Dwi Janardana Winasis - SLB Negeri Batang
“Mimpi”, suatu kata yang penuh makna, dimana tersirat banyak sekali angan dan harapan di dalamnya. Terkadang kita tidak sadar telah meraihnya, karena kendala dan rintangan yang setia mendampingi dalam mengejar mimpi itu sendiri. Mimpi bagi seseorang adalah proposal hidup tentang angan dan cita-cita akan sesuatu hal yang ingin kita dambakan, yang kita harapkan. Dengan bermimpi kita dapati sesuatu hal yang menarik untuk dikejar dan terus digali demi untuk meraihnya.
Bertolak dari akademisi sebuah produk pendidikan aku memulai karir di intansi pendidikan di salah satu SMA swasta daerahku kota Batang, provinsi Jawa Tengah. Batang sebuah kota kecil yang masih tertatih dalam koridor modernisasi, teknologi, dan globalisasi. Perkembangan pada segala bidang, salah satunya yaitu bidang pendidikan, akupun hijrah dari SMA swata masuk pada intansi pendidikan luar biasa yaitu di SLB Negeri Batang.
Awal karier di SLB Negeri Batang seperti memasuki dimensi lain, sangat awam dengan dunia anak ABK. Benar-benar berbanding terbalik 3600 dengan keadaan sebelumnya. Aku
komunikasi tidak mampu menerima materiku saat itu, sedangkan murid yang mampu menerima materi sangat susah berkomunikasi. Hampir satu semester masih meraba hingga sedikit mulai mengenali dan terus menggali potensi yang ada pada para peserta didik.
Keterampilan yang ada di SLB negeri Batang yang sudah berjalan memang agak banyak, mulai dari menari, melipat, tambal ban, pembuatan telur asin, dan drumband. Namun dari keterampilan yang ada seolah mati suri, karena banyak faktor yang mempengaruhi terhentinya keterampilan yang ada. Mulai dari faktor intern dan ektern. Faktor intern Karena masalah dana dan sarana yang kurang menunjang. Faktor ekstern itu sendiri sangat berpengaruh terhadap keterampilan yang dikembangkan di sekolahan kami.
Perhatian dari pemerintah melalui dinas pendidikan dan kebudayaan daerah setempat juga kadang masih memandang sebelah mata, tidak sedikit kasus dimana seharusnya SLB sebagai salah satu bagian dari lembaga pendidikan juga ikut diperhatikan, namun yang terjadi seakan tidak tertangani dengan baik. Pada tahun 2014 perubahan tatanan penanganan yang tadinya ditangani oleh daerah kini aset baik berupa sarana prasarana dan tenaga pendidik kependidikan ditarik ke provinsi masing-masing, berdampingan dengan gencaran tentang kurikulum 2013 atau lebih dikenal dengan kurtilas. Sosialisasi dan peltihan terus bergulir dari tingkat bakor, provinsi hingga tingkat pusat.
Perubahan kurikulum dan penerapan pembelajaran yang masih terus mengalami perbaikan. Perubahan kurikulum itu membawa dampak dua arah, yaitu lebih adanya pemilahan mata pelajaran, penyesusaian dengan tema dan pembenahan tentang alokasi waktu pembelaran. Mata pelajaran vokasi atau keterampilan kemandirian lebih memiliki waktu tersendiri. Bukan
hanya itu saja perubahan tatanan kurtilas sudah mulai memilah dengan adanya KI KD tersendiri.
Dari perubahan itu mata pelajaran keterampilan pilihan mulai berjalan, dengan penyesuaian dari potensi daerah dan guru pengampu mata pelajaran keterampilan. Di SLB negeri Batang mulai merintis keterampilan tentang tata busana, tata boga, dan membatik. Namun lagi-lagi kendala yang dihadapi hamper tidak berubah, sarana penunjang seakan momok utama yang menjadi motor penggerak berjalannya keterampilan yang berjalan. Kucuran dana yang ada kadang teralihkan dengan hal-hal yang lain.
Pada tahun 2017 bulan Mei kemarin seakan memberi angin segar bagi pendidik mata pelajaran keterampilan, pada tanggal 12-20 Mei kami para guru mata pelajaran keterampilan dari lima cabang keterampilan yaitu las, tik, merangkai bunga, aksesoris, dan membatik dari seluruh provinsi se Indonesia sejumlah 60 orang, mendapatkan pembelajaran dan wacana baru tentang keterampilan. Bertempat di hotel Sahid Jogjakarta workshop tentang kecakapan hidup tanggal 12-15, dan dilanjutkan magang 16-20 pada tempat keterampilan masing-masing cabang keterampilan.
Kendala yang dihadapi para pendidik saat mengikuti workshop di hotel hampir tidak ada, hanya segelumit kendala yang dirasa masih dapat ditepis. Kendala yang dihadapi pada saat magang merujuk pada teknik pembelajarannya saja, karena dari setiap kelompok keterampilan banyak sekali yang memang baru kali pertama melakukannya. Di tempat magang kami dibimbing oleh para tutor yang sudah ahli di bidangnya, jadi kami merasa nyaman pada pelatihan keterampilan yang kami jalani. Pulang dari tempat pelatihan berbekal dari pengetahuan yang didapatkan pada saat magang mulai mensosialisasikan hasil kepada pihak
Kendala muncul lagi setelah sampai pada sekolahan, karena waktu berbarengan dengan persiapan pembuatan soal untuk ujian semester 2, dan belum lagi mengerjakan raport. Namun karena semangat untuk perubahan tentang keterampilan yang nantinya sasaran utamanya adalah kemandirian dari para peserta didik walaupun menemui banyak kendala namun bersi keras bagaimana mimpi itu dapat tercapai. Kendala pokok permasalahan yang dihadapi pada SLB negeri Batang dan mungkin hampir sama dengan SLB lainnya yaitu tentang sarana prasarana dan perhatian dari induk kami dinas pendidikan dan kebudayaan.
Selain dari sarana prasarana, kendala yang saya hadapi di SLB Negeri Batang adalah terkadang pihak sekolah sendiri masih kurang perhatian, mungkin karena dana yang masih kurang padahal kebutuhan untuk keperluan sekolahan tidak hanya pada keterampilan saja. kerjasama pada pihak perusahan batik di daerah kota Batang baru kami ajukan, karena terbenturnya kegiatan selama bulan Juni. Nanti setelah mulai aktivitas akan kami tindak lanjuti kearah kerjasama dengan pihak pembuatan batik di kota Batang.
Pada dasarnya keterampilan membatik bagi anak berkebutuhan khusus merupakan suatu tantangan tersendiri, mengingat keterbatasan teknis dan bagaimana mengaplikasikan. secara teoritis masih bisa disampaikan, namun dalam prakteknya kendala banyak terjadi. Namun yang namanya mengejar mimpi sayapun tidak putus asa dan harus bisa memberikan yeng terbaik bagi negeri ini melalui kemampuan anak didik kami.
Saya juga baru mengajukan anggaran agar terfasilitasi tentang sarana dan prasarana untuk kegiatan membatik. agar nantinya pembelajaran keterampilan membatik dapat dicapai secara maksimal. Barometer keberhasilan keterampilan pada anak berkebutuhan khusus memang tidak selancar pada anak normal di
sekolahan yang lainnya. namun terus ku gali dan ku pupuk rasa semangat agar pada nantinya tercapai hal yang memuaskan bagi anak didik kami. sehingga harapan kemandirian anak berkebutuhan khusus pasca lulus dari SLB dapat diterima di kalangan masyarakat umum. Karena para anak didik pada jajaran SLB juga berhak mendapat perlakuan yang sama, jangan dipandang sebelah mata walau mereka memang berkebutuhan khusus.
Demikian yang saya tulis lewat cerita ini. Mudah-mudahan apa yang menjadi kendala pada bidang keterampilan kemandirian siswa SLB dapat terkikis sedikit demi sedikit. mimpi ku untuk anak berkebutuhan khusus agar kelak kedepannya dapat tertangani dengan baik. Pengembangan dan kegiatan workshop dan magang untuk bisa lanjut baik di bidang keterampilan ataupun pada bidang lainya. sehingga para pendidik dapat memiliki bekal yang cukup dalam memberikan pelayanan pada anak didik kami.
Wahai para atasan kami, tengoklah kami dan sisihkan lengan baju demi kita In donesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Dari yang termaju hingga yang terpencil pada daerah pedalaman di Indonesia tercinta ini. Kita satu nusa satu bangsa, satu bahasa persatuan bahasa Indonesia.
Semoga kedepannya akan lebih baik dan terus maju pendidikan Indonesia. Baik dalam bidang pendidikan formal ataupun pada bidang yang lainnya. Demi kemajuan keterampilan yang ada pada sekolahan khususnya di SLB kepada para atasan yang menangani bidang khusus agar dapat memberikan pelayanan, bimbingan dan arahan kepada para pendidik, serta pada kepala sekolah sehingga memiliki pengetahuan yang baik.
MERAJUT MIMPI
Gunanto,S.Pd. - SLB/B-C Kasih Bunda Jakarta Barat
Hidup sering diibaratkan sebagai sebuah perjalanan. Dan sebuah perjalanan pastinya harus memiliki tujuan. Sebab jika tidak kita hanya akan berjalan tak tentu arah, berputar-putar dalam kebingungan, buang waktu dan pada akhirnya semua sia-sia. Sebuah tujuan, dapat diterjemahkan sebagai sebuah kondisi dimana harapan dan impian kita menjadi nyata.
Harapan, impian, cita-cita dan semacamnya adalah unsur yang harus ada dalam diri manusia. Tanpa mimpi dan harapan, seseorang akan menjadi lebih lemah, tidak fokus, tak bergairah, semua terasa hambar, biasa saja. Tetapi
dengan harapan, semua terlihat lebih berwarna,
bersemangat, kesulitan menjadi tantangan dan kegagalan menjadi ujian. Terlebih lagi pada usia muda, perlu dilakukan langkah-langkah ekstra untuk membangkitkan gambaran positif tentang cita-cita, harapan dan mimpi-mimpi dalam hidup mereka. Semakin dia tergambarkan secara detail,
semakin bagus. Semakin mudah untuk menyusun rencana dan melakukan usaha-usaha untuk mencapai dan mewujudkan gambaran tersebut.
Membangun mimpi dan harapan anak-anak memang penting. Namun jika hanya berhenti sampai disini malah akan jadi boomerang. Hal terakhir yang kita inginkan adalah anak didik kita menjadi seorang penghayal tanpa usaha untuk mewujudkan hayalannya itu. Karena itu membangun mimpi harus disertai dengan proses berikutnya, yaitu mewujudkan mimpi.
Salah satu metode mewujudkan mimpi adalah dengan menjadikan mimpi dan harapan tersebut sebagai inspirasi dalam setiap hal yang kita lakukan sehari-hari, se-sepele dan se-sederhana apapun. Sehingga setiap kegiatan kita akan semakin memperkuat anak tangga menuju mimpi kita. Mempersiapkan setiap bagian tubuh kita untuk sanggup menangkap mimpi itu ketika dia datang. Mengumpulkan berbagai informasi dan pengetahuan yang kita butuhkan untuk menjawab ujian dan tantangan yang menghadang. Sehingga tak ada waktu luang terbuang sia-sia, dan tak ada fokus yang teralihkan, semua tercurah pada suatu titik, pencapaian sebuah impian.
Dari itu mari membangun mimpi dan harapan yang baik dan manfaat, dengan landasan iman dan ketulusan hati untuk mengabdi pada fitrah-Nya. Kemudian jadikan harapan tersebut inspirasi dalam setiap amal ibadah kepada Allah SWT, dalam setiap waktu dan kegiatan kita, sehingga Allah SWT meridhoi dan mewujudkannya demi kebaikan diri kita
dan seluruh ummat. terus perbaharui mimpi-mimpi yang terwujud dengan mimpi yang lebih besar lagi dan lebih mendatangkan manfaat. Hingga nantinya manfaat dan kebaikan yang kita tuai dari mimpi dan harapan kita menjadi pembuka pintu mimpi pamungkas kita yaitu surga Allah SWT.
Sedari kecil saya memiliki tujuan dari harapan yang tertanam dari orang tua yang tidak tercapai pada mereka, maka saya ingin mewujudkan mimpi dan harapan itu untuk menjadi seorang Guru. Setelah banyak melewati berbagai tantangan dan ujian akhirnya pada bulan juli tahun 2013 saya mendapat kepercayaan dari salah satu intansi yang bergerak di bidang pendidikan di Jakarta Barat.
Mengingat domisili saya di palembang maka saya harus berfikir keras untuk menemukan cara yang efisien dan efektif untuk mengurus surat pindah domisili dari Palembang sumatera selatan ke DKI Jakarta. Dengan izin Allah SWT akhirnya saya menjadi warga Jakarta dan mengajar di SLB/B-C Kasih Bunda Jakarta Barat.
Dengan kompetensi yang saya miliki pada saat itu tidaklah cukup untuk menjadi seorang Guru yang satandar yang harus S1, karena lulusan SMK Seni Rupa haruslah melanjutkan untuk kuliah. Singkat cerita saya kuliah di salah satu Universitas Terbuka dibilangan Jakarta Timur dengan jadwal masuk sore dan pulang malam.
Pagi mengajar sampai pukul 15.00 WIB, kemudian bergegas kuliah sampai malam, pemandangan inilah yang terjadi setiap harinya sampai pada tahun 2016 kuliah saya
Dengan mengajar saya juga belajar dalam melayani anak didik berkebutuhan khusus ini. Tidaklah ringan apa yang saya dapati dan dijalankan tiap harinya, namun saya akan berusaha menjadi seorang Guru yang baik untuk anak didik saya dan tentunya rasa syukur yang membuat semua kerjaan dan tugas yang saya janali menjadi kebahagiaan tersendiri yang tiada ternilai. Pada saat melihat tawa dan canda anak didik dikelas itu merupakan suatu moment yang indah dalam hidup saya.
Empat tahun menlani anak didik dalam berkarya merupakan suatu anugerah, namun dalam perjalanan singkat ini banyak yang saya renungkan yang harus juga dirasakan oleh banyak orang, salah satunya adalah rasa percaya dan menghargai karya anak berkebutuhan khusus. Karena tidaklah sedikit orang menaruh ketidak percayaan atas kemampuan dan hasil karya anak berkebutuhan khusus ini. Memang dalam menjalani kehidupan dalam masyarakat dan bersosialisasi membutuhkan prilaku khusus yang artinya masyarakat haruslah tahu batas kemampuan anak berkebutuhan khusus ini. Sehingga merekapun dapat diterma dilingkungannya.
Menjadikan anak berkebutuhan khusus ini dapat mandiri dan mampu bekerja merupakan tanggung jawab kita bersama baik pihak sekolah, orang tua, sanak saudara, lingkungan masyarakat dan negara. Melihat kemampuan terbatas yang dimiliki anak berkebutuhan khusus ini merupakan sebuah dilema beser bagi guru dan orang tua murid, timbullah pertanyaan yang begitu menggugah
hiduhati, “ bagaimana anak ini menjalani hidup, jika ayah dan ibu meraka sudah dipanggil “.
Memberi bekal pengetahuan dan keterampilan merupakan salah satu solusi yang dapat kami berikan, agar anak didik dapat memiliki suatu keahlian/ keterampilan yang akan menjadi bekal dalam hidup. Dengan harapan dapat menciptakan pekerjaan ataupun dapat bekerja di suatu perusahaan.
Dengan program direktorat pendidikan khusus dan layanan khusus yang memberi bekal keterampilan kepada guru pendidikan khusus, merupakan suatu program yang sangat saya apresiasi dan harapan saya program ini dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan ataupun membentuk suatu wadah untuk anak didik dalam berkarya dan juga menjadi suatu wadah yang menampung karya anak yang dapat bernilai ekonami. Karena kendala di lapangan adalah di bidang pemasaran karena karya anak berkebutuhan khusus ini masih jauh tertinggal dengan produk dari pabrikan. Intinya perlu campur tangan pemerintahan dan istansi yang terkait untuk ikut serta dalam mempromosikan karya anak berkebutuhan khusus ini, agar dapat dikelola, dikenal dan diterima oleh masyarakat luas.
Apa yang saya tuliskan ini merupakan merupakan pengalaman yang saya alami dan saya rasakan, dan yang saya resahkan dimana kita mengharapkan anak berkebutuhan khusus dapat mandiri dan berkarya namun apa jadinya jika masyarakat kurang/ tidak dapat memberikan kesempatan
atau peluang kepada mereka, dan juga meremehkan hasil karya dari anak berkebutuhan.
Terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepda saya dalam mengikuti kegiatan yang telah dilaksnakan pihak direktorat pendidikan khusus dan layanan khusus atas nama pribadi dan mewakili instansi saya ucapkan banyak terima kasih.