Perkembangan Pembayaran Jasa Lingkungan DAS di Indonesia,
Hasil Penelitian dan Contoh-contoh Penerapan PES
Dalam beberapa tahun terakhir, inisiatif pengembangan mekanisme pembayaran jasa lingkungan di Indonesia telah mulai diupayakan oleh instansi pemerintah pusat dan daerah bekerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat nasional dan internasional. Saat ini ada sekitar 84 lokasi yang dipandang sangat potensial sebagai wilayah pengembangan jasa lingkungan di Indonesia baik dalam bentuk keanekaragaman hayati (biodiversity), perlindungan DAS (watershed protection), keindahan alam (landscape beauty), penyerapan karbon (carbon sequestration). Kontribusi sektor swasta terhadap kegiatan pelestarian sumberdaya air belum maksimal karena besarnya beban perusahaan untuk mengeluarkan biaya sosial baik yang resmi maupun tidak. Hal ini terjadi disebabkan juga karena belum adanya aturan perundangan yang dapat menekan atau memberi insentif kepada perusahaan untuk lebih aktif dalam menggunakan pembayaran jasa lingkungan sebagai bagian dari kebijakan atau strategi keberlanjutan usahanya. Banyak perusahaan yang menggunakan sumberdaya air sebagai bahan baku atas komoditi usahanya beranggapan bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab pemerintah. Termasuk memandang kemiskinan masyarakat di wilayah hulu bukan merupakan kewajiban perusahaan untuk membantu penyelesaiannya.
Hingga saat ini kerangka kebijakan dan regulasi yang ada di Indonesia belum dapat mengakomodasikan bentuk pendanaan yang bersumber dari pembayaran dan imbal jasa lingkungan. Mengingat keterbatasan sumber dana konvensional, maka mekanisme pembiayaan pembangunan dan investasi yang bersifat hijau ini dapat menjadi salah satu alternatif sumber pembiayaan pembangunan nasional. Namun pemikiran ini masih sangat awal dan memerlukan pembahasan lebih detail. Tetapi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) sudah mulai mengajukan pemikiran untuk memanfaatkan sumber-sumber pendanaan alternatif tersebut.
Berbagai jenis kegiatan telah dilakukan dalam upaya mewujudkan pelembagaan jasa lingkungan sebagai salah satu instrumen untuk mengurangi tingkat kerusakan kawasan hutan. Mulai dari penelitian, pendidikan hingga
promosi dan kampanye jasa lingkungan. Namun dari sisi hasil yaitu terwujudnya mekanisme transaksi antara pengguna jasa (buyer) dan penyedia jasa (seller)
boleh dikatakan masih sangat terbatas baik lokasi, nilai dan jangka waktunya. Sejauh ini, transaksi yang ada seringkali bukan karena kesadaran internal perusahaan untuk menjadikan PES sebagai bagian dari kebijakan usaha melainkan lebih karena tekanan politik dan kewajiban sosial yang tidak mengikat.
Dalam suatu tinjauan tentang pasar jasa DAS di Indonesia (Chandler dan Suyanto 2006) diketahui bahwa pengembangan jasa lingkungan di Indonesia masih dalam tahapan awal. Masih sangat sedikit studi kasus yang sudah mengimplementasikan pasar jasa lingkungan. Demikian pula studi-studi yang mengemukakan atau merancang inisiatif pasar jasa lingkungan juga masih sangat kurang. Tetapi, sudah mulai terdapat lebih banyak lagi berbagai inisiatif, proyek, dan penelitian berkaitan dengan pengembangan pasar jasa lingkungan.
Perubahan kebijakan nasional di berbagai sektor yang mendorong terciptanya suatu iklim yang mendukung pengelolaan dan pendanaan sumberdaya alam berbasis lokal turut berpengaruh dalam eksplorasi mekanisme pasar jasa lingkungan di Indonesia. Terbitnya UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air dan peraturan yang dibuat berdasarkan Undang-Undang tersebut diharapkan akan memperkuat kembali peran pemerintah dan didukung dengan pemberian kewenangan berbagai fungsi pembuatan keputusan dan kontrol anggaran dari pemerintah pusat ke daerah (Otonomi Daerah) sejak tahun 2000. Dalam sektor air, proses reformasi kebijakan yang sedang berlangsung berpusat pada tema integrasi pengelolaan air − integrasi di antara semua sektor dan di antara multi pihak. Dalam sektor kehutanan, pemerintah pusat sudah mulai melakukan investasi sebagai perwujudan komitmennya dalam pengelolaan hutan yang berbasis masyarakat (Chandler dan Suyanto 2006).
Beberapa mekanisme penerapan jasa lingkungan hutan sudah mulai dicoba tetapi masih banyak mekanisme yang masih perlu diekplorasi guna memperoleh pemahaman lebih mendalam tentang berbagai tantangan yang ada. Beberapa contoh skema jasa lingkungan yang sudah diterapkan di Indonesia adalah :
1. Iuaran tahunan PT Inalum yang memanfaatkan air Danau Toba kepada Pemda Sumatera Utara untuk konservasi lahan pada DTA Danau Toba. Namun
pengukuran untung-biaya riil dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh perusahaan sebenarnya tidak ada, karena biaya yang dikeluarkan untuk air sangatlah murah dan belum memadai (Chandler dan Suyanto 2006).
2. Ijin pengelolaan lahan negara kepada masyarakat lokal penyedia jasa DAS Besay hulu di Sumberjaya, Lampung dalam Bentuk Program Hutan Kemasyarakatan (HKm) yang digunakan sebagai pintu masuk (entry point) untuk mencari pemecahan konflik penguasaan lahan (land tenure) yang didasarkan pada rasa saling percaya. Masyarakat merespon langkah pemerintah tersebut dengan ikut aktif dalam rehabilitasi hutan di kawasan Hutan Kemasyarakatan. Pelaksanaan PES ditujukan untuk pendanaan konservasi oleh masyarakat hulu, dengan nilai PES sebesar Rp 60.000.000.- pertahun, disalurkan melalui Dinas Pertanian dan Kehutanan Lampung Barat, yang dibayarkan oleh pengguna jasa (PLTA, PLN, masyarakat dan Dinas Kehutanan) (Wulandari 2005; USAID 2007).
3. Pembayaran Jasa Lingkungan di DAS Cidanau, Provinsi Banten. Pelaksanaan PES ditujukan untuk pendanaan konservasi, pada lahan seluas 50 hektar, dengan nilai PES sebesar Rp 175.000.000.- pertahun selama lima tahun. Dalam melaksanakan pembayaran jasa lingkungan di DAS Cidanau Banten, dibentuk suatu Forum Komunikasi DAS Cidanau (FKDC) berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Provinsi Banten, yang anggotanya terdiri atas unsur masyarakat, pemerintah, LSM, dan swasta. Ijin penggunaan air diberikan kepada satu industri sebagai pengguna jasa (PT Krakatau Tirta Industri) oleh Pemerintah Daerah Kota Serang - Provinsi Banten dan kemudian PT Krakatau Tirta Industri mendistribusikannya ke sekitar 100 pengguna industri lainnya. Forum Komunikasi DAS Cidanau dalam implementasi jasa lingkungan berperan sebagai berikut: (a) Mengelola dana hasil pembayaran jasa lingkungan dari pemanfaat (buyer) jasa lingkungan DAS Cidanau untuk rehabilitasi dan konservasi lahan di DAS Cidanau melalui lembaga pengelola jasa lingkungan DAS Cidanau; (b) Mendorong pembangunan hutan di lahan
milik oleh masyarakat dengan mekanisme pembayaran jasa lingkungan; (c) Menggalang dana dari potensial pemanfaat jasa lingkungan DAS Cidanau;
(d) Mendorong pemerintah untuk melakukan pembayaran jasa lingkungan di DAS Cidanau (Wulandari 2005; USAID 2007).
4. Penerapan dana kompensasi hulu-hilir antara Kabupaten Kuningan dan Kota Cirebon. Pelaksanaan PES ditujukan untuk pendanaan konservasi, pada lahan seluas 645 hektar, dengan nilai PES sebesar Rp 1,75 Miliar pertahun. Pemerintah Kota Cirebon membayar sejumlah dana kompensasi kepada Pemerintah Kabupaten Kuningan dengan suatu perjanjian kerjasama yang mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak. Pemerintah Kabupaten Kuningan berkewajiban menjaga sumber mata air dan menjamin kelancaran distribusi air ke Kota Cirebon serta menggunakan dana kompensasi tersebut untuk konservasi DTA (Ramdan 2006).
5. Pembayaran jasa lingkungan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pembayaran PES ditujukan untuk konservasi dan pembangunan masyarakat (75%) dan biaya operasional Pemda Kabupaten Lombok Barat (25%). Hasil pembayaran jasa lingkungan disetorkan ke kas daerah. Penyedia jasa adalah kelompok masyarakat hulu yang tergabung dalam Forum Ranget, sedangkan pengguna jasa adalah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Menang Mataram. Nilai PES mencapai Rp 480.552.000.- per tahun (USAID 2007).
Beberapa contoh skema jasa lingkungan yang diterapkan di luar Indonesia, seperti dilaporkan Chandler dan Suyanto (2006) adalah sebagai berikut:
1. Brazil. Salah satu contoh penerapan skema PES adalah Pemerintah melindungi dan mengakui hak petani sebagai penyuling karet pada lahan negara. Sebagai pengganti dari pembatasan akses dan hak-hak menikmati hasil, maka para petani mendapat jaminan hukum atas hak tata guna lahan. Di negara bagian Acre, pemerintah memberikan 0,60 real Brazil untuk per kg karet yang terkumpul kepada kelompok atau asosiasi penyuling karet sebagai kompensasi untuk mereka karena telah menjaga hutan dan memfasiltasi tersedianya jasa ekosistem.
2. Kosta Rika. Skema pembayaran jasa lingkungan diimplementasikan dengan sumber dananya dari pendapatan yang berasal dari pajak bahan bakar. Institusi yang menangani skema PES secara khusus yakni SINAC (System Of
Conservation Areas) dan yang menangani proses pembayaran dan kontraknya adalah FONAFIFO. Pihak organisasi konservasi dan pemilik hutan sangat berpengaruh besar dalam menentukan skema baru dan peranannya sehingga keterlibatan penduduk asli dan petani sangat kecil. Pembayaran jasa lingkungan terkonsentrasi untuk konservasi hutan yakni 70% pada tahun 1997-2002 dan yang mengambil manfaatnya adalah pemilik tanah yang ukuran besar dan sedang. Hal tersebut terjadi karena royalty yang dibayarkan adalah US$ 0,60 untuk per pohonnya sehingga pemilik lahan luas akan memperoleh royalty yang lebih besar dibanding petani yang lahannya sempit. 3. Meksiko. Masalah yang ada adalah akses dan kontrol terhadap sumberdaya
alam yang dimiliki masyarakat kurang memadai, dengan demikian masyarakat pedesaan membutuhkan kapasitas organisasi yang kuat agar mempunyai posisi tawar yang tinggi. Pelaksanaan pembayaran jasa lingkungan dilakukan dalam rangka mengembangkan organisasi yang bergerak di bidang bioprospecting
dan ekowisata yang kuat. Penguatan kelembagaan dilakukan dengan : adanya representasi anggota lembaga yang mewakili kepentingan mereka (terutama para petani hulu); adanya kesepakatan lembaga untuk mencapai persetujuan dan memutuskan konflik; lembaga dapat mengelola pelaksanaan pembayaran jasa lingkungan secara tepat; dan lembaga dapat memutuskan dan mengambil royalty pemanfaatan jasa oleh pengguna jasa (buyer) dan juga keuntungan atas hubungan atau jaringan kerja dengan aktor eksternal lainnya.
4. El Salvador. Inisiatif di El Salvador memberikan pelajaran penting; pertama, pentingnya mempertimbangkan potensi petani berskala lahan sempit yang ada jauh di luar hutan dan masih melakukan konservasi tradisional, karena justru para petani kopi dengan lahan sempit yang terus mampu mempertahankan ke-beragaman jenis tanaman di lahannya, sehingga keseimbangan ekosistem di wilayah tersebut dapat terus terjaga. Kedua, organisasi sosial yang kuat diantara para pemilik lahan pertanian sempit justru memainkan peranan penting dalam negosiasi skema kompensasi. Ketiga, diperlukannya kebijakan yang menguntungkan daerah pedesaan untuk mendukung implementasi pembayaran jasa lingkungan. Keempat, partisipasi yang tulus dari para pihak akan memberikan pengaruh yang lebih besar dalam pembuatan kebijakan
publik di desa tersebut karena para pihak dapat saling menerima dan mengintegrasikan tujuan pengelolaan lingkungan di wilayahnya.
Dari kajian PES yang dilaksanakan ESP-USAID dan RMI terhadap berbagai pelaksanaan PES di Indonesia (USAID 2007), maka terdapat beberapa indikasi yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Sumberdaya hutan yang dijadikan dasar transaksi penyediaan jasa lingkungan bervariasi, ada hutan rakyat, lahan perkebunan, dan kawasan hutan negara. Sedangkan pihak penyedia adalah pemilik atau pengelola lahan, dapat berupa individu dan kelompok petani yang mempunyai hutan tanaman dengan lokasi yang diindikasikan mempunyai pengaruh terhadap kerusakan sumber air atau instansi pengelola kawasan. Sejauh ini, informasi tentang hubungan antara rusak‐tidaknya hutan tersebut dengan sumber‐sumber air yang dilindungi sebenarnya belum tersedia secara akurat, meskipun dalam proses‐proses penetapannya telah disepakati bersama.
2. Harga jasa lingkungan – dalam hal ini untuk setiap M3 air yang tersedia – pada umumnya belum diketahui. Biaya ditetapkan berdasarkan kebutuhan untuk melakukan rehabilitasi hutan (Cidanau, Banten; Kuningan, Jawa Barat), bantuan bibit dan penanaman (Bandung, Jawa Barat; Lampung), berupa paket penyediaan dana kepada kelompok tani (Brantas, Jawa Timur), prosentase tertentu (70%) dari tarif masuk kawasan wisata yang dikonservasi diperuntukkan bagi masyarakat (Rinjani, Lombok). Meskipun sudah terdapat perhitungan nilai WTP, namun harga jasa lingkungan di atas belum ditetapkan berdasarkan WTP tersebut.
3. Mekanisme transaksi. Pembeli jasa lingkungan, khususnya air, dari kasus‐kasus yang ada meliputi swasta, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), PLTA, dan Pemerintah Kota, sedangkan penyedia jasa yaitu petani yang melakukan rehabilitasi hutan dan lahan, dengan pendamping dari LSM atau Dinas Kehutanan. Transaksi antara pembeli dan penyedia jasa ini pada umumnya dilakukan melalui lembaga tertentu yang mempunyai keanggotaan multi pihak.
4. Faktor Penggerak. Transaksi yang telah berlangsung tidak mungkin dapat berjalan apabila tidak ada faktor penggeraknya. Inisiatif untuk sampai membentuk pertemuan di lokasi sangat penting dilakukan. Dalam pembelajaran ini tidak ditemukan adanya lembaga khusus yang menggerakkannya, tapi sangat tergantung pada berbagai proses atau inisiatif yang sebelumnya telah dilakukan. LSM maupun Pemda sama‐sama mempunyai peran dalam kasus‐kasus yang diamati. Peran perguruan tinggi yang membantu menyusun skema kerjasama maupun landasan akademis pelaksanaan PES juga menentukan bergeraknya inisiatif ini. Adanya individu yang mempunyai wawasan serta kewenangan dan kemauan yang bekerja di pemerintah daerah menjadi penentu yang tidak dapat diabaikan. Namun, kondisi demikian ini sekaligus menjadi kelemahan manakala individu‐individu tersebut kemudian dipindahkan lokasi bekerjanya.
Konsep Kelembagaan dalam PES dan Pengelolaan Hutan/DAS
Dari berbagai definisi PES yang dikemukakan para ahli, terdapat prinsip‐prinsip yang mendasari pelaksanaan mekanisme PES, yaitu :
1. Penyedia jasa lingkungan seharusnya memperoleh kompensasi atas biaya yang dikeluarkan untuk penyediaan jasa dan pengguna jasa lingkungan seharusnya membayar kepada penyedia jasa (Mayrand and Paquin 2004).
2. Perlu ada kesesuaian antara permintaan akan jasa lingkungan dengan memberikan sejumlah insentif kepada pengguna lahan yang kegiatannya menghasilkan pasokan jasa lingkungan (Swallow et al. 2005).
3. Skema PES yang dikembangkan seharusnya merupakan skema inovatif untuk mencapai dua tujuan yaitu konservasi lingkungan dan pengurangan kemiskinan di negara‐negara sedang berkembang (Leimona 2005).
Menurut Nugroho dan Kartodihardjo (2009) dari perspektif kelembagaan, terdapat beberapa karakteristik dalam pengembangan mekanisme PES yaitu : 1. terdapat kesalingterkaitan antar aktor‐aktor yang secara potensial terlibat
2. terdapat jasa yang ditransaksikan dan jasa tersebut harus tersedia sepanjang masa atau paling tidak selama periode kontrak;
3. memerlukan proses negosiasi yang melibatkan para aktor yang terkait; 4. memerlukan organisasi yang menjalankan kesepakatan-kesepakatan; 5. ada mekanisme yang menjamin keadilan dalam distribusi manfaat PES;
6. terdapat kejelasan mekanisme pengendalian, pemantauan, penilaian, pemanfaatan hasil‐hasil monitoring dan evaluasi untuk perbaikan pelaksanaan dan skema, dan mekanisme penyelesaian masalah;
7. memerlukan dukungan informasi dan teknologi.
Untuk mengefisienkan skema PES yang dikembangkan dan agar kesalingterkaitan antar aktor tersebut lebih mudah diprediksi, maka diperlukan pengaturan kelembagaan. Kelembagaan adalah aturan main, norma‐norma, larangan‐larangan, kontrak, peraturan/perundangan yang mengatur dan mengendalikan perilaku individu dalam masyarakat atau organisasi (North 1990; Rodgers 1994) untuk mengurangi ketidakpastian dalam mengontrol lingkung-annya (Menard dan Shirley 2008) menghambat munculnya perilaku oportunistik dan saling merugikan, sehingga perilaku manusia dalam memaksimumkan kesejahteraan individualnya lebih dapat diprediksi (Kasper dan Streit 1998). Menurut Eggertson (1990) pembangunan kelembagaan bertujuan untuk (a) mene-kan penunggang gratis (free riding), pencari rente (rent seeking) dan perilaku op-portunis (opportunistic behavior); (b) memfasilitasi koordinasi, termasuk pertukaran; dan (c) menekan biaya koordinasi dan transaksi karena ketidaksepadanan informasi dan kekuasaan. Lebih lanjut Nugroho dan Kartodihardjo (2009) mengatakan implikasi kelembagaan dalam PES meliputi: 1. Akan memunculkan proses transaksional atau pertukaran atas sumberdaya
(endowment) yang mereka miliki, sehingga akan memposisikan
masing‐masing pihak dalam kelompok penyedia jasa, pengguna jasa, perantara dan fasilitator. Pada banyak kejadian diperlukan perwakilan dan or-ganisasi untuk menjalankan kesepakatan, sehingga akan memposisikan para pihak dalam hierarki‐hierarki yaitu pihak pemberi kepercayaan dan pihak yang diberi kepercayaan.
2. Penyediaan jasa lingkungan pada dasarnya memiliki sifat pemanfaatannya ti-dak bisa dikecualikan (non‐excludable), dapat didorong dengan penyediaan insentif untuk mencapai kesepakatan, baik secara langsung ataupun melalui perwakilan. Oleh karena itu, diperlukan aksi kolektif untuk membuat kesepakatan, dan perhatian terhadap hubungan pemberi dan penerima keper-cayaan (principal‐agent) pada proses pendelegasian wewenang.
3. Jasa lingkungan yang ditransaksikan harus tersedia sepanjang masa atau paling tidak selama periode kontrak yang disepakati. Oleh karena itu harus ada jaminan keberlangsungan investasi pengelolaan sumberdaya yang menghasilkan jasa lingkungan, yang diperoleh apabila hak kepemilikan (property rights) atas sumberdaya penghasil jasa lingkungan jelas dan pasti. Untuk menjalankan aturan‐aturan yang telah disepakati dalam kontrak diperlukan organisasi. Dalam kaitannya dengan skema PES, maka perlu diketahui bagaimana organisasi dalam mengatur dan mengelola skema, yang tidak lain adalah bagaimana tata kelola skema PES yang baik dijalankan.
Oleh karena itu, dalam mengkaji kelembagaan PES, sedikitnya ada empat konsep kelembagaan yang perlu terkait, yaitu (a) konsep hubungan pemberi dan penerima kepercayaan, (b) konsep aksi kolektif, (c) konsep hak kepemilikan, dan (d) konsep tata kelola PES yang baik yang akan diuraikan pada bagian berikut.
Konsep Hubungan Pemberi dan Penerima Kepercayaan. Hubungan pemberi dan penerima kepercayaan adalah hubungan di mana satu orang atau lebih sebagai pemberi kepercayaan mempengaruhi orang lain sebagai mitra yang menerima kepercayaan untuk melaksanakan beberapa tugas pemberi kepercayaan melalui pendelegasian wewenang pengambilan keputusan kepada mitra yang dimaksud penerima kepercayaan. Hubungan pemberi dan penerima kepercayaan ini selalu dihadapkan pada masalah ketidaksepadanan informasi dan munculnya biaya transaksi atas jalinan‐jalinan yang dibangun.
Hubungan pemberi dan penerima kepercayaan akan efisien apabila tingkat harapan keuntungan (reward) kedua belah pihak seimbang dengan korbanan masing‐masing serta biaya transaksi sehubungan dengan pembuatan kontrak atau kesepakatan dapat diminimalkan. Biaya transaksi yang dimaksud adalah biaya
yang muncul ketika individu‐individu mengadakan pertukaran hak-haknya dan saling ingin menegakkan hak eksklusif yang dimilikinya (Rodgers 1994). Komponen biaya transaksi meliputi (Ostrom et al. 1993) : (a) biaya koordinasi, yaitu biaya‐biaya yang dikeluarkan untuk waktu, modal dan personil yang diinvestasikan dalam negosiasi, pengawasan dan penegakan kesepakatan di antara pelaku, (b) biaya informasi, yaitu biaya yang diperlukan untuk mencari dan mengorganisasi data, termasuk biaya atas kesalahan informasi sebagai akibat kesenjangan pengetahuan tentang variabel waktu dan tempat serta ilmu pengetahuan, dan (c) biaya strategi, yaitu biaya yang dikeluarkan sebagai akibat informasi, kekuasaan dan sumberdaya lainnya yang tidak sepadan di antara pelaku, umumnya berupa pengeluaran untuk membiayai aktivitas penunggang gratis, pencari rente dan korupsi (corruption). Munculnya ketidaksepadanan informasi dalam hubungan pemberi dan penerima kepercayaan merupakan konsekuensi dari kenyataan bahwa pada umumnya pihak penerima kepercayaan (agent) menguasai informasi tentang keragaan, keinginan‐keinginan dan motivasi yang ada pada dirinya, sedangkan informasi tentang keragaan, keinginan dan motivasi penerima kepercayaan yang dimiliki oleh pemberi kepercayaan (principal) umumnya sangat terbatas. Adanya ketidaksepadanan informasi tersebut menimbulkan resiko salah pilih sebelum kontrak kerjasama disepakati dan risiko ingkar janji atau perilaku sub‐optimal oportunistik setelah kontrak/jalinan kerjasama disepakati. Resiko salah pilih muncul apabila biaya informasi untuk mengetahui keragaan mitra mahal dan tidak dapat ditanggung oleh pemberi kepercayaan, yang kemudian menjatuhkan pilihan hanya berdasarkan penampakan luar ataupun dokumen-dokumen resmi. Sementara risiko ingkar janji muncul apabila terdapat perbedaan kepentingan antara pemberi kepercayaan dan penerima kepercayaan yang bersifat konflik, pihak yang memiliki informasi mengeksploitasi kelebihan informasi yang dimilikinya, dan manfaat mengeksploitasi kelebihan informasi yang dimilikinya lebih besar dari penalty dan/atau lebih besar dari manfaat untuk tidak melakukan eksploitasi informasi (Nugroho dan Kartodihardjo 2009).
Untuk memotivasi mitra agar tidak ingkar janji dan/atau berperilaku sub‐optimal, Kasper dan Streit (1998) menawarkan alternatif‐alternatif solusi
yaitu membangun solidaritas apabila kelompok yang dihadapi tidak terlalu besar dan membangun loyalitas pada kelompok besar, melaksanakan supervisi langsung dengan penegakan aturan yang ketat, melakukan pengukuran kinerja, dan pemberian insentif yang sepadan untuk kinerja yang memenuhi standar.
Dalam pengembangan skema PES problema hubungan pemberi dan penerima kepercayaan yang perlu mendapat perhatian (Nugroho dan Kartodihardjo 2009) adalah :
a) Apakah para pihak yang (akan) terlibat dalam skema PES telah teridentifikasi secara cermat dan ketidaksepadanan informasi di antara para pihak tersebut dapat diminimalkan?
b) Apakah perjanjian kerjasama yang dibangun telah mampu atau berpotensi menyeimbangkan imbalan kedua belah pihak setara dengan korbanan?
c) Apakah biaya transaksi sehubungan dengan proses‐proses negosiasi, pelaksanaan dan penegakan kontrak PES dapat diminimalkan?
d) Apabila melibatkan pihak ketiga sebagai mediator dan/atau fasilitator, apakah pihak‐pihak (individu/kelompok/lembaga) yang ditunjuk tidak berada pada situasi perbedaan kepentingan yang bersifat konflik?
e) Apakah mekanisme pelaporan kegiatan dan keuangan dapat menjamin transparansi, akuntabel dan keadilan distribusi manfaat PES?
Konsep Aksi Kolektif. Jasa lingkungan pada umumnya merupakan hasil dari sumberdaya milik bersama (Common Pool Resources, CPR) yang bersifat tidak bisa dikecualikan (non‐excludable), sangat beresiko menghadapi persoalan hadirnya penunggang gratis. Pada situasi demikian, CPR cenderung akan dieksploitasi dan dimanfaatkan secara berlebihan untuk memaksimumkan utilitas para individu yang dapat mengakses (Hardin 1968). Namun, Gautam dan Shivakoti (2005) melaporkan bahwa para ahli kelembagaan yaitu Ostrom (1990); Thompson (1992); McGinnis and Ostrom (1996); Gibson and Koontz (1998); Agrawal and Gibson (1999); dan Gibson et al. (2000) tidak sepenuhnya menyetujui premis Hardin tersebut. Mereka mengatakan bahwa banyak bukti‐bukti empiris menunjukkan bahwa para pemanfaat CPR sering menciptakan tatanan kelembagaan yang dapat melindungi sumberdaya CPR yang dimilikinya
dan mengatur alokasi pemanfaatan hasil-hasilnya secara efisien dan lestari melalui aksi‐aksi kolektif yang mereka bangun (Nugroho dan Kartodihardjo 2009). Menurut Swallow et al. (2005) dalam Nugroho dan Kartodihardjo (2009) hubungan antara aksi kolektif dan PES adalah :
a) Dalam kaitannya dengan penyediaan jasa lingkungan, aksi kolektif dapat memunculkan mekanisme koordinasi kegiatan antar petani dalam kawasan yang luas dalam penyediaan jasa lingkungan.
b) Aksi kolektif dapat mengurangi biaya transaksi dalam verifikasi dan pembayaran jasa lingkungan dan kerjasama dalam bentuk koperasi dapat meningkatkan skala ekonomi dalam pengikatan perjanjian kontrak, pemantauan skema dan pembayaran.
c) Aksi kolektif dapat memperkuat posisi tawar kelompok tani dalam bernegosiasi dengan petani lain dan pengguna/pembeli jasa lingkungan. Dengan terbentuknya kelompok akan mudah dalam pemberian bantuan teknis dan pendampingan yang sering diperlukan dalam penerapan mekanisme PES. d) Dalam kaitannya dengan penegakan aturan, tidak jarang kelembagaan formal
berupa peraturan/perundangan tidak efektif sebagai akibat penolakan masyarakat terutama bila peraturan tersebut tidak memiliki legitimasi lokal. Berbeda halnya bila aturan tersebut merupakan produk kesepakatan bersama