MEMBANGUN KERUKUNAN DI SURAKARTA
C. SURVIVE DI TENGAH BERBAGAI TUDINGAN Majelis Tafsir Al-Qur’an ( MTA) oleh beberapa kalangan
dianggap sebagai kelompok yang berseberangan dengan tradisi yang dipegang oleh kelompok arus utama di masyarakat, yaitu kelompok yang masih menjunjung tinggi tradisi budaya leluhur mereka yang kadang dianggap bertentangan dengan pemahaman ajaran tafsir Al-Qur’an bagi mereka yang ingin mengembalikan ajaran Islam pada Al-Qur’an dan hadis. Berdasarkan keyakinan ini, seakan-akan mempertahankan tradisi leluhur masyarakat seperti merayakan 3, 7 dan 40 hari setelah meninggal dianggap menyimpang dari ajaran Al-Qur’an dan hadis, padahal tradisi seperti ini telah dilakukan masayarakat Surakarta secara turun temurun. Bahkan, dilakukan juga pengajian, pembacaan surat Yasin, Al-Qur’an, doa-doa untuk orang-orang yang telah meninggal, selain itu untuk menghibur orang yang ditinggal orang yang sudah meninggal agar mereka tidak merasa kesepian karena masih ada saudara, tetangga mereka untuk saling memperkuat persaudaraan. Hal inilah yang diabaikan oleh
MTA dalam memahami tradisi leluhur, seperti diungkapkan oleh beberapa tokoh agama, tokoh budaya dan cendikiawan saat penulis wawancarai. Hal semacam inilah yang menjadikan MTA ekslusif dan berseberangan dengan kelompok Islam lainnya.
Menurut Hasan (2002: 14), kelompok yang berseberangan dengan praktik keagamaan umat Islam yang menyatukan prinsip-prinsip berdasarkan ajaran Islam dan budaya, tradisi dan segala hal yang dinilai pada Al-Qur’an dan as-Sunnah terkatagori Islam puritan.13 Sikap puritanisasi ini dapat menimbulkan persoalan baru di masyarakat jika tidak dapat dikelola dan tidak ada pihak yang dapat mengendalikan diri. Namun demikian, di Surakarta, sikap MTA yang berseberangan dengan tradisi masyakarat setempat ini ternyata tidak menuai gejolak dan gelombang protes secara terbuka. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor.
Dari diskusi dengan bebarapa pihak dalam FGD yang digelar di Kantor Kementerian Agama dapat ditarik benang merahnya bahwa ada kesalahpahaman beberapa pihak dalam menerjemahkan maksud dari isi ceramah Sukinah yang dianggap menolak tradisi tersebut. Bahwa sesungguhnya MTA tidak mengajarkan hal demikian pada jamaahnya, tetapi bukan berarti MTA melarang masyarakat yang menjalankan tradisi tersebut, buat mereka silahkan saja jika masyarakat ingin melaksanakannya, namun buat jamaah mereka, hal tersebut
13 Hasan, Ernest. 1981. Muslim Sociaty, Cambrige: Cambrige University, dalam Inferensi, Jurnal penelitian Sosial Keagamaan. Ditulis ilyya Muhsin, Muhammad Gufron. IAIN Salatiga berjudul: geliat Puritanisme Islam di Indonesia: Menyibak Tabir di Balik Gerakan Majelis Tafsir Al-Qur’an ( MTA) dalam Perspektif Sosiologis.
tidak mereka kerjakan. Jadi tadisi leluhur yang dijalankan oleh masyarakat Surakarta tidak berlaku bagi jamaah MTA .
Tudingan lainnya terhadap MTA adalah pimpinan MTA telah mengajarkan para jamaahnya untuk membolehkan makan daging anjing karena daging anjing dianggap tidak haram dalam ajaran agama Islam, yang haram dan najis hanya air liurnya saja, sehingga dagingnya dibolehkan untuk dimakan. Selain anjing, MTA juga membolehkan hewan bercakar lainnya untuk dimakan. Dalam kesempatan ini, pengurus MTA yang hadir pada acara FGD mengklarifi kasi bahwa, MTA tidak pernah mengajarkan pada jamaahnya yang dituduhkan pada mereka, bahkan Sukino tidak ingin membalas balik kepada seorang tokoh agama yang sudah menuduh mereka tersebut, bahkan mendoakan orang itu supaya untuk bertobat.
Tudingan lain terhadap MTA adalah bahwa MTA dalam mengajarkan ajarannya hanya berdasarkan Al-Qur’an dan hadis saja tanpa menggunakan mazhab yang empat dan qiyas.
Berkaitan dengan hal itu, pengurus MTA menepis dengan menjelaskan bahwa ajaran MTA berpegang pada Al-Qur’an dan hadis serta MTA tidak bermazhab dari salah satu mazhab yang ada. Bagaimanapun, sebelum MTA menyampaikan ajarannya, terlebih dahulu dilakukan kajian terhadap materi yang akan disampaikan dalam majelis taklim nantinya dan kajian dilakukan oleh Tim Ilmu MTA . Tim ilmu ini mengkaji materi dengan bersumber pada empat mazhab yang sudah ada (Hambali, Maliki, Syafi i dan Hanafi ). Adapun tim ilmu MTA terdiri atas lebih dari 30 orang. Mereka menguasai berbagai bidang keilmuan keagamaan, merekalah yang mendiskusikan, mengkaji ayat-ayat yang hasilnya nanti disampaikan dalam
pengajian ahad pagi atau kajian rutin lainnya. Sebagai contoh, Sukino akan menyampaikan materi tentang aqiqoh, maka sebelum hari dilaksanakannya pengajian, beberapa orang tim ilmu membahasnya terlebih dahulu. Adapun jumlah tim ilmu yang mengkaji tiap-tiap materi berbeda-beda antara 10 s.d. 15 orang. Tim Ilmu MTA , kebanyakan lulusan dari Gontor, al-Azhar, dan Madinah, termasuk di dalamnya adalah putra Sukino yang merupakan lulusan S2.
Di tengah berbagai tudingan, MTA tetap berusaha menepis semua tuduhan, bahkan tetap ingin eksis dan survive dalam meneruskan dakwah mereka di tengah-tengah masyarakat.
Untuk itulah pihak MTA melakukan komunikasi dan menjalin hubungan dengan berbagai ormas keagaman di Surakarta. Pada proses ini, MTA tidak hanya bersilaturahmi atau mengadakan diskusi saja dengan berbagai pihak, namun juga mempersilahkan Gedung MTA untuk dipinjam oleh pihak diluar MTA untuk kegiatan dan rapat-rapat. MTA juga terlibat dalam kepengurusan organisasi diluar MTA , dimana Sukinah masuk sebagai anggota dewan penasehat di MUI Kota Solo, menjadi anggota penasehat di FKUB Kota Solo, serta ikut serta dalam berbagai kegiatan jika diundang oleh pihak diluar MTA .
Untuk survive, tentunya dibutuhkan dana untuk memenuhi segala kebutuhan dalam menjalankan roda organisasi, seperti transportasi, perawatan gedung, makan dan snack Jamaah saat diadakan pengajian, membangun sekolag, pondok pesantren dan perguruan tinggi MTA , memberikan bantuan silat kemanusian dan lainnya. Untuk itu MTA mendapatkan sumbangan dana dan lainnya sepenuhnya dari Jamaah mereka, bahkan setiap kali pengajian jamaah mengumpulkan beras jimpitan,
dimana jamaah membawa beras sejimpit atau dua jimpit dan dikumpulkan saat pengajian. Hasilnya bisa terkumpul berkilo-kilo beras bahkan berton-ton. Bisa dibayangkan dalam seminggu 3 kali pertemuan, pada 2 kali pertemuan sebelum hari ahad pagi yang datangpengajian sebanyak 3000-4000 orang, sedangkan pada ahad pagi 8000-10.000 orang, bisa bayangkan dalam satu bulan berapa ribu orang jamaah yang datang dan setiap orang membawa jimpitan beras untuk di kumpulkan di MTA . Beras ini dimasak kembali untuk Jamaah makan saat pertemuan, bahkan beras tersebut disalurkan ke berbagai panti sosial. Orang miskin, dan orang-orang tidak mampu lainnya yang membutuhkannya.
Sehingga MTA bisa bertahan secara internal, maupun diluar MTA .
MTA mempunyai rumah sakit tipe C yang disewakan dan bertempat di Seman. Rumah sakit ini dikelola oleh warga MTA dan Yayasan. Ada juga usaha kapur yang dikelola oleh warga MTA . Jamaah MTA tidak ada kewajiban untuk membeli barang-barang di MTA , tetapi hanya diarahkan bahwa MTA memiliki produk sendiri sehingga mereka dapat membeli sendiri di MTA . MTA memiliki percetakan sendiri. Dokter-dokter yang bekerja kebanyakan dari luar MTA , terutama spesialis. Dokter-dokter ini kemudian lambat laun akan mengikuti pengajian MTA . Demikian juga halnya dengan karyawan-karyawan yang bekerja untuk usaha MTA yang pada mulanya tidak mengikuti MTA , namun kemudian turut serta dalam pengajian MTA . Perguruan tinggi, SMA, koperasi simpan pinjam MTA , di akhir tahunakan memberikan masukan dana ke yayasan.
Sebagai bentuk komitmen jamaah terhadap kelompok pengajian maka diadakan baiat (janji) mereka kepada MTA , yang
isinya adalah “saya bersedia menjadi anggota MTA . Jika 3 kali berturut-turut tidak masuk tanpa keterangan, maka dinyatakan mengundurkan diri dan jika ada pemberitahuan kemudian maka bisa ikut lagi.” Baiat ini bertujuan untuk mendisiplinkan anggota jamaah, sehingga pengurus MTA mengetahui komitmen anggota dan kenapa mereka tidak ikut saat pengajian diadakan.
Saat ini, setiap minggu pagi ada orang yang menyediakan makanan sebanyak 200 bungkus untuk orang yang mengaji dan itu bersifat sumbangan pribadi dan rutin dilakukan. Saat sholat Jumat juga ada warga MTA yang menyediakan makan untuk orang setelah sholat Jumat. Orang yang nyumbang ini masih muda dan pengusaha jamaah MTA . Ada beberapa karyawanya juga sudah diumrohkan.
MTA juga memperkuat diri secara kelembagaan, ini dibuktikan dengan adanya 643 cabang MTA se-Indonesia.
Begitu juga membangun jaringan dakwah di luar negeri, seperti di Korea, dimana para pekerja dan anak-anak yang bersekolah di sana masih tetap dapat mengikuti pengajian MTA secara live streaming. Menjelang pengajian, materi tausyiah dikirimkan pada mereka terlebih dulu. Sebenarnya, MTA tidak mempunyai cabang secara kelembagaan di luar negeri, tetapi ada kelompok-kelompok saja. Selain di Korea, MTA juga sudah tersebar di Jerman, New York, Riyad, Madina, Hungaria, dan Jepang. Di luar negeri, setiap minggu mereka berkumpul dengan kelompok berjumlah 20 hingga 40 orang. Berkat acara ini, di Jepang ada yang masuk Islam karena pengajian MTA ini juga ikut didengarkan oleh orang non muslim. Karena MTA mempunyai banyak cabang di Indonesia, system yang dikembangkan di daerah-daerah tidak sama dengan pusat. Saat MTA daerah akan
mengadakan pengajian dan mereka ingin mengundang ustadz dari luar MTA , maka ini harus atas seizin MTA pusat di Solo.