pemerintah Kota Tangsel untuk melakukan langkah konkret dalam meningkatkan kompetensi guru. Langkah pertama yang dilakukan Dinas Pendidikan (Dindik) Tangsel pada tahun 2016 menyusun Pedoman Pengelolaan Gugus. Pedoman ini dimaksudkan untuk memaksimalkan peran dan fungsi strategis gugus sebagai wadah pengembangan keprofesian guru dan tenaga kependidikan atau guru pembelajar.
Bapak Drs Didi Sutisna, Kabid PTK Dindik Tangerang Selatan
mengatakan gugus menjadi ujung tombak pening-katan kompetensi guru dan proses PKB/guru pembelajar dimungkinkan lebih efektif dan efisien dilaksanakan dalam kelompok belajar atau KKG, selain yang dilaksanakan di luar lingkungan sekolah oleh P4TK, LPMP, Dinas Pendidikan, LPTK, dan penyedia jasa lainnya.
Strategi Implementasi Kebijakan
Optimalisasi pengelolaan gugus di Kota Tangerang Selatan didasarkan pada kebutuhan peningkatan kapasitas guru dalam pembelajaran. Bertumbuhnya sekolah swasta bermutu di sekitar Tangsel perlu
diimbangi dengan kreativitas guru dari sekolah milik pemerintah untuk membuat pembelajaran semakin menarik.
Bapak Didi berpendapat hasil evaluasi dari kunjungan ke beberapa sekolah menunjukkan guru-guru perlu merancang skenario pembelajaran yang singkat dan melibatkan interaksi siswa. “Selama ini RPP tidak banyak dilak-sanakan oleh para guru karena terlalu lama. Padahal skenario pem-belajaran yang menarik memerlukan kreativitas guru,” katanya.
Kreativitas guru yang dimaksud adalah ketersediaan media
pembelajaran atau alat bantu belajar di kelas. Di gugus, para guru dapat bekerja sama berbagi media pembelajaran atau merancang bersama alat bantu belajar. Gugus bisa menjadi 'bengkel guru' agar pengelolaannya lebih optimal dibandingkan sebelumnya.
“Sebenarnya gugus sudah ada sejak lama di setiap kecamatan untuk pusat kegiatan guru, namun pengelolaannya belum maksimal. Oleh karena itu, melalui pedoman pengelolaan gugus ini diharapkan gugus dapat berfungsi secara efektif untuk mengembangkan KKG dan KKKS. Saya menyebutnya 'Bengkel
KBM' untuk tujuan tersebut,” tambahnya.
Langkah-langkah implementasi terinci sebagai berikut: 1. Melakukan restrukturisasi
pengurus organisasi gugus. 2. Menerbitkan SK untuk pengurus
gugus.
3. Melaksanakan FGD untuk menyusun konsep pengelolaan gugus.
4. Menyusun pedoman gugus bersama tim (bidang PTK, bidang Dikdas, serta perwakilan
pengurus gugus).
5. Mensosialisasikan pedoman gugus yang telah tersusun.
Pedoman gugus ini secara detail ber-isi dan mengatur tentang (i) dasar dan tujuan, (ii) pembentukan gugus dan organisasinya, (iiI) hubungan gugus dengan sistem pembinaan pro-fesional, dan (iv) mekanisme kerja gugus. Dalam pembinaan profesional gugus diarahkan untuk mengembang-kan komponen kegiatan belajar mengajar, manajemen, sarana belajar, fisik, dan partisipasi masyarakat yang bertahap dan terstruktur baik pela-tihan maupun materi pelapela-tihannya. Implementasi diawali dengan melakukan sosialisasi oleh Dinas Pendidikan pada akhir Agustus 2016 Dinas Pendidikan Tangsel pada tahun 2016 menyusun Pedoman Pengelolaan Gugus
untuk memaksimalkan peran dan fungsi strategis gugus sebagai wadah pengembangan keprofesian guru dan tenaga kependidikan.
Data dan Kebijakan
Pasca UKG tahun 2015 yang diikuti oleh 10.844 guru, Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan mulai meng-ambil langkah untuk menyusun stra-tegi peningkatan kompetensi guru. Salah satu langkah yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kota Tange-rang Selatan (Tangsel) melalui bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) adalah melakukan analisis hasil UKG untuk menentukan pengelompokan guru berdasarkan kebutuhan pelatihannya. Kemudian disinergikan dengan hasil fasilitasi dan pendampingan penyusunan perencanaan PKB guru yang dilaksanakan bekerja sama dengan USAID PRIORITAS.
Pedoman Pengelolaan Gugus Berdasarkan data rerata uji kompetensi guru tahun 2015 untuk kompetensi profesional dan
pedagogik menunjukkan bahwa Kota Tangerang Selatan memiliki nilai 61,94 yang terlihat lebih tinggi dibandingkan nilai rerata nasional 56,69.
Meski nilai UKG di Tangsel masih lebih baik dibandingkan nilai rerata nasional dan provinsi, tetapi masih banyak guru yang nilai beberapa sub kompentesi pedagogiknya masih rendah. Hal ini menjadi perhatian
Kota Tangerang Selatan, Banten
Optimalkan Peran Gugus
untuk Profesionalisme Guru
pemerintah Kota Tangsel untuk melakukan langkah konkret dalam meningkatkan kompetensi guru. Langkah pertama yang dilakukan Dinas Pendidikan (Dindik) Tangsel pada tahun 2016 menyusun Pedoman Pengelolaan Gugus. Pedoman ini dimaksudkan untuk memaksimalkan peran dan fungsi strategis gugus sebagai wadah pengembangan keprofesian guru dan tenaga kependidikan atau guru pembelajar.
Bapak Drs Didi Sutisna, Kabid PTK Dindik Tangerang Selatan
mengatakan gugus menjadi ujung tombak pening-katan kompetensi guru dan proses PKB/guru pembelajar dimungkinkan lebih efektif dan efisien dilaksanakan dalam kelompok belajar atau KKG, selain yang dilaksanakan di luar lingkungan sekolah oleh P4TK, LPMP, Dinas Pendidikan, LPTK, dan penyedia jasa lainnya.
Strategi Implementasi Kebijakan
Optimalisasi pengelolaan gugus di Kota Tangerang Selatan didasarkan pada kebutuhan peningkatan kapasitas guru dalam pembelajaran. Bertumbuhnya sekolah swasta bermutu di sekitar Tangsel perlu
diimbangi dengan kreativitas guru dari sekolah milik pemerintah untuk membuat pembelajaran semakin menarik.
Bapak Didi berpendapat hasil evaluasi dari kunjungan ke beberapa sekolah menunjukkan guru-guru perlu merancang skenario pembelajaran yang singkat dan melibatkan interaksi siswa. “Selama ini RPP tidak banyak dilak-sanakan oleh para guru karena terlalu lama. Padahal skenario pem-belajaran yang menarik memerlukan kreativitas guru,” katanya.
Kreativitas guru yang dimaksud adalah ketersediaan media
pembelajaran atau alat bantu belajar di kelas. Di gugus, para guru dapat bekerja sama berbagi media pembelajaran atau merancang bersama alat bantu belajar. Gugus bisa menjadi 'bengkel guru' agar pengelolaannya lebih optimal dibandingkan sebelumnya.
“Sebenarnya gugus sudah ada sejak lama di setiap kecamatan untuk pusat kegiatan guru, namun pengelolaannya belum maksimal. Oleh karena itu, melalui pedoman pengelolaan gugus ini diharapkan gugus dapat berfungsi secara efektif untuk mengembangkan KKG dan KKKS. Saya menyebutnya 'Bengkel
KBM' untuk tujuan tersebut,” tambahnya.
Langkah-langkah implementasi terinci sebagai berikut: 1. Melakukan restrukturisasi
pengurus organisasi gugus. 2. Menerbitkan SK untuk pengurus
gugus.
3. Melaksanakan FGD untuk menyusun konsep pengelolaan gugus.
4. Menyusun pedoman gugus bersama tim (bidang PTK, bidang Dikdas, serta perwakilan
pengurus gugus).
5. Mensosialisasikan pedoman gugus yang telah tersusun.
Pedoman gugus ini secara detail ber-isi dan mengatur tentang (i) dasar dan tujuan, (ii) pembentukan gugus dan organisasinya, (iiI) hubungan gugus dengan sistem pembinaan pro-fesional, dan (iv) mekanisme kerja gugus. Dalam pembinaan profesional gugus diarahkan untuk mengembang-kan komponen kegiatan belajar mengajar, manajemen, sarana belajar, fisik, dan partisipasi masyarakat yang bertahap dan terstruktur baik pela-tihan maupun materi pelapela-tihannya. Implementasi diawali dengan melakukan sosialisasi oleh Dinas Pendidikan pada akhir Agustus 2016 Dinas Pendidikan Tangsel pada tahun 2016 menyusun Pedoman Pengelolaan Gugus
untuk memaksimalkan peran dan fungsi strategis gugus sebagai wadah pengembangan keprofesian guru dan tenaga kependidikan.
Data dan Kebijakan
Pasca UKG tahun 2015 yang diikuti oleh 10.844 guru, Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan mulai meng-ambil langkah untuk menyusun stra-tegi peningkatan kompetensi guru. Salah satu langkah yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kota Tange-rang Selatan (Tangsel) melalui bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) adalah melakukan analisis hasil UKG untuk menentukan pengelompokan guru berdasarkan kebutuhan pelatihannya. Kemudian disinergikan dengan hasil fasilitasi dan pendampingan penyusunan perencanaan PKB guru yang dilaksanakan bekerja sama dengan USAID PRIORITAS.
Pedoman Pengelolaan Gugus Berdasarkan data rerata uji kompetensi guru tahun 2015 untuk kompetensi profesional dan
pedagogik menunjukkan bahwa Kota Tangerang Selatan memiliki nilai 61,94 yang terlihat lebih tinggi dibandingkan nilai rerata nasional 56,69.
Meski nilai UKG di Tangsel masih lebih baik dibandingkan nilai rerata nasional dan provinsi, tetapi masih banyak guru yang nilai beberapa sub kompentesi pedagogiknya masih rendah. Hal ini menjadi perhatian
kepada 24 gugus yang ada di Kota Tangerang Selatan yang masing-masing beranggotakan sedikitnya 8-10 sekolah. Perwakilan 25 gugus kemudian melakukan restrukturisasi yang meliputi kepengurusan, program kegiatan dan anggaran. Untuk menunjang berjalannya KKG, Dinas Pendidikan menyiapkan pro-gram dan anggaran yang dimasukkan dalam Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pendidikan tahun 2016-2021 untuk mendukung anggaran KKG yang bersumber dari BOS dan BOSDA yang ada di sekolah. Penge-lolaan dana ini diserahkan sepenuh-nya kepada pengurus gugus untuk memberdayakan gugus dan mengop-timalkan kebutuhan kinerja guru. Bapak Yahya Sutaemi SPd MSi, Kasie Dikdas Dindik Tangerang Selatan menyatakan bahwa gugus menjadi wadah strategis untuk membina
guru. “Setiap gugus dibina oleh pengawas sehingga akan lebih strategis bilamana gugus diberda-yakan. Guru bisa berbagi pengala-man dan kapasitasnya satu sama lain dalam satu gugus atau antar gugus,” katanya.
Adanya kepengurusan gugus membantu Dindik dalam meningkat-kan mutu pendidimeningkat-kan. Bapak Yahya berharap pedoman pengelolaan gugus akan membantu kinerja pengawas sekolah lebih fokus lagi. “Selama ini pengawas sekolah masih belum komunikatif sebagai jembatan Dindik dengan sekolah. Selain itu, kinerja pengawas untuk mengawasi pembelajaran dan manajemen sekolah terdampingi juga dirasa belum optimal. Melalui pengelolaan gugus ini, ke depan pengawas sekolah dapat lebih optimal dalam melakukan fungsinya,” tambahnya.
Dampak Kebijakan
Restrukturisasi fungsi gugus juga dirasakan oleh Ibu Siti Khodijah SPd, Kepala SDN Pondok Jagung 5. Ia mengatakan kepengurusan gugus yang baru tentu mengubah fungsi gugus yang selama ini sebagai pusat kegiatan guru menjadi pusat sumber belajar guru.
“Dari dulu memang sudah ada gugus. Bedanya dulu gugus hanya sebagai pusat kegiatan, tetapi sekarang gugus menjadi pusat sumber belajar bersama-sama dalam meningkatkan kapasitas dan kompe-tensi guru. Kita punya hak dan kewajiban yang sama untuk berbagi ilmu, baik sekolah swasta maupun negeri,” kata Ibu Siti yang berasal dari gugus 24 Kota Tangerang Selatan.
Di gugus 25 Kota Tangerang Selatan
terdapat 8 sekolah yakni SDN Jelupang 1, SDN Jelupang 2, SDN Jelupang 3, SDN Pondok Jagung 2, SDN Pondok Jagung 5, SDN Lengkong Karya, SD Swasta Effata, SD Alam Madinah. Gugus 24 ini telah menyusun program kerja sesuai dengan kebutuhan guru dan bekerjasama dalam mengembangkan kurikulum, rencana pembelajaran, praktik mengajar, pemodelan, hingga kunjungan antar sekolah. Identifikasi kebutuhan guru dapat diketahui setelah rapat bersama intra gugus. “Kami juga mendatangkan narasum-ber yang memang diperlukan guru. Pelaksanaan pelatihan dilakukan secara reguler per minggu hingga
materi selesai. Ada pula program pemodelan guru yang melibatkan guru-guru yang sudah dilatih USAID PRIORITAS. Guru-guru tersebut berbagi ilmu kepada guru lain yang tidak menjadi mitra USAID PRIORITAS,” kata Ibu Siti.
Informasi lebih lanjut hubungi:
Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan, Jl. Buana Kencana Loka Sektor 12, BSD Serpong, Kota Tangerang Selatan.
Telp: 021 75875168
Kontak Person:
Drs Didi Sutisna
(Kabid Pendidik dan Tenaga Kependidikan)
Drs Yahya Sutaemi MSi
(Kasie Bina SD Bidang Dikdas)
Para guru yang aktif di kegiatan KKG, mulai menerapkan pembelajaran aktif di sekolahnya, seperti di SDN Jelupang 2, Tangsel. Setelah terbitnya Pedoman Pengelolaan
Gugus, para guru menjadi lebih aktif mengikuti kegiatan KKG di tingkat gugus.
kepada 24 gugus yang ada di Kota Tangerang Selatan yang masing-masing beranggotakan sedikitnya 8-10 sekolah. Perwakilan 25 gugus kemudian melakukan restrukturisasi yang meliputi kepengurusan, program kegiatan dan anggaran. Untuk menunjang berjalannya KKG, Dinas Pendidikan menyiapkan pro-gram dan anggaran yang dimasukkan dalam Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pendidikan tahun 2016-2021 untuk mendukung anggaran KKG yang bersumber dari BOS dan BOSDA yang ada di sekolah. Penge-lolaan dana ini diserahkan sepenuh-nya kepada pengurus gugus untuk memberdayakan gugus dan mengop-timalkan kebutuhan kinerja guru. Bapak Yahya Sutaemi SPd MSi, Kasie Dikdas Dindik Tangerang Selatan menyatakan bahwa gugus menjadi wadah strategis untuk membina
guru. “Setiap gugus dibina oleh pengawas sehingga akan lebih strategis bilamana gugus diberda-yakan. Guru bisa berbagi pengala-man dan kapasitasnya satu sama lain dalam satu gugus atau antar gugus,” katanya.
Adanya kepengurusan gugus membantu Dindik dalam meningkat-kan mutu pendidimeningkat-kan. Bapak Yahya berharap pedoman pengelolaan gugus akan membantu kinerja pengawas sekolah lebih fokus lagi. “Selama ini pengawas sekolah masih belum komunikatif sebagai jembatan Dindik dengan sekolah. Selain itu, kinerja pengawas untuk mengawasi pembelajaran dan manajemen sekolah terdampingi juga dirasa belum optimal. Melalui pengelolaan gugus ini, ke depan pengawas sekolah dapat lebih optimal dalam melakukan fungsinya,” tambahnya.
Dampak Kebijakan
Restrukturisasi fungsi gugus juga dirasakan oleh Ibu Siti Khodijah SPd, Kepala SDN Pondok Jagung 5. Ia mengatakan kepengurusan gugus yang baru tentu mengubah fungsi gugus yang selama ini sebagai pusat kegiatan guru menjadi pusat sumber belajar guru.
“Dari dulu memang sudah ada gugus. Bedanya dulu gugus hanya sebagai pusat kegiatan, tetapi sekarang gugus menjadi pusat sumber belajar bersama-sama dalam meningkatkan kapasitas dan kompe-tensi guru. Kita punya hak dan kewajiban yang sama untuk berbagi ilmu, baik sekolah swasta maupun negeri,” kata Ibu Siti yang berasal dari gugus 24 Kota Tangerang Selatan.
Di gugus 25 Kota Tangerang Selatan
terdapat 8 sekolah yakni SDN Jelupang 1, SDN Jelupang 2, SDN Jelupang 3, SDN Pondok Jagung 2, SDN Pondok Jagung 5, SDN Lengkong Karya, SD Swasta Effata, SD Alam Madinah. Gugus 24 ini telah menyusun program kerja sesuai dengan kebutuhan guru dan bekerjasama dalam mengembangkan kurikulum, rencana pembelajaran, praktik mengajar, pemodelan, hingga kunjungan antar sekolah. Identifikasi kebutuhan guru dapat diketahui setelah rapat bersama intra gugus. “Kami juga mendatangkan narasum-ber yang memang diperlukan guru. Pelaksanaan pelatihan dilakukan secara reguler per minggu hingga
materi selesai. Ada pula program pemodelan guru yang melibatkan guru-guru yang sudah dilatih USAID PRIORITAS. Guru-guru tersebut berbagi ilmu kepada guru lain yang tidak menjadi mitra USAID PRIORITAS,” kata Ibu Siti.
Informasi lebih lanjut hubungi:
Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan, Jl. Buana Kencana Loka Sektor 12, BSD Serpong, Kota Tangerang Selatan.
Telp: 021 75875168
Kontak Person:
Drs Didi Sutisna
(Kabid Pendidik dan Tenaga Kependidikan)
Drs Yahya Sutaemi MSi
(Kasie Bina SD Bidang Dikdas)
Para guru yang aktif di kegiatan KKG, mulai menerapkan pembelajaran aktif di sekolahnya, seperti di SDN Jelupang 2, Tangsel. Setelah terbitnya Pedoman Pengelolaan
Gugus, para guru menjadi lebih aktif mengikuti kegiatan KKG di tingkat gugus.
Presentasi dalam kelompok pada pelatihan PAKEM Modul 1.
Data dan Kebijakan Butuh 52 tahun bagi Pemkab Tapanuli Selatan (Tapsel) agar bisa tuntas melatih seluruh guru, jika hanya mengandalkan APBD. Dengan metode multi sumber pembiayaan, Tapsel berhasil mempercepat peningkatan mutu guru. Meskipun sudah melakukan diseminasi pelatihan selama empat tahun, ternyata masih terlalu banyak guru yang belum dilatih.
Hasil analisis pada lokakarya PKB, ternyata baru 6% guru SD di Tapsel yang mendapatkan pelatihan modul-1 PAKEM. Padahal pelatihan yang dikembangkan USAID PRIORITAS setidaknya ada tiga modul, baik untuk PAKEM, MBS maupun CTL. Tantangan ini menumbuhkan semangat baru bagi Dinas Pendidikan Tapsel. Bapak Eddy SE, Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan Tapanuli Selatan, ingin seluruh guru SD dan SMP dilatih pelatihan ini, karena melihat hasil dari diseminasi
selama ini cukup efektif merubah cara mengajar guru agar tidak monoton. Pelatihan MBS yang dilihat juga terbukti dapat merubah cara pandang kepala sekolah agar lebih transparan dan optimal
menggunakan dananya untuk peningkatan mutu, serta tidak menafikan peran aktif semua warga sekolah.
Dalam rapat perencanaan yang
menghadirkan Kepala UPT, Kordinator Pengawas per kecamatan, KKG, MGMP, K3S dan perwakilan guru disampaikan analisis bahwa untuk melatih semua guru, tidak cukup bila ditanggung sepenuhnya dari APBD. Dalam desain PKB, setiap guru harus dilatih minimal sekali dalam setahun. Saat ini, setiap tahun Dinas Pendidikan baru bisa
menganggarkan Rp. 300 juta untuk diseminasi pelatihan guru tersebut. Padahal setelah dihitung untuk menuntaskan semua modul pelatihan tersebut untuk semua guru SD dan SMP dibutuhkan biaya Rp. 15 milyar. Kalau hanya mengandalkan APBD tersebut, perlu 52 tahun untuk menuntaskan semua modul pelatihan tersebut. Maka rencana kerja percepatan pun dibuat.