• Tidak ada hasil yang ditemukan

JAMAAH AN-NADZIR

J. IMAM MAHDI

Komunitas An-Nadzir meyakini Imam Mahdi telah turun dan telah membawa peringatan kepada umat Islam. Imam Mahdi yang diyakini oleh Komunitas An-Nadzir adalah Kahar Muzakkar yang mewujud dalam diri Abah Syamsuri Madjid (pendiri An-Nadzir).

Daeng Rangka meyakini dengan benar bahwa Kahar Muzakkar atau Abah Syamsuri Madjid telah mengalami tiga kali gaib. Gaib sugra ketika dia masih kecil, kemudian gaib di La Solo (ketika dia dianggap mati, dan terakhir dia terhijab tahun 2006 (tahun meninggalnya Syamsuri Madjid). Oleh karena Imam Mahdi telah turun maka kehidupan manusia saat ini adalah akhir zaman.

Kepemimpinan Imam Mahdi akan dilanjutkan oleh Pemuda Bani Tamim. Seorang panglima perang, lelaki pemberani yang memiliki kemuliaan Tuhan karena semua wali memberi bimbingan kepadanya. Pemuda Bani Tamim ini juga digelari dengan “Rijalullah” atau lelakinya Allah. Menurut An-Nadzir, pemuda Bani Tamim itu muncul di Indonesia bukan di Arab, dan lebih tepatnya berasal dari komunitas mereka, meski mereka mengakui bahwa siapapun dapat menjadi pemuda Bani Tamim26. Era sekarang dalam perspektif An-Nadzir adalah penantian akan muncunya Pemuda Bani Tamim. Pemuda Bani Tamim ini nantinya akan memimpin dunia untuk memperbaiki dunia dari kesemrawutan. An-Nadzir memprediksi tahun 2009 adalah tahun kekacauan bagi bangsa Indonesia, tidak ada lagi pemimpin yang bisa dijadikan panutan, semuanya memiliki moralitas yang bobrok, pada saat itulah Pemuda Bani Tamim akan muncul dan memimpin dunia ini. Salah satu ciri Pemuda Bani Tamim adalah dia selalu membawa pedang Zulfakar (pedang Ali Bin Th alib), sebuah pedang yang memiliki roh dan memiliki kemampuan yang sangat kuat. Jika pedang ini dicabut maka peluru tidak dapat meledak, dan pesawat tidak akan dapat berjalan (wawancara Saprilla dengan Daeng Rangka, 2009).

26 Tugas pemuda Bani Tamim adalah melanjutkan kepemimpinan Imam Mahdi untuk membawa manusia ke dalam kebenaran. Rahasia tentang pemuda Bani Tamim sesungguhnya telah diketahui oleh para wali karena telah dibuka pada tahun 2003, bersamaan dengan pelantikan Imam Mahdi. Imam Mahdi dan Pemuda Tamim adalah kesatuan yang tak terpisahkan, ibarat tubuh dan nyawa. Pemuda Bani Tamim nantinya akan membawa 313 orang murid untuk menjalani perjalanan akhir zaman.

Setelah era pemuda Bani Tamim selesai maka muncullah Isa Al-Masih dan setelah itu kiamat-lah dunia ini.

Perkiraan tentang datangnya Imam Mahdi dengan sendirinya dikoreksi karena tidak terjadi. Pada waktu berikutnya, An-Nadzir banyak sekali mengalami perubahan, menggeser paradigma kemandirian non kooperatif dan bergerak ke arah kerjasama dengan pemerintah dan membuka diri juga dengan organisasi lain. Pengurus NU Gowa mengakui cukup intens berkomunikasi dengan jamaah An-Nadzir dan akan terus menghidupkan tradisi dialog. Ke depannya berharap dapat melakukan kegiatan secara bersama sama. Pimpinan Annadzir saat ini cukup terbuka dengan berbagai pemikiran, Syamirudin mengakui bahwa mereka harus terus berkembang dan berubah seiring dengan masyarakat di sekitarnya. Meskipun identitas terus dipertahankan, sistem yang ada di dalam juga akan terus dilestarikan.

Pemahaman tentang Imam Mahdi merupakan pemahaman yang ada di hampir semua paham dan aliran dalam Islam. Tetapi pemahaman tentang Pemuda Bani Tamim, sebagai orang yang berada di antara Imam Mahdi, Dajjal dan Isa bin Maryam adalah pemahaman spesifi k dalam komunitas An-Nadzir. Pemuda Bani Tamim diyakini berasal dari Indonesia, bahkan lebih spesifi k dari Sulawesi Selatan karena Tanah Gowa menurut mereka adalah qum tempat kebangkitan para wali.

K. PENUTUP

Komunitas An-Nadzir dapat dikategorikan juga sebagai kelompok keagamaan baru lahir dari dilema dan romantisme terhadap tokoh tertentu. Meskipun gerakan keagaman ini di kemudian hari dapat menjadi mobilitas sosial dan sumber daya, konsepsi kemandirian cukup dapat menekan ketergantungan pada industri. Massifnya gerakan ini harus diakui disebabkan

juga oleh kerindungan pada sosok tertentu, namun semangat awal pada mesianisme mengalami pergeseran. Pada awal gerakan muncul, mesianisme yang spiritnya dibawa oleh tokoh utama Syamsuri Majid, seiring berjalannya waktu, akhirnya harus bergeser. Nuansa revivalisme sendiri yang diusung oleh An-Nazdir adalah upaya untuk mewujudkan suatu masyarakat madani yang diceritakan di banyak teks keislaman dari zaman nabi, sahabat hingga tabi’in. Gerakan madaniyah adalah semangat untuk menghidupkan dan menginternalisasi kehidupan kenabian dalam konteks kekinian. Semangat kenabian mereka terus hidupkan dalam kehidupan sosial hingga kini dalam kondisi sosial dan kehidupan Sulawesi Selatan dan Indonesia. Munculnya semangat kenabian, bagi mereka diyakini akan membantu keluar dari berbagai persoalan besar yang dihadapi oleh manusia. Konsespsi kebangkitan tersebut tidak hanya dalam tataran gagasan dan nilai namun juga disampaikan simbolik, mewujud pada identitas fi sik, sehingga dalam berbagai aspek mereka dapat merasakan suasana kehidupan bersama dengan Nabi Muhammad SAW.

Meskipun komunitas An-Nadzir yang dalam keseharian tampil dengan berbagai ornamen dan identitas fisik serta intensitas secara internal cukup padat, tetapi mereka tidak mengagendakan dakwah. Dengan kata lain, sifat mereka cenderung ekslusif, tetapi terbuka. Mereka ekslusif dalam hal ajaran agama, tidak ada dialog untuk persoalan keagamaan, tetapi terbuka dalam hubungan ekonomi dan sosial.

Oleh karena tidak bersifat ekspansif, maka benturan antara kelompok An-Nadzir dengan masyarakat atau dengan organisasi lain dapat terhindarkan. Komunitas An-Nadzir dapat menerima

dan diterima oleh orang lain di lingkungan masyarakat sekitar Mawang karena mereka membuka diri kepada masyarakat sekitar terutama di sektor ekonomi. Anggota jamaah An-Nadzir banyak menjadi tenaga kerja di kebun dan sawah milik masyarakat lokal.

Mereka pun memiliki pelanggan bengkel, air galon, cuci motor dari masyarakat luar.

Gerakan komunitas An-Nadzir lebih berorientasi pada kesalehan dan keselamatan individual. Menegakkan syariat dan hukum Allah harus dimulai dari masing-masing individu.

Berdasarkan hal tersebut, mereka tidak mengganggap pendirian negara Islam sebagai sesuatu yang penting.

Sikap anti pendirian negara Islam merupakan sikap positif dari gerakan An-Nadzir. Mereka tidak menjadikan pendirian negara Islam sebagai agenda perjuangan, dan karena itu mereka menolak penggunaan jalur politik. Perjuangan penegakan Syariat Islam adalah perjuangan individual dalam hal mempraktikkan ajaran Islam secara kaffah, dan menguat dalam lingkaran komunitas tanpa menciptakan sistem yang berhadapan dengan negara atau masyarakat di sekitarnya.

L. DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Haidlor Ali dan Rosidi, Ahmad (ed). 2010. Gerakan Jama’ah An-Nadzir di Kec. Somba Opu Kab. Gowa Sulawesi Selatan 2008. Jakarta: Direktori Gerakan Paham dan Aliran Keagamaan Islam. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Aziz, Abdul. 2004. Varian-varian Fundamentalisme Islam.

Jakarta: Diva Pustaka.

Aziz, Abdul. 2016. Chiefdom Madinah: Kerucut Kekuasaan pada Zaman Awal Islam. Jakarta: PT Pustaka Alvabet.

Cohen, Paul Anthony. 1985. Th e Symbolic Construction Of Community. Routledge: Taylor & Francis Group, e-Library.

Fromm, E. 1999. Revolusi Harapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hasbullah, Bakry. 1961. Nabi Isa dalam Al-Qur`an dan Muhammad dalam Bijbel. Solo: Penerbit AB Siti Syamsiah.

Klausner, J. 1979. “Th e Source and Beginning og the Messianic Idea”, dalam Leo Landman (ed), Messianism in the Talmudic Era. New York: KTAV Publishing House Inc.

McMillan, D.W., Chavis, D.M. 1986. “Sense of community: A defi nition and theory.” American Journal of Community Psychology. 14 (1).

Menchik, Jeremy. 2016. Islam and Democracy in Indonesia:

Tolerance without Liberalism. Cambridge Studies.

Munir, Misnal. 2009. “Messianisme dalam Pespektif Sejarah”.

Dalam www. jurnal.fi lsafat.ugm.ac.id. Diakses pada 02 Maret 2009.

Sachedina, A.A. 1981. Islamic Messianisme: Th e Idea of the Mahdi in Twelver Shi’ism. New York: State University of New York Press.

Shaw, M.E. 1979. Group Dynamic: Th e Psychology of Small Group Behaviour. New Delhi: Mc Grow Hill Publishing Company Ltd.

Tarrow, Sidney., Tilly, Charles. 2016. Politik Pertikaian (edisi II Revisi). Jakarta: Balai Litbang Agama Jakarta.

Toffl er, A. 1989. Kejutan Masa Depan. Terj. Sri Koesdiyantinah.

Jakarta: PT. Pantja Simpati.

Turner, Brian. S. 1991. Agama dalam Perspektif Sosiologi.

Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Zayd, Nashr Hamid Abu. 2002. Tekstualitas Qur’an. Yogyakarta:

LKiS.

Dalam dokumen MONOGRAFI ALIRAN KEAGAMAAN ISLAM DI INDONESIA (Halaman 181-189)