• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGORGANISASIAN DAN AKTIFITAS SOSIAL KEAGAMAAN

Dalam dokumen MONOGRAFI ALIRAN KEAGAMAAN ISLAM DI INDONESIA (Halaman 164-172)

JAMAAH AN-NADZIR

C. PENGORGANISASIAN DAN AKTIFITAS SOSIAL KEAGAMAAN

Setelah mengalami berbagai kisah di Sulawesi Selatan, terutama menyangkut citra sebagai kelompok yang diidentikkan dengan mantan pengikut DI TII, Syamsuri Madjid dibantu oleh seorang pengikutnya Syamirudin yang kelak menjadi amir menggantikan Daeng Rangka meresmikan nama lembaga.

Citra asosiatif pada DI TII disebabkan kedekatan jamaah An-Nadzir dengan Abdul Aziz Kahar Muzakar, serta banyaknya jamaah pengajian dan penggemar Syamsuri Majid yang berlatar belakang DI TII. Banyak pihak di luar An-Nadzir beranggapan kelompok tersebut sebagai gerakan baru dari DI TII (wawancara dengan Syamirudin, 19 Agustus 2019).

Nama An-Nadzir dipilih setelah melalui perenungan dan istikharah Syamsuri Madjid dengan membuka Al-Qur’an sebanyak tiga kali (Syamirudin, 19 Agustus 2019). Kehadiran An-Nadzir dimaksudkan untuk memberi peringatan bagi umat Islam (lih. AD/ART Yayasan An-Nadzir Bab II; Azas, Maksud dan Tujuan).

Setelah proses menamakan jamaah dan dikenalkan, kemudian secara legal penyematan An-Nadzir yang dicatatkan sebagai lembaga resmi berakte pada tanggal 8 Februari 2003 di Jakarta, melalui bantuan notaris di Kelapa Gading Jakarta Utara.

Yayasan An-Nadzir saat itu sekretariatnya di Komplek Nyiur Melambai, Jakarta Utara (dokumen AD ART, disahihkan oleh Syamirudin melalui wawancara pada 19 Agustus 2019).

Aktifitas keagamaan An-Nadzir berjalan seperti umat Islam kebanyakan, hanya beberapa hal memang cukup menjadi

perhatian, seperti salat sunnah tarawih yang ditiadakan untuk menghindari berubahnya menjadi sholat wajib. Alasannya, hal ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. Demikian itu diungkapkan oleh Ustad Rangka (wawancara dengan Ustadz Rangka oleh Saprilla, 2009), saat yang bersangkutan memimpin An-Nadzir Gowa.

Dari aspek sosial ekonomi, keberadaan An-Nadzir dibilang cukup menghidupkan desa Mawang dan memperbaiki reputasinya karena telah merubah daerah ini menjadi desa yang aman, damai, dan produktif di bidang pertanian. Sebelum kedatangan komunitas An-Nadzir, desa ini dikuasai oleh perampok, bramacorah, dan para penjahat yang terkenal di Gowa.

Berkaitan dengan kaderisasi dan rekrutmen anggota, mereka tidak menggunakan standar untuk kaderisasi yang baku sebagaimana layaknya organisasi ke-Islaman yang lain.

Orang yang masuk dalam An-Nadzir lebih berdasarkan pada pengalaman interaksi dan diskusi dengan komunitas ini. Mereka lebih terbuka, tetapi pasif dalam hal tablig dan tidak gencar melakukan kegiatan untuk menambah pengikut. Dengan kata lain, mereka adalah jamaah yang terbuka menerima siapa saja, tidak ada hambatan berinteraksi, namun cukup pasif dalam hal dakwah keluar.

Mereka mempercayai kepemimpinan Syamsuri Madjid sebagai Imam Besar, dan belum ada yang layak menjadi penggantinya sebagai amir. Imamah menurut An-Nadzir adalah kepemimpinan spiritual, faktor personal menjadi tolok ukur utama. Kriteria imamah di antaranya aadalah mengenal Allah; b)

berwawasan luas; pemberani; kuat fi sik maupun non-fi sik; dan bijaksana. Adapun baiat merupakan tali penghubung mereka dengan Allah melalui jaminan imam besar. Mereka mengklaim sebagai Ahlul Bait, tetapi menolak dikatakan Syi’ah atau bagian dari Sunni. Ahlul Bait menurut mereka adalah melaksanakan sunnah Nabi mulai dari sunnah yang kecil hingga yang besar.

Menjadi Ahlul Bait Nabi berarti siap mengikuti Nabi dalam segala hal.

Tata cara ibadah mereka banyak mengikuti model ibadah Syi’ah, mazhab Ja’fari. Setidaknya diakui memiliki kedekatan dengan fi kih Ja’fari dalam beberapa hal, terutama dalam hal salat. Berdasarkan keterangan pemimpin Ustadz Lukman (2009), anggapan kedekatan dengan mazhab tertentu wajar karena keyakinan terhadap prinsip kebenaran, siapa yang berjalan pada kebenaran akan bertemu. Mereka memperlambat waktu Dzuhur dan mempercepat Ashar. Begitu pula, waktu Maghrib diperlambat dan waktu Isya dipercepat. Dalam adzan Shubuh, mereka menggunakan Hayya‘alakhairil‘amal (mari melaksanakan perbuatan baik).

Kepercayaan terhadap datangnya Imam Mahdi, menjadi aspek kuatnya keyakinan terhadap sosok Syamsuri Madjid, mereka yakini ada banyak sekali kesamaan dengan Kahar Muzakar. Syamsuri Madjid sendiri lekat dengan panggilan Imam di kalangan pengikutnya. Dua sosok ini menurut Daeng Rangka telah mengalami tiga kali kejadian ghaib (wawancara Daeng Rangka oleh Saprilla, 2009). Karena mereka dianggap Imam Mahdi, maka saat ini adalah era akhir zaman. Keselamatan menurut mereka juga akan dialami oleh penganut Kristen dan Yahudi karena mereka adalah ahlul kitab pengikut Nabi Musa

dan Nabi Isa. An-Nadzir dan gerakannya tergolong dalam gerakan revivalisme Islam, yakni golongan yang berusaha menghidupkan dan internalisasi kehidupan Nabi pada saat ini.

Gerakan revivalisme berorientas pada kehidupan masa Nabi di semua bidang kehidupan.

Imam Syamsuri Madjid sendiri merupakan sosok dengan latar belakang yang tidak semuanya bisa terungkap. Syamirudin sebagai Amir pengganti pasca meninggalnya Ustadz Lukman mengatakan sosoknya sulit dijelaskan atau diidentikkan dengan suku tertentu. Saprilla mendapatkan informasi kalau Syamsuri Majid adalah seorang dai dari Malaysia kelahiran Dumai, Pekanbaru. Kyai sejak tahun 1998 mulai dikenal dan melakukan perjalanan dakwah ke berbagai daerah di Indonesia termasuk di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar dan di Luwu. Menariknya, kedatangan Kyai Syamsuri Madjid menjadi polemik di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan.

Komunitas An-Nadzir memiliki jaringan ke berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jakarta, Medan, Banjarmasin, Batam, Dumai, Batubara, Bogor, dan di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Khusus di Sulawesi Selatan, perkembangan awal An-Nadzir dimulai di tanah Luwu. Terutama ketika Abah Syamsuri Madjid masih eksis melakukan dakwah keagamaan di Luwu, pengikut An-Nadzir mulai berkembang di Kota Palopo dan beberapa tempat di Kabupaten Luwu. Ketika kegiatan dakwah Abah Syamsuri Madjid mulai jarang dilakukan, bahkan setelah ia meninggal dunia pada tahun 2006, komunitas An-Nadzir di Luwu mengalami stagnasi. Puncaknya, ketika pemerintah daerah mengeluarkan surat keputusan untuk menghentikan segala bentuk aktivitas An-Nadzir di tanah Luwu dengan

berbagai pertimbangan (lihat hasil penelitian Balai Litbang Agama tentang komunitas An-Nadzir di Luwu tahun 2006).

D. MEMBENTUK KOMUNITAS DI DESA MAWANG Menurut McMillan dan Chavis (1986:6-23), komunitas merupakan kumpulan dari para anggotanya yang memiliki rasa saling memiliki, terikat di antara satu dan lainnya dan percaya bahwa kebutuhan para anggota akan terpenuhi selama para anggota berkomitmen untuk terus bersama-sama. Setelah mengalami stagnasi di tanah Luwu, para pengikut An-Nadzir keluar dan berkumpul di Desa Mawang, Kecamatan Somba Opu, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, mengelompok di pinggir danau Mawang. Di tempat itu sendiri memang telah ada beberapa orang jamaah An-Nadzir yang diorganisisasikan oleh Daeng Rangka25. Di desa ini, mereka melaksanakan aktivitas mereka dengan aman dan nyaman. Motivasi utama untuk membentuk komunitas dari mereka adalah keleluasaan dalam hal menjalankan aktifi tas dan mendekatkan diri satu sama lain sebagai jamaah An-Nadzir, serta tentu saja karib dengan pemimpin spiritual Syamsuri Majid.

Anggota jamaah An-Nadzir dikelompokkan dalam dua kategori besar, yaitu mukim dan non-mukim. Jamaah mukim yang telah berkeluarga dan kaum perempuan ditempatkan di lereng bukit, kampung Batua (wilayah Mawang), sedangkan laki-laki yang belum berkeluarga tinggal di kampung-kampung atau pondok dan tempat usaha komunitas An-Nadzir. Istilah dua unsur komunitas mukim dan non mukim didasarkan pada

25 Saat masih hidup dikenal sebagai Panglima, namun setelah meninggalnya Daeng Rangka, istilah panglima tidak lagi ada di komunitas Annadzir.

keterangan dari Ustadz Lukman dan Daeng Rangka, sebagai amir dan panglima jamaah An-Nadzir pada tahun 2009.

Jumlah jamaah mukim pada tahun 2008 mencapai 500 orang, jumlah yang menyusut dari jumlah pertama kali hijrah dari berbagai daerah yang saat itu tidak kurang dari 800 orang.

Adapun non-mukim antara lain berasal dari Gowa dan Makassar.

Mereka biasanya datang pada hari Jum’at untuk mengerjakan sholat Jum’at dan mendengarkan tausiyah pimpinannya, yang saat itu dijabat oleh Daeng Rangka dan Lukman. Mereka yang kembali ke rumah masing-masing dan tidak diharuskan memiliki ciri fi sik seperti yang mukim. Penampilan mereka seperti warga umum.

Saat ini di tahun 2019, jumlah pemukim kembali menyusut hanya mencapai 190 kepala keluarga. Penyusutan disebabkan banyaknya pemukim yang kembali daerah masing-masing, di Palopo dan sebagian juga bermukim di luar desa Mawang.

Jamaah mukim ini diharuskan memanjangkan rambut sebahu dan mengecat pirang serta memakai pakaian jubah berwarna hitam sebagai identitas utama komunitas An-Nadzir. Bahkan anak-anak lelaki mereka telah dibiasakan untuk memanjangkan rambut dan mengecat pirang sebagaimana layaknya pria dewasa.

Proses identifi kasi dan bangunan karakter sebagai komunitas seperti diungkapkan Cohen (1985: 12) bahwa komunitas melibatkan dua saran yang saling berkaitan yakni anggota dari sebuah kelompok yang memiliki sesuatu yang sama dengan yang lainnya dan sesuatu yang diselenggarakan pada umumnya membedakan mereka secara signifi kan dari anggota kelompok lainnya. Oleh karena itu, komunitas mengandung kesamaan dan perbedaan. Itu adalah sebuah gagasan yang berhubungan atau

juga bertentangan antara satu komunitas dengan yang lainnya.

Kemudian juga dikatakan bahwa simbolisasi merupakan sistem penguatan eksistensi komunitas yang nantinya akan menampakkan lingkup peta ideologis dan simbol yang memperlihatkan tujuan individu yang juga adalah orientasi kelompok (Cohen, 1985:57).

An-Nadzir membagi dua wilayah kerja, pondok dan markas. Wilayah pondok adalah tempat tinggal sebagian besar anggota jamaah khususnya yang telah berkeluarga dan para anggota jamaah perempuan. Wilayah pondok berada di sebelah utara dekat perbukitan (kampung Batua dan sekitarnya). Luas wilayah yang dijadikan sebagai pondok atau pemukiman adalah sekitar 10 hektar. Markas adalah pusat aktivitas sosial keagamaan komunitas. Wilayah yang disebut markas adalah pinggir danau Mawang, di sana terdapat dua tempat utama yaitu langgar dan rumah kayu. Langgar ialah tempat reproduksi pengetahuan keagamaan dan tempat untuk merancang kegiatan komunitas selanjutnya, sedangkan rumah kecil yang berjarak sekitar 20 meter dari langgar dijadikan tempat untuk menerima tamu.

E. KEMANDIRIAN

Daya tarik jamaah An-Nadzir adalah cita-cita yang kuat untuk menciptakan masyarakat madani, yaitu suatu komunitas yang dekat dengan perkampungan di masa Rasulullah SAW. Sejak mereka menyatu karena hasrat yang kuat untuk hidup sebagai komunitas mandiri, mereka bergantung pada kemampuan satu sama lain dan berkembang secara Islami. Oleh karena itu, anak-anak mereka sejak awal telah dipersiapkan sebagai generasi penerus tanpa harus kehilangan konteks pembelajaran. Mereka

menyiapkan sekolah khusus anak-anak mereka dengan tenaga pengajar dari kalangan mereka sendiri. Dengan demikian, sejak dini anak-anak An-Nadzir telah berada dalam suasana hidup An-Nadzir tanpa terkontaminasi sedikit pun dengan sistem nilai dan ajaran dari institusi lain. Sistem pendidikan untuk anak-anak An-Nadzir lebih menyerupai sistem pengajaran di pesantren.

Pada awalnya, sekolah An-Nadzir tidak menyediakan ijazah.

Ini karena anak-anak An-Nadzir memang tidak diproyeksikan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sekolah itu hanya dipersiapkan untuk pembekalan hidup dan mereka juga tidak diproyeksikan untuk bekerja di luar komunitas. Namun kini, seiring dengan membaiknya hubungan dengan pemerintah kabupaten dan Kementerian Agama, pendidikan jamaah An-Nadzir diberikan ijazah melalui program pesantren. Nantinya, siswa dari An-Nadzir tidak perlu lagi mengikuti ujian persamaan karena sistem yang berkembang di lingkungan mereka sudah memberi ijazah resmi dari pemerintah.

Inisiasi pengelolaan sistem sekolah mandiri, Jamaah An-Nadzir mencoba merevisi pandangan konvensional bahwa mereka tidak akan bisa hidup layak tanpa sekolah. Jamaah An-Nadzir membuktikan bahwa sebuah komunitas dapat “melanjutkan hidup” tanpa harus terjebak dalam sistem pendidikan formal.

Mereka dapat hidup sebagai masyarakat di era modern tanpa harus mendapatkan ijazah, setidaknya pandangan lama tentang ijazah akhirnya mereka terima karena anak anak mereka nantinya akan melanjutkan pendidikan di tempat lain. Serta urusan dengan berbagai administrasi pemerintahan. Namun tekad mereka untuk tetap mandiri dalam menyelenggarakan

pendidikan terus dipertahankan karena mereka yakin bahwa sistem yang ada sudah cukup baik dan teruji.

Sementara itu, dalam hal reproduksi ajaran keagamaan di kalangan jamaah dewasa, tausyiah biasanya dilakukan setiap Jumat untuk mengkaji isi-isi Al-Qur’an. Berdasarkan hasil observasi langsung, pengkajian dilakukan tanpa menggunakan metode tafsir tertentu. Semua penyampaian dilakukan berdasarkan Al-Qur’an langsung. Ustadz Rangka sendiri yang waktu itu dianggap memiliki pengetahuan ke-Islaman yang baik, sehingga dapat melakukan reinterpretasi ayat-ayat Al-Qur’an.

Beliau mengaku memiliki kemampuan langsung yang diberikan Tuhan atau jamak disebut dengan ilmu ladunni. Oleh karena

“merasa” mendapatkan ilmu langsung dari Tuhan, An-Nadzir pada umumnya menolak sistem penulisan ajaran keagamaan.

Mereka menganggap menulis buku atau makalah keagamaan adalah upaya mempersempit ilmu Tuhan. Mereka bahkan tidak membutuhkan buku rujukan, karena mereka telah mendapatkan rujukan tertinggi secara langsung yaitu Tuhan.

F. PENGELOLAAN EKONOMI KREATIF SEBAGAI

Dalam dokumen MONOGRAFI ALIRAN KEAGAMAAN ISLAM DI INDONESIA (Halaman 164-172)