• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan uji PRISAI kabupaten kutai Barat7

Prinsip 9: Manfaat REDD+ dibagi Secara Adil ke Semua Pemegang d

Indikator ini tidak bisa menjamin kebijakan daerah yang mendukung wilayah clean and clear dapat berjalan, apabila ada kebijakan dari Pemerintah Pusat yang justru mengeluarkan izin baru, atau ijin pinjam pakai pada wilayah pelaksanaan REDD+.

Prinsip 9: Manfaat REDD+ dibagi Secara Adil ke Semua Pemegang d.

Hak dan Pemangku kepentingan yang Relevan.

Salah satu indikator yang terdapat dalam prinsip ini adalah Indikator 9.9.1. (adanya aturan mengenai distribusi benefit dan mekanisme penyalurannya yang berbasis pada kontribusi positif dan kelayakan pemangku kepentingan REDD+ (Pemerintah)). Indikator ini dapat saja diatur dalam sebuah peraturan namun yang perlu diperjelas adalah rumusan klaim hak, yakni klaim atas kepemilikan lahan yang dikelola oleh masyarakat, yang umumnya tidak memiliki surat-surat sesuai dengan perundang-undangan nasional seperti sertifikat atau segel.

Selain 3 (tiga) pembelajaran tersebut di atas, juga terdapat 5 (lima) indikator yang memastikan adanya peran Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan REDD+ dan pelaksanaan PRISAI, yakni:

Rencana tata ruang termasuk rencana pengelolaan hutan di lokasi 1.

kegiatan REDD+ mengakui dan menghormati hak yang dimiliki masyarakat adat maupun komunitas lokal baik yang berdasarkan hukum negara, hukum adat maupun kesepakatan lainnya (pertimbangan keadilan dalam penguasaan SDA) (Pemerintah). Kebijakan REDD+ di tingkat nasional dan daerah mendukung 2.

untuk semua aktivitas yang mempengaruhi hak mereka atas tanah, wilayah dan sumber daya alam (Pemerintah Pusat). Adanya Strategi Daerah yang mengimplementasikan STRANAS 3.

REDD+ (Pemerintah Daerah).

Adanya upaya dan kebijakan yang mengidentifikasi pola-pola 4.

pengetahuan tradisional dalam pengurangan emisi, peningkatan dan penyerapan stok karbon dan mempertimbangkan pengetahuan kelompok yang termarginalkan (Pemerintah).

Memastikan kebijakan daerah mendukung wilayah yang

5. clean and

clear bagi aktivitas REDD+ (Pemerintah Daerah).

Pelaksanaan indikator yang terkait dengan kewenangan pemerintah daerah tersebut baru dapat dilakukan apabila pemerintah pusat terlebih dahulu memenuhi hal-hal yang menjadi kewenangannya (33 indikator). Sebagai prasyarat kondisi pemungkin bagi pemerintah daerah untuk melaksanakan indikator yang berkaitan langsung dengan kewenangan pemerintah daerah maka dapat membuat kebijakan terkait pelaksanaan REDD+ sepanjang tidak bertentangan dengan perundangan nasional dan kewenangan sebagai daerah otonom.

Refleksi dan Pembelajaran terhadap PRISAI sebagai Mekanisme 4.

Pengamanan dan REDD+ PRISAI dengan kebijakan a.

Dari berbagai SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) yang terlibat dalam proses wawancara dan ujicoba, sebagian besar mengungkapkan bahwa belum tersedia kebijakan-kebijakan yang menjadi prasyarat dan kondisi pemungkin bagi terlaksananya REDD+ sebagaimana disyaratkan dalam PRISAI. Bahkan pada salah satu SKPD masih belum menjadi bagian TUPOKSI dari SKPD yang bersangkutan meskipun jamak di berbagai kabupaten lainnya, pengukuran dan pemantauan emisi merupakan bagian dari TUPOKSI SKPD yang bersangkutan.

Dalam konteks pengembangan program REDD+, menyimak perangkat kebijakan yang masih belum terjabarkan dengan utuh, proses pemungkinan pengembangan program REDD+ harus menjadi bahan pertimbangan khusus. Salah satu bagian penting dari langkah membangun program REDD+ adalah kesepahaman dan peningkatan derajat pengetahuan terhadap REDD+ sebagai sebuah mekanisme perbaikan tata kelola kehutanan yang ‘bisa’ berbuah insentif.

Dalam konteks ujicoba, PRISAI masih belum bisa diterapkan di Kutai Barat karena Pemerintah Kabupaten Kutai Barat sendiri masih belum mendeklarasikan diri untuk masuk dalam skema REDD+ baik pada skala tapak melalui mekanisme voluntary, atau pada skala sub nasional (district) untuk mekanisme regulatory.

PRISAI dengan keuangan/Pendanaan b.

Karena pemahaman yang masih rendah terhadap apa itu REDD+ dan bagaimana membangun mekanisme REDD+ khususnya pada tingkat pemerintah, berimplikasi pada alokasi anggaran yang masih belum begitu kuat. Terutama pada upaya-upaya yang dapat berkontribusi pada penurunan tingkat emisi di Kabupaten Kutai Barat.

Dengan demikian prinsip 3 khususnya pada Kriteria 3.2 masih belum terakomodasi dengan baik. Pendanaan program peningkatan kapasitas para pihak masih belum terencanakan dengan kuat khususnya yang terkait dengan upaya-upaya pengurangan emisi secara umum. Bahkan pengalokasian dana untuk peningkatan pemahaman REDD+ masih belum maksimal kecuali masih mengandalkan pendanaan dari pihak lembaga donor atau program kerja sama bilateral/multilateral.

PRISAI dengan kelembagaan c.

Belum dijadikannya REDD+ sebagai sebuah kerangka kelola perbaikan tata kelola kehutanan menjadikan kelembagaan di kabupaten tidak mendukung upaya menuju hal tersebut. Berbeda dengan beberapa kabupaten lain di Kaltim seperti Berau dan Malinau, Kutai Barat masih belum memiliki baik Kelompok Kerja ataupun Unit Kelola Program REDD+ di Kabupaten. Karenanya pelaksanaan mayoritas Prinsip 3 tidak dapat dilakukan sebagaimana yang disyaratkan karena tumpang tindihnya tupoksi antar SKPD di kabupaten. Simplifikasi ini baru bisa dilakukan jika ada komitmen kuat dari Pemerintah Kabupaten untuk masuk ke dalam program REDD secara utuh, baik voluntary maupun regulatory.

PRISAI dengan kapasitas SDM d.

Peningkatan kapasitas SDM yang terkait dengan program REDD baru terbatas pada SKPD di lingkungan Dinas Kehutanan. Sementara BLHD yang memiliki peran (sesungguhnya) dalam perhitungan dan koordinasi pengendalian emisi justru masih belum memiliki kapasitas. Bahkan TUPOKSI masih belum melingkupi hal ini kecuali pemantauan dan pengendalian dampak lingkungan dari kegiatan

operasional pemanfaatan SDA di Kabupaten Kutai Barat. Dengan demikian kegiatan BLH masih berkutat pada AMDAL, RKL dan RPL. Dengan begitu Prinsip 3 masih belum mampu dipenuhi secara utuh khususnya Kriteria 3.2 dan 3.3.

Sementara kapasitas di Dinas Kehutanan meskipun ada beberapa orang yang telah mendapatkan peningkatan pemahaman tentang program REDD+ tapi untuk Prinsip 6 secara keseluruhan, masih belum dapat mengawal Kriteria 6.1 dan 6.2.

Penutup

8.

Berdasarkan ujicoba terhadap prinsip, kriteria dan indikator dalam PRISAI di 3 wilayah diperoleh hasil bahwa tidak ada satu wilayah uji lapang yang memenuhi kesepuluh prinsip yang terdapat dalam PRISAI. Di Kampung Batu Majang hasil uji lapang menunjukkan bahwa terdapat enam prinsip PRISAI yang diimplementasikan, yaitu prinsip 1, 4, 6, 7, 8, dan 10 di Kampung Linggang Melapeh hasil uji lapang memperlihatkan bahwa terdapat enam prinsip PRISAI yang diimplementasikan, yaitu prinsip 1, 2, 3, 4, 5, dan 10 dan di areal PT Ratah Timber hasil uji lapang menunjukkan bahwa terdapat tujuh prinsip PRISAI yang diimplementasikan, yaitu prinsip 1, 3, 4, 6, 7, 8, dan 10.

Peluang PRISAI di lokasi program penurunan emisi hutan adalah sebagai berikut:

Pemerintah daerah dapat membentuk produk hukum dan kebijakan •

pada tingkat daerah tentang penurunan emisi atau memperlambat peningkatan emisi.

REDD+ merupakan program jangka panjang, untuk itu perlu ada •

internalisasi pemahaman tentang perlindungan hutan, lahan dan SDA, pembangunan untuk menurunkan emisi dengan keseimbangan ekonomi dan lingkungan melalui pendidikan ke semua pihak termasuk generasi muda (dalam bentuk formal dan non formal).

Adapun tantangannya adalah pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Kabupaten Kutai Barat, yang masih berorientasi ekonomi dan pembangunan dengan membuka lahan, untuk pemukiman, investasi sawit dan tambang; kebijakan daerah dimungkinkan bisa mendukung pelaksanaan PRISAI, untuk mengurangi peralihan emisi akan tetapi hal tersebut dapat bersinggungan dengan perizinan yang diterbitkan oleh Pemerintah Pusat atau bahkan Pemerintah Daerah sendiri.