tahun) yang dicanangkan Pemerintah sejak 1984.
Tabel 7.1. di bawah ini menggambarkan keseluruhan struktur kurikulum, mata pelajaran, beban belajar serta distribusinya untuk setiap kelas. Sebagaimana kurikulum sebelumnya masa belajar belajar satu tahun akademik dibagi dalam kuartal dan beban belajar untuk setiap kuartal sama. Distribusi beban belajar nantinya berbeda ketika sistem semester digunakan menggantikan sistem kuartal.
Rencana Pelajaran SMP Tahun 1968
KELAS
KELOMPOK MATA PELAJARAN
I II III
1.Pendidikan Agama 3 3 3
2.Pendidikan Kewargaan Negara 3 3 3
3.Bahasa Indonesia (I) 3 3 3
A Pembinaan Jiwa Pancasila
4.Olahraga 2 2 2
Sub Jumlah 11 11 11
1.Bahasa Indonesia (II) 2 2 2
2.Bahasa Daerah 2 2 2 3.Bahasa Inggeris 3 3 3 4.Ilmu Aljabar 3 3 3 5.Ilmu Ukur 3 3 3 6.Ilmu Alam 3 3 3 7.Ilmu Hayat 2 2 2 8.Ilmu Bumi 2 2 2 9.Sejarah 2 2 2 B Pembinaan Pengetahuan Dasar 10.Menggambar 2 2 2 Sub Jumlah 24 24 24 1.Administrasi 1 1 1 2.Kesenian 2 2 2 3.Prakarya 2 2 2 C Pembinaan Kecakapan
Khusus 4.Pendidikan Kesejahteraan Keluarga 1 1 1
Sub Jumlah 6 6 6
Jumlah 41 41 41
Jumlah mata pelajaran dalam Kurikulum SMP 1968 (18) lebih sedikit dibandingkan kurikulum SMP Gaya Baru.(19). Perbedaan jumlah satu mata pelajaran tidak menyebabkan beban belajar peerta didik berkurang. Pada
kurikulum SMP Gaya Baru jumlah beban belajar keseluruhan peserta didik 40 jam seminggu sedangkan dalam kurikulum SMP 1968 dengan jumlah mata pelajaran lebih sedikit tetapi jumlah jam belajar lebih banyak yaitu 41 jam seminggu. Penambahan jam terjadi dengan memberikan jam belajar yang lebih besar kepada Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewargaan Negara masing-masing dari 2 jam menjadi 3 jam.
Dalam kelompok kedua, penambahan jam belajar terjadi pada mata pelajaran bahasa Inggeris dan Ilmu Alam masing satu jam. Sedangkan mata pelajaran lain tidak bertambah atau pun tidak berkurang. Organisasi konten yang dinamakan mata pelajaran pun berubah terutama untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, Sejarah, dan Ilmu Bumi. Mata pelajaran Bahasa Indonesia yang semula terdiri atas satu mata pelajaran dalam kurikulum SMP Gaya Baru dalam kurikulum SMP 1968 dipecah menjadi 2 yaitu bahasa Indonesia I dan bahasa Indonesia II dan keduanya ditempatkan dalam kelompok yang berbeda. Bahasa Indonesia I masuk dalam kelompok Pembinaan Jiwa Paancasila sedangkan Bahasa Indonesia II masuk dalam kelompok Pembinaan Pengetahuan Dasar.
Berbeda dari mata pelajaran Bahasa Indonesia, mata pelajaran Sejarah dan Ilmu Bumi yang dalam kurikulum SMP Gaya Baru terpisah dalam dua mata pelajaran, dalam kurikulum SMP 1968 masing-masing dijadikan satu mata pelajaran. Mata Pelajaran Sejarah Kebangsaan dan Sejarah Dunia digabungkan menjadi mata pelajaran Sejarah. Mata pelajaran Ilmu Bumi Indonesia dan Ilmu Bumi Dunia digabungkan menjadi satu dengan nama mata pelajaran Ilmu Bumi. Penggabungan kedua mata pelajaran tersebut tidak mengubah jam pelajaran karena jika sebelumnya terdiri atas 1 jam masing-masing untuk Sejarah Kebangsaan dan Sejaarah Dunia sekarang menjadi 2 jam pelajaran untuk mata pelajaran Sejarah. Demikian pula dengan mata pelajaran Ilmu Bumi Indonesia yang digabungkan dengan Ilmu Bumi Dunia menjadi Ilmu Bumi dengan jam belajar yang juga digabungkan sehingga menjadi 2 jam.
Perbedaan lain untuk kedua mata pelajaran tersebut yaitu penempatannya dalam kelompok. Jika dalam kurikulum SMP Gaya Baru mata pelajaran Sejarah Kebangsaan dan Ilmu Bumi Indonesia dimasukkan dalam kelompok Dasar sedangkan Sejarah Dunia dan Ilmu Bumi Dunia dalam kelompok Cipta maka setelah digabungkan mata pelajaran Sejarah dan Ilmu Bumi masuk dalam kelompok Pembinaan Pengetahuan Dasar. Hal ini mencerminkan adanya pemikiran kurikulum yang berbeda antara pengembang kurikulum SMP Gaya Baru dengan SMP 1968.
Ide para pengembang kurikulum SMP 1968 tidak lagi memandang mata pelajaran Sejarah Kebangsaan dan mata pelajaran Ilmu Bumi Indonesia sebagai bagian dari dasar pembentukan kebangsaan atau Jiwa Pancasila. Tampaknya penggabungan itu didasarkan pada pemikiran bahwa materi Sejarah Kebangsaan dan Ilmu Bumi Indonesia tidak berbeda dari materi Sejarah Dunia dan Ilmu Bumi Dunia yaitu bagian dari pendidikan akademik. Oleh karenanya, materi masing-masing kedua mata pelajaran tersebut dapat digabungkan dan fungsinya menjadi mata pelajaran akademik semata. Para pengembang kurikulum SMP 1968 mungkin saja lupa bahwa persyaratan untuk menjadi warganegara Indonesia adalah memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai sejarah nasional, ilmu bumi (geografi) Indonesia, bahasa Indonesia dan ideologi negara. Oleh karena itu menjadikan materi Sejarah Kebangsaan (nasional) dan Ilmu Bumi Indonesia menjadi materi kajian akademik tampaknya melupakan persyaratan warganegara tersebut. Tentu saja orang dapat berargumentasi bahwa yang terpenting adalah peserta didik dapat mempelajari dan memiliki pengetahuan mengenai materi Sejarah kebangsaan dan Ilmu Bumi Indonesia bagaimana pun keduanya diorganisasikan dan ditempatkan dalam struktur kurikulum. Pandangan demikian melemahkan makna dan fungsi dari kelompok mata pelajaran dalam struktur kurikulum karena pembagian mata pelajaran dalam kelompok tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai tujuan dan fungsi struktur yang ada.
Perubahan kelompok terjadi dengan mata pelajaran Ilmu Administrasi yang dalam kurikulum SMP Gaya Baru masuk dalam kelompok Cipta sedangkan dalam kurikulum SMP 1968 dimasukkan dalam kelompok Pembinaan Kecakapan Khusus. Berbeda dari mata pelajaran Sejarah dan Ilmu Bumi, perubahan kelompok menyebabkan nama mata pelajaran nya pun berbeda yaitu dari Ilmu Administrasi yang masuk kelompok Cipta menjadi Administrasi yang masuk kelompok Pembinaan Kecakapan Khusus. Dalam hal ini, perubahan kelompok tidak menimbulkan permasalahan dalam struktur kurikulum karena mater pelajaran administrasi sebagai ilmu berbeda dari materi pelajaran administrasi sebagai ketrampilan.