• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SMA TARUNA SURABAYA.

Dalam dokumen PROSIDING PENDIDIKAN MATEMATIKA UNIRA (Halaman 63-69)

Ahmad Irfan Alfaruqi1, Agustin Ernawati2 1,2

Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Al Hikmah Surabaya Alamat : Jalan Raya Kebonsari Elveka V Surabaya

1

Email : [email protected] Abstrak

Sudiarta (2006) menyatakan bahwa daya serap merupakan salah satu aspek untuk mengukur ketuntasan belajar siswa. Namun daya serap siswa di Indonesia masih terbilang cukup rendah, hal ini berdasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Syarif (1994) yang mengungkapkan bahwa hanya 47% daya serap siswa untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, 49% untuk Matematika, dan 47% untuk mata pelajaran IPA.Dari permasalahan tersebut peneliti merujuk pada hasil penelitian Aryanti Nuryana dan Setio Purwanto (2010) tentang Efektivias Brain Gymdan Nanda (2012) tentang Penerapan Ice Breaking pada proses pemebelajaran untuk mengetahui pengaruh Ice Breaking dalam meningkatkan daya serap pada siswa. Akan tetapi pada penelitian tersebut belum diketahui seberapa besar pengaruh penerapan

Ice Breaking pada proses pembelajaran terhadap daya serap siswa pada mata pelajaran matematika. Oleh karenanya penulis menggagas penelitian yang berjudul PENGARUH ICE BREAKING TERHADAP DAYA SERAP SISWA PADA PEMBELAJARAN

MATEMATIKA yang dilaksanakan di SMA TARUNA SURABAYA.

Kata Kunci : Pengaruh, Ice Breaking, Peningkatan, Daya Serap

Pendahuluan

Setiap pembelajaran pasti mempunyai tujuan pembelajaran, Tujuan pembelajaran merupakan suatu prilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dilaksanakan oleh siswa sesuai kompetensinya. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, berdasarkan teori Dewey(Darsono dalam Romiyadi, 2009:75)diantaranya berikut.

1. Penyajian konsep haruslah mengutamakan pengertian.

2. Pelaksanaan proses pembelajaran haruslah memperhatikan kesiapan intelektual. 3. Daya serap siswa terhadap materi yang

disampaikan.

Hal tersebut diperkuat oleh Sudiarta (2006) yang menyatakan bahwa daya serap merupakan salah satu aspek untuk mengukur ketuntasan belajar siswa. Jika merujuk pada hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Syarif (1994), maka bangsa Indonesia mempunyai kendala untuk mencapai ketuntasan belajar dikarenakan masih rendahnya daya serap siswa Indonesia terhadap beberapa mata pelajaran. Selain itu berdasarkan hasil PTK yang dilaksanakanSandrayanti (2013) sebab-sebab rendahnya hasil belajar siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa hal berikut.

1. Penggunaan pendekatan pembelajaran yang kurang sesuai.

2. Metode mengajar yang kurang bervariasi. 3. Keterampilan berpikir siswa yang kurang

maksimal.

4. Pemanfaatan lingkungan, alat peraga dan dukungan belajar yang kurang maksimal. Berdasarkan pemaparan di atas diketahui bahwa daya serap siswa dan metode mengajar yang kurang bervariasi merupakan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran. Temuan tersebut salah satunya melatarbelakangi penelitian Nuryana dan Purwanto (2010) tentang efektivitas penggunaan brain gymatau ice breaking dalam meningkatkan konsentrasi belajar anak. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa terdapat pengaruh positif penggunaan terhadap konsentrasi belajar anak. Hal tersebut juga diperkuat dengan meningkatnya hasil belajar siswa kelas X TPM Smk Negeri 7 Surabaya dari 11,42% menjadi 97,14% pada mata pelajaran keselamatan dan kesehatan kerja dengan menerapkan ice breaking pada prosesi pembelajarannya (Nanda, dkk. 2012). Akan tetapi batasan masalah pada penelitian tersebut hanya mencakup pada peningkatan konsentrasi anak dan hasil belajar pada mata pelajaran tertentu

51 saja. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk melaksanakan sebuah penelitian lanjutan untukmengembangkan hasil penelitian sebelumnya dan untuk mengetahui pengaruh Ice Breaking terhadap peningkatan daya serap siswa pada mata pelajaran matematika.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh icebreaking padadaya serap siswa dalam pembelajaran matematika, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lebih efisien. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ice breaking terhadap daya serap siswa kelas X dengan tolak ukur peningkatan nilai siswa dalam menyelesaikan soal yang diberikan setelah dilaksanakannya perlakuan kepada siswa.

Kajian Pustaka

1. Ice Breaking

Yandri (2013) dalam tulisannya di konselingindonesia.com mengungkapkan bahwa Ice Breaking secara bahasa berarti memecah es, sedangkan secara makna istilah tersebut bermaksud menghilangkan kebekuan diantara guru dan siswa atau dalam proses pembelajaran antara guru dengan siswa. Adapun beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya kebekuan antara guru dan siswa diantaranya adalah perbedaan status, usia, pengetahuan dan sebagainya. Sedangkan menurutFanani (2010) guru memerlukan aktivitas Ice Breaking dalam proses pembelajaran sesuai dengan kondisi siswa untuk mengoptimalkan otak dan kreativitas siswa. Aktivitas ini biasanya berupa permainan, humor, pencerahan, atau aktivitas lainnya yang dapat mencairkan suasana, sehingga materi yang disampaikan guru dapat diterima oleh siswa dengan baik. Berikut beberapa jenis Ice Breaking.

a. Yel-yel

Yel-yel merupakan salah satu Ice Breaking yang mempunyai tingkat pemulih paling baik, dikarenakan selain dapat meningkatkan konsentrasi, yel-yel juga berguna untuk menumbuhkan semangat siswa.

b. Tepuk Tangan

Tepuk tangan merupakan suatu ekspresi kegembiraan atau suatu apresiasi yang ditujukan kepada seseorang ketika mengalami suatu keberhasilan

tertentu.Oleh karena itu dengan melakukan tepuk tangan diharapkan perasaan siswaakan gembira dan semangat.

c. Menyanyi

Menyanyi juga merupakan salah satu ekspresi kegembiraan, selain untuk memberikan semangat, menyanyi juga dapat merilekskan otot-otot siswa yang tegang bila dikombinasikan dengan gerakan-gerakan sederhana.

d. Gerak Anggota Badan

Menggerakan anggota badan atau energizer biasanya digunakan ketika siswa terlihat letih karena bertahan dalam posisi yang sama dalam waktu yang cukup lama (duduk). SelamaIce Breaking jenis ini siswa diminta menggerakan beberapa anggota tubuh agar kondisi psikologisnya kembali segar (Nida dalam Kamaliyah, 2015).

2. Daya Serap Siswa

Kata daya dalam kamus ilmiah diartikan sebagai kemampuan, kekuatan, upaya dalam melakukan sesuatu (Albarry, 1994:94). Sedangkan pendapat lainya disampaikan olehYasyin (1997:110)bahwa “daya adalah tenaga atau kemampuan untuk melakukan suatu kegiatan, tenaga yang menyebabkan timbulnya gerak usaha, ikhtiar”. Selain itu jika ditinjau dari ilmu kejiwaan daya menyatakan merupakan suatu hal yang dimiliki manusia dan menjadi salah satu sumber kekuatan yang tersedia (Djamarah dalam Najahah, 2015:21)

Sedangkandaya serap menurut kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menyerap. Ishwahyudi (2009:16) menjelaskan bahwa daya serap dalam pembelajaran adalah kemampuan menyerap suatu konsep atau materi pelajaran yang disampaikan oleh gurukepada siswa.

Metode Penelitian 1. Rancangan Penelitian

Rancangan studi kasus bentuk tunggal merupakan salah satu rancangan dari Rancangan Pra-Eksperimen. Rancangan ini dilaksanakan tanpa adanya tes awal dan kelompok pembanding. Tujuan dari

52 rancangan ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari suatu perlakuan yang diberikan pada kelompok tanpa mengindahkan pengaruh faktor lain.

Dalam proses penelitian, Ice Breaking diberikan kepada siswaselama 5 menit disetiap jam pelajarannya. Setelah mendapatkan materi dengan perlakuan tersebut peneliti memberikan post test kepada siswa untuk mengetahui pengaruh Ice Breaking terhadap daya serap yang diukur melalui hasil post testtersebut.

Menurut Arikunto (2010:85) selama menggunakan metode tersebut peneliti akan mengadakan pengamatan langsung terhadap satu kelompok subyekyang dilaksanakan tanpa adanya kelompok pembanding, sehingga setiap sampel merupakan kelas kontrol pada dirinya sendiri. Berikut adalah desain dari penelitian studi kasus bentuk tunggal.

Tabel 1

Desain Penelitian Studi Kasus Bentuk Tunggal.

Grup Perlakuan Post test

Kelas X X 𝑌

Keterangan :

𝑋 : Perlakuan yang diberikan 𝑌 : Post test

Sugiar (2013) menyebutkan bahwa salah satu alasan digunakannya metode tersebut adalahterbatasnya jumlah siswa yang dijadikan sampel.Hal ini sesuai dengan kondisi subyek dalam penelitian ini. SMA Taruna Surabaya hanya memiliki kelas X sebanyak satu kelas, sehingga tidak memungkinkan bagi peneliti untuk menggunakan kelas lain sebagai pembanding. Pertama-tama peneliti melakukan pembelajaran secara konvensional, kemudian peneliti melaksanakan proses pembelajaran dengan memberikan perlakuan dan memberikan post test pada akhir pembelajaran. Dengan adanya post testdiharapkan dapat menunjukkan pengaruh dari perlakuan yang diberikan pada siswa. 2. Variabel

Adapun variabel bebas (Independend) yang akan mempengaruhi peningkatan daya serap siswa diantaranya adalah 1) Minat belajar siswa 2) Penyampaian materi, dan 3) Pengelolaan Kelas. Peneliti akan

menggunakan angket dengan skala 1-10 sebagai instrumen pengukur variabel-variabel tersebut.

Dipilihnya aspek-aspek tersebut sebagai variabel bebas berdasarkan pada pandangan, pengamatan dan pengalaman 67% dari 72 orang guru sebagai responden yang menyatakan bahwa peserta didik umumnya menyenangi pelajaran matematika, bergantung pada minat belajar, penyampaian materi, dan pengelolaan kelas yang dibawakan oleh guru. (Indah. 2007:899).

Adapun angket akan disajikan sebagai berikut.

Tabel 2

Angket Penilaian Proses Pembelajaran. Nama : Kelas : Hari, Tanggal : Pertemuan Minat Belajar Penyampaian Materi Pengelolaan Kelas 1

Isilah kolom tersebut dengan nilai 1-10 selama mengikuti proses pembelajaran.

Angket diberikan setelah pemberian perlakuan terhadap siswa dilaksanakan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah penggunaan Ice Breaking selama pembelajaran berkesan atau tidak terhadap siswa.

Sedangkan variabel terikat (Dependent), pada penelitian ini adalah daya serap siswa yang dipengaruhi oleh variabel stimulus

(Independent). Untuk mengetahui

peningkatan daya serap pada siswa peneliti menggunakan nilai pada post test yang diberikan kepada siswa sebagai tolak ukur. 3. Subyek Penelitian

a. Sampel

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Taruna Surabaya yang terdiri dari 6 orang siswa dan 5 orang siswi.

b. Batasan kondisi

Kondisi siswa kelas X sebelumnya telah mendapatkan pengajaran dari guru pengampu mata pelajaran secara konvensional dengan menggunakan kurikulum KTSP dan belum pernah mendapatkan metode pembelajaran dengan menyisipkan Ice Breaking di setiap proses pembelajarannya.

53 Penelitian ini dilaksanakan di SMA Taruna Jl. Kalirungkut Mejoyo I/2Surabaya dimulai dari 29 Maret hingga 31 April 2016. 4. Perlakuan

Adapun langkah-langkah dalam memberikan perlakuan terhadap siswa diantaranya sebagai berikut.

a. Setiap 1 jam pelajaran atau setara dengan 45 menit, peneliti akan menggunakan 40 menit untuk menyampaikan materi dan 5 menit untuk melakukan Ice breaking seperti senam otak, “ikuti kata-kata saya”, “dengarkan baik-baik” dan “saya berkata”.

b. Peneliti akan memberikan dan mempersilahkan siswa untuk mengunyah permen karet apabila siswa merasa bosan atau mengantuk selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini dilakukan karena mengunyah permen karet diketahui sebagai salah satu bentuk Ice Breaking jenis menggerakan anggota badan atau energizer yang paling sederhana.

5. Post test

Menurut Matondang (2009:96) untuk mendapatkan data suatu variabel diperlukanlah suatu instrumen, oleh karena itu pada rancangan penelitian ini digunakanPost test sebagai salah satu alat yang diberikan kepada siswa setelah diberikan perlakuan. Prosedur pelaksanaanya adalah dengan meminta siswa mengerjakan10 soal yang diberikan selama 30 menit. Adapun soal-soal yang digunakan sebagai post test adalah sebagai berikut.

Nama : Kelas :

Latihan Soal

Pada kubus PQRS.TUVW dengan panjang rusuk 6 cm, titik X adalah titik tengah rusuk BC. Hitunglah jarak dari :

1. Titik P ke titik X 2. Titik P ke garis QS 3. Titik V ke garis QS 4. Titik X ke garisTW 5. Titik U ke bidang PRW 6. Garis PU ke bidang RSVW 7. Garis QU ke garis TW 8. Garis QU ke garis PV 9. Bidang PRW ke bidang QVW 10. Titik P ke garis RT 6. Hipotesis

Hipotesis alternatif (Ha) berbunyi “memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyegarkan pikiran dengan melakukan Ice Breaking akan mempengaruhi peningkatan daya serap siswa.”

Hipotesis Nol (Ho) berbunyi “memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyegarkan pikiran dengan melakukan Ice Breaking tidak akan mempengaruhi peningkatan daya serap siswa.”

7. Pengolahan Data Angket

Data angketdiolah dengan langkah- langkah berikut :

a. Menghitung jumlah tiap jawaban siswa sesuai jenis pertanyaannya.

b. Menghitung frekuensi jawaban. c. Membuat tabel frekuensi.

d. Menghitung presentase frekuensi tiap jawaban soal dengan rumus

𝑃=𝑓× 10%

e. Menafsirkan hasil angket dengan acuan pada data berikut:

Tabel 3

Klasifikasi Perhitungan Tiap Kategori Interval Keterangan

Minat Belajar(𝑃1) Penyampaian Materi(𝑃2) Pengelolaan Kelas(𝑃3) 0,00% Tidak Berminat Tidak Jelas Tidak Kondusif 01,00%-20,00% Hampir Tidak Berminat Hampir Tidak Jelas Hampir Tidak

Kondusif 21,00%-40,00% Kurang Berminat Kurang Jelas Kurang Kondusif

41,00%-60,00% Berminat Jelas Kondusif

61,00%-80,00% Lebih Berminat Lebih Jelas Lebih Kondusif 81,00%-100,00% Sangat Berminat Sangat Jelas Sangat Kondusif

54 Hasil dan Pembahasan

Tabel 4

Tabel data penilaian siswa. Siswa ke Penilaian Proses Pembelajaran (%) Tingkat Pemahaman 1 60 70 2 75 65 3 50 60 4 80 75 5 90 85 6 85 70 7 55 65 8 70 80 9 75 85 10 65 70

Data penilaian proses pembelajaran tersebut merupakan data yang diperoleh dari

pengisian angket yang diberikan kepada siswa setelah diberikannya perlakuan.

Sedangkan data tingkat pemahaman siswa diambil dari nilai post test yang diberikan kepada siswa sebagai tolak ukur tingkat pemahaman siswa.

Adapun proses pengolahan data untuk mengetahui korelasi dari keduanya adalah sebagai berikut :

a.

Membuat tabel dan mencari variabel- variabel yang dibutuhkan untuk menentukan korelasi

b.

Menyajikan data yang diperoleh tersebut kedalam tabel variabelyang telah disediakan.

c.

Memasukan input data yang telah diperoleh kedalam rumus untuk menentukan korelasi (𝑟) berikut

𝑟= 𝑥𝑦 − 𝑥 𝑦 𝑛 𝑥2 𝑥 2 𝑛 . 𝑦2− 𝑦 2 𝑛 Sehingga didapat 𝑟= 55975−720×770 10 52900−518400 10 . 59800− 592900 10 = 0,727639

d.

Menentukan kekuatan korelasi dengan menggunakan panduan berikut. Tabel 6

Panduan tingkat kekuatan korealasi antar variabel.

Interval Keterangan

𝑟= 0 Kedua variabel tidak memiliki korelasi. 0 <𝑟< 0,25 Kedua variabel memiliki korealasi namun

lemah. 0,25≤ 𝑟

< 0,75

Kedua variabel memiliki korelasi yang cukup.

0,75≤ 𝑟< 1 Kedua variabel memiliki korealsi yang kuat. 𝑟= 1 Kedua variabel memiliki korelasi sempurna. Simpulan

Berdasarkan pembahasan diatas diketahui bahwa bahwa dengan menyisipkan ice

breaking pada proses pembelajaran siswa

cukup berpengaruh bagi peningkatan daya serap siswa. Adapun hal-hal yang menjadi penghambat siswa dalam mencapai ketuntasan belajar yaitu 1) minat belajar siswa yang rendah; 2) penyampaian materi yang kurang menarik oleh guru; 3) menurunnya tingkat konsentrasi siswa.

Penyebab dari permasalahan- permasalahan tersebut dikarenakan 1) kurangnya upaya dari guru untuk memotivasi

dan menumbuhkan minat belajar pada siswa sebelum materi pelajaran disampaikan; 2) kurangnya pemberian variasi dalam penyampaian materi seperti permainan atau stimulus yang diberikan oleh guru pada siswa.

Saran

Berdasarkan simpulan yang telah diuraikan di atas maka dapat disarankan

untu

menyisipkan

ice breaking

pada proses

pembelajaran dengan menyesuaikan pada

materi yang sedang disampaikan untuk

meningkatkan konsentrasi dan minat

belajar siswa.

55 Daftar Rujukan

Albarry. 1994. “Pengertian daya serap”.

Diakses di

http://medpembelajaran.blogspot.com/ 2011/06/daya-serap-siswa.html pada 02 April 2016 pukul 17.00 WIB. Fanani, Achmad. 2010. “Ice Breaking dalam

Proses Belajar Mengajar”. Jurnal Diglib Universitas PGRI Adibuana Surabaya, 6(11), 67-70.

Indah, Dewi. 2007. “Prospek Pengembangan dan Penerapan Model Pembelajaran Matematika Berorientasi Pemecahan Masalah Open-Ended di Sekolah Dasar di Propinsi Bali. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 13(68), 886-908. Iswahyudi, Dwi. 2009. “Definisi daya

serap”.Skripsi.Malang : Universitas Negeri Malang. Diakses di http://library.um.ac.id pada 02 April 2016 pukul 17.10 WIB.

Kamaliyah, Rosyidah. 2015. “Hubungan Sense Of Humor Guru Dengan Motivasi Belajar PAI Di Smp Negeri 2 Beji Kabupaten”.Jurnal Diglib Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 15.

Matondang, Zulkifli. 2009. “Validitas dan Reliabilitas Suatu Instrumen Penelitian”. Jurnal Tabularasa PPS UNIMED, 6(1), 87-97.

Najahah. 2015. “Potensi Daya Serap Anak Didik Terhadap Pelajaran”. Jurnal

Lentera, Kajian Keagamaan,

Keilmuan dan Teknologi, 13(2), 15–

27.

Nanda, dkk. 2012. “Penerapan Ice Breaking pada Proses Belajar Mengajar Siswa Kelas X TPM Negeri 7 Surabaya Pada Mata Pelajaran K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)”. Jurnal Mahasiswa Teknologi Pendidikan, 1(2).

Nuryana, Aryati., Purwanto, Setiyo. 2010. “Efektivitas Brain Gym Dalam

Meningkatkan Konsentrasi Belajar Pada Anak”.Indigenous, Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi, 12(1), 88–99. Romiyadi. 2009. “Peningkatan Hasil Belajar

Fisika Pokok Bahasan Listrik Dinamis Melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning Pada Siswa Kelas IX Semester I SMP Negeri 21 Semarang”.JURNAL LEMLIT, 3(2), 74–82.

Sandrayanti, Hilda. 2013. “Cooperative Learning Tipe Circ Berbasis Penemuan Untuk Meningkatkan Keterampilan Dalam Menyelesaian Soal Cerita Siswa Kelas Ix Smp”.Penelitian

Tindakan Kelas. Kuningan Jawa

Tengah.

Sudiarta, I Gusti Putu. 2006. “Pengembangan dan Implementasi Pembelajaran Matematika Berorientasi Pemecahan Masalah Kontekstual Open-Ended Untuk Siswa Sekolah Dasar”. Jurnal

Pendidikan dan Pengajaran

UNDIKSHA, Edisi Khusus(39), 1131-

1151.

Sugiar, Rani Hardiyanti. 2013. “Efektivitas Penggunaan Metode Analisis Teks Teknik Catatan Tulis Dan Susun (TS) pada Pembelajaran Shokyu Choukai II”. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.

Syarif, H. 1994. “Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun dan Pemerataan Pendidikan Dalam Upaya Memajukan Desa Tertinggal”. Makalah Pada Seminar Nasional, IKIP Bandung. Yandri, Hengki. 2013.“Ice Breaking”.

Diakses di

http://konselingindonesia.com pada 1 April 2016 pukul 20.00 WIB.

Yasyin, Sulhan. 1997. “Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Amanah.

56

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERBASIS

Dalam dokumen PROSIDING PENDIDIKAN MATEMATIKA UNIRA (Halaman 63-69)