4.2 Implikasi dari Asumsi Harga Melekat
4.2.4 Model Harga-Harga Melekat dan Keseimbangan
cenderung ‘mengubah’ asumsi dari harga-harga melekat terhadap model yang dikembangkan dalam Bab 3.
Pada tahun-tahun terakhir ini, beberapa ahli ekonomi telah mengembangkan model-model yang membuat harga tersebut tertempel dan menjadikan pasar berusaha menghapuskan titik kesalahan-kesalahan analisis mereka. Dalam model-model ini, beberapa perhatian telah difokuskan pada interaksi antara pasar-pasar yang gagal. Dalam usaha menghapus mekanismenya, tindakan agen mana yang dikoordinasikan, manakala terjadi harga melekat. Model-model ekonomi makro yang baru dengan membandingkan suatu jumlah, dikembangkan oleh Solow dan Stiglitz (1968), Barro dan Grossman (1971) dan Malinvaud (1977). Pada hal bagi yang mengikuti ide-ide pokok model-model ini, yang akan didiskusikan secara umum termasuk implikasi-implikasi dari perkiraan-perkiraan yang mengikutinya agar menjadi rasional, sudah sangat jelas dipaparkan. Di dalam buku ini, kita tidak dapat menjelaskan model-model untuk beberapa ukuran. Pembaca yang tertarik, silahkan membaca Muellbauer dan Portes (1978).
Kontribusi utama dari model-model ini, telah difokuskan pada ‘penuangan’ dampak-dampak yang dihasilkan dari kesalahan-kesalahan pasar agar menjadi jelas. Jika sebuah pasar gagal untuk membersihkannya,
file arsip milik
PENERBIT ANDI
ini akan menimbulkan reaksi pada pasar-pasar lainnya, dan sebagai gantinya akan mempengaruhi ketidakseimbangan pasar. Dampak dari ‘penuangan’ ini membutuhkan analisis ‘keseimbangan umum’, yang mana salah satu dari interaksi di antara seluruh pasar telah dipertimbangkan.
Sebagai sebuah ilustrasi dari dampak ‘penuangan’, bayangkanlah suatu perekonomian dengan hanya dua pasar, sebuah pasar tenaga kerja dan pasar penjual barang. Para ibu rumah tangga menawarkan tenaga kerja dan membutuhkan barang. Perusahaan menawarkan barang dan membutuhkan tenaga kerja. Karena upah dan harga tetap, kedua pasar tersebut gagal membersihkannya. Di bagian awal, telah diasumsikan, bahwa tidak ada kelebihan permintaan di kedua pasar tersebut. Sekali lagi ditegaskan, bahwa kesalahan terletak pada kedua pasar. Untuk menjelaskannya, membutuhkan aturan jumlah. Kita seharusnya mengasumsikan, bahwa output ditentukan oleh permintaan dan penawaran minimum. Jadi, kelebihan permintaan di kedua pasar itu, menyebabkan jumlah yang diperdagangkan akan ditentukan oleh permintaan. Pada pasar tenaga kerja, pekerjaan ditentukan oleh permintaan tenaga kerja. Pada pasar yang mejual barang, output diukur oleh permintaan untuk barang-barang oleh para ibu rumah tangga.
Kelebihan penawaran tenaga kerja berarti para ibu rumah tangga dirasiokan dalam pasar tenaga kerja. Mereka tidak dapat menjual jumlah jasa tenaga kerja sesuai dengan upah dan harga berlaku yang mereka harapkan. Hal ini berarti, beberapa pekerja tidak dipekerjakan atau seluruh pekerja kekurangan pekerjaan atau kombinasi dari keduanya. Hal ini nyata
file arsip milik
PENERBIT ANDI
BAB 4--Kritik Terhadap Harga Fleksibel
103
bahwa tidak ada pekerjaan atau kurangnya pekerjaan akan mengurangi pendapatan para ibu rumah tangga, dan ibu rumah tangga berusaha mendesak agar harga barang yang diperlukan itu turun. Dengan menggunakan model Keynes, maka permintaan efektif terhadap barang sesuai dengan apa yang dipilih oleh para ibu rumah tangga.Dampak-dampak dari perbandingan tersebut terdapat dalam pasar yang menjual barang. Di sini kelebihan penawaran terhadap barang berarti output ditentukan oleh permintaan, sedangkan perusahaan tidak dapat menjual jumlah output yang diinginkan. Perusahaan-perusahaan yang menjual barang dalam pasar dapat dibandingkan. Karenanya, (dan mengasumsikan untuk penyederhanaan dimana perusahaan-perusahaan tidak membawa inventaris), mereka hanya akan meminta tenaga kerja secukupnya untuk menghasilkan output yang dapat mereka jual. Untuk beberapa input tenaga kerja tambahan, juga akan tidak terpakai atau yang lainnya akan menghasilkan output yang akan tidak terjual. Hal ini hanya menguntungkan perusahaan yang minta tenaga kerja yang cukup untuk memenuhi permintaan output. Permintaan tenaga kerja dipaksa oleh keadaan nyata bahwa perusahaan dirasiokan dengan pasar yang menjual barang. Dalam hal ini suatu rasio dalam pasar yang menjual barang dituangkan ke dalam pasar tenaga kerja dengan mendesakkan permintaan untuk tenaga kerja.
Pembatasan penawaran perusahaan dalam pasar yang menjual barang akan menjadi buruk, karena desakan permintaan barang (oleh para ibu rumah tangga yang membatasi penawaran dalam pasar tenaga
file arsip milik
PENERBIT ANDI
kerja). Sebaliknya, permintaan tenaga kerja juga akan didesakkan untuk membatasi penawaran ibu rumah tangga dalam pasar tenaga kerja. Sangatlah bijaksana untuk bertanya, apa yang harus dilakuan oleh kedua agen tersebut supaya bisa sama-sama tetap. Untuk menyamakan permintaan yang didesakkan terhadap barang, maka penawaran perusahaan hasus membatasi desakan dari permintaan tenaga kerja dalam rangka memberi kenaikan pada permintaan awal terhadap barang-barang. Ciri-ciri suatu ‘keseimbangan jumlah yang dipaksakan’ telah didiskusikan di atas. Pendamping kelebihan penawaran terhadap tenaga kerja dan barang diasumsikan sebagai suatu keseimbangan jumlah ‘Keynesian’ yang dipaksakan. Berdasarkan pada nilai-nilai yang tepat, diasumsikan untuk tingkat upah dan harga ‘yang diperbaiki’. Sistem pemerintahan pembersihan nonpasar lainnya adalah:
(1) Keunggulan: kelebihan penawaran tenaga kerja; kelebihan permintaan barang.
(2) Infl asi yang ditekankan kembali: kelebihan permintaan tenaga kerja dan barang.
(3) Pengurangan konsumsi: kelebihan permintaan tenaga kerja; dan kelebihan penawaran terhadap barang.
Signifikansi dari sistem pemerintahan untuk kebijaksanaan ekonomi ini, telah dijelajahi di dalam sejumlah tulisan, khususnya dalam Muellbauer dan Portes (1978) dan Malinvaud (1977). Di dalam model-model ini dan model-model lainnya, para ibu rumah tangga hemat berkonsumsi untuk masa datang (dengan mengakumulasi keseimbangan uang) dan perusahaan mengakumulasi inventoris untuk penjualan yang akan
file arsip milik
PENERBIT ANDI
BAB 4--Kritik Terhadap Harga Fleksibel
105
datang. Karenanya, perkiraan-perkiraan terhadap kegiatan yang akan datang memiliki dampak yang penting pada saat sekarang ini. Contohnya, jika para ibu rumah tangga mengharapkan pembatasan penawaran dalam pasar yang menjual barang di masa yang akan datang, ada sedikit alasan untuk menghemat pendapatan yang ada dan penawaran tetap terhadap barang akan meningkat. Jika perusahaan mengharapkan pembatasan penawaran di masa yang akan datang dalam pasar yang menjual barang. Hal ini lebih meningkatkan penjualannya daripada menghasilkan inventaris. Tentu di sini tidak ada alasan, mengapa perkiraan terhadap pembatasan penawaran untuk masa akan datang tidak harus menjadi rasional (seperti informasi terbaru yang termasuk model ekonomi mengenai perbandingan yang mengikat). Oleh karena itu, Neary dan Stiglitz (1983) mengenalkan ide-ide dari ‘perkiraan rasional terikat’ ke dalam model yang dikarakterisasikan dengan perbandingan keseimbangan dan keseimbangan yang terikat.Analisis dari model-model di bawah perkiraan-perkiraan rasional adalah terlalu rumit untuk didiskusikan dengan panjang lebar di sini. Akan tetapi, implikasi utama dari model Neary dan Stidlitz akan sangat lebih baik jika diringkas. Ketika jumlah keseimbangan Keynes yang terikat muncul dalam periode terakhir (seperti kelebihan penawaran terhadap tenaga kerja dan barang), maka dampak pengalian pengeluaran pemerintah di bawah perkiraan-perkiraan rasional (apakah pengeluaran tersebut diantisipasi ataupun sebaliknya) menjadi lebih besar daripada di bawah perkiraan-perkiraan ‘statis’ (tidak rasional). Sama halnya dengan suatu peningkatan penawaran uang
file arsip milik
PENERBIT ANDI
yang akan berdampak pada output yang sesungguhnya. Apakah hal ini akan diantisipasi ataukah sebaliknya. Tunjangan dari dampak-dampak kelebihan di antara pasar tidak mengubah implikasi kebijkasanaan yang didiskusikan pada model-model yang lebih sederhana. Di awal bab ini, kebijaksanaan yang diantisipasi (baik moneter ataupun fiskal) dapat digunakan untuk ‘menstabilkan’ output. Selain itu, peningkatan pengalian pengeluaran membuat Neary dan Stiglitz berargumen, bahwa pengenalan perkiraan rasional ke dalam model-model ‘kuantitas tetap’, sebenarnya mempertinggi keefektivitasan kebijaksanaan pemerintah.