• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN SYIAH BONDOWOSO DAN PENEN- PENEN-TANGNYA

Lokus dari tulisan naskah ini adalah kabupaten Bondowoso, sehingga perlu dipaparkan secara khusus bagaimana Syiah muncul dan berkembang di Bondowoso. Bondowoso adalah salah satu pusat pertumbuhan Syiah di Jawa Timur, selain Pasuruan, Malang dan Jember. Sebagian masyarakat Muslim Bondowoso pernah melakukan kekerasan terhadap komunitas Syiah di tahun 2006. Seperti dijelaskan Imam Syaukani, keberadaan komunitas Syiah etnis Arab di Kampung Arab sudah sejak tahun 1900-an, bahkan cikal bakalnya adalah kedatangan Ghasim Baharmi di Bondowoso tahun 1800-an. Pada tahun 1830-an, datang pula Habib Muhsin yang meninggal pada tahun 1842-an. Habib Muhsin ini meninggalkan seorang isteri yang sedang mengandung. Pada tahun 1942 itu lahirlah anak

laki-laki bernama Habib Ahmad. Pada usia 14 tahun Habib Ahmad dikirim ke Yaman untuk belajar bahasa Arab dan agama Islam.

Pada usia 28 tahun, yang berarti tahun 1870 Habib Ahmad pulang ke Bondowoso. Ternyata sudah banyak etnis Arab tinggal di kampung Arab dan menjadi sebuah kampung yang popular di Besuki. Tidak berapa lama sampai di Bondowoso, Habib Ahmad mengajar banyak anak di rumah dan para santri datang ke kampung Arab untuk belajar agama. Santri-santri dan anaknya itulah yang sekarang menjadi para pemimpin berbagai pondok pesantren di Besuki (Imam Syaukani, 2007; Wakhid Sugiyarto, 2016; Habib M bagir al Habsy, wawancara 28/8/2019).

Selain mengajar bahasa Arab juga mengajarkan fi kih Syafi ’i, meskipun akidah Habib Ahmad adalah Syiah Zaidiyah ( mazhab kelima dalam Suni), bersama dengan Habib Hasan bin Hafi dz bin Syaikh Abu Bakar pada tahun 1914, mereka mendirikan madrasah al Khairiyah yang sekarang menjadi yayasan pendidikan al Khairiyah. Habib Ahmad kemudian berhenti menjadi guru ngaji, tetapi menjadi guru agama sekaligus mengelola madrasah yang didirikan bersama Habib Hasan.

Mazhab Syiah Zaidiyah yang dianut oleh Habib Ahmad tidak berkembang karena tidak disiarkan kepada orang laing kecuali mereka yang ingin mengetahuinya. Perubahan masyarakat Kampung Arab menjadi pengikut Syiah Imamaiyah atau Syiah Dua belas Imam terjadi sesudah tahun 1948, di mana banyak anak kampung Arab belajar di Irak. Pulang dari Irak inilah para santri asal kampung Arab memulai publikasi mazhab Syiah Imamiyah.

Kemudian datanglah seorang Habib dari Yaman Hadramaut yaitu Habib Muh. al-Muhdhar bin Muh. bin Muhdhar membawa mazhab Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah yang wafat thn 1984

(96 tahun). Habib Muhammad adalah seorang penyair, sehingga banyak syi’ir yang diciptakannya, salah satunya adalah “khayr al madhzaib madzhab ahlal bayt”. Meskipun demikian tidak lantas Habib Muhammad dan pengikutnya melaksanakan ajaran Syiah secara furuiyah. Mereka bertaqiyah dan melaksanakan tata cara ibadat munurut madzhab Syafi ’i. Mereka hanya salat seperti madzhab Syiah jika di rumah atau bersama jamaah yang Syiah.

Mereka lebih mendahulukan akhlak dari pada fi kih, karena fi kih dapat menimbulkan masalah di kalangan masyarakat awam.

(Imam Syaukani, 2007; Wakhid Sugiyarto, 2016; Habib M bagir al Habsy, wawancara 28/8/2019).

Pada tahun 1950-an, datanglah Habib Hamzah bin Ali al Habsyi (paman Muh. Bagier) bersama Habib Muh. Muhdhar berkeliling berdakwah keliling di wilayah Besuki (Bondowoso, Situbondo, Jember dan Banyuwangi). Habib Hamzah adalah ustadz yang sangat alim, karismatik dan memiliki karamah.

Meskipun keduanya berakidah Syiah tetapi tidak mengajarkan mazhab Syiah, malah menjelaskan pentingnya ukhuwah Islamiyah. Di kalangan keluarga para penghuni kampung Arab terutama yang mengaku dirinya sebagai Habib dikenalkan ajaran Syiah, seperti keyakinan bahwa Abu Th alib adalah mukmin.

Namun uniknya mereka tetap mengamalkan cara ibadah seperti dilakukan oleh kalangan Suni jika berkumpul dengan kalangan non Syiah. Ketika Sayyid Ali al Maliki (ulama Arab Saudi) datang ke Bondowoso dan minta diterjemahkan kitab “Insan kamil” (manusia paripurna) orang Bondowoso tidak mau, sebab dalam kitab itu disebut bahwa Abu Th alib adalah kafi r (Habib M. bagir al Habsy, wawancara 29/8/2019).

Keberadaan Syiah di Bondowoso (termasuk Indonesia umumnya) mengalami momentum setelah revolusi Iran. Setelah itu, Habib Hamzah secara terang-terangan menyatakan dirinya atau mengaku sebagai orang Syiah, tetapi sebagai guru agama tetap tidak mengajarkan ajaran Syiah kepada non Syiah, kecuali keluarga Kampung Arab. Pengakuan Habib Hamzah sebagai Syiah itu telah memancing perhatian masyarakat sekitar. Pada tahun 1995, Habib Hamzah membentuk Yayasan Ash Shadiq yang dipimpin sendiri. Habib Hamzah juga membuka pengajian rutin dirumahnya setiap hari Senin, Selasa, dan Rabu. Habib Hamzah mengajar gramatikal bahasa Arab (nahwu) pada hari Senin, fi kih pada hari Selasa dan tafsir pada hari Rabu.

Murid-muridnya adalah anak-anak para kyai yang datang dari berbagai penjuru Besuki (Bondowoso, Situbondo, Jember dan Banyuwangi) yang sekarang memegang posisi penting di pesantren-pesantren besar. Meskipun Habib Hamzah sudah mengaku sebagai Syiah, tetapi tidak mengajarkan ajaran Syiah, dan konsisten mengajarkan kitab-kitab Sunni, hanya kemudian ditambahkan saja yaitu fi kih Jakfari ( Syiah). Misalnya ketika ia menjelaskan tatacara wudlu seperti dilaksanakan kalangan Suni, maka sekarang ia tambahkan cara wudhu cara Syiah, yang dipersilahkan untuk memilih. Ketika menjelaskan masalah aurat menurut Suni, maka kemudian ditambah dengan beraurat cara Syiah. Kebanyakan yang ikut pengajian adalah anak-anak kyai, sehingga penambahan yang berkaitan dengan ajaran Syiah itu tidak menjadi persoalan apa-apa dan tidak ada gejolak di kalangan Sunni. (Wakhid Sugiyarto, 2016; Habib M. bagir al Habsy, wawancara 28/8/2019).

Kondisi kehidupan keagamaan yang tenang dan harmoninya relasi Suni Syiah itu terusik. setelah meninggalnya ustadz Hamzah tahun 2005. Sebagian ulama atau kyai yang merupakan santrinya mulai berbalik arah dengan melakukan propaganda anti Syiah.

Habib Hamzah yang wafat tahun 2005, telah memposisikan Syiah Bondowoso memasuki babak baru dalam kehidupan sosial keagamaannya sebab Habib Hamzah merupakan tokoh pemersatu komunitas Muslim Bondowoso dan sangat dihormati yang membuat segan semua orang yang tidak menyukainya.

Pengetahuannya yang luas tentang ilmu pengetahuan agama dalam semua mazhab, memiliki karamah dan tempat belajar semua anak kyai Besuki, telah memposisikannya sebagai ustdaz yang sangat disegani, bahkan oleh para kyai sekalipun. Di samping itu, posisinya sebagai Habib “masih keturunan Nabi (dzuriyat nabi) telah menambah wibawanya di tengah-tengah masyarakat Besuki. Para kyai di Bondowoso dan Besuki yang pernah menjadi santrinya, ketika santrinya datang pada dirinya cium tangan, tetapi ketika mereka datang ke Habib Hamzah, maka para kyai itulah yang cium tangan. Dalam tradisi masyarakat Suni, utamanya kalangan Nahdiyin di Besuki, kedudukan Habaib sebagai dzuriyat Nabi sangat terhormat. Meninggalnya Habib Hamzah membuka peluang bagi pihak-pihak yang tidak senang melakukan gerakan menentang keberadaan Syiah, bahkan melakukan kekerasan terhadap komunitas Syiah, seperti terjadi di Jambesari tahun 2006 (Imam Syaukani, 2007; Wakhid Sugiyarto, 2016; Ringkasan FGD 27/8/2019; Habib M. bagir al Habsy, wawancara 28/8/2019).

Sebelumnya, segala upaya untuk menjelek-jelekan Syiah masih dilakukan sembunyi-sembunyi karena keulamaan

Habib Hamzah dan kewibawaannya yang luar biasa. Tuduhan kalangan anti Syiah sendiri memang bukan tanpa sumber rujukan, tetapi bersumber pada kitab babonnya Syiah. K.H.

Abdul Muis Turmudzi yang menjadi kyai karena mengaji kepada Habib Hamzah menegaskan bahwa semua tuduhan itu bukan rekayasa, tetapi dikutip dari kitab-kitab induk yang menjadi pegangan kaum Syiah sendiri, seperti Kitab Ushul al Kafi , Kitab Ma La Yadhuruhu al Faqih, Kitab al Tahzib, Kitab al Istibshar, dan Kitab Bihar al Anwar. Tentu saja Abdul Muis Turmudzi memanfaatkan kelemahan berbagai kitab yang belum diklasifi kasi seperti kutubusita itu. Menurutnya, lima kitab tersebut merupakan kitab-kitab yang otoritasnya dapat disetarakan dengan kutubusitta dalam Suni. Dalam hal ini, KH.

Abdul Muis sepertinya tidak jujur dan memiliki kedengkian sehingga tidak peduli bahwa kitab babon Syiah itu memang tidak ada yang disebut kitab sahih, karena maksudnya ingin menghancurkan Syiah. Menurut informasi dari berbagai pihak, setiap ada kesempatan ceramah Kyai Muis dengan semangat selalu menyelipkan pesan agar tetap waspada terhadap Syiah dan sering berlebihan dalam pesannya, bahkan dengan kata-kata agitatif dan provokatif yang membakar emosi massa. Semasa hidup Habib Hamzah, Abdul Muis tidak berani seperti itu, karena Habib Hamzah adalah guru ngajinya sendiri. Entah ada kepentingan dan tujuan apa KH. Muis berperilaku seperti itu.

Hanya KH. Muis sendirilah yang tahu. Muh bagir al Habsyi menyatakan saudara saudara Syi’ahnya tak berusaha membela diri dan bahkan membiarkan saja tuduhan pejoratif terhadap Syiah itu berkembang karena merasa keyakinan Syi’ahnya ( Syiah Imamiyah) tidak seperti dituduhkan. Jadi, tidak ada gunanya

membela diri kepada orang sedang emosi dan dengki, bahkan menganggap tuduhannya salah alamat dan ketidaktahuan.

Habib bagir dan saudara Syi’ahnya hanya memberikan penjelasan secara detil apabila ada orang yang datang baik-baik ke rumahnya (Imam Syaukani, 2007; Wakhid Sugiyarto, 2016;

Habib M. bagir al Habsy, wawancara 28/8/2019).

Sebelum kekerasan di Jambesari tahun 2006, Yayasan al Bayinat Surabaya telah mengeluarkan banyak selebaran yang menyerukan umat Islam agar memboikot penganut Syiah.

Caranya dengan, tidak menyalati dan menguburkan orang Syiah jika meninggal, tidak menjadikan orang Syiah sebagai imam, melarang menikah dengan mereka, tidak bergaul (duduk-duduk) dengan mereka (jangan menghadiri undangan mereka), tidak menjenguk orang Syiah yang sedang sakit dan sebagainya.

Selebaran itu beredar luas di masyarakat dalam rangka pematangan dan pemanasan menuju tujuan mengkapitalisasi kebencian agar terjadi kekerasan terhadap Syiah. Karena tidak lama setelah itu terjadilah kekerasan terhadap komunitas Syiah di Jambesari di tahun 2006. (Habib Muh. bagir al Habsy, wawancara 28/8/2019).