Kajian MUI Pusat yang kontroversial “Mewaspadai Penyimpangan dan Penyelewengan Syiah di Indonesia (MPPSI) telah dicetak jutaan eksemplar dan dibagikan ke seluruh Indonesia, fatwa MUI Jawa Timur tentang sesatnya Syiah telah diterbitkan dan disebarkan ke seluruh Indonesia. Pemerintah Pusat yang ambigu, telah dimantabkan Gubernur Jawa Timur yang menindaklanjuti fatwa sesatnya MUI Jawa Timur dengan larangan kegiatan komunitas Syiah di Jawa Timur. Berbagai kelompok keagamaan, laskar dan berbagai forum keagamaan atau aliansi-aliansi yang jumlahnya bisa ribuan di seluruh Indonesia sudah menggelar berbagai aktifi tas membangun kebencian terhadap komunitas Syiah. Bahkan sudah ada aliansi nasional anti Syiah (ANAS) yang khusus mengkoordinir dan melaksanakan gerakan anti Syiah secara massif di berbagai kota besar di Indonesia. Aksi kekerasan verbal dan non verbalpun sudah digelar di berbagai wilayah di Indonesia. Namun apakah Muslim Indonesia sepakat dengan semua bentuk persekusi, penyesatan dan mendelegitimasi Syiah Indonesia?.
Di Bondowoso, yang pernah terjadi kekerasan terhadap komunitas Syiah, ternyata malah sebaliknya yaitu mengabaikan fatwa sesat MUI Jawa Timur dan Peraturan Gubernur Jawa
Timur yang melarang kegiatan komunitas Syiah di Jawa Timur. Komunitas Syiah Bondowoso dapat melaksanakan kegiatan keagamaan sesuai dengan tradisinya dengan baik dan aman sejak tahun 2007 hingga sekarang. Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso melindungi mereka sesuai amanat konstitusi, khusus pasal 29 UUD ’45 dan menjaga komitmen kebangsaannya. Pemerintah merasa tidak ada alasan untuk melarang komunitas Syiah untuk melaksanakan kegiatan tradisi keagamaannya yang sebenarnya sudah berjalan sejak jaman dulu, sejak ada komunitas Arab di Kampung Arab sendiri.
Melarang kegiatan komunitas Syiah Kampung Arab aneh karena seperti melarang tradisi keagamaan masyarakat Bondowoso yang sudah diamini masyarakat sejak ratusan tahun lamanya.
Ribut-ribut tentang masalah mazhab Syiah ini menjadi tidak relevan di Bondowoso. Gerakan anti Syiah yang terjadi seperti tiba-tiba ada yang mengendalikan dan menggerakkan, entah oleh siapa, karena sejak dulu tidak ada masalah di Bondowoso.
Namun sejak tahun 2000-an hingga tahun 2015-an tiba-tiba seluruh Indonesia ramai-ramai menggugat keberadaan Syiah, termasuk di Bondowoso. Setelah tahun 2016-an itu gerakan anti Syiah tiba-tiba mereda dan diam sejak tahun 2018-an, kecuali gerakan secara sporadis.
Pemerintah Daerah Bondowoso, termasuk Kementerian Agama waktu itu (2006) sampai hari ini menunjukkan peranya yang luar biasa dalam menjaga empat kesepakatan dasar kehidupan kebangsaan (Pancasila, UUD’45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika) sehingga kegiatan Syiah tetap berjalan dengan aman dan damai. Pemerintah daerah telah menyimpulkan pandangan umum bahwa masyarakat Bondowoso adalah
masyarakat yang cinta damai dan tidak suka kekerasan, apalagi konfl ik, sehingga demo-demo anti Syiah semakin tidak disukai masyarakat. Apalagi masyarakat juga tahu bahwa para kyai di eks Karesidenan Besuki sebagian besar adalah santri alumni Kampung Arab. IJABI setelah kekerasan tahun 2006 itu telah mendirikan kepengurusan IJABI dan membangun masjid sendiri di Jambesari. Bupati Amin Said Husni yang memimpin Kabupaten Bondowoso selama dua pereode dan baru berakhir tahun 2019 ini dengan terang-terangan tidak melaksanakan Pergub Jawa Timur berkaitan larangan komunitas bermazhab Syiah melakukan kegiatan keagamaan. Menurutnya hal ini bertentangan HAM, demokrasi dan empat kesepakatan dasar kehidupan kebangsaan atau komitmen kebangsaan. Keteguhan Bupati Bondowoso yang memegang HAM, demokrasi dan komitmen kebangsaan telah menyelamatkan komunitas bermadzhab Syiah dari persekusi dan kekerasan lebih lanjut.
Selama Amin Said Husni menjadi Bupati, komunitas bermadzhab Syiah bebas melaksanakan ibadah dan kegiatan keagamaannya, meskipun di awal pemerintahannya sempat masih ada demo-demo menentang kegiatan Syiah. Sementara selama 15 tahun terakhir resistensi kalangan anti Syiah sangat kuat di berbagai daerah. Dengan “tangan dinginnya” penolakan anti Syiah di Bondowoso dapat diredam. Bahkan sejak tahun 2010 sama sekali tidak ada demo penolakan anti Syiah dan kegiatan keagamaannya. Amin Said menjalankan dan menerapkan empat kesepakatan dasar dalam kehidupan kebangsaan sebagai cara mengelola pemerintahan yang baik. Sebagai anggota NU yang baik, ia seperti ormas yang diikutinya bahwa dukungan terhadap empat kesepakatan dasar dalam kehidupan kebangsaan sudah tidak perlu penjelasan dan lampiran.
Amin Said sangat tahu bahwa demo-demo anti Syiah dan kegiatan keagamaannya itu hanyalah kamufl ase dari kondisi kesulitan ekonomi masyarakatnya dan dikendalikan oleh pihak-pihak yang senang kekacauan. Karena itu Amin Said berusaha memberdayakan ekonomi masyarakat dengan cara meningkatkan produksi pertanian. Salah satu yang dilakukan adalah mengembangkan kembali produksi kopi sebagai produk unggulan. Usahanya cukup berhasil, hingga Bondowoso disebut
“Republik Kopi” karena kerberhasilan dalam mengembangkan produksi kopi. Bermitra dengan Perhutani, Bupati juga memberdayakan petani dengan penanaman kakau. Para petani dilatih dan dibina, diberikan alat dan diberikan pemodalan sampai dicarikan pasarnya. Di tangan Bupati Amin Said ini, Bondowoso berhasil mengekspor kopi ke Swis. Karena kualitas kopinya yang bagus, masyarakat ekonomi Eropa mengirim perwakilannya ke Bondowoso untuk melihat langsung kebon kopinya. Meskipun demikian Bupati Amin Said merasa belum berhasil karena industri pertanian belum sampai ke agro industri secara maksimal. Semua program pemberdayaan itu ditujukan untuk nilai tambah kehidupan petani sehingga tidak mudah diprovokasi melakukan hal-hal yang bertentangan dengan konstitusi.
Dalam peta konfl ik di Jawa Timur, Bondowoso termasuk wilayah yang menyimpan bara konfl ik anti Syiah, disamping, Pasuruan, Sampang8 dan Kabupaten Jember. Tetapi seperti
8 Informasi terakhir dari Bimas Islam, komunitas Syiah Sampang yang ditampung di Sidoarjo sebagian sudah sempat pulang ke Bluuren, tetapi balik lagi ke pengungsian karena rumahnya sudah hancur. Rumahnya sejak tahun 2012 sudah tidak ditempati, tentu saja hancur. Di samping itu
teorinya Bromley, bara api tidak sampai masuk ke tahap keempat, yaitu perang habis-habisan yang menyebabkab eksodus ataupun pengusiran seperti komunitas Syiah Kabupaten Sampang. Semua usaha provokasi anti Syiah “kempes” ditahap kedua, yaitu menunggu kebenaran informasi dari kalangan yang lebih independen. Dengan semakin kerasnya publikasi mazhab Syiah baik yang pro maupun yang anti Syiah, maka resistensi terhadap Syiah justru menurun. Buku-buku anti Syiah dalam kacamata banyak pembaca juga dibandingkan rasionalitasnya dengan buku-buku Syiah yang ditulis oleh akademisi Syiah. Ini mungkin terkesan seperti membela Syiah, tetapi semua pembaca dapat membandingkan sendiri bagaimana kualitas tulisan anti Syiah. Apalagi jika para pembaca paham kesepakatan Amman dan empat dasar kesepakatan dasar kehidupan kebangsaan, maka buku-buku anti Syiah menjadi kontraproduktif dan tidak menarik didalami lebih lanjut.
Di Bondowoso, eksistensi Syiah sudah ada sejak lama, utamanya sejaknya masuknya komunitas etnis Arab di akhir tahun 1800-an. Etnis Arab telah membangun komunitas sendiri yang kini disebut kampung Arab. Di kampung Arab inilah mazhab Syiah mulai dikenalkan secara fi kih di lingkungannya sendiri. Meskipun demikian, kampung Arab merupakan pusat belajar dari para kyai generasi yang sebelum kyai sekarang pegang peranan di wilayah Besuki. Dengan mendahulukan akhlak daripada fi kih, para ulama kampung Arab ini tidak
ladangnya juga hancur menjadi semak belukar dengan pohonan sehingga sulit diolah menjadi lahan pertanian lagi. Pemerintah sepertinya harus membangun kembali rumah mereka agar bisa pulang dan membangun infarstruktur di wilayah komunitas Syiah Sampang itu.
mengajarkan madzhab Syiah di kalangan etnis nonArab. Mereka hanya mengajarkan mazhab Syiah di kalangan sendiri. Namun tradisi Syiah sudah jalan dan mendarahdaging di Bondowoso sejak keberadaan masyarakat Arab di Kampung Arab itu, termasuk di kalangan Nahdiyin. Tradisi Syiah sudah eksis sejak kemberadaan komunitas Arab tahun 1800-an itu, sehingga jika sekarang meributkan keberadaannya di Bondowoso menjadi aneh bin ajaib. (Imam Syaukani, 2009).
Selain Bupati Amin Said, Kepala Kemenag yang baru dua bulan diangkat (Solihul Kirom), maka beliau tidak terlibat dalam berbagai persoalan yang menimpa saudara-saudara komunitas Syiah di Bondowoso. Tetapi tahu bahwa Kepala Kantor Kementerian Agama (H.M. Kholil Syafi `i) yang dalam masa jabatannya terjadi kekerasan terhadap Syiah tidak menuruti kemauan kelompok intoleran untuk melarang kegiatan Syiah.
Sebagaimana Bupati Amin Said, Kepala Kandepag tahu bagaimana sebagai aparat pemerintah harus menegakkan empat kesepakatan dasar kehidupan kebangsaan. Dijelaskan bahwa ketika itu, orang-orang yang mengaku forum ulama Suni (Fokus) mendatangi Kantor Dep. Agama menyerahkan surat keberatan terhadap keberadaan IJABI. Surat tersebut ditandatangani beberapa pengasuh pondok pesantren dan 5 surat yang mengatasnamakan ormas keagamaan Islam NU. Kepala Kantor Dep. Agama waktu itu, H.M. Kholil Syafi `i, menjelaskan bahwa pihaknya tidak dapat mengambil langkah apapun atas tuntutan pelarangan berdirinya IJABI, sebab menurutnya organisasi yang baru tersebut sudah masuk lembaran negara dan sah untuk berkiprah di seluruh Indonesia. Di era demokrasi, pemerintah tidak mudah melarang, tetapi harus memberikan kebebasan
bagi setiap warga negara untuk berserikat dan berorganisasi. M.
Kholil waktu itu memberi saran kepada para ulama Sunni untuk menjaga jamaahnya agar tidak terpengaruh berbagai paham yang mungkin menyimpang. Fastabiqul khairat lebih baik dari pada berusaha melenyapkan yang lain.
Sementara itu, Muft iyatul Karimah, (Kasi Bimas Islam) menyatakan bahwa berdasarkan hasil Rakerpim pejabat Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, bahwa tingkat kerukunan umat beragama di Jawa Timur tahun 2018 menurun. Salah satu penyebabnya adalah karena kasus Syiah dan Suni di Kabupaten Sampang serta kekerasan di Jambesari Bondowoso yang sampai sekarang dianggap belum selesai.
Padahal di Jambesari masalah itu sudah selesai tidak lama setelah kekerasan terjadi (2006). Persoalan Jambesari tidak diperpanjang oleh komunitas Syiah, dan penyerangpun telah dimaafk an. Pemerintah, ormas keagamaan dan masyarakat telah menujukkan sikap yang moderat sehingga segera dapat menyelesaikan kasus Suni Syiah Jambesari dan Kampung Arab.
Dengan mediasi yang dilakukan tokoh-tokoh ormas keagamaan dan FKUB, masyarakat Jambesari sudah hidup rukun dan damai dan tidak lagi mempersoalkan si fulan adalah Sunni atau si fulan lainnya adalah Syiah. Tingkat kesadaran mereka sebagai Muslim moderat sudah semakin baik, sehingga tidak lagi mudah terprovokasi isu-isu miring yang sengaja dihembuskan kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat atas arahan pemerintah daerah, para tokoh agama, FKUB dan berbagai kelompok penggiat kerukunan tidak lagi mendengar provokasi dan agitasi anti Syiah. Masyarakat juga tidak datang jika ada pengajian akbar dengan para penceramah dari luar
yang diketahuinya provokatif dan agitatif. Relasi Suni Syiah di Jambesari dan Kampung Arabpun menjadi jauh lebih baik jika dibandingkan dengan sebelum terjadi kekerasan di Jambesari (Muft iyatul Karimah, Ringkasan FGD, 27/8/2019).
Penelitian penulis di tahun 2016, memperlihatkan bahwa komunitas Syiah dan non Syiah di Bondowoso sangat rukun.
Saiful Haq (Ketua Cabang NU dan FKUB) dalam FGD menyatakan bahwa kelompok yang menolak eksistensi IJABI dan Syiah ternyata bukanlah ormas keagamaan yang telah mapan.
Mereka adalah beberapa orang kyai dari pesantren di Bondowoso yang mengaku-aku NU. Mereka sesungguhnya hanyalah NU kultural, karena bukan orang NU, merekapun tidak pernah ke kantor Cabang dan Ranting NU apalagi menjadi pengurus.
Mereka dianggap tidak paham AD/ART NU yang berhaluan Ahlul Sunnah wal Jamaah dan penjaga empat kesepakatan dasar dalam kehidupan kebangsaan yang sudah tidak memerlukan penjelasan. Mereka membentuk organisasi cair yang bisa digerakan setiap saat dan dibubarkan setiap saat pula yaitu Forum Komunikasi Ulama Suni (Fokus). Kelompok ini bukanlah sebuah organisasi resmi karena tidak pernah mendaft arkan diri ke Kesbangpol Kabupaten Bondowoso, namanya saja juga forum. Mereka memobilisasi massa akar rumput untuk demo anti Syiah dan semua aktifi tasnya, meskipun kini tidak didengar dan tidak relevan. (Syaifu Haq, FGD, 27/8/2019)
Di Jambesari yang pernah terjadi kekerasan terhadap komunitas Syiah di tahun 2006 itu, pada saat ini malah sudah membangun masjid sendiri yang didukung oleh Kepala Desa dan NU Anak Cabang Jambesari maupun NU Cabang Bondowoso.
Komunitas Syiah yang memiliki ormas IJABI di tingkat nasional, juga eksis di Bondowoso, dan mendirikan Pengurus Cabang IJABI di Jambesari dan memiliki yayasan Al Khairiyah di Kampung Arab. Sementara di kalangan non Syiah banyak ormas keagamaan Islam di tingkat nasional, seperti; Muhammadiyah dan NU yang juga eksis di tingkat lokal. Pendirian kepengurusan IJABI dan pembangunan masjid Syiah di Jambesari dilindungi oleh pengurus cabang dan anak cabang NU, pengurus daerah Muhammadiyah, FKUB, Kepala Desa Jambesari dan masyarakat Bondowoso. Dalam FGD di ruang Kepala Kantor Kemenag Bondowoso, Pengurus Daerah Muhammadiyah Bondowoso (Malik, M.Ag) menyampaikan ucapan selamat bahwa IJABI dapat membangun masjid dan membentuk pengurus cabang di Jambesari, dibantu Kepala Desa. Sementara Muhammadiyah sampai hari ini belum mampu membentuk pengurus cabang di Jambesari, bahkan masjidpun belum punya di Jambesari.
Mungkin nanti dengan bantuan kepala desa dan KH. Saiful Haq sebagai PC NU, Muhammadiyah di Jambesari dapat membentuk kepengurusan cabangnya.
NU Kabupaten Bondowoso sebagaimana juga di tingkat pusat tidak senang dengan kosa kata sesat menyesatkan kelompok lain, seperti ormas keagamaan MUI Jawa Timur yang telah mengeluarkan fatwa sesat terhadap Syiah di Jawa Timur No. Kep-01/SKF- MUI/JTM/I/2012 tentang Kesesatan Ajaran Syiah. NU sebagai bagian penopang utama Islam moderat mempunyai konsep yang jelas berkaitan dengan kehidupan sosial keagamaannya, yaitu mengayomi seluruh masyarakat apapun aliran keagamaan dan agamanya. Begitupun di Bondowoso khususnya, NU tidak pernah ikut-ikutan memvonis bahwa
ajaran Syiah sesat seperti MUI Jawa Timur. Ustadz Saiful Haq di samping sebagai Ketua Cabang NU, ia juga Ketua FKUB, pengasuh pondok pesantren adalah juga pengurus masjid jami’
Al Awabin Kampung Arab yang jamaahnya terdiri atas Suni dan Syiah. Saiful Haq ini memiliki hubungan yang sangat baik dengan para habaib di kampung Arab, karena dari mereka inilah Saiful Haq termotivasi belajar agama Islam. Masyarakat nahdliyin selalu bershalawat atas nabi, Ahlulbaytnya dan sahabatnya.
Jadi Ahlulbayt selalu diucapkan setiap saat tertentu, meskipun disambung dengan salam kepada para Sahabat Nabi. Pada saat terjadi kekerasan terhadap komunitas Syiah di Jambesari, NU turun langsung menjadi mediator dan berperan penting dalam menciptakan kerukunan di masyarakat Jambesari. Saiful Haq menjelaskan bahwa, kelompok-kelompok yang memprovokasi masyarakat tidak pernah berkoordinasi dengan NU, bahkan NU berusaha menjaga masyarakat di Jambesari dengan menurunkan Banser. NU juga mengawal dan menjaga masyarakat ketika ada rencana long march kelompok anti Syiah yang tergabung dalam FOKUS ke kampung Arab, agar tidak ikut serta dalam long march. NU memberi saran kepada apparat keamanan dan menyerahkan penyelesaian persoalannya kepada aparat kepolisian. Aparat kepolisianpun mendengar sarannya, yaitu membelokkan kegiatan longmarch yang tadinya akan ke kampung Arab dibelokan menuju masjid Agung al Ikhlas Bondowoso. Para Korlap longmarch kecewa atas dukungan ormas keagamaan NU dan Pemerintah Daerah yang melindungi kegiatan komunitas Syiah di Kampung Arab, khususnya dan di Bondowoso umumnya. (Saiful Haq, Ringkasan FGD 27/8/2019)
KH. Saiful Haq menjelaskan lebih lanjut bahwa peran NU dalam mendirikan negara Indonesia sangat besar dan menjadi bagian dari faksi yang menyepakati bentuk negara, dasar negara, konstitusi dan Bhineka Tunggal Ika. Seperti juga dijelaskan Maltuf, M. Si (Kepala Desa Jambesari sekarang sekaligus aktifi s NU Anak Cabang Jambesari), adalah aneh jika NU yang ikut mendirikan negeri kemudian malah mau merusak empat kesepakatan dasar kehidupan kebangsaan atau tidak sepakat dengan kesepakatan tokoh-tokoh NU di sekitar kemerdekaan tahun 1945 itu. NU sudah sepakat dan sangat paham bahwa Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika adalah yang paling cocok untuk bangsa Indonesia, meskipun mungkin bukan yang terbaik. Oleh karena itu, turunnya semua tokoh NU di tahun 2006 baik tingkat cabang maupun anak cabang termasuk Bansernya ke Jambesari adalah bentuk usaha untuk menegakkan empat kesepakatan dasar kehidupan kebangsaan itu. Mereka turun untuk berkordinasi dengan tokoh-tokoh masyarakat agar tidak melakukan tindak kekerasan lebih lanjut dan mendatangi kelompok-kelompok yang mengatasnamakan NU untuk tidak memprovokasi dan berbuat kekerasan. Perdebatan NU struktural dan NU kulturalpun pernah menjadi sangat panas saat itu, meskipun akhirnya yang kultural akhirnya kehabisan argumen yang kuat untuk melakukan provokasi dan propaganda. Apalagi mereka ternyata hanya beberapa gelintir kyai saja. (Saiful Haq, Ringkasan FGD 27/8/2019)
Para tokoh NU selalu berkoordinasi dengan para tokoh Syiah agar tidak mempublikasikan perbedaan fi kih. NU terus menjalin persaudaraan dengan seluruh elemen masyarakat agar tercipta kondisi yang aman dan tentram. Pada waktu masyarakat Syiah
di Jambesari membangun masjid, tanpa publikasi yang membuat gaduh, NU ikut menjaga dan membantu pembangunannya.
Saiful Haq mengatakan bahwa dirinya adalah Ketua umum Cabang NU Bondowoso sekaligus ketua FKUB Bondowoso dan menjadi pengurus masjid Al-Awabin bersama saudara-saudara yang bermadhzab Syiah. Jamaah masjid Al Awabin juga terdiri atas NU atau lainnya dan Syiah. Tidak ada persoalan selama ini di masjid al Awabbin. Saiful Haq secara pribadi juga sering bertemu dengan Habib bagir al Habsyi membicarakan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat Bondowoso.
Saiful Haq dan tokoh-tokoh NU Bondowoso adalah kawan dekat tokoh-tokoh Syiah, karena pada merekalah (mubaligh Syiah) waktu itu belajar dan tahu lima mazhab yang sama sekali tidak sama dengan berbagai propaganda anti Syiah selama ini. Saiful Haq juga menyatakan bahwa seluruh warga NU Bondowoso akan pasang badan jika ada yang mengganggu komunitas Syiah (Saiful Haq, Ringkasan FGD 27/8/2019)
Agak berbeda dengan NU tapi intinya sama disampaikan Malik, M.Ag ( Muhammadiyah), bahwa untuk menjaga ke-rukunan beragama maka tokoh-tokoh agama hendaknya bersatu dan selalu merawat kerukunan bukan malah memperbesar perbedaan. Sebisa mungkin kerukunan dijaga jangan sampai ada friksi dengan kelompok-kelompok tertentu. Umat beragama hendaknya diberi ruang yang luas untuk melakukan kewajiban agamanya, pemerintah jangan terlalu masuk keurusan teknis dalam kehidupan beragama. Untuk merawat kebersamaan dan kerukunan dalam bingkai NKRI, maka hendaknya selalu diadakan koordinasi dan dialog intern umat beragama. Dialog bukan untuk mencari perbedaan tapi lebih mengedepankan
kesamaan dan kepentingan bersama. Bagi Muhammadiyah, konstitusi dan Bhineka Tunggal Ika yang berkaitan dengan kebebasan beragama maupun menjalankan ajaran agama yang sesuai dengan kepercayaannya itu sudah jelas dan harus diimplemntasikan bersama agar kebhinekaan dan NKRI tetap utuh. PP Muhammadiyah tidak pernah menyatakan sesat, hanya menyatakan bahwa mazhab Syiah memiliki perbedaan dengan mazhab Suni. Soal siapa yang sesat dan siapa yang akan masuk surga biarlah itu urusan Allah. Surga itu luasnya seluas bumi dan langit, maka berbagilah dan jangan merasa hanya untuk diri sendiri. Klaim-klaim kebenaran hanya akan menimbulkan ketidakharmonisan kehidupan sosial keagamaan. (Malik, Ringkasan FGD 27/8/2019)
Pengurus Daerah Muhammadiyah Bondowoso memang pernah mendapat undangan dari forum komunikasi ulama Suni (Fokus) untuk melakukan kegiatan long march dan demo anti Syiah untuk menggagalkan kegiatan Asyura. Muhammadiyah menolak karena itu bukan urusan Muhammadiyah. Mengurusi umat sendiri saja sudah berat, untuk apa mengurusi orang yang bukan wewenangnya. Urusan keamanan adalah urusan aparat kepolisian, dan urusan agama adalah urusan masing-masing yang memiliki agama, yang berbeda sebaiknya menghormati perbedaan itu. Malik juga menjelaskan pula bahwa tidak ada organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia yang besar-besar menyesatkan Syiah kecuali ormas MUI Jawa Timur atau Wahdah Islamiyah (di Makassar). Oknum dari ormas MUI Pusat pun dianggap kurang arif ketika mencetak besar-besaran buku MMPSI. Sebab buku itu dapat dijadikan alat untuk melakukan tindakan-tindakan melawan hukum dan konstitusi (H. Malik, Ringkasan FGD 27/8/2019).
Sementara itu Kepala Desa Jambesari (Maft uh, M. Si/
waktu terjadi kekerasan di Jambesari itu ia masih aktifi s HMI, aktifi s NU dan tokoh pemuda Jambesari) mengatakan bahwa, sejak IJABI resmi ada di Bondowoso, keadaan memang mulai memanas. Ada pemukulan terhadap pemuda Syiah, dan upaya pembakaran rumah seorang tokoh Syiah di Jambersari.
Puncaknya pada 23 Desember 2006, ketika di sebuah rumah di Desa Jambesari, (majelis taklim Darus Sholah), Bondowoso, diadakan tahlilan dan pengajian. Pengajian menghadirkan Habib bagir al-Habsyi sebagai penceramah. Ketika pengajian berlangsung, sekitar 400-an warga mengepung rumah tersebut dan melempari dengan batu. Jamaah IJABI pun kocar-kacir, sebagian masuk ke dalam rumah dan sebagian lagi berusaha menyelamatkan diri. Para perusuh sempat membakar mobil Habib bagir al Habsyi. Untunglah, polisi segera datang dan mengamankannya. Habib Bagir-pun memprosesnya sampai ke pengadilan. Tetapi di tengah proses persidangan berjalan, Habib Bagir tiba-tiba mencabut gugatannya. Habib menyatakan
“Ini hanya untuk pembelajaran saja, kami memaafk an para penyerang”. Sejak kasus pelemparan batu di Jambersari itu, para tokoh agama dan Muspida Bondowoso berusaha keras untuk mencari solusi damai. Habib Muhammad bagir al-Habsyi,
“Ini hanya untuk pembelajaran saja, kami memaafk an para penyerang”. Sejak kasus pelemparan batu di Jambersari itu, para tokoh agama dan Muspida Bondowoso berusaha keras untuk mencari solusi damai. Habib Muhammad bagir al-Habsyi,